Senin, 05 November 2018 Hari Biasa Pekan XXXI

Senin, 05 November 2018
Hari Biasa Pekan XXXI
 
Kerinduan duniawiku sudah disalibkan. Di dalam aku ada air yang hidup dan berbicara, yang berbisik dan berkata kepadaku: Mari menuju rumah Bapa (St. Ignatius dari Antiokhia)
  

Antifon Pembuka (Flp 2:4)

Janganlah masing-masing hanya memperhatikan kepentingan sendiri, melainkan kepentingan orang lain.

Doa Pembuka


Allah Bapa kami yang Maha Pengasih, kami mohon, jiwailah kami dengan semangat Yesus Putra-Mu, agar berani menjadi orang papa dan saling memperkaya sesama dengan cinta kasih sejati. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
       
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (2:1-4)
    
 
"Lengkapilah sukacitaku, hendaklah kalian sehati sepikir."
     
Saudara-saudara dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasih. Maka sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kalian sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati anggaplah orang lain lebih utama daripada dirimu sendiri. Janganlah masing-masing hanya memperhatikan kepentingan sendiri, melainkan kepentingan orang lain juga.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
  
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, lindungilah aku dalam damai-Mu.
Ayat. (Mzm 131:1.2.3)
1. Tuhan, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
2. Sungguh, aku telah menenangkan dan mendirikan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
3. Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya.
  
Bait Pengantar Injil
Ref. Alelluya
Ayat. (Yoh 8:31b-32) 
Jika kalian tetap dalam firman-Ku, kalian benar-benar murid-Ku, dan kalian akan mengetahui kebenaran.
     
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (14:12-14)
     
"Janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, melainkan undanglah orang-orang miskin dan cacat."
     
Yesus bersabda kepada orang Farisi yang mengundang Dia makan, “Bila engkau mengadakan perjamuan siang atau malam, janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu, atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula, dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Maka engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
 
Renungan
   
   “Apa yang telah saya nikmati selama hdup di dunia ini nanti setelah mati, meninggal dunia, tak dapat dinikmati lagi, sedangkan yang belum dinikmati selama hidup di dunia ini nanti akan dapat menikmati sepuas-puasnya di sorga”, demikian kata seorang bijak. Dengan kata lain apa yang ada di dalam hidup kekal nanti adalah kebalikan dari apa yang ada dalam hidup sementara di dunia ini, misalnya: jika di dunia saat ini kita bermalas-malas dan pesta pora, maka di hidup kekal nanti harus bekerja keras dan matiraga, sebaliknya jika selama hidup di dunia ini kita bekerja keras dan matiraga, maka di hidup kekal nanti kita dapat bermalas-malas dan berpesta pora seenaknya dan selamanya. “Jer basuki mowo beyo” (= Untuk memperoleh hidup bahagia kekal harus berjuang dan bekerja keras), demikian kata pepatah Jawa. Sabda atau Warta Gembira hari ini kiranya mengajak dan memanggil kita untuk hidup sosial dan tidak materialistis atau bermental bisnis, seperti hidup di pasar. Ingatlah bahwa orang yang sungguh materialistis dan bermental bisnis yang kuat tinggal berlama-lama di pasar, yaitu para pedagang, sedangkan para pembeli pasti tidak ingin berlama-lama berada di pasar. Pembeli lebih banyak daripada penjual/pedagang, namun kiranya jika jujur mawas diri baik pedagang/ penjual atau pembeli juga bermental bisnis, yang mendambakan keuntungan atau kenikmatan sesaat. “Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”, demikian sabda Yesus. Sebagai bentuk konkret penghayatan hidup sosial , marilah kita perhatikan mereka yang miskin, cacat, lumpuh dan buta, entah secara duniawi maupun spiritual. Memperhatikan kelompok orang macam ini anda akan menikmati kebahagiaan pribadi yang tahan lama atau bahkan abadi atau kekal, tak mudah diambil orang lain atau luntur karena rayuan dan godaan duniawi.
 
  “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Flp2:2-4), demikian nasihat Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. “Yen lagi mlaku ojo ndlangak nanging ndungkluk” (=Ketika sedang berjalan jangan menengadah ke atas melainkan menunduk ke bawah), demikian kata pepatah Jawa. Apa yang dimaksudkan ‘mlaku/berjalan’ di sini kiranya selama perjalanan hidup kita di dunia. Marilah kita menunduk, melihat ke bawah, memperhatikan mereka lebih lemah, miskin dan kurang daripada kita. Marilah kita hidup dan bekerja dengan pedoman atau motto ‘solidaritas dan keberpihakan pada/bersama dengan yang miskin dan berkekurangan’. Orangtua lebih memperhatikan anak-anaknya, pemimpin atau atasan lebih memperhatikan anggota atau bawahannya, yang kaya dan kuat lebih memperhatikan yang miskin dan lemah, yang pandai/cerdas memperhatikan yang bodoh, dst.. Ajakan ini rasanya lebih kena bagi rekan-rekan yang hidup atau tinggal di kota-kota besar, yang sedikit banyak diwarnai sikap mental egois dan berkembang menjadi pelit, hanya mencari keuntungan diri sendiri atau kelompoknya. Maka dengan ini secara khusus perkenankan saya mengajak dan mengingatkan rekan-rekan yang hidup dan tinggal di kota-kota besar: jadikanlah situasi hidup yang lebih diwarnai sikap mental egoistis dan meterialistis menjadi ‘kesempatan emas’ untuk bersaksi hidup sosial, peka terhadap kepentingan orang lain, lebih-lebih mereka yang miskin dan berkekurangan. (Arsip Renungan Rm. Ign. Sumarya, SJ)


Antifon Komuni (Rm 11:36)
 
Segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah, dan menuju Allah. Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya! 
 
 Doa Malam

Allah Bapa kami di surga, dengarkanlah doa kami yang mohon dunia baru, di mana kami merasa senasib dengan kaum papa dan kaum tertindas, di mana kami takkan merasa bahagia, selama masih ada orang yang dihina dan diperas. Datanglah memperkuat kami dengan Roh-Mu dalam perjalanan kami mengikuti jejak Yesus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
   
Dalam kematian, Allah memanggil manusia kepada diri-Nya. Karena itu, seperti Paulus, warga Kristen dapat merindukan kematian: “Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus” (Flp 1:23) Dan ia dapat mengubah kematiannya menjadi perbuatan ketaatan dan cinta kepada Bapa, sesuai dengan contoh Kristus (lih Mat 23:46) (Katekismus Gereja Katolik, 1011)