Yesus ditinggikan di atas kayu salib dan dengan demikian nama Allah dimuliakan. Kita pun ditarik untuk datang dan beriman kepada-Nya sehingga menerima buah-buah penebusan-Nya.

Minggu, 22 Maret 2015
Hari Minggu Prapaskah V

  
Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3-4,12-13,14-15; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33  

"Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!"

Dalam keadaan bahaya, orang biasanya memohon bantuan agar diselamatkan. Doa-doanya pun juga berisi permohonan agar selamat. Mungkin, disertai juga dengan beberapa janji/nazar. Lain halnya dengan Yesus. Berhadapan dengan penderitaan, Ia tidak mohon agar diselamatkan tetapi justru mohon agar nama Allah Bapa dimuliakan. Apapun yang terjadi, Dia siap menghadapinya, asal Bapa-Nya dimuliakan dan manusia diselamatkan. "Gloria Dei, homo vivens", kata St. Ireneus (Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup). Allah dimuliakan kalau kehidupan manusia dilestarikan. Itulah makanya, manusia yang semestinya binasa karena dosa, ditebus oleh Kristus agar dapat menerima anugerah kehidupan abadi. Kita pun tidak hanya mendapatkan teladan dari Yesus tentang orientasi hidup yang tertinggi, yakni demi kemuliaan Allah dan kesejahteran sesama - kendati jalan yang harus ditempuh adalah jalan derita dan pengorbanan - tetapi mendapatkan jaminan hidup. "Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." Yesus ditinggikan di atas kayu salib dan dengan demikian nama Allah dimuliakan. Kita pun ditarik untuk datang dan beriman kepada-Nya sehingga menerima buah-buah penebusan-Nya.

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu memuliakan nama-Mu melalui hidup kami sehari-hari. Amin. -agawpr-