Seri Katekismus: BERBAGI HARTA ROHANI

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 285

Seri Katekismus
BERBAGI HARTA ROHANI

Syalom aleikhem.
Ingatlah ikhtisar edisi lalu. Gereja Katolik punya warga dalam tiga status berbeda: (1) warga yang masih hidup di dunia; (2) warga yang telah meninggal tapi membutuhkan penyucian; (3) warga yang telah meninggal namun sudah bahagia di surga, yaitu para kudus.

Gereja Katolik, Bunda dan Guru kita, mengajarkan bahwa persatuan antara kita yang masih berjuang di dunia dan mereka yang telah beristirahat dalam damai Kristus tak pernah terputus. Kita dan para kudus selalu berhubungan. Ajaran ini berbeda dengan ajaran kaum sempalan yang menyatakan bahwa orang yang telah meninggal tak ada hubungan lagi dengan orang yang masih hidup di dunia, dan karena itu doa-doa tak lagi bisa menolong. Ah, keliru! Menurut iman Katolik, hubungan mereka yang telah meninggal dengan kita yang masih hidup, terus berlangsung untuk saling “berbagi harta rohani”.

Kita & Para Kudus

Para kudus telah berada di surga bersama Sang Kristus. Mereka ikut merayakan ibadat kepada Allah yang dilaksanakan oleh umat Tuhan di dunia. Oleh sebab itu, dalam setiap Misa, persisnya dalam setiap Prefasi, ada kata-kata: “Bersama para kudus dan para malaikat”. Para kudus beribadat bersama kita, menambah keagungan ibadat kita.

Santo-santa menjadi pendoa bagi kita. Gereja mengajarkan bahwa kelemahan-kelemahan kita banyak dibantu oleh doa-doa para kudus. Beberapa orang suci, sebelum meninggal mengatakan kurang-lebih demikian: “Sesudah saya mati, saya akan lebih berguna bagi kamu daripada selama saya hidup.” Maksudnya, harta rohani para kudus membantu kita berjuang sebagai murid-murid Tuhan, dan doa-doa mereka diarahkan kepada Allah demi kita. Inilah yang disebut “doa syafaat para kudus”.

Gereja Katolik merayakan kenangan akan para kudus untuk mengingat teladan mereka. Para kudus bukan orang yang langsung suci sejak lahir, bukan orang yang tanpa kesulitan selama hidup. Para kudus, selama hidup di atas bumi ini, adalah manusia-manusia biasa yang berjuang dengan kelemahan dan dosa. Mereka jatuh bangun untuk setia melaksanakan firman Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang memberikan teladan bagi Gereja yang masih berjuang ini.

Kenangan akan para kudus juga menegaskan persatuan Gereja, yaitu antara Gereja yang berjuang dan Gereja yang mulia. Persatuan ini adalah cinta kasih persaudaraan. Kita dan para kudus bersaudara.

Kita & Mereka di Penyucian

Umat Tuhan yang sudah meninggal namun masih dalam pemurnian alias Gereja dalam penyucian, tak dilupakan. Karena itu, Gereja Katolik merayakan kenangan akan mereka yang telah meninggal sebagaimana amanat dalam 2Mak. 12:45: “Inilah suatu pikiran yang mursyid dan saleh: mendoakan mereka yang meninggal supaya dilepaskan dari dosa-dosa mereka.” Doa-doa kita di dunia membantu mereka di penyucian sehingga segera memperoleh kebahagiaan kekal di surga. Setelah mereka di surga, doa-doa mereka pun akan berguna bagi kita.

Singkatnya, doa-doa para kudus membantu kita di dunia; doa-doa kita di dunia menolong mereka di penyucian; setelah mereka di penyucian beralih ke surga, doa-doa mereka membantu kita.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 955-959

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring