Apa itu Ibadat Tenebrae?

 
Dalam perkembangan Gereja Katolik, Lamentasi dikenal dengan Tenebrae yang merupakan kata dalam bahasa Latin yang artinya kegelapan. Tenebrae adalah nama yang diberikan untuk gabungan dari Ibadat Bacaan (Officium Lectionis) dan Ibadat Pagi (Laudes) yang dilaksanakan pada Trihari Suci Paskah. Disebut gabungan, karena memang penyelenggaraan kedua ibadat ini digabungkan, Ibadat Pagi dilaksanakan segera setelah Ibadat Bacaan selesai.  
  
Tenebrae dalam tradisi Katolik sebelum Konsili Vatikan II memiliki unsur-unsur berikut. Yang pertama adalah Ibadat Bacaan. Ibadat Bacaannya terdiri dari 3 Nocturna, yang masing-masing terdiri dari 3 Mazmur dan 3 Bacaan plus Tanggapannya. Kalau dijumlahkan, semuanya ada 9 Mazmur. Berikutnya adalah Ibadat Pagi. Ibadat Paginya terdiri dari Mazmur dan Kidung plus satu lagi Kidung Zakaria (Benedictus) sebagai puncaknya. Lilin yang 15 buah tadi nantinya dimatikan satu persatu setiap kali selesai mendaraskan mazmur atau kidung yang jumlahnya 14 (tidak termasuk Kidung Zakaria). Berikutnya, satu persatu lilin di altar yang jumlahnya 6 buah juga dimatikan setiap kali selesai mendaraskan 6 ayat-ayat terakhir Kidung Zakaria. Sampai di sini tinggallah satu lilin di puncak kandelar khusus yang berisi 15 lilin tersebut. Lilin terakhir, yang melambangkan Kristus, tidak padam tetapi biasanya disembunyikan di balik altar setelah pembacaan Kitab Suci yang terakhir sehingga terjadi kegelapan yang sempurna. Pada saat yang sama, semua yang hadir menimbulkan kegaduhan, biasanya dengan memukul-mukulkan Buku Ibadat Harian (Brevir) ke bangku. Ini untuk mensimulasikan gempa yang terjadi saat Yesus wafat. Setelah itu, lilin yang disembunyikan di bawah altar dikeluarkan lagi dan ibadat berakhir dengan khidmat. 
 
Tenebrae adalah bagian dari Ibadat Harian. Dengan begitu, Tenebrae adalah liturgi, bukan devosi. Sebagai bagian dari Ibadat Harian dalam Trihari Suci Paskah, Tenebrae tentu tidak boleh menggantikan perayaan liturgi yang biasa 
 
  The Catholic Encyclopedia menjelaskan bagaimana “Ibadat Pagi segera mengikuti Ibadat Bacaan, yang pada kesempatan ini berakhir dengan penutupan hari, untuk menandakan terbenamnya Matahari Keadilan … Awalnya Ibadat Bacaan pada hari-hari ini, seperti Ibadat Bacaan di semua waktu lain tahun ini , dinyanyikan tidak lama setelah tengah malam, dan akibatnya jika lampu padam, kegelapan akan sempurna.”

Dalam situasi ini Yesus sebagai manusia merasa tidak mampu menghadapi kenyataan sangat tragis dalam hidup-Nya dan meminta para murid-Nya untuk setia berjaga bersama-Nya. “Tidak sanggupkah kamu jaga bersama aku satu jam saja?” Namun para murid yang adalah wakil dari kita semua adalah orangorang yang tidak setia dan pergi meninggalkan Yesus seorang diri satu persatu dan bahkan menyangkal Yesus sebagaimana yang dilakukan Petrus di hadapan seorang wanita di istana Pilatus. (Bdk Luk. 22:54-62). 
  
  Liturgi berakhir dalam keheningan dan lilin terakhir disembunyikan atau ditampilkan kembali. Umat ​​beriman pergi dalam keheningan dan suasana hati sekali lagi sangat sedih, merenungkan kematian Kristus dan kegelapan yang menutupi dunia pada Jumat Agung.
 
  Ini adalah bagian indah dari Pekan Suci yang membenamkan umat Kristiani ke dalam kematian Kristus dan membuat penyalaan lilin pada Malam Paskah menjadi lebih dramatis. Selama Tenebrae gereja diselimuti kegelapan, tetapi kegelapan tidak memiliki kata terakhir. Malam Paskah dimulai dalam kegelapan yang sama, tetapi cahaya Kristus (dilambangkan dengan lilin Paskah) mengusir bayang-bayang dan seluruh gereja menjadi terang benderang ketika lilin mencapai tempat kudus. Ini adalah kabar baik dari iman kita. Betapapun gelapnya dunia kita, terang Kristus mengalahkan kegelapan dan membawa kita semua ke Kehidupan Kekal.