Kobus: Jadikan Semua Baik (Mrk 7:31-37) Hari Minggu Biasa XXIII


silahkan klik gambar untuk memperbesar

Minggu, 09 September 2012 Hari Minggu Biasa XXIII


Minggu, 09 September 2012
Hari Minggu Biasa XXIII

Sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, janganlah kamu menyimpang dari pada perkataan mulutku.
(Amsal 5:7)

Antifon Pembuka (Mzm 119:137,124)

Engkau adil, ya Tuhan, dan hukum-hukum-Mu benar. Perlakukanlah hamba-Mu sesuai dengan kasih setia-Mu.


Doa Pagi


Allah Bapa kami yang Maharahim, bukalah mata dan telinga kami terhadap segala kebaikan yang telah Kaulaksanakan melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, sehingga kami dapat bersaksi bahwa "Semua yang dibuat-Nya baik." Dengan demikian, semoga semakin banyak orang mengimani Putra-Mu itu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


Bacaan dari Kitab Yesaya (35:4-7a)


Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati, "Kuatkanlah hatimu, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan ganjaran. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!" Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah gersang menjadi sumber-sumber air.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d 2/4, PS 832

Ref. Betapa megah nama-Mu, Tuhan, di seluruh bumi.
Ayat. (Mzm 146:7.8-9a.9bc-10)

1. Tuhan menegakkan keadilan bagi orang yang diperas, dan memberi roti kepada orang-orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung.
2. Tuhan membuka mata orang buta, dan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar dan menjaga orang-orang asing.
3. Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-menurun!

Bacaan dari Surat Rasul Yakobus (2:1-5)

Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada orang yang memakai cincin emas dan pakaian indah masuk ke dalam kumpulanmu, dan masuk pula ke situ seorang miskin yang berpakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu serta berkata kepadanya, "Silahkan Tuan duduk di tempat yang baik ini!" sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata, 'Berdirilah saja di sana!' atau, 'Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku' bukankah kamu telah membuat pembedaan dalam hatimu, dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat? Dengarkanlah, Saudara-saudara terkasih! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman, dan ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada siapa saja yang mengasihi Dia?
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953

Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 4:23)
Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (7:31-37)


Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Tirus, dan lewat Sidon pergi ke Danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang tuli dan gagap dan memohon supaya Yesus meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Maka Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian. Kemudian Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya, “Effata”’ artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu, dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang, dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.”

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Ada seorang yang tuli dan gagap dibawa kepada Yesus supaya disembuhkan. Mereka meminta Yesus menjamahnya dan meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Mereka meminta Yesus menjamahnya dan meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Yesus ingin kesembuhan yang dilakukan-Nya kali ini tersembunyi. Tak seorang pun yang tahu. Maka, Ia membawa si tuli dan gagap ini ke sebuah tempat yang lebih sepi sehingga orang tidak tahu.


Karya Yesus sering diwarnai dengan pelbagai mukjizat. Namun, kali ini mukjizat yang Yesus lakukan sedikit
"nyeleneh" , tidak seperti biasanya. Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidahnya. Sungguh, proses penyembuhan yang termasuk unik. Rupanya Yesus ingin kesembuhan si tuli dan gagap ini menjadi suatu kesembuhan yang bersifat sangat pribadi. Setelah Yesus melakukan "ritual" Ia berdoa mendongak ke atas dan berkata, "Effata" atau "Terbukalah".

Setelah terbuka telinga si tuli lalu lepas pula pengikat lidahnya, ia dapat berkata-kata dengan baik. Yesus lalu kembali kepada kerumunan orang banyak dan berpesan untuk tidak menyebarluaskan apa yang terjadi. Namun, semakin dilarang mereka makin luas memberitakan hal tersebut. Dan akhirnya mereka bersaksi bahwa Yesus menjadikan segala-galanya baik! Nubuat Yesaya seperti dalam bacaan pertama terwujud di dalam diri Yesus, termasuk mukjizat yang diceritakan pada hari ini dalam Injil, yang buta dicelikkan, yang bisu dapat berbicara dan yang lumpuh dapat berjalan.


Orang yang disebut tuli adalah orang yang tidak dapat mendengar. Pendengarannya terganggu dan tidak berfungsi dengan baik. Biasanya bila kita berhadapan dengan orang semacam ini, apa yang kita sampaikan kepadanya tidak dapat ditangkap dengan baik dan akhirnya terjadi salah paham. Begitu pula dengan orang yang gagap. Kita menjadi tidak sabar menghadapi model orang yang semacam ini lantaran bicaranya tidak jelas dan terputus-putus. Butuh waktu lama untuk mengerti suatu topik pembicaraan. Dengan demikian orang yang tuli dan gagap adalah orang yang secara fisik tidak dapat menggunakan kemampuan mendengar dan bicara dengan baik.


Lalu bagaimana orang yang secara rohani tuli dan gagap? Apakah kita adalah salah satunya? Orang yang demikian tidak dapat menggunakan kemampuan rohaninya untuk mendengar suara Tuhan dalam hidupnya. Ia juga akan gagap bila berbicara mengenai Tuhan. Rasul Paulus mengaskan dalam suratnya kepada jemaat di Roma bahwa iman muncul melalui pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17). Hanya orang-orang yang mengakui dan beriman kepada Tuhan, dapat mendengarkan suara-Nya dan dapat berkata-kata tentang Tuhan.


Lalu apa yang menyebabkan kita tuli dan gagap secara rohani? Karena kita tidak melatih untuk menajamkan hati kita dengan sabda Tuhan (bdk. Yes 50:4). Bisa jadi sabda yang dibacakan entah itu dalam Perayaan Ekaristi (Liturgi Sabda) atau dalam kesempatan-kesempatan kegiatan rohani lainnya kita abaikan. Untuk itu, kita dituntut agar peka akan suara Tuhan lewat sabda-Nya dan mewujudkannya dalam kehidupan. Mari kita mohon kepada Tuhan agar dibukakan hati, pendengaran rohani kita, seperti orang tuli dan gagap pada hari ini. Biarlah seruan-Nya, "Terbukalah" menajamkan hati dan pendengaran kita.


Antifon Komuni (Yoh 8:12)


Akulah terang dunia. Barangsiapa mengikuti Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.


RUAH

MINGGU BIASA XXIII/B – 9 September 2012


MINGGU BIASA XXIII/B – Minggu, 9 September 2012
Yes 35:4-7a; Yak 2:1-5; Mrk 31:31-37

Setiap orang pasti ingin selamat dan tetap hidup. Buktinya, banyak orang melakukan berbagai upaya untuk melindungi diri, menghindari bahaya, dan menyembuhkan penyakit. Orang rela melakukan apa saja, meskipun disertai pengorbanan, mempertahankan hidup, tetap sehat dan selamat.

Bagi kita, orang berimanan Kristiani, harapan akan keselamatan dan kehidupan itu tidak hanya untuk di dunia ini tetapi juga setelah hidup kita di dunia ini berakhir. Kita tidak hanya menginginkan keselamatan dan kehidupan di dunia ini tetapi juga mengharapkan keselamatan dan kehidupan abadi. Bacaan-bacaan hari ini sungguh meneguhkan iman dan pengharapan kita akan keselamatan dan kehidupan itu.

Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya, meneguhkan dan menghibur umat Israel yang sedang menderita dan mengharapkan penyelamatan. “Kuatkanlah hatimu, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan ganjaran. Ia sendiri datang menyelamatkan umat-Nya” (Yes 35:4). Sabda ini meneguhkan kita juga bahwa keselamatan dan kehidupan kita dijamin oleh Allah sendiri.

Dalam bacaan Injil, ditegaskan bahwa jaminan keselamatan dari Allah itu terlaksana dalam diri Yesus Kristus, bahkan mencapai puncak, kepenuhan, dan kesempurnaannya. Ia menjadikan segala-galanya baik” (Mrk 7:37a). Yesus, yang dalam Injil ini dikisahkan menyembuhkan seorang tuli dan bisu sehingga ia dapat mendengar dan berkata-kata dengan baik, Dia pulalah yang menyelamatkan kita dan menganugerahkan kehidupan abadi kepada kita melalui sengsara dan wafat-Nya di salib. Sebab, wafat-Nya menghasilkan penebusan bagi kita dan kebangkitan-Nya membuahkan kebangkitan serta kehidupan abadi bagi kita.

Bacaan kedua menyampaikan kepada kita, apa syaratnya atau bagaimana caranya supaya kita bisa mengalami dan menerima keselamatan yang dinjanjikan Tuhan itu. “Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman, dan ahli waris Kerajaan Allah yang telah dijanjikan-Nya kepada siapa saja yang mengasihi Dia” (Yak 2:5).

Pertama-tama, kita diselamatkan dan dianugerahi hidup kekal karena kita memang dipilih oleh Tuhan untuk menerima anugerah itu dan kita mau dipilih oleh-Nya. Maka, keselamatan dan kehidupan itu merupakan anugerah Tuhan bagi kita. Kalau saat ini kita menjadi pengikut Kristus (baca: menjadi Katolik), itu karena Tuhan memilih kita dan kita menanggapinya. Karena kita menanggapi panggilan Tuhan untuk beriman kepada-Nya dan kita mau mengikuti Dia serta menjadi murid-Nya, kita akan menjadi ahli waris Kerajaan Allah, yakni menerima anugerah keselamatan.

Kedua, untuk menerima anugerah keselamatan dan kehidupan dari Tuhan, kita juga harus berani dianggap miskin oleh dunia untuk menjadi kaya dalam iman. Apa artinya? Menjadi miskin berarti menyadari dan menempatkan diri bahwa kita ini tidak punya apa-apa. Semua yang kita “miliki” ini adalah anugerah Tuhan. Kesadaran dan sikap yang demikian, akan semakin menyuburkan iman kita karena kita akan lebih mudah bersyukur dan sungguh mengandalkan serta menggantungkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Inilah yang dimaksud kaya dalam iman.

Ketiga, kita akan menjadi ahli waris Kerajaan Allah yang dijanjikan itu, jika kita mengasihi Tuhan. Mengasihi Allah ini tidak cukup dengan kegiatan-kegiatan rohani (doa, Ekaristi, Adorasi, membaca Kitab Suci, dll). Semua itu penting dan harus kita laksanakan karena akan semakin mendekatkan diri kita dengan Tuhan, Sang Sumber hidup dan keselamatan kita. Namun, kita juga harus mengimbanginya dengan perwujudan kasih yang nyata, yaitu dengan mengasihi sesama. Bukankah setiap orang diciptakan sebagai gambar Allah, sehingga kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Allah, itu berarti kita harus mengasihi Allah yang tergambar dan hadir dalam diri sesama. Dan, untuk mengasihi sesama ini, St. Yakobus menegaskan supaya kita tidak pilih kasih. Semua orang harus kita kasihi. Bahkan mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel harus kita kasihi secara lebih. Dengan demikian, kita melaksanakan sabda Tuhan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Maka, Tuhan pun akan mengajak kita, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan!” (Mat 25:34).

Demikianlah tiga hal yang merupakan cara/jalan bagi kita untuk menerima anugerah keselamatan serta kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada kita. Semoga, inspirasi sabda Tuhan ini semakin memperteguh iman kita, memperkokoh harapan kita, dan mengobarkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

Ag. Agus Widodo, Pr