Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Rabu, 11 Maret 2026 Hari Biasa Pekan III Prapaskah

 
Rabu, 11 Maret 2026
Hari Biasa Pekan III Prapaskah

Kalau timbul karat pada cermin, orang tidak dapat melihat gambaran wajah di dalamnya; begitulah kalau ada dosa pada manusia, ia tidak dapat melihat Allah. (St. Teophilus dari Antiokhia)


Antifon Pembuka (Mzm 119(118):133)

Teguhkanlah langkahku seturut janji-Mu, dan janganlah suatu kejahatan pun menguasai aku

Let my steps be guided by your promise; may evil never rule me.


Doa Pagi


Allah Bapa yang kekal dan kuasa, dalam masa Prapaskah ini kami Kaubimbing dan Kauajar dengan Sabda-Mu. Semoga dengan berpantang, kami berbakti kepada-Mu dengan sepenuh hati dan dalam doa bersatu sebagai umat-Mu.
Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.     
   
Credit: dnsoff/istock.com

Bacaan dari Kitab Ulangan (4:1.5-9)
   
"Lakukanlah ketetapan-ketetapan itu dengan setia."
  
Di padang gurun seberang Sungai Yordan Musa berkata kepada bangsanya, "Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaan dan akal budimu di mata bangsa-bangsa. Begitu mendengar segala ketetapan ini mereka akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum, yang kubentangkan padamu pada hari ini? Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidup. Beritahukanlah semuanya itu kepada anak-anakmu dan kepada cucu-cucumu serta cicitmu."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.  

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/2, PS 863
Ref. Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem!
Ayat. (Mzm 147:12-13.15-16.19-20; Ul: 12a)
1. Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anak yang ada padamu.
2. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu.
3. Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yoh 6:64b,69b)
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Engkau mempunyai sabda kehidupan kekal.

Inilah Injil Suci menurut Matius (5:17-19)
  
"Siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi."
   
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekali pun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat-tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga."
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)


Renungan
    
  
   Dalam hidup, kita membutuhkan beberapa rutinitas untuk membantu kita memiliki stabilitas. Rutinitas membantu kita untuk mengendalikan hidup kita sehingga kita tidak akan stres dan cemas. Kita juga menginginkan ketenangan pikiran dan tidak perlu khawatir tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya atau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dalam banyak hal, hukum dan aturan membantu kita memiliki ketenangan pikiran serta stabilitas dan keamanan dalam hidup. Kita tahu apa yang benar untuk dilakukan dan kita juga tahu bahwa hukum dan aturan melindungi kita dari segala kesalahan yang mungkin dilakukan kepada kita. Terlebih lagi hukum dan perintah ilahi. Allah memberi kita hukum dan perintah agar kita dapat menjalani hidup dengan damai.

Seperti yang dikatakan bacaan pertama, menaati hukum dan perintah Allah menunjukkan bahwa kita bijaksana dan memahami makna hidup. Hukum dan perintah Allah menunjukkan kepada kita bahwa Dia mengasihi kita dan Dia ingin kita hidup damai dan merasa aman dan tenteram.

Marilah kita menaati dan mematuhi hukum dan perintah Allah untuk menunjukkan bahwa kita mengasihi Allah, dan marilah kita juga menceritakan kepada orang lain tentang kedamaian dan sukacita yang diperoleh dari menaati hukum dan perintah Allah..
  (Renungan Pagi)
 
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
 
 
   
Antifon Komuni (Mzm 16(15):11)

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

You will show me the path of life, the fullness of joy in your presence, O Lord.

Doa Malam

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, Engkau telah menunjukkan kepada kami, siapa yang telah menjalankan hukum-Mu dengan sempurna, ialah Yesus Kristus, yang penuh cinta kasih. Kami mohon, berilah kami kedamaian dalam mengikuti Dia, yang hidup dan berkuasa, sepanjang masa. Amin.

 




Rabu Pekan Ketiga Prapaskah
Komentar hari ini
Paus Benediktus XVI, Kunjungan Pastoral di Polandia, Lapangan PiƂsudski, Warsawa, 26 Mei 2006.

  
Iman tidak hanya berarti menerima sejumlah kebenaran abstrak tentang misteri Allah, manusia, kehidupan dan kematian, realitas masa depan. Iman terdiri dari hubungan yang intim dengan Kristus, hubungan yang didasarkan pada kasih kepada Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita (lih. 1 Yoh 4:11), bahkan sampai pada persembahan diri-Nya yang total. “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm 5:8). Tanggapan apa lagi yang dapat kita berikan kepada kasih yang begitu besar, jika bukan hati yang terbuka dan siap untuk mengasihi? Tetapi apa artinya mengasihi Kristus? Itu berarti memercayai-Nya bahkan di saat-saat pencobaan, mengikuti-Nya dengan setia bahkan di Jalan Salib, dengan harapan bahwa pagi Kebangkitan akan segera tiba. Dengan mempercayakan diri kita kepada Kristus, kita tidak kehilangan apa pun, kita memperoleh segalanya. Di tangan-Nya hidup kita memperoleh makna yang sebenarnya. Kasih kepada Kristus mengungkapkan dirinya dalam keinginan untuk menyelaraskan hidup kita sendiri dengan pikiran dan perasaan Hati-Nya. Hal ini dicapai melalui persatuan batin yang didasarkan pada rahmat Sakramen-sakramen, yang diperkuat oleh doa, pujian, ucapan syukur, dan pertobatan yang terus-menerus. Kita harus mendengarkan dengan penuh perhatian inspirasi yang Ia bangkitkan melalui Sabda-Nya, melalui orang-orang yang kita jumpai, melalui situasi kehidupan sehari-hari. Mengasihi-Nya berarti tetap berdialog dengan-Nya, untuk mengetahui kehendak-Nya dan segera melaksanakannya.
 
Namun, menjalani iman pribadi sebagai hubungan kasih dengan Kristus juga berarti siap untuk meninggalkan segala sesuatu yang merupakan penyangkalan terhadap kasih-Nya. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada para Rasul: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku." Tetapi apakah perintah-perintah Kristus? Ketika Tuhan Yesus mengajar orang banyak, Ia tidak pernah gagal untuk meneguhkan hukum yang telah dituliskan Sang Pencipta di dalam hati manusia dan kemudian dirumuskan pada loh-loh Sepuluh Perintah Allah. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:17-18).

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy