
Minggu, 24 Mei 2026
Hari Raya Pentakosta
"Ke-50 hari (Masa Paskah) ditutup dengan Minggu Pentakosta, hari
perayaan kedatangan Roh Kudus pada para Rasul, asal-usul Gereja dan awal
perutusannya kepada manusia segala bahasa, rakyat dan bangsa.
Dianjurkan untuk memperpanjang Misa petang sebelumnya menjadi tirakatan;
tetapi tidak diarahkan kepada baptis, seperti pada malam Paskah,
melainkan lebih pada doa tak kunjung henti, menurut teladan para Rasul,
dan murid, yang 'rukun bertekun dalam doa bersama Maria, Ibu Yesus' dan
menantikan Roh Kudus" (Kongregasi Ibadat Ilahi, Perayaan Paskah dan
Persiapannya, 1 Januari 1988, No. 107)
Antifon Pembuka (lih. Keb 1:7)
Roh Tuhan memenuhi seluruh dunia. Dialah yang menyatukan segala sesuatu dan memahami setiap tutur bahasa. Alleluya.
The Spirit of the Lord has filled the whole world and that which contains all things understands what is said, alleluia.
atau
Spiritus Domini replevit orbem terrarum, alleluia: et hoc quod continet
omnia, scientiam habet vocis, alleluia, alleluia, alleluia.
Mzm. Exsurgat Deus, et dissipentur inimici eius: et fugiant, qui oderunt eum, a facie eius.
Doa Pagi
Allah Bapa kami yang mahaagung dan kekal, berkat misteri Pentakosta
Engkau menguduskan Gereja-Mu di antara para bangsa dengan segala bahasa.
Sebarluaskanlah anugerah Roh Kudus ke seluruh dunia. Ulangilah mukjizat
Pentakosta: sentuhlah dengan Roh-Mu hati umat beriman, seperti yang
Kaulakukan pada awal pewartaan Injil. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus
Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan
Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kisah Para Rasul (2:1-11)
"Mereka dipenuhi Roh Kudus dan mulai berbicara."
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu
tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin
keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah
kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap
pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu
mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang
diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di
Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah
kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak.
Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu
berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua
tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang
berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing
mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa
yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam,
penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan
Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene,
pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama
Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata
dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang
dilakukan Allah."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.