"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Mat 11,25)

Rabu, 15 Juli 2015
Peringatan Wajib St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja

 
Kel. 3:1-6.9-12; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7; Mat. 11:25-27

"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Mat 11,25)

Orang-orang yang kecil dan sederhana biasanya lebih mudah untuk merasa kagum dan bersyukur. Mereka lebih mudah untuk melihat kehadiran, karya dan kebaikan Tuhan dalam pengalaman hidup yang kecil dan sederhana, bahkan yang remeh. Oleh karena itu, menurut hemat saya, kunci untuk mengerti Tuhan yang berkenan menyatakan diri-Nya, bukan hanya dari pihak Tuhan sendiri tetapi juga dari pihak kita. Kita harus mau menjadi orang yang kecil dan sederhana agar lebih mudah mengandalkan diri pada rahmat-Nya sehingga mampu melihat kehadiran dan karya-Nya serta mensyukurinya. Sebaliknya, orang yang memposisikan diri sebagai orang pandai cenderung mengandalkan diri sendiri dan menutup diri pada rahmat Tuhan. Padahal untuk mengenal dan memahami Tuhan serta kehendak-Nya yang dibutuhkan pertama-tama bukanlah kemampuan kita tetapi rahmat Tuhan yang memberi pencerahan pada akan budi dan membuka mata iman kita. Kalau dikaitkan dengan St. Bonaventura yang kita peringati hari ini, beliau mempunyai kata-kata yang amat indah dan inspiratif: "Kesombongan biasanya menggilakan manusia, karena ia diajar untuk meremehkan apa yang sangat berharga seperti rahmat dan keselamatan, dan menjunjung tinggi apa yang seharusnya di cela seperti kesia-siaan dan keserakahan." Sementara itu, "Ketakutan akan Allah merintangi seseorang untuk menyukai hal-hal yang fana, yang mengandung benih-benih dosa".

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu menjadi orang yang kecil dan sederhana, yang senantiasa membuka diri serta mengandalkan rahmat-Mu. Amin. -agawpr-

Rabu, 15 Juli 2015 Peringatan Wajib St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja

Rabu, 15 Juli 2015
Peringatan Wajib St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
 
Tuhan menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya” (St. Bonaventura)

   
Antifon Pembuka (Dan 12:3)

Orang bijaksana akan bersemarak cemerlang laksana matahari, dan guru kebenaran akan berseri laksana bintang abadi.

Doa Pagi


Allah Bapa Yang Mahakuasa dan kekal, hari ini kami memperingati Santo Bonaventura. Semoga hati dan budi kami diterangi oleh pengetahuannya yang cemerlang, dan hati kami dikobarkan oleh cinta kasihnya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Keluaran (3:1-6.9-12)
   
"Tuhan menampakkan diri dalam nyala api yang keluar dari semak duri."
    
Di tanah Midian Musa biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali peristiwa Musa menggiring kawanannya ke seberang padang gurun, dan tiba di gunung Allah, yaitu Gunung Horeb. Lalu malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Musa melihat-lihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata, “Baiklah aku menyimpang ke sana, dan menyelidiki penglihatan hebat itu. Mengapa semak duri itu tidak terbakar?” Ketika dilihat Tuhan bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya, “Musa, Musa!” Musa menjawab, “Ya, Allah!” Lalu Tuhan bersabda, “Jangan mendekat! Tanggalkanlah kasutmu dari kaki, sebab tempat di mana engkau berdiri itu, tanah kudus.” Tuhan bersabda lagi, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Musa lalu menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Lalu Tuhan bersabda, “Sekarang seruan Israel telah sampai kepada-Ku. Juga telah Kulihat betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Maka sekarang pergilah! Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Tetapi Musa berkata kepada Allah, “Siapakah aku ini, maka aku harus menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Lalu Tuhan bersabda, “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: Apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kalian akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim
atau: Tuhan itu pengasih dan penyayang
Ayat. (Mzm 103:1-2.3-4.6-7)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya.
2. Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
3. Tuhan menjalankan keadilan dan hukum bagi semua orang yang diperas. Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, dan memaklumkan perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 11:25)
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (11:25-27)
  
"Yang Kausembunyikan kepada kaum cerdik pandai, Kaunyatakan kepada orang kecil."
    
Sekali peristiwa berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Semua telah diserahkan oleh Bapa-Ku kepada-Ku, dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak, serta orang-orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
 
Renungan
 
Menghayati hidup berdasarkan hidup nurani yang jernih, membawa pada sukacita yang sejati. Seorang bapak atau ibu yang menghayati hidup perkawinan dengan sukacita akan bekerja demi mencukupi keperluan keluarga serta mendampingi putra-putrinya dalam suasana sukacita pula. Aktivis paroki atau paguyuban atau aktivis penggerak kaderisasi menyatakan sikap hatinya sebagai aktivis yang mau keluar uang, tenaga dan waktu dnegan melibatkan diri dalam aneka kegiatan pemberdayaan dengan sukacita sambil mewariskan iman kepercayaan yang telah teruji melalui kegiatan yang terencana. Seorang suster, bruder, atau imam, yang menjalani hidup pembaktian kepada Tuhan dalam Gereja dengan sukacita hati, memberi pelayanan kepada umat, paguyuban, atau komunitas dengan sepenuh hati. Aneka suasana hati itu menjadi kekuatan dan penggugah semangat dalam menghayati keseharian hidup yang dilandaskan oleh cinta dan hormat bakti kepada Yesus Sang Penuntun.

Ungkapan penginjil Matius melukiskan tugas perutusan Sang Juru Selamat dinyatakan dalam nada syukur: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Hati yang terbuka dan hati yang menjadi “anawim”, orang sederhana yang mengandalkan diri pada kasih setia Allah, merupakan teladan. Santo Bonaventura dalam penghayatan kemiskinan yang teruji, menghadirkan kekayaan Kerajaan Allah sebagai Uskup dan Pujangga Gereja yang melayani Allah dan Gereja dengan sukacita yang keluar dari kedekatan dengan Allah Sang Empunya kehidupan. (FXS/Inspirasi Batin 2015)