| Halaman Depan | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Minggu, 13 Oktober 2019 Hari Minggu Biasa XXVIII

Minggu, 13 Oktober 2019
Hari Minggu Biasa XXVIII
   
“Jadikan Kristus, Putra Allah, pusat kehidupanmu. Tapi ijinkan aku juga untuk mengingatkanmu bahwa mengikuti Yesus dalam iman berarti berjalan di sisi-Nya di dalam persekutuan dengan Gereja. Kita tidak bisa mengikuti Yesus menurut cara kita sendiri. Siapapun yang tergoda untuk melakukannya “dengan caranya sendiri” atau untuk mendekati kehidupan iman dengan semacam individualisme yang umum sekarang, tidak pernah akan sungguh menemui Yesus, atau akan berakhir dengan mengikuti Yesus yang palsu. (Paus Benediktus XVI)

     

Antifon Pembuka (Mzm 130:3-4)
   
Jika Engkau menghitung-hitung kesalahan, ya Tuhan, siapakah dapat bertahan? Tetapi, Engkau suka mengampuni, ya Allah Israel.

If you, O Lord, should mark iniquities, Lord, who could stand? But with you is found forgiveness, O God of Israel.

Si iniquitates observaveris Domine, Domine quis sustinebit? quia apud te propitiatio est, Deus Israel.
   
Doa Pembuka

Ya Allah, kami mohon semoga rahmat-Mu senantiasa mendahului dan mengikuti kami serta membuat kami tidak kenal lelah untuk melakukan yang baik. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini, dan sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (2Raj 5:14-17)
  
"Naaman kembali kepada Elisa, abdi Allah, dan memuji Tuhan."
   
Sekali peristiwa turunlah Naaman, panglima raja Aram, ke Sungai Yordan, lalu membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai itu, sesuai dengan perkataan Elisa, abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi tahir. Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Sesampai di sana majulah ia ke depan Elisa dan berkata, “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!” Tetapi Elisa menjawab, “Demi Tuhan yang hidup, yang aku layani, aku tidak akan menerima apa-apa.” Walaupun Naaman mendesaknya, Elisa tetap tidak mau menerima sesuatu. Akhirnya berkatalah Naaman, “Jikalau demikian, berikanlah kepada hambamu ini tanah sebanyak dapat diangkut oleh sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan kurban bakaran atau kurban sembelihan kepada allah lain, kecuali kepada Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
                                      

Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 807
Ref. Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
Ayat. (Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4; R: 2b)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
2. Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang daripada-Nya, Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih setia-Nya terhadap kaum Israel.
3. Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!

Bacaan dari Surat kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 2:8-13)
     
"Jika kita bertekun, kita pun akan memerintah dengan Kristus."
   
Saudaraku terkasih, ingatlah akan ini: Yesus Kristus, keturunan Daud, yang telah bangkit dari antara orang mati, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. Karena pewartaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi sabda Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka pun memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Benarlah sabda ini, “Jika kita mati dengan Kristus, kita pun akan hidup dengan Dia. Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = es, 2/2, Kanon, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (1Tes 5:18; 2/4)
Bersyukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagimu dalam Kristus Yesus.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (17:11-19)
 
"Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?"
 
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Yesus lalu memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara dalam perjalanan, mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” lalu Yesus berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

MENYELAMATKAN YANG TERBUANG
 
 Ketika kami tinggal di Singapura, di paroki kami diadakan suatu acara doa penyembuhan dengan mengundang salah seorang Romo, yang terkenal mempunyai karunia penyembuhan. Aula gereja yang cukup besar tidak mampu untuk menampung umat yang membludak, sehingga banyak di antara mereka yang akhirnya harus berdiri di luar. Beberapa minggu kemudian, Romo yang sama itu datang lagi di aula yang sama, bukan untuk memimpin doa penyembuhan, tetapi untuk memberikan pengajaran. Tapi herannya, aula yang pada waktu acara penyembuhan itu tidak mampu menampung umat, kini hanya terisi kurang dari setengahnya saja. Rupanya kebanyakan orang lebih tertarik kepada acara penyembuhan daripada pengajaran. Banyak orang lebih tertarik kepada acara-acara yang nampak sensasional, mencari dan mengharapkan untuk melihat mukjizat-mukjizat dibandingkan dengan pengajaran- pengajaran tentang iman. Betapa banyak umat Katolik yang rajin mengikuti acara-acara doa penyembuhan, bahkan yang tidak diadakan di Gereja Katolik. Tapi menghadiri pengajaran iman untuk lebih mengenal Yesus? Ogah ah, bosan!

Bacaan Injil Lukas pada hari ini menceritakan tentang sepuluh orang kusta yang berteriak kepada Yesus, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Penyakit kusta adalah penyakit yang paling hina saat itu, yang membuat para penyandangnya menjadi kaum yang dikucilkan. Maka Yesus, yang tergerak oleh belas kasihan, memberikan kesembuhan kepada kesepuluh penderita kusta yang memohon kepada-Nya ini (lih. Luk 17:17). Namun ternyata, setelah mendapati diri mereka telah sembuh, hanya satu orang dari mereka yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih kepada-Nya dan memuliakan Allah. Orang itu adalah seorang Samaria, seorang asing. Ah, ternyata sembilan orang kusta yang lain lebih tertarik kepada kesembuhan yang telah mereka terima, namun tidak peduli kepada Sang Pemberi kesembuhan. Kesembilan orang ini tidak menyadari bahwa Tuhan Yesus tidak hanya ingin memberikan kesembuhan fisik, namun lebih daripada itu, kesembuhan rohani. Dengan kembali kepada Yesus, orang Samaria tersebut menerima berkat lebih banyak lagi, yaitu karunia iman yang menyelamatkan (lih. Luk 17:19).

Orang Samaria ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa kembali kepada Tuhan Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Mari kita lebih mengutamakan Sang Pemberi berkat, daripada berkat-berkat-Nya. Mari kita belajar untuk semakin mendalami iman kita, yang berpusat pada Yesus Kristus, agar kita dapat semakin mengenal dan mengasihi-Nya. Semoga dengan demikian, iman kita bertumbuh dalam kesatuan dengan pengharapan dan kasih, sehingga iman kita sungguh adalah iman yang menyelamatkan. Pertanyaannya sekarang adalah: Di manakah kita dapat kembali menemukan Tuhan Yesus untuk bersyukur kepada-Nya? Memang Tuhan ada di mana-mana, dan dalam doa kita dapat selalu bersyukur kepada-Nya. Namun secara khusus, keseluruhan Kristus, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya, hadir dalam Sakramen Ekaristi. Maka sudah selayaknya kita kembali kepada Kristus dalam Ekaristi, untuk bersyukur dan memuliakan Allah, atas segala sesuatu yang diberikan-Nya kepada kita.

Sudahkah kita datang kepada Kristus dalam Ekaristi dengan penuh iman dan syukur? Semoga kita dapat mendengar suara-Nya yang berbisik dalam hati kita, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”

Antifon Komuni (bdk. Mzm 34:11)
   
Orang-orang kaya akan kekurangan dan kelaparan, tetapi mereka yang mencari Tuhan takkan kekurangan sesuatu pun.

The rich suffer want and go hungry, but those who seek the Lord lack no blessing.

atau (1Yoh 3:2)

Apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

When the Lord appears, we shall be like him, for we shall see him as he is.

Renungan oleh: Stefanus Tay - Ingrid Listiati www.katolisitas.org

Sabtu, 12 Oktober 2019 Hari Biasa Pekan XXVII

Sabtu, 12 Oktober 2019
Hari Biasa Pekan XXVII
    
“Jika selagi Dia berkeliling di dunia, orang-orang sakit disembuhkan hanya dengan menjamah jubah-Nya, bagaimana mungkin kita ragu-ragu bahwa Dia akan melakukan mukjizat-mukjizat jika Dia ada di dalam kita, dan jika kita memiliki iman, atau bahwa Dia akan memberikan kepada kita apa yang kita minta kepada-Nya karena Dia ada di rumah kita?” — St. Teresa dari Avila

     
Antifon Pembuka (Luk 11:28)

Yang berbahagia ialah mereka, yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya.

Doa Pembuka

Allah Bapa kami di surga, Engkaulah benteng perlindungan bagi siapa saja yang mengimani Engkau. Semoga sabda-Mu, mendasari kehidupan kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Melalui Nabi Yoel, Tuhan memberikan ancaman hukuman. Ancaman hukuman itu merupakan sebuah undangan untuk bertobat. Dengan bertobat, kita mendapatkan kembali kasih pengampunan Tuhan.

Bacaan dari Nubuat Yoel (3:12-21)
    
"Ayunkanlah sabit, sebab sudah masaklah tuaian."
   
Hendaklah bangsa-bangsa bergerak dan maju ke Lembah Yosafat, sebab di sana Aku akan duduk untuk menghakimi segala bangsa dari segenap penjuru. Ayunkanlah sabit, sebab sudah masaklah tuaian. Marilah, iriklah, sebab tempat anggur sudah penuh; tempat-tempat pemerasan sudah berkelimpahan. Sebab banyaklah kejahatan mereka. Banyak orang, banyak orang di lembah penentuan! Ya, sudah dekatlah hari Tuhan di lembah penentuan! Matahari dan bulan menjadi gelap dan bintang-bintang kehilangan cahayanya. Tuhan mengaum dari Sion, dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya, dan langit serta bumi pun bergoncang. Tetapi Tuhan adalah tempat perlindungan bagi umat-Nya, dan benteng bagi orang Israel. Maka kalian akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, adalah Allahmu, yang tinggal di Sion, gunung-Ku yang kudus. Dan Yerusalem akan menjadi kudus, dan orang-orang luar takkan melintasinya lagi. Pada waktu itu akan terjadi bahwa gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu, dan segala sungai Yehuda akan mengalirkan air; mata air akan terbit dari rumah Tuhan dan akan membasahi Lembah Sitim. Mesir akan menjadi sunyi sepi, dan Edom akan menjadi padang gurun tandus, oleh sebab kekerasan terhadap keturunan Yehuda, oleh karena mereka telah menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tanahnya. Tetapi Yehuda tetap didiami untuk selama-lamanya, dan Yerusalem turun-temurun. Aku akan membalas darah mereka yang belum Kubalas; Tuhan tetap diam di Sion.”
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Bersukacitalah dalam Tuhan, hai orang benar.
Ayat. (Mzm 97:1-2.5-6.11-12)
1. Tuhan adalah Raja. Biarlah bumi bersorak-sorai, biarlah banyak pulau bersukacita!
2. Gunung-gunung luluh laksana lilin di hadapan Tuhan, di hadapan Tuhan semesta alam. Langit memberitakan keadilan-Nya dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.
3. Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena Tuhan, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Luk 11:28)
Berbahagialah yang mendengarkan Sabda Tuhan dan memeliharanya.

Setiap orang ingin hidup bahagia. Lantas di mana letak kebahagiaan seorang murid Tuhan? Yakni, dalam hal ini: mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:27-28)
  
"Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau!"
  
Pada suatu hari, ketika Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, berserulah seorang wanita dari antara orang banyak itu, dan berkata kepada Yesus, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau.” Tetapi Yesus bersabda, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan
     
 
“Pada waktu itu akan terjadi, bahwa gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu, dan segala sungai Yehuda akan mengalirkan air; mata air akan terbit dari rumah TUHAN dan akan membasahi lembah Sitim” (Yoel 3:18). Kutipan di atas ini merupakan janji bagi bangsa terpilih yang akan melaksanakan kehendak atau perintah Tuhan, maka baiklah kita renungkan bagi kita sebagai umat beriman. Kebahagiaan dan damai sejati akan kita nikmati jika kita setia melaksanakan kehendak Tuhan, antara lain dengan setia menghayati aneka janji yang pernah kita ikrarkan, misalnya: janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pegawai atau pejabat dst.. . Maka hendaknya kita tidak berhenti bangga dan puas ketika sedang mengikrarkan janji-janji tersebut. Saat pengikraran janji tersebut hemat saya bagaikan ‘SIM’ (Surat Izin Menghayati). Sebagai orang yang telah dibaptis, marilah kita hayati dalam hidup sehari-hari janji kita untuk hanya mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan; sebagai suami-isteri marilah kita hayati janji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit; sebagai imam marilah kita hayati sebagai penyalur berkat/rahmat Allah kepada manusia dan sebagai yang telah berkaul triprasetia marilah kita senanitiasa membaktikan diri sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi dan secara konkret membaktikan diri bagi sesama agar mereka bahagia dan damai sejahtera. “Gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu”, yang sakit akan sembuh dan segar bugar kembali, yang tertindas akan terbebaskan, yang sedih akan berbahagia, yang frustrasi akan bergairah, dst.. jika setia pada janji-janji yang pernah diikrarkan. Jika kita setia pada janji yang pernah kita ikrarkan, maka dari diri kita akan mengalir kesegaran dan kegairahan alias siapapun yang melihat dan hidup bersama dengan kita akan semakin segar dan bergairah.
  
Kebahagiaan sejati seorang ibu antara lain ketika melihat anak yang telah dikandung dan disusuinya tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman, yang berbakti kepada kepentingan dan kebutuhan sesamanya, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Maka ada seorang perempuan, yang telah menyaksikan dan mengalami keberhasilan pelayanan Yesus, berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau”. Mendengarkan kata-kata itu tanggapan Yesus nampak ‘menolak atau tidak menyetujui’, tetapi sebenarnya ‘meneguhkan’, ketika Ia berkata:”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”. Yang dimaksudkan oleh Yesus di sini tidak lain adalah Bunda Maria, yang telah mengandung-Nya dan menyusuiNya. Bunda Maria, teladan umat beriman, senantiasa ‘mendengarkan firman Allah dan memeliharanya atau melaksanakannya’, dan dengan demikian senantiasa berbahagia karenanya. Maka jika kita mendambakan kebahagiaan sejati, marilah kita dengarkan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, kita renungkan dan hayati atau laksanakan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Keunggulan hidup beriman terletak dalam penghayatan atau pelaksanaan bukan wacana atau omongan. Maka baiklah aneka peraturan atau tatanan hidup sekecil atau sesederhana apapun marilah kita hayati atau laksanakan, entah dilihat oleh orang lain atau tidak. Secara khusus saya mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mentaati dan melaksanakan aneka aturan lalu lintas atau rambu-rambu lalu lintas ketika sedang di perjalanan, entah sebagai pengendara kendaraan maupun pejalan kaki. Tertib berlalu-lintas di jalanan hemat saya merupakan cermin tertib cara hidup dan cara bertindak warga masyarakat atau bangsa.

Antifon Komuni (1Yoh 2:5)

Barangsiapa melaksanakan sabda Kristus, dialah yang memiliki cinta kasih Allah yang sempurna.

Doa Malam

Allah Bapa Sumber Kehidupan, ajarilah aku untuk mendengarkan suara sabda-Mu yang terjadi di dalam hidup harian ini. Bukalah mata hatiku agar aku siap melakukan apa yang menjadi kehendak-Mu kendati berat. Namun, bersama Engkau aku bisa, oleh karena itu aku tidak akan mengandalkan kekuatanku sendiri. Amin.
 
 
    


Arsip Renungan RP. Ign Sumarya, SJ

Jumat, 11 Oktober 2019 Hari Biasa Pekan XXVII

Jumat, 11 Oktober 2019
Hari Biasa Pekan XXVII

“Siapapun yang memisahkan diri dari Gereja …. terpisah dari janji-janji Gereja.; ia yang meninggalkan Gereja tidak akan memperoleh penghargaan dari Kristus…Ia tak dapat memiliki Tuhan sebagai Bapa-Nya, yang tidak mempunyai Gereja sebagai ibunya; …. Siapapun yang menghancurkan damai dan harmoni Kristus, bertindak melawan Kristus; barangsiapa mengumpulkan di tempat lain di luar Gereja, mencerai-beraikan Gereja Kristus…. Jika seseorang tidak menjaga kesatuan ini, ia tidak menjaga hukum Tuhan, ia telah kehilangan iman akan Bapa, Putra dan ia telah kehilangan hidupnya dan jiwanya” (St. Siprianus, The Unity of the Catholic Church, 6).

Antifon Pembuka (Mzm 9:2-3)

Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib. Aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Allah Mahatinggi.

Doa Pembuka


Allah Bapa, Benteng Kekuatan kami, berkenanlah menjaga kelangsungan semangat Yesus Putra-Mu dalam diri kami. Semoga kami rukun bersatu padu dan selalu bersedia membangun kedamaian. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Nubuat Yoel (1:13-15;2:1-2)
   
  
"Hari Tuhan yang gelap gulita dan kelam kabut."
   
Hai para imam, kenakanlah pakaian kabung dan mengeluhlah. Merataplah, hai para pelayan mezbah. Masuklah, bermalamlah dengan memakai kain kabung, hai para pelayan Allahku, sebab sudah lama di rumah Allahmu tiada kurban sajian dan kurban curahan. Adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya. Kumpulkanlah para tua-tua dan seluruh penduduk negeri ke rumah Tuhan Allahmu, dan berteriaklah kepada Tuhan. Wahai, hari itu! Sungguh, hari Tuhan sudah dekat, datangnya seperti hari pemusnahan dari Yang Mahakuasa. Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari Tuhan datang, sebab hari itu sudah dekat. Suatu hari gelap gulita dan kelam kabut, suatu hari berawan dan kelam pekat. Seperti fajar di atas gunung-gunung terbentanglah suatu bangsa yang besar dan kuat, yang serupa itu tidak pernah ada sejak purbakala, dan tidak akan ada lagi sesudah itu, turun-temurun, pada masa yang akan datang.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan menghakimi dunia dengan adil.
Ayat. (Mzm 9:2-3.6.16.8-9; R: 9a)
1. Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, aku mau menceritakan perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi.
2. Engkau menghardik bangsa-bangsa, dan telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya. Bangsa-bangsa terbenam dalam lubang yang dibuatnya, kakinya terperangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri.
3. Tetapi Tuhan bersemayam untuk selama-lamanya, takhta-Nya didirikan-Nya untuk menjalankan penghakiman. Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Sekarang penguasa dunia ini dibuang ke luar, sabda Tuhan; dan bila Aku telah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:15-26)
    
"Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang kepadamu."
  
Sekali peristiwa, setelah Yesus mengusir setan, ada beberapa orang yang berkata, "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, kepala setan." Ada pula yang mencobai Dia dan meminta tanda dari surga. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah, pasti binasa. Dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jika Iblis juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimana mungkin kerajaannya dapat bertahan? Sebab kalian berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusir setan? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya, amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Barangsiapa tidak bersama Aku, ia melawan Daku, dan barangsiapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan. Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia mengembara di tempat-tempat yang tandus mencari perhentian; dan karena tidak mendapatnya, ia berkata, 'Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu.' Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapih teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan tinggal di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan
  
  Injil Lukas hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengusir roh-roh jahat yang membisukan. Orang melihat Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Lalu Yesus menjelaskan bahwa bukan kuasa setan yang ia pergunakan melainkan kuasa Allah. Kuasa setan tidak akan mampu mengalahkan setan. Yesus menegaskan bahwa yang memampukan dia mengusir setan dan kuasa kejahatan, adalah kuasa Allah sendiri. 
 
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita takut dengan kuasa kejahatan atau aneka macam nama setan. Kita percaya bahwa makhluk halus seperti setan, tuyul, gendruwo atau apapun namanya eksis di sekitar kita. Kita seringkali kerasukan roh-roh itu dan kita tidak berdaya untuk melepaskannya. Kalau kita beriman, roh jahat, setan dan teman-temannya, bisa dengan mudah kita kalahkan. Iman akan Tuhan, mampu mengusir dan mengalahkan mereka. Menggunakan air berkat dan mendoakan mereka kita akan mudah mengusirnya. Apalagi ada kuasa imamat. Setan yang sulit diusir adalah setan-setan yang ada dalam hati dan diri kita manusia seperti egoisme, kebencian, iri hati, kedengkian, amarah. Setan-setan inilah yang harus kita hancurkan terlebih dahulu karena setan-setan inilah yang dengan mudah menghancurkan kehidupan dan relasi kita baik dengan Allah ataupun dengan sesama.  (RENUNGAN HARIAN MUTIARA IMAN) 

Antifon Komuni (Gal 3:14)

Allah menghendaki agar dalam Yesus Kristus berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, sehingga berkat iman, kita menerima Roh yang telah dijanjikan.

Kamis, 10 Oktober 2019 Hari Biasa Pekan XXVII

Kamis, 10 Oktober 2019
Hari Biasa Pekan XXVII
 
“Tutuplah telingamu, kalau ada orang mengajar kamu tanpa berbicara tentang Yesus Kristus” (St. Ignasius dari Antiokhia)

 
Antifon Pembuka (Luk 11:9)

Mintalah, maka kamu akan diberi, carilah, maka kamu akan mendapat, ketuklah, maka kamu akan dibukakan pintu.

Doa Pembuka


Allah Bapa yang Mahabaik, Engkaulah sahabat siapa saja yang mencari Engkau. Semoga permohonan mereka Kaukabulkan, dan mereka Kaubuat gembira dan tenang. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Orang-orang yang takwa akan beroleh selamat. Bagi mereka akan terbit surya kebenaran yang sayapnya membawa kesembuhan. Sebaliknya, orang fasik akan memperoleh kebinasaan.


Bacaan dari Nubuat Maleakhi (3:13 - 4:2a)
   
    
"Hari Tuhan akan datang, menyala seperti api."
  
Tuhan bersabda kepada orang-orang fasik, "Bicaramu tentang Aku kurang ajar. Meskipun demikian kalian bertanya, 'Apakah yang kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?' Kalian berkata, 'Sia-sialah beribadat kepada Allah! Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap Allah dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan Tuhan semesta alam? Itulah sebabnya kita memuji bahagia orang-orang yang gegabah. Sebab mujurlah orang-orang yang berbuat jahat itu! Mereka mencobai Allah, namun luput juga.' Sebaiknya orang-orang yang takwa berbicara demikian, 'Tuhan memperhatikan dan mendengarkan kita; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takwa kepada Tuhan dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.' "Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri," sabda Tuhan semesta alam, "pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Maka kalian akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang jahat, antara orang yang beribadat kepada Allah dan orang yang tidak beribadat kepada-Nya. Sesungguhnya hari itu akan datang, menyala seperti api. Maka semua orang gegabah dan orang fasik akan menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang akan datang itu," sabda Tuhan semesta alam. "Mereka akan habis sampai ke akar dan cabangnya. Tetapi kalian yang takwa, bagi kalian akan terbit surya kebenaran yang sayapnya membawa kesembuhan."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 841
Ref. Berbahagialah yang mendiami rumah Tuhan
Ayat. (Mzm 1:1-2.3.4.6; R: 40:5a)
1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan kaum pencemooh; tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.
2. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan daunnya tak pernah layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
3. Bukan demikianlah orang-orang fasik; mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Kis 16:14b)
Tuhan, bukalah hati kami, supaya kami memperhatikan sabda Putra-Mu.
 
Bapa di surga itu Allah yang Mahabaik. Karena itu, Ia memberikan yang terbaik kepada kita jika meminta kepada-Nya dengan tulus ikhlas. Janganlah malu-malu untuk meminta. Sebab Allah itu kaya dengan rahmat.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:5-13)
    
"Mintalah, maka kalian akan diberi."
  
Pada waktu itu, sesudah mengajar para murid berdoa, Yesus bersabda kepada mereka, “Jika di antara kalian ada yang tengah malam pergi ke rumah seorang sahabat dan berkata kepadanya, ‘Saudara, pinjamilah aku tiga buah roti, sebab seorang sahabatku dalam perjalanan singgah di rumahku, dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya, masakah ia yang di dalam rumah itu akan menjawab, ‘Jangan mengganggu aku; pintu sudah tertutup, dan aku serta anak-anakku sudah tidur. Aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu.’ Aku berkata kepadamu: Sekalipun dia tidak mau bangun dan tidak mau memberikan sesuatu meskipun ia itu sahabatnya namun karena sikap sahabatnya yang tidak malu-malu itu, pasti ia akan bangun dan memberikan apa yang dia perlukan. Oleh karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, akan menerima, setiap orang yang mencari, akan mendapat, dan setiap orang yang mengetuk, akan dibukakan pintu. Bapa manakah di antara kalan, yang memberi anaknya sebuah batu, kalau anak itu minta roti? Atau seekor ular, kalau anaknya minta ikan? Atau kalajengking kalau yang diminta telur? Jika kalian yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, betapa pula Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Walaupun kelihatannya mereka yang tidak bertakwa kepada Allah memiliki hidup yang nyaman, ternyata Allah menunjukkan akhir hidup yang berbeda bagi mereka. Situasi ini, seringkali membuat mereka yang berjalan di jalan Allah, menjadi ragu-ragu. Nubuat Maleakhi dalam bacaan pertama meneguhkan mereka yang bertakwa supaya bersikap tenang melihat perbedaan itu dan diajak untuk tetap setia kepada Allah. Ada sesuatu yang indah, yang dipersiapkan oleh Allah bagi setiap orang yang menjaga ketakwaannya kepada-Nya.

Antifon Komuni (Luk 11:13)

Setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat; dan setiap orang yang mengetuk akan dibukakan pintu.

Doa Malam
    
Ya Tuhan dan Allahku, aku bersyukur atas segala anugerah yang telah kuterima sepanjang hari ini. Aku mohon, mampukanlah aku untuk makin percaya pada kehendak Bapa dalam hidup harianku ini, sebagaimana Engkau telah melakukan kehendak Bapa sebagai makanan sehari-hari. Amin. 
 
 
 


RUAH

Rabu, 09 Oktober 2019 Hari Biasa Pekan XXVII

Rabu, 09 Oktober 2019
Hari Biasa Pekan XXVII


"Doa Tuhan adalah kesimpulan seluruh Injil" (Tertulianus, or. 1). "Ketika Tuhan mewariskan kepada kita rumusan doa ini, Ia menambahkan pula: "Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Luk 11:9). Jadi setiap orang dapat menyampaikan pelbagai macam doa ke surga seturut kebutuhannya; tetapi ia harus selalu mulai dengan doa Tuhan, yang merupakan doa utama" (Tertulianus, or. 10). --- Katekismus Gereja Katolik, 2761
 

  
Antifon Pembuka (Mzm 86:9-10)

Ya Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni, kasih setia-Mu berlimpah bagi semua yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah suara permohonanku.
     

Doa Pembuka
 

  Allah Bapa kami maha pengasih dan penyayang, Engkau selalu memperhatikan setiap orang, meski ia berdosa dan mengingkari Engkau. Kami bersyukur, karena demikian besar cinta dan belas kasih-Mu; dan kami mohon semoga kami bersedia berbuat baik. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.   

   
Bacaan dari Nubuat Yunus (4:1-11)
   
"Engkau sayang akan pohon jarak itu. Mana mungkin Aku tidak sayang akan kota Niniwe yang besar itu?"
    
Yunus sangat kesal hatinya dan marah-marah, karena Tuhan mengasihani kota Niniwe. Maka berdoalah ia kepada Tuhan, “Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan, ketika aku masih di negeriku. Aku tahu bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya, yang menyesali malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Itulah sebabnya aku melarikan diri ke Tarsis. Maka sekarang, ya Tuhan, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati daripada hidup.” Tetapi Tuhan bersabda, “Layakkah engkau marah?” Yunus telah keluar dari kota Niniwe dan tinggal di sebelah timurnya. Di situ ia mendirikan sebuah pondok dan duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. Lalu atas penentuan Tuhan Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak yang menaungi kepala Yunus, agar ia terhibur dari kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah pula datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah, bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus; lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati. Ia berkata, “Lebih baiklah aku mati daripada hidup.” Tetapi Tuhan bersabda kepada Yunus, “Layakkah engkau marah kepada pohon jarak itu?” Jawab Yunus, “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” Tuhan lalu bersabda, “Engkau sayang akan pohon jarak itu. Padahal tidak sedikit pun engkau berjerih payah dan tidak pula engkau menumbuhkannya! Pohon itu tumbuh dalam satu malam dan binasa pula dalam satu malam. Nah, mana mungkin Aku tidak sayang akan kota Niniwe yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, dengan ternaknya yang begitu banyak? Padahal mereka itu tak tahu membedakan tangan kanan dan tangan kiri!”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Engkaulah Allah, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
Ayat. (Mzm 86:3-4.5-6.9-10)
1. Engkaulah adalah Allahku, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
2. Ya Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni, kasih setia-Mu berlimpah bagi semua yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah suara permohonanku.
3. Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan; mereka akan memuliakan nama-Mu. Tuhan, sungguh besarlah Engkau! Engkau melakukan keajaiban-keajaiban, hanya Engkaulah Allah!
    
Bait Pengantar Injil
Ref. Alelluya
Ayat. (Rm 8:15)
Kalian akan menerima roh pengangkatan menjadi anak; dalam roh itu kita akan berseru, ‘Abba, ya Bapa’.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:1-4)
   
"Tuhan, ajarlah kami berdoa."
    
Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-murid-Nya.” Maka Yesus berkata kepada mereka, “Bila kalian berdoa, katakanlah: ‘Bapa, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu. Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya, dan ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
   
Renungan

    
Suatu berita baik, murid-murid meminta Yesus untuk mengajari berdoa. Mereka ingin berdoa secara baik dan benar. Mengapa itu disebut kabar baik? Pertama, karena para murid meminta pengajaran pada orang yang tepat. Yesus adalah orangnya. Yesus adalah Guru doa. Yesus mengerti benar apa itu doa dan bagaimana harus berdoa secara baik dan benar. Karena Dia adalah seorang Pendoa. Bagi Yesus doa adalah napas kehidupan-Nya. Tidak berdoa berarti kehilangan napas alias mati. Oleh karenanya doa bagi-Nya bukan sambilan, mengisi waktu kosong atau kalau sempat. Bukan! Doa merupakan dasar untuk menghayati kehidupan.

Tidak mengherankan, bila Yesus berdoa sampai semalam-malaman. Ini tentu mengherankan. Karena terkadang kita tidak betah berdoa agak lama. Mengapa Yesus bisa sampai seperti itu? Karena Yesus menghayati doa sebagai saat teduh; saat untuk berkomunikasi, berelasi dan bersekutu dari hati ke hati dengan Allah Bapa-Nya. Saat cinta seperti itu lamanya waktu tidak menjadi perhitungan lagi. Coba perhatikan saja, relasi orang yang tengah saling mencintai, semua akan berjalan dengan mudah nan indah.
Kedua, belajar rendah hati. Manusia pada dasarnya tidak bisa berdoa, bila tidak ditolong oleh Allah sendiri dalam Roh-Nya. Ini harus kita akui. Berdoa memang sebuah tindakan manusiawi tetapi sekaligus ilahi. Dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan diri sendiri manusia tidak sampai pada Allah. Oleh karena itu,"Kerendahan hati adalah dasar doa, karena 'kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa' (Roma 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati" (Katekismus Gereja Katolik, 2559).

Kita tahu pula bahwa berdoa itu bukan mendikte atau memaksa Tuhan agar kemauan atau kehendak kitalah yang terlaksana. Doa yang baik adalah doa yang penuh kepasrahan, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. Sta. Teresia dari Lisieux pernah memberi teladan dalam doanya demikian, "O, Allahku, aku ingin melaksanakan kehendak-Mu sepenuhnya dan mencapai kemuliaan yang sudah Kausiapkan bagiku kerajaan-Mu. Singkatnya, aku mau menjadi kudus, namun aku merasa ketidaksempurnaanku dan aku mohon kepada-Mu, O, Allahku agar Engkau sendiri sudi menjadi kekudusanku."

Betapa indah doa dengan kerendahan hati itu. Bukan hanya indah untuk didengarkan tetapi untuk diteladani. Selain itu, doa dengan penuh kerendahan hati, memudahkan Allah untuk berkarya dan melaksanakan kehendak-Nya. Maka, dari ini kita dapat bercermin, jangan-jangan doaku tidak diberkati karena selama ini aku berdoa masih diselipi kesombongan. Karena itu, menyangkal diri merupakan tindakan askese yang tidak pernah boleh berhenti bagi seorang pendoa.

Ketiga, doakanlah doa Bapa Kami. Kita tidak diminta oleh Yesus untuk membaca atau menghafal doa Bapa Kami, tetapi diminta untuk mendoakannya. Ada godaan atau kecenderungan orang melafalkan doa Bapa Kami dengan cepat, mekanis dan tanpa sadar menghambur keluar begitu saja dari mulut. Ketika ditanya, kenapa begitu? Oh, saya sudah hafal di luar kepala. Bahkan, bisa jadi juga di luar hati. Lalu apakah itu masih dapat disebut sebagai doa? Saya kira, bukan!

Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus memang singkat. Karena Allah tidak senang orang berdoa dengan bertele-tele. Kita perlu mengerti, bukan banyaknya kata-kata yang perlu dalam doa, tetapi banyaknya cinta yang dikurbankan dalam doa. Dengan cinta orang dapat memuji kekudusan Tuhan. Selain itu, dengan cinta manusia tahu apa yang dibutuhkannya. Kerajaan cinta, kebutuhan makanan yang secukupnya dan pengampunan merupakan kehendak-Nya.

Itulah yang harus menjadi kesadaran ketika kita berdoa kepada Tuhan. Doa yang demikian akan menjadi efektif dan revolutif. Artinya, doa itu akan mendorong dan menggerakkan orang untuk bekerja sama dengan Tuhan di dalam membangun kerajaan-Nya tanpa henti. Betapa kita masih terus belajar untuk berdoa.

Maka, betapa penting setiap saat akan berdoa kita menyebut dan memohon, "Tuhan, ajarilah kami berdoa sesuai dengan yang Engkau kehendaki!"
 
RP. Andreas Yudhi Wiyadi, O.Carm
   
  
Antifon Komuni (Lukas 11:4)
    
Bapa, ampunilah dosa kami, sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. 
 
 
 
 

Selasa, 08 Oktober 2019 Hari Biasa Pekan XXVII

Selasa, 08 Oktober 2019
Hari Biasa Pekan XXVII 
 
Kamu akan tetap selamat jika kamu tidak membiarkan rasa sombong menguasai dirimu dan jika kamu tidak memisahkan diri dari Yesus. (St. Ignatius dari Antiokhia)
   
Antifon Pembuka (Mzm 130:1-2)

Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan. Tuhan, dengarkanlah suaraku. Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.

Doa Pembuka


Allah Bapa kami Yang Maharahim, Engkau menawari kami hidup dan keselamatan dan memanggil kami kembali bila tersesat. Bangunlah kembali hati dan semangat kami, bukalah mata kami terhadap kebutuhan zaman sekarang, singkirkanlah kejahatan dan penuhilah kami dengan kekuatan Roh-Mu yang membawa kebebasan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Nubuat Yunus (3:1-10)
    
   
"Penduduk Niniwe berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan Tuhan menaruh belas kasih."
    
Untuk kedua kalinya Tuhan bersabda kepada Yunus, “Bangunlah dan berangkatlah ke Niniwe, kota besar itu. Sampaikanlah kepadanya seruan yang Kusabdakan kepadamu.” Maka bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan sabda Tuhan. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru, “Empat puluh hari lagi maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa; baik dewasa maupun anak-anak mengenakan kain kabung. Setelah kabar itu sampai kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya; diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di atas abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian, “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah; dan haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal, serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.” Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah atas malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
Ayat. (Mzm 130:1-2.3-4ab.7-8; Ul: 3)
1. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah seruanku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.
2. Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.
3. Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel! Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 2/2, PS 957
Ref. Alleluya
Ayat. (Luk 11:28)
Berbahagialah yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (10:38-42)
  
"Marta menerima Yesus di rumahnya, ia telah memilih bagian yang paling baik."
  
Dalam perjalanan ke Yerusalem Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung. Seorang wanita bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Wanita itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria itu duduk di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan sabda-Nya. Tetapi Marta sangat sibuk melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli, bahwa saudariku membiarkan daku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Yesus menjawabnya, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan
  
  
Setiap tahun kita menyaksikan kebiasaan para saudara kita yakni mudik lebaran. Para pemudik rela berdesak-desakan dan mengantre panjang agar bisa pulang kembali ke kampung halamannya. Tradisi ini sesungguhnya sarat akan nilai hidup spiritual. Seseorang diajak kembali ke kampung halaman untuk memperkuat tali persaudaraan yang selama ini renggang. Kesibukan kerja membuat kita lupa Tuhan, keluarga dan sesama. Tradisi ini mengajak orang untuk kembali mendekati Tuhan, keluarga dan sesama. Tradisi mudik ini mengingatkan kita semua akan kisah Yunus dalam bacaan hari ini. Yunus tidak dapat menghindari Tuhan lagi. Kita pun sama seperti Yunus tidak dapat menghindari Tuhan. 
 
 Kita diajak untuk kembali kepada Tuhan. Sesibuk dan sepadat apa pun jadwak kerja kita. Kita harus kembali 'mudik' menuju ke rumah Tuhan. Pengalaman Yunus ini pernah saya alami. Saya sebagai biarawan misionaris. Pada waktu datang pertama ke paroki tidak ada misa pagi, doa bersama jarang, kegiatan rohani lainnya tidak pernah sama sekali. Situasi seperti ini sangat kering. Saya menyadari situasi ini tidak boleh berlarut-larut terjadi. Saya harus 'mudik' kembali kepada kebiasaan di seminari. Akhirnya dengan semangat mudik kembali kepada fitrah saya sebagai biarawan membangun kebiasaan doa dan Perayaan Ekaristi bersama umat. Saya bisa mengalami apa yang dialami oleh Yunus. Orang percaya dan bertobat. Maka hukuman tidak dijatuhkan. Doa dan merayakan Ekaristi adalah bagian saya sebagai seorang biarawan misionaris. Bagaimana kalau saya tidak berdoa, padahal saya adalah biarawan? Sabda Tuhan dalam Injil mengajari saya bahwa setiap kita punya bagian-bagian yang harus kita jalani. Mungkin saya seperti Maria. Mungkin juga Anda mau seperti Marta. Tetapi yang pasti kita semua haruslah kembali membangun kedekatan dengan Tuhan dengan 'mudik'. Karena nilai yang tertinggi dalam hidup beriman kita adalah Kerajaan Allah. Peringatan Yesus untuk Marta juga Dia tujukan untuk kita. Yesus ingin kita menjunjung tinggi nilai Kerajaan Allah.  (AL/INSPIRASI BATIN).
 
Antifon Komuni (Luk 10:42)
 
Marta, Marta, engkau gelisah dan cemas akan banyak hal. Padahal hanya satu yang penting. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang takkan diambil daripadanya.   
 
 
 

Senin, 07 Oktober 2019 Peringatan Wajib St. Perawan Maria, Ratu Rosario

Senin, 07 Oktober 2019
Peringatan Wajib St. Perawan Maria, Ratu Rosario
 
“Wanita Mulia dan Surgawi, Majikan, Ratu, lindungi dan jagalah saya di bawah sayapmu, supaya jangan Setan, penabur kehancuran, berkuasa atasku, supaya jangan musuh jahatku berjaya atasku.
" St. Ephraim (306-373 AD, - Diterjemahkan dari St. Ephraim, Oratio ad Ssmam Dei Matrem; Opera omnia, Ed. Assemani, t. III (graece), Romae, 1747, p. 546.)  
  
Antifon Pembuka (Bdk. Luk 1:28, 42)

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu.

Hail Mary, full of grace, the Lord is with you. Blessed are you among women and blessed is the fruit of your womb.

  
Doa Pembuka

 
Allah Bapa Yang Mahamurah, kami mengetahui dari kabar malaikat bahwa Yesus Kristus, Putra-Mu, menjadi manusia. Kami mohon, curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya berkat sengsara dan salib-Nya kami diantar kepada kebangkitan mulia. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

       

Bacaan-bacaan dan Mazmur Tanggapan dari hari biasa, atau dari Rumus Umum SP. Maria, misalnya: Kis 1:12-14; MT Luk 1:46-47.48-49.50-51.52-53.54-55; R: Berbahagialah engkau, Perawan Maria, karena engkau telah mengandung Putra Bapa kekal, atau: alleluya; -- Luk 1:26-38
  
Bacaan dari Nubuat Yunus (1:1-2; 2:1-2.11)      
  
"Yunus siap melarikan diri dari hadapan Tuhan."
     
Datanglah sabda Tuhan kepada Yunus bin Amitai demikian, “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan berserulah terhadap mereka, sebab kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan. Ia pergi ke Yafo, dan di sana mendapat sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan. Tetapi Tuhan menurunkan angin ribut ke laut; lalu terjadilah badai besar sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. Awak kapal menjadi takut; masing-masing berteriak kepada allahnya, dan mereka membuang segala muatan ke dalam laut untuk meringankan kapal. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah, dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. Datanglah nahkoda mendapatkannya sambil berkata, “Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allahmu itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.” Lalu berkatalah mereka satu sama lain, “Marilah kita buang undi, supaya kita tahu, karena siapa kita ditimpa malapetaka ini.” Mereka lalu membuang undi, dan Yunuslah yang kena. Maka berkatalah mereka kepadanya, “Beritahu kami, karena siapa kita ditimpa malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang? Manakah negerimu dan dari bangsa manakah engkau?” Sahut Yunus kepada mereka, “Aku ini seorang Ibrani. Aku takwa pada Tuhan, Allah yang menguasai langit, yang telah menjadikan laut dan daratan.” Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya, “Apa yang telah kauperbuat?” Sebab orang-orang itu tahu, bahwa ia telah melarikan diri, jauh dari hadapan Tuhan. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. Bertanyalah mereka, “Akan kami apakan dikau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi? Sebab laut semakin bergelora.” Sahut Yunus kepada mereka, “Angkatlah aku dan campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kalian lagi. Sebab aku tahu, karena akulah badai besar ini menyerang kalian.” Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka. Lalu berserulah mereka kepada Tuhan, katanya, “Ya Tuhan, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini, dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, Tuhan, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.” Kemudian mereka mengangkat Yunus dan mencampakkannya ke dalam laut. Maka laut berhenti mengamuk. Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada Tuhan, lalu mempersembahkan kurban sembelihan kepada Tuhan serta mengikrarkan nazar. Maka atas penentuan Tuhan datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus. Dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. Lalu bersabdalah Tuhan kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Kidung Tanggapan
Ref. Engkau mengangkat nyawaku dari dalam liang kubur.
Ayat. (Yun 2:2,3,4,5,8)
1. Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku. Dari tengah-tengah alam maut aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.
2. Engkau telah melemparkan daku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.
3. Aku berkata, “Telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?”
4. Ketika jiwaku letih lesu dalam diriku, teringatlah aku kepada Tuhan, maka sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 13:34)
Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan; yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Cinta kepada Tuhan dan sesama menjadi syarat mutlak untuk memperoleh hidup kekal. Orang boleh dan harus melakukan segalanya untuk Tuhan, tetapi jangan sampai melupakan sesama yang menderita.
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (10:25-37)
   
"Siapakah sesamaku?"
    
Pada suatu ketika, seorang ahli Kitab berdiri hendak mencobai Yesus, “Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Benar jawabmu itu. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya, dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu. Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasih. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya, ‘Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali’. Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya.” Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, dan lakukan demikian.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
  
Renungan


Hari ini kita juga memperingati SP Maria, Ratu Rosario. Peringatan wajib ini tidak lepas dari sebuah peristiwa ajaib yang terjadi dalam perang salib, dimana harapan akan pertolongan Tuhan melalui doa rosario yang dipanjatkan Gereja sedunia di bawah komando Paus Pius V, terkabulkan. Ketika itu, pasukan Kristen di bawah pimpinan Don Johanes dari Austria berhasil memukul mundur pasukan Turki di Lepanto, 7 Oktober 1571. Inilah hari kemenangan rosario. Kita percaya bahwa doa rosario yang kita panjatkan dalam persatuan dengan Bunda Maria mempunyai kekuatan dahsyat untuk mengubah hidup kita dan membuat Allah tidak bisa menahan rahmat-Nya memenuhi kita. Betapa tidak, karena setiap kali mendaraskan doa rosario itu, kita mengucapkan dua ‘doa ajaib’, yang diwariskan Tuhan sendiri bagi kita, yakni ‘Bapa Kami’ dan ‘Salam Maria’.
   
Antifon Komuni (Luk 1:31)
 
Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang Putra yang harus kaunamai Yesus.
 
 
 
RENUNGAN PAGI

Seri Katekismus GEREJA DALAM TIGA STATUS

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 282

Seri Katekismus
GEREJA DALAM TIGA STATUS


Syalom aleikhem.
Dalam Kredo, Gereja Katolik mengakui “persekutuan para kudus”. Ungkapan ini punya dua arti: pertama, persekutuan dalam hal-hal kudus (sancta); kedua, persekutuan orang-orang kudus (sancti).

Konkretnya macam mana? Pertama, ketika umat beriman merayakan Kurban Misa dan menyantap Roti Suci Ekaristi, mereka bersekutu dalam hal kudus; yang menyatukan mereka adalah kekudusan (Perayaan Ekaristi dan Tubuh Kristus). Kedua, ketika orang-orang beriman yang setia kepada Sang Kristus berkumpul, di sana terjadi persekutuan orang-orang kudus (yang hidupnya kudus dan selalu dikuduskan oleh rahmat Allah).

Persekutuan dalam hal-hal kudus telah terjadi sejak Gereja Perdana (umat beriman yang mengalami Para Rasul secara langsung). Kitab Kisah Para Rasul 2:42 menyatakan, umat awal di Yerusalem bertekun dalam pengajaran Para Rasul dan persekutuan. Mereka bersekutu dalam iman, dalam sakramen-sakramen, dalam karisma-karisma (anugerah istimewa yang berbeda-beda bagi tiap-tiap umat). Mereka juga saling berbagi milik (saling membantu) dan saling solider (susah senang bersama-sama).

Seperti Gereja Perdana, Gereja pada masa selanjutnya, juga pada masa kini (dan mendatang), bersekutu dalam hal-hal kudus. Ketika sakramen dirayakan, umat bersekutu dalam hal kudus. Ketika ada perayaan Sabda, pembahasan Alkitab, pendalaman iman, di sana hal-hal kudus diselami dan dialami. Ketika berdevosi, berziarah, umat bersekutu dalam hal-hal kudus yang diwariskan oleh leluhur iman sejak semula untuk dipelihara sampai hari akhir.

Itu tadi arti pertama “persekutuan para kudus”. Sejak semula didirikan oleh Kristus, Gereja bersekutu dalam hal-hal kudus. Berdirinya Gereja pun karena kekudusan, yaitu kuasa Roh Kudus, roh pengudus bagi sekalian umat Allah. Hal-hal kudus terjaga dalam Gereja dan mempersatukan semua umat.

Arti kedua “persekutuan para kudus” menyangkut pribadi-pribadi yang tergabung dalam Gereja Kristus. Ingat, Gereja sudah ada sejak abad pertama Masehi, sudah berdiri sekitar dua ribu tahun di bumi ini sehingga banyak warganya telah tiada. Mereka yang telah tiada tidak hilang, melainkan masuk ke dalam kehidupan kekal.

Umat Allah yang telah meninggal “tidak kehilangan” keanggotaan dalam Gereja Kristus. Artinya, ada anggota Gereja yang masih hidup di bumi ini (saya dan anda), ada pula yang telah meninggal dunia dan masuk alam kekal. Anggota Gereja yang telah masuk alam kekal terbagi dalam dua kelompok (taraf): pertama, mereka yang sudah di surga; kedua, mereka yang masih mengalami penyucian.

In short, Gereja Katolik punya warga yang berada dalam tiga status (taraf) yang berbeda: (1) warga yang masih mengembara di dunia; (2) warga yang masih membutuhkan penyucian; (3) warga yang sudah menikmati kebahagiaan abadi. Nomor (1) adalah kita; (2) adalah umat Allah di Purgatori (Api Penyucian); (3) adalah orang-orang suci (santo-santa) di surga.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 946-954

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS/GOPAY/OVO/LINKAJA/SHOPEEPAY/DANA/BCA MOBILE/OCTOMOBILE/SAKUKU,dll klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2023 -

Privacy Policy