"Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"

Jumat, 18 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV

Yes 38:1-6.21-22; 7-8; MT Yes 38:10.11.12abcd.16; Mat 12:1-8

"Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"

Seringkali, kita umat Katolik ditanya oleh saudara/i kita yang Kristen Protestan, "Mengapa kok umat (Gereja) Katolik tidak melakukan persepuluhan?" Memang, Gereja Katolik tidak mewajibkan umatnya untuk memberikan 10% penghasilan bulanannya kepada Gereja berdasarkan praksis umat Israel Perjanjian Lama (Kej 14:17-24; Ul 14:22-23; Neh 10:37-38; Im 27:32-33). Dalam Perjanjian Baru, praktik persepuluhan ini tidak lagi tampak karena yang lebih ditekankan adalah memberi atas dasar belas kasih dan secara sukarela, sebagaimana dikatakan oleh Paulus, "Hendaknya masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Kor 9:7). Selain itu, Yesus juga mengkritik praktik hidup ahli Taurat dan orang Farisi yang meski memenuhi kewajiban persepuluhan tetapi mengabaikan belas kasih. "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23). Maka, dengan tidak menerapkan praktik persepuluhan tersebut, Gereja hendak menekankan semangat dasar cinta kasih atau belas kasih.

Memang, Hukum Kanonik menegaskan bahwa "Kaum beriman kristiani terikat kewajiban untuk membantu memenuhi kebutuhan Gereja, agar tersedia baginya yang perlu untuk ibadat ilahi, karya kerasulan dan amal-kasih serta sustentasi yang wajar para pelayan. Mereka juga terikat kewajiban untuk memajukan keadilan sosial dan juga, mengingat perintah Tuhan, membantu orang-orang miskin dengan penghasilannya sendiri." (Kan 222 § 1 dan 2) . Namun, semangat dasar yang hendak ditekankan bukanlah kewajiban berdasarkan hukum/aturan tetapi lebih semangat cinta kasih kepada Allah dan sesama. Mengenai jumlahnya, itu semua diserahkan kepada masing-masing, sesuai dengan kemampuan dan situasi berdasarkan semangat cinta kasih tadi ditambah kemurahan hati. Tidak ada artinya sebuah pemberian atau persembahan yang besar jumlahnya, jika tidak didasari oleh cinta kasih, yang merupakan hukum utama bagi kita (Mat 22:37-40).

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk mempunyai hati yang penuh belas kasih sebagai dasar dari seluruh sikap, perkataan dan perbuatan kami. Amin. -agawpr-

Jumat, 18 Juli 2014 Hari Biasa Pekan XV

Jumat, 18 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XV
    
Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya. --- Keb 3:9
   

Antifon Pembuka (Hos 6:6)
   
Aku menyukai kasih setia dan bukan kurban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada kurban-kurban sembelihan.
 
Doa Pagi
  

Allah Bapa yang berbelaskasih, Engkau telah mendengarkan doa Hizkia dan mengabulkannya. Tambahkanlah niat kami untuk mau berdoa dengan sungguh-sungguh agar kami pun mengalami daya dari doa itu sendiri. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (38:1-6.21-22; 7-8)
    
"Aku telah mendengar doamu dan melihat air matamu."
       
Pada waktu itu Hizkia , raja Yehuda, jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah Nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: "Beginilah sabda Tuhan, "Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi." Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada Tuhan. Ia berkata, "Ya Tuhan, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di hadapan-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. Maka bersabdalah Tuhan kepada Yesaya, "Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia, 'Beginilah sabda Tuhan, Allah Daud, leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sungguh, Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi, dan Aku akan melepaskan dikau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan melindungi kota ini." Kemudian berkatalah Yesaya, "Hendaknya diambil sebuah kue dari buah ara dan ditaruh di atas barah itu, maka raja akan sembuh." Sebelum itu Hizkia telah berkata, "Apakah yang akan menjadi tanda, bahwa aku akan pergi ke rumah Tuhan?" Jawab Yesaya, "Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari Tuhan, bahwa Tuhan akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya, 'Sungguh, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak dari yang telah dijalaninya'." Maka pada penunjuk matahari itu mundurlah matahari sepuluh tapak ke belakang dari jarak yang telah dijalaninya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
       
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, Engkau telah menyelamatkan hidupku.
Ayat. (Yes 38:10.11.12abcd.16)
1. Aku berkata: Dalam pertengahan umurku aku harus pergi, ke pintu gerbang dunia orang mati aku dipanggil untuk selebihnya dari hidupku.
2. Aku berkata: Aku tidak akan melihat Tuhan lagi di negeri orang-orang yang hidup; aku tidak lagi akan melihat seorang pun di antara penduduk dunia.
3. Pondok kediamanku dibongkar dan dibuka seperti kemah gembala; seperti tukang tenun menggulung tenunannya aku mengakhiri hidupku; Tuhan memutus nyawaku dari benang hidup.
4. Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Dikau: Tenangkanlah batinku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh.
   
Bait Pengantar Injil do = f, 2/2, PS 951
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 10:27) 2/4
Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan; Aku mengenal mereka dan mereka mengenal aku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (12:1-8)
     
"Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."
     
Pada suatu hari Sabat, Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di lading gandum. Karena lapar murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada Yesus, “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidakkah kalian baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengikutnya lapar? Ia masuk ke dalam bait Allah, dan mereka semua makan roti sajian yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Atau tidakkah kalian baca dalam Kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi bait Allah. Seandainya kalian memahami maksud sabda ini, ‘Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan’, tentu kalian tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Sebab Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan
 
Bicara soal jaminan, spontan pikiran kita tertuju pada pinjaman. Artinya, kalau seseorang meminjam selalu dibutuhkan jaminan, sehingga pinjaman dapat diberikan. Jaminan membuat rasa nyaman bagi siapa pun, baik yang berhutang maupun yang memberikan pinjaman. Intinya, jaminan ditujukan untuk memberikan rasa nyaman. Kalau ada jaminan hidup, maka hidup akan lebih nyaman. Kalau ada jaminan kesehatan, sosial, hari tua, kerja dan yang lainnya; hidup akan lebih nyaman untuk dijalani. Adanya jaminan bukan berarti kita tidak dapat sakit, tua, lapar atau mati. Sebaliknya, itu adalah pertanda bahwa kita rentan terhadap semua itu. Lantas, jaminan apa yang kita butuhkan agar kerentanan tersebut membuat kita lebih bahagia dalam menjalani dan mensyukuri kehidupan?

Mari kita lihat pengalaman Hizkia. Ketika difirmankan bahwa ia akan mati dan tidak akan sembuh lagi dari sakitnya, ia menjadi lemas karena sudah pasti akan mati. Tidak ada obat apa pun yang bisa menolongnya. Namun, apa yang dilakukannya? Ia hanya pasrah pada Tuhan, berdoa mengungkapkan keluh kesah kepada-Nya. Apa yang terjadi? Tuhan mendengar doanya dan mengusap air matanya. Tuhan memberikan jaminan hidup 15 tahun lagi kepadanya.

Injil hari ini memperlihatkan konflik antara kebutuhan hidup dan aturan keagamaan. Konflik yang sangat banyak kita alami dalam hidup sehari-hari. Seperti lembur pada hari Minggu, sehingga meninggalkan Gereja. Tidak sempat mengaku dosa sekali setahun. Tidak bisa merayakan Ekaristi sekali seminggu padahal setiap hari ada perayaan Ekaristi. Tertunda baptisan, karena tidak bisa mengikuti pelajaran yang jumlah pertemuannya sudah diminimalisir dan lain sebagainya. Apa yang harus kita lakukan dan pahami dari situasi ini?

Saudaraku, Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat; Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan. Artinya, sebagai anak-anak Allah, tidaklah elok kita disibukkan oleh hal-hal duniawi sampai mengabaikan kewajiban kita sebagai orang beriman. Semakin banyak kita mengabaikan Tuhan dan hal-hal rohani karena kesibukan pada hal-hal duniawi, itu artinya kita lebih yakin bahwa yang menjamin hidup ini bukanlah Tuhan. (Kartolo Malau, O.Carm)