Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi ... tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga

Jumat, 19 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XI
  

2Kor. 11:18,21b-30; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; Mat. 6:19-23.

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi ... tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga"

Kita masih berada di dunia. Kita membutuhkan harta di bumi untuk makan, minum, tempat tinggal, pakaian, membayar sekolah, membayar listrik, dll. Namun, Yesus melarang kita mengumpulkan harta di bumi. Kan, Yesus hanya melarang "mengumpulkan" tidak melarang kita "menggunakan" harta di bumi. Jadi, boleh kita menggunakannya. Kalau kita membaca Kej 1 dan 2, Tuhan sendiri juga menugaskan manusia untuk memelihara, mengolah, mengusahakan dan memanfaatkan alam dan isinya yang telah diciptakan-Nya. "Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu" (Kej 2,15). Maka, yang harus diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakan harta di bumi ini. Pertama, kita harus ingat bahwa itu semua bukan milik kita sendiri tetapi milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita agar kita dapat hidup dengan layak. Yang kedua, kita tidak hidup sendirian tetapi bersama dengan banyak orang lain dan juga makluk hidup lainnya, baik yang hidup sebelum kita, bersama kita maupun sesudah kita sehingga kita harus senantiasa mengingat mereka dan berbagi bersama mereka. Yang ketiga, kebutuhan kita itu terbatas namun keinginan kita yang seringkali tidak terbatas sehingga kita harus mengontrol keinginan kita. Cukup bagi kita untuk memenuhi kebutuhan, bukan keinginan kita. Namun, Tuhan seringkali menganugerahi lebih dari sekedar yang kita butuhkan. Nah, kita harus ingat kalau ada sesama kita yang berkekurangan sehingga kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Jadi, anugerah lebih yang diberikan kepada kita, tidak sepantasnya kita kumpulkan semua untuk kepentingan kita sendiri tetapi sebaiknya kita bagikan untuk membantu saudara-saudari kita dalam memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan, kita juga harus berbagi kendati kita tidak mempunyai lebih. Sebab, dengan memberi dari kekurangan itu, kita tidak akan semakin berkekurangan tetapi justru akan berkelimpahan. Dan yang lebih penting, dengan berbagi itu, kita mengumpulkan harta di surga. Bahkan, di dunia ini kita akan mengalami seperti di surga karena kita punya banyak teman, sahabat dan saudara. (Rm. Agus Widodo, Pr)

Jumat, 19 Juni 2015 Hari Biasa Pekan XI

Jumat, 19 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XI
 
Pada malam kehidupan kita, kita akan diadili sesuai dengan cinta kita. (St. Yohanes dari Salib)

   
Antifon Pembuka (Mzm 23:4.3)

Arahkanlah pandanganmu kepada Tuhan, maka mukamu akan berseri-seri dan takkan malu tersipu-sipu.

Doa Pagi

Allah Bapa mahakuasa dan kekal, ajarilah kami menghargai sabda yang Kausampaikan kepada kami. Semoga sabda itu meresap benar dalam hati kami, merasuk sampai ke tulang sungsum, serta membantu kami membahagiakan sesama. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (11:18.21b-30)
    
"Di samping banyak hal, masih ada urusanku sehari-hari, yaitu memelihara semua jemaat."
      
Saudara-saudara, karena banyak orang bermegah-megah secara duniawi, aku pun mau bermegah. Jika orang lain berani membanggakan sesuatu, maka aku pun – seperti orang bodoh kukatakan – berani juga. Mereka orang Ibrani, aku juga! Mereka orang Israel, aku juga! Mereka keturunan Abraham, aku juga! Mereka pelayan Kristus, aku berkata seperti orang gila: aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih payah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan; tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih payah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan haus; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian. Di samping banyak hal lain lagi yang tidak disebutkan, masih ada urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat. Jika ada orang yang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang yang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita? Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
  
Mazmur Tanggapan
Ref. Allah melepaskan orang benar dari segala kesesakannya.
Ayat. (Mzm 34:2-3.4-5.6-7)
1. Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu; puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.
2. Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya. Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.
3. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 5:3)
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, sebab milik merekalah Kerajaan Allah.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (6:19-23)
  
"Di mana hartamu berada, di situ pula hatimu berada."
     
Dalam kotbah di bukit, berkatalah Yesus, “Janganlah kalian mengumpulkan harta di bumi; ngengat dan karat akan merusakkannya, dan pencuri akan membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga. Di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ pula hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
  
Renungan
 
Suatu ketika, seorang raja meninggal dunia. Yesus menyuruh malaikat menunjukkan tempat tinggal baginya.Mula-mula mereka melewati rumah-rumah megah dan mewah. Raja itu bertanya, ”Rumah-rumah ini milik siapa? ”Ini adalah rumah para pelayanmu,” jawab malaikat itu. Sang baginda berpikir, kalau para pelayan saja punya rumah semegah ini, pasti rumah untuknya jauh lebih megah lagi. Setelah berkeliling, mereka tiba di sebuah kompleks yang rumahnya jelek dan reot. Tanpa basa-basi, malaikat itu berkata: ”Ini adalah rumah Anda untuk selama-lamanya.” Sang raja protes. Tetapi dengan tegas malaikat itu menjawab: ”Baginda, hanya rumah seperti itu yang dapat kami bangun dengan bahan-bahan yang Anda kirim dari bumi”.

Dalam Injil hari ini, Yesus menasihati para murid-Nya untuk tidak mengumpulkan harta yang gampang dimakan ngengat atau dicuri orang melainkan harta surgawi. Apa yang dimaksudkan Yesus dengan harta surgawi itu? Harta surgawi itu adalah perbuatan-perbuatan baik terhadap Tuhan dan sesama. Perbuatan-perbuatan baik itu adalah ibarat bahan bangunan yang dikirim ke surga untuk membangun rumah masa depan. Hal itu tentu tidak berarti bahwa kita melarikan diri dari bisnis dunia ini. Bisnis di dunia ini tetap penting. Tetapi bisnis-bisnis di dunia ini tidak boleh sedemikian rupa sampai kita tidak memperoleh harta surgawi.
 
Tuhan, bantulah aku untuk memperlakukan barang-barang duniawi sedemikian rupa sehingga aku tidak kehilangan harta surgawi. Amin. (Ziarah Batin 2015, Renungan dan Catatan Harian)
  
Antifon Komuni (Mat 6:20a.21)

Kumpulkanlah bagimu harta di surga. Sebab di mana hartamu, di situ pula hatimu berada.