"Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba"

Minggu, 20 Juli 2014
Hari Minggu Biasa XVI

Keb 12:13.16-19; Mzm 86:5-6.9-10.15-16a Rom 8:26-27; Mat 13:24-43

"Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba"

Hampir setiap hari, kita mendengar dan melihat berbagai macam kejahatan. Pembunuhan, perampokan, pencurian, korupsi, penjajahan, dll. Kita lalu bertanya: dari mana datangnya itu semua. Tuhan itu mahabaik dan yang Ia ciptakan semuanya baik adanya (Kej 1: 1-31). Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan bahwa kejahatan itu berasal dari iblis (Mat 13:39a). Namun, siapakah iblis itu dan dari mana asalnya? Tiga kutipan Kitab Suci berikut ini membantu kita. 2 Ptr 2:4 mengatakan, “Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman.” Terlemparnya para malaikat yang berbuat dosa inilah yang disebut oleh Yesus, “Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit.” (Luk 10:18). Malaikat yang berdosa inilah yang kemudian menjadi iblis/setan. “Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” (Yoh 8:44). Jadi, dari sinilah asal muasal iblis/setan dan segala macam bentuk kejahatan.

Berhadapan dengan setan yang terus-menerus menimbulkan kejahatan di sekitar kita, Tuhan tidak serta merta membinasakannya. Ia justru membiarkan yang baik dan yang jahat itu tumbuh bersama, baik dalam diri pribadi kita maupun dalam komunitas atau masyarakat kita. Namun, pada akhirnya nanti jelas: si jahat akan dicampakkan ke dalam neraka dan orang benar akan dikumpulkan dalam Kerajaan Bapa (Mat 13:43). Tindakan "pembiaran" yang dilakukan Tuhan ini mempunyai beberapa makna. Pertama, Tuhan sangat menghargai kebebasan kita untuk memilih, mau menjadi baik atau menjadi jahat. Konsekuensinya pada akhir nanti sudah Ia sampaikan dengan jelas. Kedua, "pembiaran" itu juga merupakan kesempatan bagi kita untuk bertobat, yaitu mengubah "ilalang-ilalang" dalam diri kita menjadi "gandum". Ketiga, kita diajak untuk selalu waspada dan berjaga-jaga serta semakin teguh dalam iman sebagaimana ditegaskan oleh St. Petrus, "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh!” (1 Ptr 5:8.9). Sebab hanya keteguhan imanlah yang memampukan kita untuk melawan iblis dengan semua karya jahatnya.

Doa: Tuhan, ada banyak sekali ilalang yang tumbuh subur, baik dalam diri kami sendiri maupun dalam masyarakat kami. Untuk ilalang-ilalang dalam diri kami sendiri, berilah kami rahmat pertobatan dan untuk ilalang-ilalang dalam masyarakat kami, berilah kami kewaspadaan dan keteguhan iman dalam menghadapinya. Amin. -agawpr-