Minggu, 30 Juni 2019 Hari Minggu Biasa XIII

Minggu, 30 Juni 2019
Hari Minggu Biasa XIII
    
"Kurban Ekaristi juga dipersembahkan untuk umat beriman yang mati di dalam Kristus, 'yang belum disucikan seluruhnya'" --- Konsili Trente: DS 1743
   

Antifon Pembuka (Mzm 47:2)

Segala bangsa, bertepuk-tanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai.

All peoples, clap you hands. Cry to God with shouts of joy!

Omnes gentes plaudite manibus: iubilate Deo in voce exsultationis.
Mzm. Quoniam Dominus excelsus, terribilis: Rex magnus super omnem terram.

   
Doa Pembuka


Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau menghendaki agar kami mengikuti Putra-Mu dengan sepenuh hati. Kami mohon, bebaskanlah kami dari segala hambatan agar kami dapat menjadi pengikut-pengikut-Nya yang setia dan siap sedia melaksanakan kehendak-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja (19:16b.19-21)
  
"Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia."
  
Sekali peristiwa Tuhan berkata kepada Nabi Elia, “Elisa bin Safat dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.” Maka pergilah Elia menemui Elisa bin Safat. Pada waktu itu Elisa sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, dan ia sendiri mengendalikan yang kedua belas. Elia lewat di dekatnya dan melemparkan jubahnya kepada Elisa. Segera Elisa meninggalkan lembu-lembunya, mengejar Elia dan berkata, “Perkenankanlah aku mencium ayah dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawab Elia kepadanya, “Baiklah! Pulanglah dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” Elisa lalu meninggalkan Elia, mengambil pasangan lembu itu dan menyembelihnya. Lalu ia memasak dagingnya dengan kayu bajak itu sebagai kayu api, dan memberikan daging itu kepada orang-orangnya, dan mereka pun memakannya. Sesudah itu bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah. 
  

   
         
Mazmur Tanggapan, do = g 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11)

1. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah Tuhanku, Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepada-Ku."
2. Aku memuji Tuhan yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
3. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorai, dan tubuhku akan diam dengan tentram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan.
4. Engkau memberitahukan kepadaku, ya Allah, jalan kehidupan, di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, dan di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia (5:1.13-18)
 
"Kamu dipanggil untuk merdeka."
  
Saudara-saudara, Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau tunduk lagi di bawah kuk perhambaan. Memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain karena kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Akan tetapi, kalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, jangan-jangan kamu saling membinasakan. Maksudku ialah: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, - karena keduanya bertentangan – sehingga setiap kali kamu tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Sebaliknya, kalau kamu membiarkan diri dibimbing oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (1Sam 3:9; Yoh 6:68c)
Bersabdalah, ya Tuhan, sebab hamba-Mu mendengarkan. Sabda-Mu adalah sabda hidup yang kekal.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:51-62)
 
"Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi."
   
Ketika hampir genap waktunya diangkat ke surga, Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Maka diutus-Nya beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke sebuah desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, bolehkah kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Tetapi Yesus berpaling dan menegur mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan. Anak manusia datang bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkannya.” Lalu mereka pergi ke desa yang lain. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, datanglah seorang di tengah jalan, berkata kepada Yesus, “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu kepada seorang lain Yesus berkata, “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus menjawab, “Biarlah orang mati mengubur orang mati; tetapi engkau, pergilah, dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. Dan seorang lain lagi berkata, “Tuhan, aku akan mengikuti Engkau, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
  
Renungan

Yesus berkata kepada seorang ahli Taurat bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk beristirahat dan meratapi kematian. Karena itu, orang yang hendak mengikuti Yesus harus memiliki motivasi yang benar dan murni. Bagi orang beriman, rencana Allah adalah yang paling penting. Karenanya layak untuk diemban dengan komitmen dan tindakan nyata. Tidak usah ragu dengan banyak alasan tambahan bekerja untuk Kerajaan Allah. Karena menurut Yesus sendiri, "Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah!".  Injil hari ini mengajak kita untuk berfokus pada hidup kita saat ini dan perjalanan kita ke depan. Janganlah kita terlalu sering menengok ke belakang. Jangan juga hidup dengan kelekatan-kelekatan masa lalu karena akan menghalangi kebahagiaan masa kini kita.
  
“Keinginan daging tidak terbatas pada kecenderungan panca indera yang tak teratur secara umum atau keinginan seksual secara khusus. Hal ini juga mengacu kepada kesenangan akan kenyamanan, kepada keengganan untuk menggerakkan diri kita sendiri atau bahkan untuk menjadi siap siaga, sehingga membuat kita mencari sekecil-kecilnya hal yang tidak nyaman,  mencari apa yang paling menyenangkan, mencari jalan yang ditawarkan kepada kita yang kelihatannya lebih pendek dan tidak menyusahkan, bahkan jika itu harus dibayar dengan kegagalan kita untuk tetap setia kepada Allah. Musuh yang lain adalah keinginan mata, keserakahan yang mendalam yang menganggap tidak berharga apa yang tak dapat diwariskan. Mata jiwa menjadi rabun; akal budi berpikir dirinya sendiri sudah cukup memadai, menyingkirkan Allah sebagai yang tidak perlu. Ini adalah godaan halus yang didukung oleh martabat kecerdasan yang telah dikaruniakan Allah Bapa kepada kita agar kita dapat mengenal dan mengasihi-Nya tanpa terpaksa. Terbujuk oleh godaan ini, akal budi manusia menganggap dirinya sendiri sebagai pusat alam semesta,  dengan sukacita [mengingat] kembali kepada perkataan ular di Kitab Kejadian, ‘kamu akan menjadi seperti Allah’ (Kej 3:5) dan dipenuhi dengan cinta diri, ia berpaling dari cinta Allah. Dengan cara ini, kita dapat menyerahkan diri secara tak bersyarat ke dalam tangan musuh yang ketiga, yaitu ‘keangkuhan hidup’. Ini bukan hanya semata-mata hal fantasi sesaat, hasil khayalan dari kesia-siaan cinta diri, [tapi] ini adalah segala bentuk dosa kesombongan—menganggap diri pasti selamat. Jangan kita menipu diri sendiri. Ini adalah dosa yang paling parah daripada segala kejahatan, akar dari setiap penyimpangan yang dapat dibayangkan…” (St. Jose Maria Escriva, Christ is passing by, 5-6). 
 
 
 
Antifon Komuni (Mzm 103:1)

Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai seluruh diriku!

Bless the Lord, O my soul, and all within me, his holy name
     
RENUNGAN PAGI