Seri Liturgi: DUDUK DI SEBELAH KANAN

Seri Liturgi
DUDUK DI SEBELAH KANAN

Syalom aleikhem.
Frasa dalam Gloria yang diterjemahkan “duduk di sisi Bapa”, dalam bahasa Latin berbunyi “sedes ad déxteram Patris”– harafiah: ‘duduk di sebelah kanan Bapa’. Ini alkitabiah sekali, diucapkan oleh Tuhan Yesus dalam suatu nubuat (Mat. 26:64): “Jawab Yesus: ‘Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa….’”

Nubuat itu terpenuhi ketika Sang Kristus telah naik ke surga. Perhatikan penggalan ayat ini (Kis. 7:55): “Tetapi Stefanus yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.” Kalimat ini mengingatkan kita – karena mirip dan selaras – akan Kredo (Syahadat) bukan.

Berada di sisi atau duduk di sebelah kanan bermakna penuh kuasa, diberi kekuasaan penuh. Bandingkan itu dengan ungkapan bahasa Indonesia: “tangan kanan” – contoh: Menteri Polan kini menjadi tangan kanan Presiden Upin. Tangan kanan artinya orang kepercayaan penuh.

Karena besarnya kuasa itu, layak dan pantaslah kita memohon kepada Tuhan Yesus. Dialah Firman Allah, Dialah Allah. Dan satu-satunya yang kudus hanyalah Allah. Maka, kalimat selanjutnya dalam Gloria berbunyi “hanya Engkaulah kudus”. Hanya Tuhanlah yang kudus. Manusia dapat menjadi kudus sejauh dikuduskan dan ambil bagian dalam kekudusan Allah.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu A.
Katekis Daring