Seri Alkitab: INJIL MARKUS 6:10-11

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 293

Seri Alkitab
INJIL MARKUS 6:10-11

Mrk. 6:10
Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.

Et dicebat eis: “ Quocumque introieritis in domum, illic manete, donec exeatis inde.

Syalom aleikhem.
Petunjuk Tuhan Yesus kepada para murid-Nya yang sebentar lagi diutus masih lanjut. Maksud ayat ini: kalau di suatu kota, murid-murid diterima di satu rumah, mereka tak boleh pindah ke rumah lain selama mereka di kota itu. Intinya, di satu kota, mereka hanya boleh menginap di satu rumah.

Mengapa demikian? Pada masa itu, pengajar-pengajar agama biasa pindah-pindah rumah guna cari sambutan yang lebih enak. Tuhan melarang murid-murid-Nya berbuat begitu. Kalau sudah diterima di satu rumah, enak tak enak sudahlah, tinggallah di situ sampai saat pindah kota.

Mrk. 6:11
Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”

Et quicumque locus non receperit vos nec audierint vos, exeuntes inde excutite pulverem de pedibus vestris in testimonium illis ”.

Yang dimaksud “tempat” pada ayat ini kota atau desa. Dua kata: “menerima” dan “mendengarkan” disebut serangkai untuk menyatakan “penyambutan”. Maka, “tidak menerima dan tidak mendengarkan” artinya “tak menyambut; menolak”. Kalau ditolak di suatu kota atau desa, para murid harus keluar dari sana, tak boleh memaksa.

Frasa “kebaskan debu” adalah suatu idiom, gaya bahasa, bukan kata harafiah. Tindakan itu bukan fungsional untuk membersihkan kaki, melainkan simbolik untuk memberi tahu orang-orang yang menolak.

Apa artinya secara simbolik? Pada masa itu, orang Yahudi tak bergaul dengan orang non-Yahudi (yang tak mengenal Allah) karena menganggap orang non-Yahudi najis, dan karenanya tanah tempat tinggal non-Yahudi pun ikut najis. Kalau menginjak wilayah mereka, contohnya melintas, seorang Yahudi membersihkan kaki setelahnya supaya tanah najis itu tak mengotorinya.

Sebagai sebuah gagasan dari masa lampau, bagian ini mudah dipahami, namun sebagai sebuah ajaran yang relevan, tak mudah diterapkan. Bagaimana relevansi nas ini untuk kita jaman now?

Pertama, mengebaskan debu artinya orang-orang yang menolak dianggap sama dengan orang-orang non-Yahudi yang najis dan pantas dihukum. Relevansinya, niat baik kita untuk memberitahukan jalan yang benar tak selalu mendapat sambutan baik. Biarlah, kalau ada penolakan, selanjutnya menjadi urusan Allah; yang penting kita sudah mencoba memperingatkan.

Kedua – tampaknya lebih cocok lagi untuk zaman ini – mengebaskan debu artinya membersihkan diri, jangan sampai kotoran dari sana mengotori para murid. Maknanya untuk kita: jangan sampai sikap menolak Allah juga mengotori kita, jangan sampai sikap menentang Allah pun menjangkiti kita. Contoh, kalau kita memaki-maki karena ditolak, maka kita sudah kena “debu”. Bersihkan itu, jangan sampai kita jadi ikut “jahat”.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring