Seri Liturgi: ANTIFON HARTA TERLUPA

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 286

Seri Liturgi
ANTIFON HARTA TERLUPA
   
Bagian I

Syalom aleikhem.
Ada harta berharga dalam Kurban Misa yang kini – entah mengapa – terlupakan. Namanya Antifon, salah satunya Antifon Pembuka. Gereja Katolik (masih) memilikinya dalam khazanah liturginya, namun berapa orangkah yang masih tahu betapa tinggi nilainya? Mungkin, tahu keberadaannya saja tidak: “Wah, apa itu Antifon Pembuka?” Itulah nasib Antifon, harta terlupa dalam liturgi kita.

Umat Katolik begitu kenal dengan Nyanyian Pembuka (yang sering secara salah kaprah disebut “Lagu Pembuka” dan lebih meleset  lagi “Lagu Pembukaan”). Nota: Lagu itu notasi nada; kalau pakai kata-kata, namanya nyanyian: gabungan nada dan kata.

Tentulah tak salah melantunkan Nyanyian Pembuka sebab PUMR no. 47 menyatakan, Nyanyian Pembuka dimulai ketika imam dan para pelayan lain berarak menuju altar. Namun, rupanya PUMR no. 48 menyebut bahwa pertama-tama Nyanyian Pembuka diambil dari Graduale Romanum (GR) atau Graduale Simplex (GS). Keduanya kitab nyanyian Latin bernotasi gregorian. Ah, sulit dilaksanakan! Tenang, PUMR beri alternatif: nyanyian lain yang sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi.

Aneka pertimbangan itu perlu digunakan ketika kita memilih Nyanyian Pembuka di luar GR dan GS; jadi, tak asal nyanyi saja. Tak lupa, nyanyian yang dapat digunakan dalam Kurban Misa adalah yang teksnya sudah disahkan Konferensi Uskup, bukan asal cipta nyanyian dan langsung jreng-jreng dipakai. Lihatlah PUMR no. 48.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring