Pemindahan Sakramen Mahakudus pada hari Kamis Putih Misa Peringatan Perjamuan Tuhan


Pada akhir Misa Perjamuan Tuhan, Ekaristi dibawa dalam prosesi pemindahan ke altar sementara/altar persinggahan. Setelah Sakramen Mahakudus ditempatkan di tabernakel di altar sementara/persinggahan, ada periode tuguran yang berlanjut sampai tengah malam dengan khidmat. Setelah tengah malam tuguran berlangsung dengan sederhana.

Sakramen Mahakudus dicadangkan/dipersiapkan agar Komuni Kudus dapat dibagikan pada akhir Perayaan Sengsara Tuhan pada Jumat Agung. Dimana perayaan Jumat Agung tidak berlangsung di gereja yang sama, Sakramen Mahakudus tidak dipindahkan dan Misa berakhir dengan cara biasa.
 
Waktu tuguran adalah salah satu adorasi Sakramen Mahakudus tetapi bukan perayaan Eksposisi. Hosti yang sudah dikonsekrir tidak diperlihatkan dalam monstran dan tidak ada kata-kata yang diucapkan oleh Imam setelah Doa sesudah Komuni. Meskipun mungkin ada unsur-unsur yang dirayakan secara komunal selama periode tuguran, ini adalah waktu doa pribadi.
   
Dalam Pedoman Pekan Suci no 56 (Surat Edaran Kongregasi Ibadat Tentang Persiapan dan Perayaan Paskah) dikatakan: “hendaknya disertai bacaan sebagian Injil Yohanes (Bab 13-17).” Lalu diingatkan juga “Bagaimanapun juga, sesudah pukul 24.00, sembah sujud harus dilaksanakan tanpa kemeriahan lahiriah, karena Hari Kesengsaraan Tuhan sudah mulai.” Dari sini jelaslah sesudah pukul 12 malam hendaknya suasana hening sangat ditekankan.
    
Kemudian dalam Pedoman Pekan Suci no 55 dikatakan bahwa “Sakramen Mahakudus harus disimpan di dalam Tabernakel atau Piksis atau Sibori yang tertutup. Sekali-kali Sakramen Mahakudus tidak boleh ditakhtakan dalam monstrans. Tempat di mana tabernakel atau piksis/sibori ditempatkan tidak boleh dibuat menyerupai makam dan hiasan yang menggambarkan “makam” harus dihindari; karena ruang penyimpanan itu tidak dipersiapkan untuk menghadirkan kembali ‘pemakaman Tuhan’ tetapi untuk penyimpanan Roti Ekaristi yang akan dibagikan dalam Komuni pada hari Jumat Agung.”