| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

"Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba"

Minggu, 20 Juli 2014
Hari Minggu Biasa XVI

Keb 12:13.16-19; Mzm 86:5-6.9-10.15-16a Rom 8:26-27; Mat 13:24-43

"Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba"

Hampir setiap hari, kita mendengar dan melihat berbagai macam kejahatan. Pembunuhan, perampokan, pencurian, korupsi, penjajahan, dll. Kita lalu bertanya: dari mana datangnya itu semua. Tuhan itu mahabaik dan yang Ia ciptakan semuanya baik adanya (Kej 1: 1-31). Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan bahwa kejahatan itu berasal dari iblis (Mat 13:39a). Namun, siapakah iblis itu dan dari mana asalnya? Tiga kutipan Kitab Suci berikut ini membantu kita. 2 Ptr 2:4 mengatakan, “Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman.” Terlemparnya para malaikat yang berbuat dosa inilah yang disebut oleh Yesus, “Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit.” (Luk 10:18). Malaikat yang berdosa inilah yang kemudian menjadi iblis/setan. “Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” (Yoh 8:44). Jadi, dari sinilah asal muasal iblis/setan dan segala macam bentuk kejahatan.

Berhadapan dengan setan yang terus-menerus menimbulkan kejahatan di sekitar kita, Tuhan tidak serta merta membinasakannya. Ia justru membiarkan yang baik dan yang jahat itu tumbuh bersama, baik dalam diri pribadi kita maupun dalam komunitas atau masyarakat kita. Namun, pada akhirnya nanti jelas: si jahat akan dicampakkan ke dalam neraka dan orang benar akan dikumpulkan dalam Kerajaan Bapa (Mat 13:43). Tindakan "pembiaran" yang dilakukan Tuhan ini mempunyai beberapa makna. Pertama, Tuhan sangat menghargai kebebasan kita untuk memilih, mau menjadi baik atau menjadi jahat. Konsekuensinya pada akhir nanti sudah Ia sampaikan dengan jelas. Kedua, "pembiaran" itu juga merupakan kesempatan bagi kita untuk bertobat, yaitu mengubah "ilalang-ilalang" dalam diri kita menjadi "gandum". Ketiga, kita diajak untuk selalu waspada dan berjaga-jaga serta semakin teguh dalam iman sebagaimana ditegaskan oleh St. Petrus, "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh!” (1 Ptr 5:8.9). Sebab hanya keteguhan imanlah yang memampukan kita untuk melawan iblis dengan semua karya jahatnya.

Doa: Tuhan, ada banyak sekali ilalang yang tumbuh subur, baik dalam diri kami sendiri maupun dalam masyarakat kami. Untuk ilalang-ilalang dalam diri kami sendiri, berilah kami rahmat pertobatan dan untuk ilalang-ilalang dalam masyarakat kami, berilah kami kewaspadaan dan keteguhan iman dalam menghadapinya. Amin. -agawpr-

Minggu, 20 Juli 2014 Hari Minggu Biasa XVI

Minggu, 20 Juli 2014
Hari Minggu Biasa XVI
   
Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati. (Mzm 19:8a.9a)
      

Antifon Pembuka (Mzm 54:6-8)
   
Allah adalah Penolongku; Tuhanlah yang menopang aku. Dengan rela aku mempersembahkan kurban dan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, karena baiklah nama-Mu.
  
See, I have God for my help. The Lord sustains my soul. I will sacrifice to you with willing heart, and praise your name, O Lord, for it is good.
  
Ecce Deus adiuvat me, et Dominus susceptor est animæ meæ: averte mala inimicis meis, in veritate tua a disperde illos, protector meus Domine.
  

Doa Pagi

   
Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau selalu memberi kesempatan kepada kami untuk bertobat. Semoga, kami peka dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Kauberikan itu sehingga kesabaran-mu sungguh-sungguh membuahkan perbaikan dan pembaruan bagi hidup kami. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan (12:13.16-19)
      
   
"Apabila mereka berdosa, Kauberi kesempatan untuk bertobat."
     
Selain Engkau, tidak ada Allah yang memelihara segala-galanya, sehingga Engkau harus membuktikan kepadanya bahwa Engkau menghukum dengan adil. Asas keadilan-Mu ialah kekuatan-Mu, dan karena berdaulat atas semuanya maka Engkau bersikap lunak terhadap segala sesuatu. Kekuatan-Mu hanya Kauperlihatkan apabila orang tak percaya akan kepenuhan kuasa-Mu, orang yang berani menentang kekuasaan-Mu Kaupermalukan. Tetapi, meskipun Engkau Penguasa yang kuat, Engkau mengadili dengan belas kasihan, dan dengan sangat murah hati memperlakukan kami. Sebab kalau mau, Engkau dapat berbuat apa saja. Dengan berlaku demikian Engkau mengajar umat-Mu bahwa orang benar harus sayang akan manusia. Anak-anak-Mu Kauberi harapan yang baik ini: Apabila mereka berdosa, Kauberi kesempatan untuk bertobat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim
Ayat. (Mzm 86:5-6.9-10.15-16a; Ul: lih 5a)
1. Ya Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni, kasih setia-Mu berlimpah bagi semua yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan dan perhatikanlah suara permohonanku.
2. Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan; mereka akan memuliakan nama-Mu: Tuhan, sungguh besarlah Engkau! Engkau melakukan keajaiban-keajaiban hanya Engkaulah Allah!
3. Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah pengasih dan penyayang, Engkau sabar dan berlimpah kasih setia. Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:26-27)
   
"Roh berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."
      
Saudara-saudara, Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelami hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
  
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (Mzm 11:25)
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (13:24-43)
    
"Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba."
         
Sekali peristiwa Yesus membentangkan suatu perumpamaan kepada orang banyak, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu dan berkata kepadanya, “Tuan, bukankah benih baik yang Tuan taburkan di ladang Tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu, ‘Seorang musuh yang melakukannya!’ Lalu berkatalah hamba-hamba itu, ‘Maukah Tuan, supaya kami pergi mencabuti lalang itu?’ Tetapi ia berkata, ‘Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabuti lalangnya. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba.’ Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai, ‘Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandumnya kedalam lumbungku!” Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil di antara segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Dan Yesus menceritakan perumpamaan lain lagi kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai seluruhnya beragi.” Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan. Ia tidak menyampaikan apa pun kepada mereka kecuali dengan perumpamaan. Dengan demikian digenapilah firman yang disampaikan oleh nabi: Aku mau membuka mulutku untuk mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Para murid kemudian datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami arti perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Yesus menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia. Ladang ialah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan dan lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman, dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya, dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi. Pada waktu itulah orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.
 
Renungan

 

Gandum adalah sekelompok tanaman dari jenis padi-padian yang kaya akan kabohidrat. Sebagian besar dari antara kita jarang atau bahkan tidak pernah melihat tanaman gandum ini. Sebaliknya, lalang (alang-alang) adalah sejenis rumput berdaun tajam, yang banyak dijumpai di lahan pertanian.

Di lahan pertanian, gandum dan lalang dapat bertumbuh bersamaan, walau semula sang petani hanya menanam gandum. Keberadaan lalang bisa mengganggu tumbuhnya tanaman gandum. Karena itu, dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum, diceritakan bahwa hamba-hamba tuan itu berkata, “Tuan, bukankah benih baik yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: seorang musuh yang melakukannya.” (Mat 13:27-28a). Kata hamba-hamba tuan itu, “Jadi, maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?” (ay. 28b). Usul tersebut tidak diterima. Jawabnya, “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai....” (ay. 29-30).

Para hamba tuan ladang diminta agar menahan diri dan bersabar sampai waktu menuai, yaitu pada akhir zaman. Tanaman gandum yaitu anak-anak Kerajaan dan lalang yaitu anak-anak si jahat sama-sama diberi kesempatan untuk hidup sampai waktu menuai. Begitulah yang terjadi hingga hari ini dan sampai akhir zaman tiba. Orang-orang baik, yang berusaha hidup benar, jujur, adil dan berkenan kepada Allah diberi kesempatan untuk terus bertumbuh, sementara orang-orang yang berlaku jahat, kasar dan sadis terhadap sesamanya juga diberi kesempatan yang sama.

Injil menunjukkan akhir hidup dari masing-masing. Orang-orang jahat atau anak-anak si jahat yang “ditabur” (dipimpin) oleh iblis akan dicampakkan dalam dapur api dan dibakar (ay. 30,42); kelak mereka akan bangkit untuk dihukum (Yoh 5:29); sedangkan anak-anak Kerajaan yaitu orang-orang yang baik dan benar akan dikumpulkan dalam “lumbung”, mereka akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa (ay. 30, 43), kelak mereka akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal. (Yoh 5:29).
  
Mari kita terus berusaha hidup sebagai anak-anak Kerajaan, hidup seperti tanaman gandum, bukan seperti lalang, yaitu anak-anak si jahat! (Cafe Rohani)

Kobus: 20 Juli 2014 Hari Minggu Biasa XVI


Ada Rosario bentuk lain?


Sekali peristiwa orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Yesus. Tetapi Yesus tahu maksud mereka, lalu menyingkir dari sana.

Sabtu, 19 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV

Mi 2:1-5; Mzm 10:1-2.3-4.7-8.14; Mat 12:14-21

Sekali peristiwa orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Yesus. Tetapi Yesus tahu maksud mereka, lalu menyingkir dari sana.

Ketika tahu banyak orang Farisi bermaksud jahat tehadap-Nya, yakni ingin membunuh-Nya, Yesus memilih untuk pergi dan menyingkir. Padahal, Yesus juga mempunyai banyak pengikut untuk melawan mereka. Tampa melibatkan para pengikut-Nya pun, Yesus sebenarnya bisa melawan dan menghancurkan mereka. Lha wong roh jahat dan badai yang mengamuk di lautan saja bisa dengan mudah Ia kendalikan, apalagi hanya segerombolan orang-orang Farisi. Namun, Yesus memilih untuk tidak melakukan hal itu. Ia tidak mau melawan dan menggunakan kekerasan tetapi memilih jalan damai, yakni dengan cara menyingkir. Hal ini amat berbeda dengan realitas yang kadang/sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Ketika merasa ada yang mengancam dan menantang, biasanya orang segera balik mengancam dan menantang. Ketika ada orang yang dirasa mencemarkan nama baiknya atau menista agamanya, orang buru-buru melawan dengan kekerasan.

Dari sini kita diajak belajar beberapa hal. Pertama, belajar dari Yesus bagaimana menghadapi orang-orang yang bermaksud jahat, yaitu bukan dengan perlawanan dan kekerasan tetapi dengan jalan damai. Sebisa mungkin kita ajak berdialog tapi kalau tidak bisa ya menghindar atau menyingkir. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah kita mau mendoakan mereka (bdk. Mat 5:44). Kedua, Kita harus selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari pikiran dan keinginan-keinginan jahat karena dengan demikian Tuhan pun bisa jadi menyingkir dari kita. Tuhan memang datang untuk orang berdosa, tapi orang berdosa mau bertobat dan mau mendekati-Nya dengan maksud baik (bdk. Luk 5:32), bukan yang mau mendekatinya dengan maksud jahat seperti orang-orang Farisi tersebut. Ketiga, kalau orang yang berniat jahat dan mengganggap dirinya berkuasa disingkiri oleh Yesus, sebaliknya orang yang lemah dan mengandalkan Dia justru didekati-Nya, diberi-Nya kekuatan dan pertolongan. Sebab, "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Kepada-Nyalah semua bangsa akan berharap.” (Mat 12:20-21).

Doa: Tuhan, "bebaskanlah kami dari segala yang jahat". Amin. -agawpr-

Sabtu, 19 Juli 2014 Hari Biasa Pekan XV

Sabtu, 19 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV
   
“Sebelum diberkati dengan sabda surgawi namanya roti. Tetapi setelah konsekrasi roti itu merupakan Tubuh Kristus” (St. Ambrosius)
     

Antifon Pembuka (Mat 12:18)
   
Inilah hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi. Roh-Ku akan Kucurahkan kepada Dia, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada sekalian bangsa.

Doa Pagi


Allah yang kekal dan kuasa, sering kami jatuh dalam hal-hal yang jahat dan dosa yang sama. Insafkanlah kami ya Allah, agar kami tidak dicampakkan ke dalam kegelapan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
  
Tempat tidur bagi orang benar merupakan tempat untuk beristirahat dan mengalami mimpi indah. Tidak demikian bagi orang fasik dan jahat. Tempat tidur pun dijadikan sebagai tempat untuk merancang dan mempersiapkan kejahatannya. Allah melihat perbuatan itu durjana. Maka celakalah yang melakukannya.
  
Bacaan dari Nubuat Mikha (2:1-5)
    
    
"Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai putri Sion."
    
Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan merencanakan kejahatan di tempat tidurnya! Pada waktu fajar mereka melakukannya, sebab hal itu ada dalam kekuasaannya. Bila menginginkan ladang, mereka merampasnya; bila menginginkan rumah, mereka menyerobotnya. Mereka menindas orang bersama isi rumahnya dan manusia bersama milik warisannya. Sebab itu beginilah sabda Tuhan, “Sungguh Aku merancang malapetaka terhadap kaum ini. Dan kalian takkan dapat menghindarkan lehermu dari padanya. Kalian takkan dapat lagi berjalan angkuh, sebab waktu itu adalah waktu yang mencelakakan. Pada hari itu orang akan melontarkan sindiran tentang kalian dan akan memperdengarkan suatu ratapan. Mereka akan berkata, “Kita telah dihancurluluhkan! Bagian warisan bangsaku telah diukur dengan tali, dan tak ada orang yang mengembalikannya. Ladang-ladang kita dibagikan kepada orang-orang yang menawan kita.” Sebab itu tidak akan ada bagimu orang yang melontarkan tali dengan undian di dalam jemaah Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, janganlah Kaulupakan orang yang tertindas.
Ayat. (Mzm 10:1-2.3-4.7-8.14)
1. Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh ya Tuhan, dan menyembunyikan diri-Mu di kala aku kesesakan? Karena congkak, orang fasik giat memburu orang yang tertindas, mereka terjebak dalam tipu daya yang mereka rancangkan.
2. Orang fasik memuji-muji keinginan hatinya, orang tamak mengutuk dan menista Tuhan. Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas, “Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!” itulah seluruh pikirannya.
3. Mulutnya penuh dengan sumpah serapah, dengan tipu dan penindasan; di lidahnya ada kelaliman dan kejahatan. Ia duduk menghadang di gubuk-gubuk, di tempat yang tersembunyi ia membunuh orang yang tak bersalah. Matanya mengintip orang yang lemah.
4. Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.

Bait Pengantar Injil do = f, 4/4, kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (2Kor 5:19)
Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Kristus dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.
 
Yesus sadar dan tahu betul bahwa kebaikan dan kebenaran yang dilakukan-Nya tidak mudah diterima oleh orang-orang munafik. Yesus tidak mau mati konyol membabi buta menghadapi orang-orang seperti kaum Farisi dan Herodian. Maka Ia mengambil strategi mengalah dan mundur. Bukankah berlaku selalu mundur bukan berarti kalah?
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (12:14-21)
    
"Dengan keras Yesus melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah sabda yang telah disampaikan."
   
Sekali peristiwa orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Yesus. Tetapi Yesus tahu maksud mereka, lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Dia, dan Ia menyembuhkan mereka semua. Dengan keras Ia melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah sabda yang telah disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepadanya jiwa-Ku berkenan. Roh-Ku akan Kucurahkan atas Dia, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada sekalian bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, suara-Nya tidak terdengar di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Kepada-Nyalah semua bangsa akan berharap.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.
  
Renungan

    
Betapa banyaknya musuh kebaikan. Allah dalam diri Yesus adalah kebaikan (tertinggi). Kebaikan akan dibunuh, Dia menyingkir. Bukan untuk diri-Nya tetapi untuk pengharapan. Dia mengajarkan bahwa orang jahat masih ada harapan untuk baik. Betapa berharganya waktu untuk Yesus dalam memberi contoh memperbanyak kebaikan dan apa itu baik. Bahkan menyingkir seperti itu yang nampak tidak terhormat, adalah tindakan baik.

Doa Malam

Bapa kami di surga, kepada-Mulah semua bangsa berharap melalui Yesus yang Kaukasihi. Tambahkanlah iman kami akan pemeliharaan-Mu terhadap hidup kami walau jauh dari jangkauan akal budi kami. Sebab Engkaulah harapan kami sepanjang masa. Amin.

RUAH

"Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"

Jumat, 18 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV

Yes 38:1-6.21-22; 7-8; MT Yes 38:10.11.12abcd.16; Mat 12:1-8

"Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"

Seringkali, kita umat Katolik ditanya oleh saudara/i kita yang Kristen Protestan, "Mengapa kok umat (Gereja) Katolik tidak melakukan persepuluhan?" Memang, Gereja Katolik tidak mewajibkan umatnya untuk memberikan 10% penghasilan bulanannya kepada Gereja berdasarkan praksis umat Israel Perjanjian Lama (Kej 14:17-24; Ul 14:22-23; Neh 10:37-38; Im 27:32-33). Dalam Perjanjian Baru, praktik persepuluhan ini tidak lagi tampak karena yang lebih ditekankan adalah memberi atas dasar belas kasih dan secara sukarela, sebagaimana dikatakan oleh Paulus, "Hendaknya masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Kor 9:7). Selain itu, Yesus juga mengkritik praktik hidup ahli Taurat dan orang Farisi yang meski memenuhi kewajiban persepuluhan tetapi mengabaikan belas kasih. "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23). Maka, dengan tidak menerapkan praktik persepuluhan tersebut, Gereja hendak menekankan semangat dasar cinta kasih atau belas kasih.

Memang, Hukum Kanonik menegaskan bahwa "Kaum beriman kristiani terikat kewajiban untuk membantu memenuhi kebutuhan Gereja, agar tersedia baginya yang perlu untuk ibadat ilahi, karya kerasulan dan amal-kasih serta sustentasi yang wajar para pelayan. Mereka juga terikat kewajiban untuk memajukan keadilan sosial dan juga, mengingat perintah Tuhan, membantu orang-orang miskin dengan penghasilannya sendiri." (Kan 222 § 1 dan 2) . Namun, semangat dasar yang hendak ditekankan bukanlah kewajiban berdasarkan hukum/aturan tetapi lebih semangat cinta kasih kepada Allah dan sesama. Mengenai jumlahnya, itu semua diserahkan kepada masing-masing, sesuai dengan kemampuan dan situasi berdasarkan semangat cinta kasih tadi ditambah kemurahan hati. Tidak ada artinya sebuah pemberian atau persembahan yang besar jumlahnya, jika tidak didasari oleh cinta kasih, yang merupakan hukum utama bagi kita (Mat 22:37-40).

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk mempunyai hati yang penuh belas kasih sebagai dasar dari seluruh sikap, perkataan dan perbuatan kami. Amin. -agawpr-

Jumat, 18 Juli 2014 Hari Biasa Pekan XV

Jumat, 18 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV
    
Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya. --- Keb 3:9
   

Antifon Pembuka (Hos 6:6)
   
Aku menyukai kasih setia dan bukan kurban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada kurban-kurban sembelihan.
 
Doa Pagi
  

Allah Bapa yang berbelaskasih, Engkau telah mendengarkan doa Hizkia dan mengabulkannya. Tambahkanlah niat kami untuk mau berdoa dengan sungguh-sungguh agar kami pun mengalami daya dari doa itu sendiri. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (38:1-6.21-22; 7-8)
    
"Aku telah mendengar doamu dan melihat air matamu."
       
Pada waktu itu Hizkia , raja Yehuda, jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah Nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: "Beginilah sabda Tuhan, "Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi." Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada Tuhan. Ia berkata, "Ya Tuhan, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di hadapan-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. Maka bersabdalah Tuhan kepada Yesaya, "Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia, 'Beginilah sabda Tuhan, Allah Daud, leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sungguh, Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi, dan Aku akan melepaskan dikau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan melindungi kota ini." Kemudian berkatalah Yesaya, "Hendaknya diambil sebuah kue dari buah ara dan ditaruh di atas barah itu, maka raja akan sembuh." Sebelum itu Hizkia telah berkata, "Apakah yang akan menjadi tanda, bahwa aku akan pergi ke rumah Tuhan?" Jawab Yesaya, "Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari Tuhan, bahwa Tuhan akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya, 'Sungguh, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak dari yang telah dijalaninya'." Maka pada penunjuk matahari itu mundurlah matahari sepuluh tapak ke belakang dari jarak yang telah dijalaninya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
       
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, Engkau telah menyelamatkan hidupku.
Ayat. (Yes 38:10.11.12abcd.16)
1. Aku berkata: Dalam pertengahan umurku aku harus pergi, ke pintu gerbang dunia orang mati aku dipanggil untuk selebihnya dari hidupku.
2. Aku berkata: Aku tidak akan melihat Tuhan lagi di negeri orang-orang yang hidup; aku tidak lagi akan melihat seorang pun di antara penduduk dunia.
3. Pondok kediamanku dibongkar dan dibuka seperti kemah gembala; seperti tukang tenun menggulung tenunannya aku mengakhiri hidupku; Tuhan memutus nyawaku dari benang hidup.
4. Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Dikau: Tenangkanlah batinku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh.
   
Bait Pengantar Injil do = f, 2/2, PS 951
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 10:27) 2/4
Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan; Aku mengenal mereka dan mereka mengenal aku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (12:1-8)
     
"Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."
     
Pada suatu hari Sabat, Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di lading gandum. Karena lapar murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada Yesus, “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidakkah kalian baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengikutnya lapar? Ia masuk ke dalam bait Allah, dan mereka semua makan roti sajian yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Atau tidakkah kalian baca dalam Kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi bait Allah. Seandainya kalian memahami maksud sabda ini, ‘Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan’, tentu kalian tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Sebab Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan
 
Bicara soal jaminan, spontan pikiran kita tertuju pada pinjaman. Artinya, kalau seseorang meminjam selalu dibutuhkan jaminan, sehingga pinjaman dapat diberikan. Jaminan membuat rasa nyaman bagi siapa pun, baik yang berhutang maupun yang memberikan pinjaman. Intinya, jaminan ditujukan untuk memberikan rasa nyaman. Kalau ada jaminan hidup, maka hidup akan lebih nyaman. Kalau ada jaminan kesehatan, sosial, hari tua, kerja dan yang lainnya; hidup akan lebih nyaman untuk dijalani. Adanya jaminan bukan berarti kita tidak dapat sakit, tua, lapar atau mati. Sebaliknya, itu adalah pertanda bahwa kita rentan terhadap semua itu. Lantas, jaminan apa yang kita butuhkan agar kerentanan tersebut membuat kita lebih bahagia dalam menjalani dan mensyukuri kehidupan?

Mari kita lihat pengalaman Hizkia. Ketika difirmankan bahwa ia akan mati dan tidak akan sembuh lagi dari sakitnya, ia menjadi lemas karena sudah pasti akan mati. Tidak ada obat apa pun yang bisa menolongnya. Namun, apa yang dilakukannya? Ia hanya pasrah pada Tuhan, berdoa mengungkapkan keluh kesah kepada-Nya. Apa yang terjadi? Tuhan mendengar doanya dan mengusap air matanya. Tuhan memberikan jaminan hidup 15 tahun lagi kepadanya.

Injil hari ini memperlihatkan konflik antara kebutuhan hidup dan aturan keagamaan. Konflik yang sangat banyak kita alami dalam hidup sehari-hari. Seperti lembur pada hari Minggu, sehingga meninggalkan Gereja. Tidak sempat mengaku dosa sekali setahun. Tidak bisa merayakan Ekaristi sekali seminggu padahal setiap hari ada perayaan Ekaristi. Tertunda baptisan, karena tidak bisa mengikuti pelajaran yang jumlah pertemuannya sudah diminimalisir dan lain sebagainya. Apa yang harus kita lakukan dan pahami dari situasi ini?

Saudaraku, Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat; Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan. Artinya, sebagai anak-anak Allah, tidaklah elok kita disibukkan oleh hal-hal duniawi sampai mengabaikan kewajiban kita sebagai orang beriman. Semakin banyak kita mengabaikan Tuhan dan hal-hal rohani karena kesibukan pada hal-hal duniawi, itu artinya kita lebih yakin bahwa yang menjamin hidup ini bukanlah Tuhan. (Kartolo Malau, O.Carm)

"Enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.”

Kamis, 17 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV

Yes 26:7-9.12.16-19; Mzm 102:13-14ab.15.16-18.19-21; Mat 11:28-30

"Enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.”

Ketika membaca dan merenungkan Injil ini, saya ingat akan para guru dan dosen yang setiap kali selalu membuat soal dan menguji para murid atau mahasiswanya. Hal ini pun juga saya lakukan ketika menjadi guru dan dosen. Guru dan dosen, kalau menguji para murid atau mahasiswanya, tentu harus membuat soal. Berhadapan dengan soal-soal tersebut, tidak jarang para murid atau mahasiswa mengalami persoalan dan kesulitan. Harus belajar, mengingat, menghafal, memahami supaya bisa memberikan jawaban yang benar. Ada juga murid dan mahasiswa yang gelisah dan takut ketika harus ujian, bahkan sampai berdampak ke fisik dan psikis, misalnya: sariawan, asam lambung meningkat, sering kencing, dll. Ada juga yang sampai semaput di ruang ujian.

Ujian yang dibuat oleh para guru dan dosen, tentu tidak pernah dibuat untuk menjadikan para murid atau mahasiswa sengsara dan menderita. Bahwa mereka mengalami berbagai kesulitan dan sepertinya terbebani, mungkin iya. Namun tidak pernah dimaksudkan demikian. Ujian dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan, kemampuan dan keterampilan murid atau mahasiswa yang bersangkutan sehingga layak dinyatakan berhasil atau tidak, sudah bisa lanjut ke level selanjutnya atau belum, tamat/lulus atau tidak. Dengan kata lain, ujian merupakan salah satu instrumen untuk membantu para murid atau mahasiswa untuk meningkatkan kualitas mereka.

Tuhan pun kadang juga sengaja memasang kuk di pundak kita. Ia memberi kita beban dan ujian sehingga tidak kjarang kita mengalami kesulitan dan keletihan. Namun, hal itu tidak dimaksudkan oleh Tuhan agar kita sengsara tetapi agar kita sungguh-sungguh teruji dan semakin berkualitas dalam iman. Toh, seandainya kita kepayahan, Tuhan selalu hadir dan menolong serta memberi kelegaan. Asal kita mau datang kepada-Nya dan belajar dari pada-Nya, tidak malah meninggalkan Dia dengan pelarian-pelarian yang justru semakin membuat kita terpuruk. Per aspera ad astra. Dengan bekerja keras (berjerih payah) menggapai bintang-bintang.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk menerima dan menikmati betapa enaknya kuk yang Kaupasang dalam pundak kami dan semoga melalui kuk-kuk tersebut kami semakin memiliki iman yang mendalam dan tangguh. Amin. -agawpr-

Kamis, 17 Juli 2014 Hari Biasa Pekan XV

Kamis, 17 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV
  
“Satu kekeliruan yang tersebar luas dewasa ini terletak dalam hal ini, bahwa orang melupakan hukum solidaritas dan kasih antar manusia” (Paus Pius XII)
  

Antifon Pembuka (Yes 26:7.9)

Ya Tuhan, Engkau merintis jalan lurus bagi orang benar. Dengan segenap hati aku merindukan Dikau waktu malam, dengan sepenuh hati pula aku mencari Engkau waktu pagi.

Doa Pagi

Allah Bapa yang mahabaik, betapa engkau mengasihi kami lebih dari segalanya. Ketika kami dalam kesulitan, Engkau mengundang kami datang kepada-Mu untuk menyerahkan semuanya pada-Mu. Engkau berjanji akan memberikan kelegaan bagi kami. Semoga kami dapat mengalami pemeliharaan-Mu yang besar dalam segala usaha kami. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
 
Nabi itu orang benar. Hidupnya memantulkan kebenaran Tuhan. Orang seperti ini tidak takut bahkan penghakiman Tuhan sekalipun. Dia yakin hidup orang benar pada saatnya akan mengalami damai sejahtera. Dalam situasi apa pun Tuhan menjadi harapannya.
  

Bacaan dari Kitab Yesaya (26:7-9.12.16-19)
  
"Hai kalian yang sudah dikubur dalam tanah, bangkitlah dan bersorak-sorailah."
  
Pada suatu waktu kidung berikut akan dinyanyikan di tanah Yehuda, “Ya Tuhan, Engkau merintis jalan lurus bagi orang benar. Kami juga menanti-nantikan saat Engkau menjalankan penghakiman. Kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau. Dengan segenap jiwa aku merindukan Dikau pada waktu malam, dan dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi. Sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar. Ya Tuhan, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami. Ya Tuhan, dalam kesesakan mereka mencari Engkau. Ketika hajaran-Mu menimpa mereka, mereka mengeluh dalam doa. Seperti wanita yang mengandung dan sudah dekat waktunya melahirkan, menggeliat sakit dan mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya Tuhan. Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan hanya melahirkan angin. Kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi, dan tiada lahir penduduk dunia. Ya Tuhan, orang-orang-Mu yang telah mati akan hidup kembali, mayat-mayat mereka akan bangkit lagi. Hai kalian yang sudah dikubur dalam tanah, bangkit dan bersorak sorailah! Sebab embun Tuhan ialah embun terang dan bumi akan melahirkan arwah kembali.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
  
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan memandang ke bumi dari surga.
Ayat. (Mzm 102:13-14ab.15.16-18.19-21)
1. Engkau, ya Tuhan, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu lestari turun temurun. Engkau sendiri akan bangun, akan menyayangi Sion, sebab sudah waktunya untuk mengasihaninya. Sebab hamba-hamba-Mu sayang kepada batu-batunya, dan merasa kasihan akan debunya.
2. Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama Tuhan, dan semua raja bumi menyegani kemuliaan-Mu, bila Engkau sudah membangun Sion, dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Mu, bila Engkau mendengarkan doa orang-orang papa, dan tidak memandang hina doa mereka.
3. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji Tuhan, sebab Ia telah memandang dari tempat-Nya yang kudus. Tuhan memandang dari surga ke bumi, untuk mendengarkan keluhan orang tahanan, dan membebaskan orang-orang yang ditentukan harus mati.
   
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 11:28)
Datanglah kepada-Ku, kalian yang letih dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.
  
Siapa orang yang tidak pernah mengalami keletihan dan kelesuan dalam hidup ini. Badan fisik sekuat dan sesehat apa pun mempunyai keterbatasan, sehingga sekali waktu menjadi letih lesu, apalagi jiwa dan kerohanian kita. Hanya masalahnya, ketika kita mengalami keletihan dan kelesuan itu lari ke mana?
  
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (11:28-30)
   
"Aku ini lemah lembut dan rendah hati."
    
Sekali peristiwa bersabdalah Yesus, “Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan
 
Yesus sudah datang kepada kita. Mari kita ganti datang kepada-Nya. Mengimani Dia dengan sepenuh hati memang merupakan tugas berat. Membuat kita letih lesu. Tetapi dengarkanlah “Suara Sang Kekasih”, yang lemah lembut mengundang kita. Dia yang mencintai kita ikut membantu memanggul kuk kita dan menjadikannya persembahan, sehingga segalanya menjadi ringan . Lega. Tenteram. Demikianlah jadinya hidup yang dipersembahkan.
  

Doa Malam

   
Yesus yang lembut dan rendah hati, terima kasih atas tawaran-Mu. Kuatkanlah aku untuk berani datang berserah diri pada-Mu sehingga hatiku mendapat ketenangan dan ringanlah beban-Mu. Sebab Engkaulah tumpuan hatiku. Amin.


RUAH

"Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu."

Rabu, 16 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV

Yes 10:5-7.13-16; Mzm 94:5-6.7-8.9-10.14-15; Mat 11:25-27

"Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu."

Dalam kehidupan kita, ada peristiwa-peristiwa khusus, yang boleh dikatakan besar dan istimewa, sehingga seringkali kita mesyukurinya secara khusus. Misalnya: ulang tahun (kelahiran, perkawinan, tahbisan), kelulusan, kenaikan jabatan, selesai membangun rumah baru, dll. Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, kita seringkali membuat acara syukuran secara khusus karena kita menyadari bahwa Tuhan memberikan rahmat dan anugerah yang istimewa kepada kita. Tentu saja hal ini baik dan sah-sah saja kita lakukan. Namun, hendaknya kita jangan lupa untuk bersyukur dalam peristiwa-peristiwa kecil sehari-hari. Janganlah kita hanya bersyukur karena merasa menerima anugerah yang besar dan istimewa. Bukankah kalau setiap saat kita bisa menghirup udara segar dengan cuma-cuma, setiap malam kita bisa tidur nyenyak lalu pagi hari bangun dengan segar, kita diberi keluarga dengan kekhasan dan keunikan masing-masing anggotanya (suami/istri/anak/orangtua), pekerjaan/belajar kita lancar atau kalau pun ada persoalan dapat dihadapi dan diatasi dengan baik, dll, dll, semuanya itu pantas kita syukuri? Bahkan, dalam kesulitan, penderitaan dan pengalaman pahit sekalipun, kita hendaknya masih tetap bersyukur.

Mesyukuri hal-hal kecil dan sederhana inilah yang seringkali kita lupakan, namun biasanya selalu diingat dan dilakukan oleh orang-orang kecil. Mereka biasanya jauh lebih mudah menyadari rahmat Tuhan sekecil apa pun dan mensyukurinya. Hal ini misalnya tampak dalam syukur seorang simbok bakul sayuran di pasar yang suatu hari mendapat untung Rp. 10.000,-. Ia sangat bersyukur karena dengan uang itu, ia bisa memberi beras dan lauk, serta membelikan jajan bagi cucunya, juga bisa menyisakan sedikit demi sedikit untuk membayar listrik. Lain halnya dengan beberapa pejabat yang gajinya sebulah puluhan juta, masih ditambah tunjangan ini dan itu, tetapi selalu merasa kurang. Alih-alih bersyukur tetapi malah mengambil yang bukan haknya, alias korupsi. Siapa pun kita dan seperti apa pun keadaan kita, sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk selalu bersyukur, baik dalam peristiwa yang kecil dan sederhana, maupun dalam peristiwa besar, bahkan juga dalam kesulitan, penderitaan dan pengalaman pahit sekalipun.

Doa: Tuhan, ingatkanlah kami untuk selalu bersyukur kepada-Mu, baik dalam peristiwa yang kecil dan sederhana, maupun dalam peristiwa besar, bahkan juga dalam kesulitan, penderitaan dan pengalaman pahit sekalipun. Amin. -agawpr-

Rabu, 16 Juli 2014 Hari Biasa Pekan XV

Rabu, 16 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV
    
Doa batin adalah ungkapan sederhana tentang misteri doa. Ia memandang Yesus dengan penuh iman, mendengarkan sabda Allah, dan mencintai tanpa banyak kata. Ia mempersatukan kita dengan doa Kristus, sejauh ia mengikutsertakan kita dalam misteri-Nya. --- Katekismus Gereja Katolik, 2724
 

Antifon Pembuka (Mat 11:25)

Terpujilah Engkau Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.
 
Doa Pagi
 

Ya Allah, dalam Putra-Mu yang merendahkan diri, Engkau mengangkat dunia yang telah jatuh. Semoga kami, umat-Mu, bersukacita di dalam Dikau agar kami, yang sudah dibebaskan dari perbudakan dosa, dapat menikmati sukacita abadi. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
 
Tuhan tetap menginginkan setiap bangsa hidup berdampingan dan saling mengasihi bukan saling bermusuhan dan mengalahkan. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Asyur yang merasa lebih tinggi menindas bangsa lain seperti lumpur. Maka, Allah menunjukkan kemurkaan-Nya.
  

Bacaan dari Kitab Yesaya (10:5-7.13-16)
 
  
"Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya?"
      
Beginilah Tuhan bersabda, "Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murka-Ku dan yang menjadi tongkat marah-Ku! Aku akan mengerahkannya melawan bangsa yang murtad. Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murka-Ku. Asyur akan melakukan perampasan dan penjarahan, dan akan menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan. Tetapi Asyur sendiri tidak demikian maksudnya tidak begitu rancangan hatinya. Niat hatinya ialah hendak memunahkan dan melenyapkan banyak bangsa." Sebab Asyur berkata, "Dengan kekuatan tanganku aku telah melakukannya, dengan kebijaksanaanku aku telah melaksanakannya, sebab aku berakal budi. Aku telah meniadakan batas antara bangsa, aku telah merampas persediaan mereka. Dengan perkasa aku telah menurunkan orang-orang yang duduk di atas takhta. Seperti menjangkau sarang burung, tanganku telah menjangkau kepada kekayaan bangsa-bangsa. Dan seperti orang meraup telur-telur yang ditinggalkan induknya, demikianlah aku telah meraup seluruh bumi, dan tidak seekor pun yang menggerakkan sayap, yang mengangakan paruh atau yang menciap-ciap." Maka beginilah firman Tuhan, "Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya? Atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? Seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya. Atau tongkat mengangkat orang yang bukan kayu? Sebab itu Tuhan semesta alam akan membuat orang-orangnya yang tegap menjadi kurus kering, dan segala kekayaannya akan dibakar habis, dengan api yang menyala-nyala.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan tidak akan membuang umat-Nya.
Ayat. (Mzm 94:5-6.7-8.9-10.14-15)
1. Umat-Mu, ya Tuhan, mereka remukkan, dan milik pusaka-Mu mereka tindas; janda dan orang-orang asing mereka sembelih, dan anak-anak yatim mereka bunuh.
2. Mereka berkata, "Tuhan tidak melihatnya, Allah Yakub tidak mengindahkannya." Perhatikanlah, hai orang-orang bodoh di antara rakyat! Hai orang-orang bebal, bilakah kamu memakai akal budimu?
3. Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar! Dia yang membentuk mata, masakan tidak melihat! Dia yang menghajar bangsa-bangsa, masakan tidak akan menghukum! Dialah yang mengajarkan pengetahuan kepada manusia!
4. Sebab Tuhan tidak akan membuang umat-Nya, dan milik pusaka-Nya tidak akan Ia tinggalkan; sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan semua orang yang tulus hati akan mematuhi.
 
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 11:25)
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.
 

Yesus sebagai Guru memang dapat digugu dan ditiru, baik itu pengajaran dan tindakan-Nya, karena Yesus pertama-tama konsekuen dalam penghayatan-Nya. Ia adalah seorang guru yang patut diteladani. Ia pandai berdoa syukur dan rendah hati. Itulah yang berkenan pada Bapa-Nya.
  
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (11:25-27)
  
"Yang Kausembunyikan kepada kaum cerdik pandai, Kaunyatakan kepada orang kecil."
     
Sekali peristiwa, berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah dise-rahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku, dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak serta orang-orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
  
Renungan

   
Apa yang dimiliki orang "kecil"? Tidak banyak. Yang ada hanya kekurangan. Tetapi, orang kecil adalah jalan. Kalau ingin sempurna, Yesus justru meminta orang kaya menjual segala miliknya dan mengikuti-Nya. Orang kecil tidak jauh melangkah untuk menjadi percaya karena Allah hartanya. Dalam kasih, orang seperti itu mampu saling berbagi dalam kekurangan. Tidak ada kesombongan. Tuhan Yesus bersyukur dalam doa karena Bapa berkenan menyatakan rahasia Kerajaan kepada mereka.

Doa Malam

Ya Bapa, kami bersyukur kepada-Mu sebab telah Kauperkenankan untuk mengenal Engkau melalui Putra-Mu, Yesus. Kini kami mohon, peliharalah persatuan kami. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

RUAH

Sekali peristiwa Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat meskipun di sana Ia melakukan paling banyak mukjizat.

Selasa, 15 Juli 2014
Peringatan Wajib St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja

Yes 7:1-9; Mzm 48:2-3a.3b-4.5-6.7-8; Mat 11:20-24

Sekali peristiwa Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat meskipun di sana Ia melakukan paling banyak mukjizat.

Mungkin kita pernah berbuat baik dan berkorban untuk seseorang, tetapi orang tersebut tidak menanggapi dengan semestinya, entah cuek, tidak berterimakasih, atau malah memperlakukan kita dengan tidak baik. Lalu dalam hati kita muncul kejengkelan dan kemarahan dengan berbagai macam bentuk ekspresinya baik dalam kita berkata, bersikap dan bertindak. Tindakan Yesus yang mengecam beberapa kota yang penduduknya tidak mau bertobat kendati Ia telah melakukan banyak kebaikan melalui mujizat-mukjizat-Nya bagi mereka dalam Injil hari ini, seolah-olah dapat menjadi pembenaran atas sikap kita tersebut. Padahal, sebenarnya yang terjadi lain. Kejengekalan dan kemarahan kita seringkali didasari oleh sikap egois dan diarahkan untuk kepentingan kita sendiri, yakni karena kita merasa tidak dihargai, disepelekan, tidak dianggap, diremehkan, dll. Hal ini muncul dari alam bawah sadar kita yang ingin dihormati, dihargai dan dipuji. Oleh karena itu, tidak jarang kemarahan hanya sekedar sebagai pelampiasan emosi yang negatif dan distruktif.

Lain halnya dengan Yesus. Yesus marah, bahkan mengecam beberapa kota, sama sekali bukan untuk kepentingan-Nya tetapi murni untuk kepentingan mereka. Sebab, jika mereka tidak bertobat, yang rugi adalah mereka sendiri, yakni kehilangan rahmat keselamatan yang disediakan Allah bagi mereka. Maka, kemarahanan dan kecaman rupanya menjadi cara terakhir bagi Yesus untuk mengingatkan mereka secara keras karena mereka sudah tidak bisa lagi diingatkan dengan kebaikan dan cara-cara yang halus. Kalau demikian halnya, kemarahan menjadi salah satu metode dan bagian dari proses pendidikan, seperti halnya kemarahan orangtua terhadap anak-anaknya atau kemarahan guru terhadap para muridnya. Dengan ini, kita diajak untuk introspeksi diri, terutama berkaitan dengan kemarahan kita. Apakah kalau kita marah, kemarahan kita itu sungguh-sungguh konstruktif, yakni didasari oleh kasih, bukan egoisme, dan diarahkan untuk kebaikan orang lain, bukan untuk melampiaskan emosi? Apakah kemarahan itu merupakan cara terakhir yang harus kita gunakan karena dengan pertimbangan yang matang sudah tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang lebih halus? Lalu, apakah kita marah hanya "sekali peristiwa" saja, tidak seringkali dan tidak setiap kali?

Doa: Tuhan, tolonglah aku bila sekali peristiwa aku harus marah supaya aku mampu untuk mengungkapkannya dengan tepat sehingga kostruktif baik bagi diriku sendiri maupun orang lain. Amin. -agawpr-

Selasa, 15 Juli 2014 Peringatan Wajib St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja

Selasa, 15 Juli 2014
Peringatan Wajib St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
 
“Dengan Kristus tersalib hendaklah kita melewatkan dunia ini menuju Bapa” (St. Bonaventura)
 

Antifon Pembuka (Mzm 48:2-3a)
 
Agunglah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi.
 
Doa Pagi

    
Allah yang Mahabaik, sabda-Mu hari ini mengajak kami untuk tetap teguh dan percaya akan penyertaan-Mu dalam situasi apa pun. Buatlah kami menjadi saksi-saksi-Mu yang hidup di mana pun kami berada. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
 
Allah selalu memberikan penghiburan dan peneguhan bagi umat-Nya yang berkecil hati. Harapan selalu ada dan tidak pernah hilang. Oleh karena itu, yang dibutuhkan dalam situasi kritis seperti itu adalah keputusan iman. Jika orang beriman akan teguh jaya. Sebaliknya dengan kehilangan iman orang kehilangan hidupnya.
 

Bacaan dari Kitab Yesaya (7:1-9)
    
    
"Jika kalian tidak percaya, niscaya kalian tidak teguh jaya."
      
Dalam zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, maka Rezin, raja Aram, dengan Pekah bin Remalya, raja Israel, maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu. Namun mereka tidak dapat mengalahkannya. Lalu diberitahukanlah kepada keluarga Daud, “Aram telah berkemah di wilayah Efraim.” Maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin. Bersabdalah Tuhan kepada Yesaya, “Baiklah engkau keluar menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ke ujung saluran kolam atas, ke jalan raya pada Padang Tukang Penatu, dan katakanlah kepadanya, “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang; janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dari Aram dan anak Remalya. Sebab Aram dan Efraim dengan anak Remalya telah merancang yang jahat atasmu, dengan berkata: Marilah kita maju menyerang Yehuda dan menakut-nakutinya serta merebutnya. Lalu kita mengangkat anak Tabeel sebagai raja di tengah-tengahnya. Beginilah sabda Tuhan Allah, ‘Hal itu tidak akan sampai terjadi, sebab ibu kota Aram ialah Damsyik, dan kepala Damsyik ialah Rezin. Ibu Kota Efraim ialah Samaria, dan kepala Samaria ialah anak Remalya. Dalam enam puluh lima tahun Efraim akan pecah, tidak menjadi bangsa lagi. Jika kalian tidak percaya, niscaya kalian tidak teguh jaya.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Allah menegakkan kota-Nya untuk selama-lamanya.
Ayat. (Mzm 48:2-3a.3b-4.5-6.7-8)
1. Agunglah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi.
2. Gunung Sion, pusat kawasan utara, itulah kota Raja Agung. Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri sebagai benteng.
3. Lihat, raja-raja datang bersekutu, dan maju serentak menyerang. Demi melihat kota itu, mereka tercengang-cengang, kacau-balau, lalu lari kebingungan.
4. Kegentaran menimpa mereka di sana; mereka mengerang seperti perempuan yang hendak melahirkan. Tak ubahnya seperti angin timur yang menghancurkan kapal-kapal Tarsis.
    
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah sabda Tuhan.
     
Kerasnya bata lebih mudah dihancurkan tetapi kerasnya hati manusia lebih sulit dilembutkan. Mengapa? Karena di balik kerasnya hati itu begitu banyak lapisan. Ada lapisan egoisme, kesombongan dan kebekuan ideologis, sehingga sulit untuk ditembus. Karena itu orang perlu jujur dan terbuka akan kebenaran yang lain. Kebenaran perlu Anda teliti, timbang dan tetapkan untuk perubahan dan pertumbuhan.
   
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (11:20-24)
   
"Pada hari penghakiman tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu."
               
Sekali peristiwa Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat meskipun di sana Ia melakukan paling banyak mukjizat. Ia berkata, “Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau, Betsaida! Karena jika di Tirus dan Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Pada hari penghakiman tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu.’ Dan engkau, Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak! Engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Maka Aku berkata kepadamu, ‘Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu’.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
  
Renungan
 

Tidak ada didikan orang tua untuk anak yang nakal tanpa marah. Yesus marah bukan untuk marah, tetapi tindakan terakhir untuk pertobatan bagi orang berdosa yang bebal. Begitu bebalnya, banyak mukjizat tidak membuat hati mereka tergerak dan percaya. Tetapi untuk orang letih lesu dan berbeban berat, Tuhan Yesus tidak pernah marah. Malahan Yesus selalu mengundang datang dan membantu mereka agar beroleh keringanan dan ketenteraman.

Doa Malam

Bapa, Putra-Mu senantiasa mencanangkan pertobatan di setiap ajaran-Nya, bahkan dalam kecaman-Nya. Bapa, pada malam hari ini dampingilah hati dan budi kami untuk senantiasa menyadarkan diri bahwa Engkaulah tujuan hidup kami, yakni untuk bersatu dalam Engkau di surga. Amin.
   
RUAH

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Mat 10:37)

Senin, 14 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV

Yes 1:11-17; Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23; Mat 10:34 - 11:1

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Mat 10:37)

Menjadi murid Kristus adalah panggilan. Tuhanlah yang memanggil kita. Namun dari pihak kita selalu ada kesadaran dan kebebasan untuk memilih "ya" atau "tidak". Tuhan menghendaki dan memberikan yang terbaik, tetapi Ia tidak memaksa kita. Maka, boleh dikatakan bahwa iman itu merupakan sebuah pilihan. Dengan menjadi Katolik, berarti kita secara sadar dan bebas memilih untuk menjawab "ya" atas panggilan Tuhan dan dengan demikian kita menjadi pengikut dan murid Kristus Kristus serta menjadi anggota Gereja-Nya. Atau, bagi yang dulu dipilihkan oleh orangtua (misalnya saya yang baptis bayi) berarti secara sadar dan bebas memilih untuk tetap menghayati iman Kristiani serta manjadikannya sebagai pilihan pribadi.

Setiap pilihan pasti membawa konsekuensi dan menuntut komitmen. Kalau kita sudah memilih untuk mengimani Kristus, kita harus mengasihi-Nya melebihi segala sesuatu. Kristus harus selalu menjadi yang utama dan pertama dalam hidup kita. Ciptaan lain di atas permukaan bumi, termasuk keluarga kita, diciptakan bagi kita untuk menolong dalam memuji, menghormati serta mengabdi Tuhan (bdk. LR. 23). Karena itu kita harus bersikap lepas bebas dan tidak terikat segingga kalau mereka justru merintangi relasi dan pengabdian kepada Tuhan kita harus melepaskannya.

Selain membawa konsekuensi, pilihan juga menuntut komitmen. Artinya, kita harus berpegang teguh pada pilihan iman kita dalam keadaan apa pun. Kita bersedia menanggung resiko dan konsekuensi atas pilihan kita tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses.

Doa: Tuhan, kami telah memilih untuk menjawab "ya" atas panggilan-Mu. Berilah kami rahmat-Mu untuk selalu mempunyai komitmen atas pilihan kami dan mampukankah kami untuk mengasihi Engkau lebih dari segala sesuatu dan menjadikan-Mu sebagai yang pertama dan utama dalam hidup kami. Amin. -agawpr-

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy