Senin, 09 Maret 2026
Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan Bdk. Yoh 3:5.. Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.. Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini Bdk. Mrk 16:16.. Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh "kelahiran kembali dari air dan Roh". Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya. (Katekismus Gereja Katolik, 1257)
Antifon Pembuka (Mzm 84(83):3)
Penuh rindu hatiku mendambakan rumah Tuhan. Jiwa ragaku bersorak sorai bagi Allah yang hidup.
My soul is longing and yearning for the courts of the Lord. My heart and my flesh cry out to the living God.
Doa Pagi
Allah Bapa sumber belas kasih, semoga kerahiman-Mu membersihkan dan menguatkan umat-Mu. Bimbinglah kami dengan rahmat-Mu, karena tanpa Engkau kami takkan mungkin selamat. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (5:1-15a)
Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan Bdk. Yoh 3:5.. Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.. Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini Bdk. Mrk 16:16.. Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh "kelahiran kembali dari air dan Roh". Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya. (Katekismus Gereja Katolik, 1257)
Antifon Pembuka (Mzm 84(83):3)
Penuh rindu hatiku mendambakan rumah Tuhan. Jiwa ragaku bersorak sorai bagi Allah yang hidup.
My soul is longing and yearning for the courts of the Lord. My heart and my flesh cry out to the living God.
Doa Pagi
Allah Bapa sumber belas kasih, semoga kerahiman-Mu membersihkan dan menguatkan umat-Mu. Bimbinglah kami dengan rahmat-Mu, karena tanpa Engkau kami takkan mungkin selamat. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Credit: PaulCalbar/istock.com |
Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (5:1-15a)
"Banyak orang sakit kusta, dan tak seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain daripada Naaman orang Syria itu."
Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia Tuhan telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi pahlawan tentara itu sakit kusta. Sekali peristiwa orang Aram pernah keluar bergerombol dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Anak itu menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya, "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya." Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya, "Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu." Maka jawab raja Aram, "Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel." Lalu berangkatlah Naaman. Sebagai persembahan ia membawa sepuluh talenta perak, enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. Ia menyampaikan surat raja Aram itu kepada raja Israel, yang berbunyi, "Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya." Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata, "Allahkah aku ini, yang dapat mematikan dan menghidupkan sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku." Segera sesudah didengar oleh Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya, "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah orang itu datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel." Kemudian datanglah Naaman dengan kuda dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan, "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir." Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata, "Aku sangka, setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama Tuhan, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu, dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?" Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati. Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya, "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah Bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir." Maka turunlah Naaman membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi tahir. Kemudian kembalilah Naaman dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Sesampai di sana majulah ia ke depan Elisa dan berkata, "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hamba ini!"
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = d, PS 843
Ref. Jiwaku haus pada-Mu Tuhan, ingin melihat wajah Allah.
atau Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Ayat. (Mzm 42:2-3; 43:3-4, Ul: 42:3)
1. Seperti rusa yang merindukan sungai berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
2. Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
3. Suruhlah terang dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!
4. Maka aku
dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, sukacita dan
kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya
Allahku.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Mzm 130:5.7)
Aku menanti-nantikan Tuhan, dan mengharapkan firman-Nya, sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (4:24-30)
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Mzm 130:5.7)
Aku menanti-nantikan Tuhan, dan mengharapkan firman-Nya, sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (4:24-30)
"Yesus seperti Elia dan Elisa, diutus bukan kepada orang-orang Yahudi."
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Ketika kita membaca bacaan Injil ini hari ini, kita mungkin berpikir bahwa reaksi jemaat di sinagoga di Nazaret agak aneh. Apa yang Yesus nyatakan kepada mereka tampaknya cukup baik. Namun pada akhir khotbah-Nya, orang-orang begitu marah kepada-Nya sehingga mereka siap untuk membunuh-Nya.
Dan konteks langsung dari bagian ini dapat membantu menjelaskan bacaan hari ini. Ketika Yesus datang ke sinagoga di kota kelahiran-Nya, Nazaret, pada hari Sabat, Ia berdiri dan membaca dari kitab nabi Yesaya, yang berisi janji-janji yang akan digenapi oleh orang yang diurapi Tuhan. Ia akan memberitakan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada para tawanan dan pemulihan penglihatan kepada orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, dan memberitakan tahun rahmat Tuhan. Dan mereka yang mendengarkan Yesus pasti sudah familiar dengan kata-kata ini karena secara berkala dibaca di sinagoga. Kemudian Yesus duduk dan dengan perhatian penuh jemaat tertuju kepada-Nya, Ia menyatakan, "Hari ini firman ini telah digenapi di hadapanmu." Dan karena orang-orang itu telah berada di bawah kekuasaan Romawi dan telah merindukan seorang penyelamat, kata-kata Yesus ini pasti menarik bagi mereka.
Pada saat yang sama, Yesus berbicara kepada jemaat di kota asalnya yang pasti mengenalnya dengan baik. Mereka menyaksikan Dia tumbuh dewasa dan taat kepada ibu dan ayahnya. Karena itu mereka tampaknya bertanya-tanya mengapa Yesus menganggap diri-Nya begitu istimewa, sehingga Dia dapat membuat pernyataan yang luar biasa untuk memenuhi Kitab Suci tepat di tengah-tengah mereka.
Namun Yesus dapat membaca hati orang-orang asalnya dan dapat merasakan ketidakpercayaan mereka. Yesus benar-benar datang untuk membebaskan umat-Nya, tetapi orang-orang asalnya belum siap menerima kebebasan itu. Mereka masih membutuhkan pembersihan rohani yang mendalam.
Kemudian Yesus menyebutkan sesuatu yang berfungsi untuk mengungkap kebusukan dosa yang masih ada di dalam hati mereka. Jika Yesus akan membebaskan para tawanan, para tawanan itu sendiri juga harus bekerja sama dalam pembebasan mereka sendiri. Ketika orang Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka juga membutuhkan pemurnian dari keterikatan mereka yang berlebihan pada hal-hal baik yang mereka nikmati di Mesir.
Saat mengembara di padang gurun tanah perjanjian, orang-orang kadang-kadang mengeluh kepada Musa karena kekurangan makanan atau air, dan mereka mulai mengenang semua makanan lezat yang mereka nikmati saat berada di Mesir. Namun pada saat yang sama, mereka melupakan perlakuan kasar yang mereka derita di tangan tuan-tuan Mesir mereka, dan bahwa Allah telah datang untuk membebaskan mereka dari penindasan itu. Allah tidak datang untuk memberi mereka kebebasan fisik semata dari perbudakan, tetapi juga pembebasan rohani dari semua keterikatan duniawi, keterikatan pada semua barang dan harta benda duniawi, sehingga mereka dapat memiliki iman yang lebih besar kepada Tuhan.
Jika hati kita tidak terbebas dari keterikatan duniawi, maka hati kita tidak benar-benar bebas. Dalam kasus orang-orang Nazaret, Yesus mengatakan bahwa tidak ada nabi yang diterima di tempat asalnya. Kemudian Dia memberikan dua contoh dari Perjanjian Lama ketika orang Israel asli telah menolak para nabi, namun nabi-nabi yang sama itu diterima oleh orang-orang bukan Yahudi.
Contoh pertama adalah janda miskin di Zarephath di Sidon, yang menerima Elia dan memberinya makanan. Awalnya, ketika Elia meminta roti dari janda itu, ia mengatakan kepadanya bahwa ia hanya memiliki sedikit persediaan yang tersisa di dalam gucinya, dan bahwa ia baru saja akan menyiapkan makanan terakhir untuk dirinya dan putranya sebelum keduanya meninggal. Elia menyuruh janda itu untuk membuatkan roti dan meyakinkannya bahwa persediaannya tidak akan habis sampai Tuhan menurunkan hujan ke bumi sekali lagi.
Maka janda bukan Yahudi ini percaya pada firman Elia dan ia diberi pahala atas imannya. Contoh kedua adalah Naaman orang Siria, yang diutus kepada Elisa untuk disembuhkan dari penyakit kusta. Elisa menyuruhnya untuk mandi di Sungai Yordan tujuh kali dan ia akan sembuh. Dan pada awalnya, Naaman menolak tetapi kemudian mempertimbangkan kembali ketika para pelayannya mencoba membujuknya. Dan karena ia percaya pada firman Elisa, ia disembuhkan dari penyakit kustanya. Jadi dalam kedua kasus tersebut, para nabi menemukan iman yang lebih besar pada orang-orang di luar Israel daripada di dalam Israel.
Dan karena alasan inilah, umat pilihan tidak mengalami penyembuhan dan pembebasan dari Allah mereka, sedangkan sebagian dari bangsa-bangsa bukan Yahudi, mereka yang berada di luar Israel, diberi karunia kasih karunia Allah ini. Dan reaksi keras penduduk Nazaret terhadap Yesus ketika Ia mengucapkan kata-kata ini menunjukkan apa yang ada di dalam hati mereka. Mereka lebih mudah tergerak oleh rasa jijik dan iri hati mereka terhadap bangsa-bangsa bukan Yahudi daripada oleh kata-kata penuh kasih karunia Yesus.
Jika hati mereka benar-benar menyesal, mereka akan merendahkan diri dan lebih menerima Yesus. Jika mereka menanggapi dengan iman, penyesalan, dan pertobatan, maka mungkin Yesus dapat melakukan lebih banyak pekerjaan penyembuhan dan pengusiran setan bagi mereka. Tetapi mereka masih terlalu terikat pada hal, preferensi, bias, dan prasangka mereka sendiri agar dapat menerima hal-hal baik yang ingin Tuhan berikan kepada mereka.
Dan bacaan hari ini dapat berfungsi sebagai peringatan bagi kita terhadap dosa iri hati, yang merupakan salah satu dari tujuh dosa besar. Begitu banyak kejahatan yang dilakukan sepanjang zaman berakar pada dosa besar ini. Itu bukan hanya faktor yang berkontribusi pada dosa asal, tetapi juga menyebabkan Kain bangkit melawan saudaranya Abel dan melakukan pembunuhan pertama.
Iri hati sering kali dikaitkan dengan dosa amarah, dosa besar lainnya dari tujuh dosa besar. Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa, iri hati adalah dosa besar. Itu merujuk pada kesedihan saat melihat harta orang lain dan keinginan yang berlebihan untuk memperolehnya untuk diri sendiri, bahkan secara tidak adil. Ketika menginginkan kerugian besar bagi sesama, itu adalah dosa berat. Dan Santo Gregorius Agung mengatakan, dari iri hati lahirlah kebencian, fitnah, pencemaran nama baik, kegembiraan yang disebabkan oleh kemalangan sesama, dan ketidakpuasan yang disebabkan oleh kemakmurannya. Dan akhirnya, Katekismus juga mengatakan bahwa iri hati merupakan bentuk kesedihan dan oleh karena itu penolakan terhadap kasih. Orang yang telah dibaptis harus berjuang melawannya dengan menunjukkan niat baik. Iri hati seringkali berasal dari kesombongan. Orang yang telah dibaptis harus melatih dirinya untuk hidup dalam kerendahan hati.
Sekarang, saya harus menunjukkan secara singkat bahwa mereka yang berjuang melawan sistem yang tidak adil untuk menerima, misalnya, upah yang adil, tunjangan yang lebih baik, atau kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka, tidak selalu digerakkan oleh iri hati, tetapi oleh keinginan akan keadilan. Ada perbedaan antara mereka yang memperjuangkan perlakuan adil terhadap mereka yang mengumpulkan kekayaan melalui keserakahan dan mereka yang hanya menginginkan harta benda orang lain yang mungkin memiliki lebih banyak daripada mereka. Keadilan harus diupayakan melalui cara-cara yang benar dan adil.
Pada saat yang sama, iri hati harus dihindari. Tetapi secara keseluruhan, kita harus menghindari jatuh ke dalam dosa iri hati dengan mempraktikkan pelepasan diri dari barang-barang materi yang berlebihan dan kemewahan serta kenyamanan. Kita bahkan harus menjaga diri kita sendiri agar tidak menjadi iri terhadap mereka yang memiliki bakat lebih besar daripada kita.
Kita harus menghindari memandang orang lain yang mungkin memiliki lebih banyak hal daripada kita dan menjadi sedih seolah-olah kita sendiri kekurangan sesuatu. Iri hati berkaitan dengan mentalitas bahwa kita perlu mengikuti gaya hidup orang lain. Hal itu mengarah pada mentalitas yang egois, materialistis, dan konsumtif, dan pada akhirnya akan membebani hati dan jiwa kita dalam jangka panjang.
Selama masa Prapaskah ini, kita mengambil kesempatan untuk lebih melepaskan diri dari perasaan dan melakukan pekerjaan pertobatan berupa puasa. Jika kita merasa iri terhadap orang lain, cara yang baik untuk merespons dengan penuh kasih adalah dengan memuji pencapaian mereka dan bersukacita bersama mereka atas hal-hal baik yang mereka miliki. Kita juga dapat mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas banyak hal baik yang telah Dia berikan kepada kita, dan kita dapat berdoa agar orang miskin juga dapat memiliki bagian dalam kebaikan Tuhan. Dengan demikian, sukacita dan rasa syukur adalah cara yang efektif untuk melawan kesedihan yang dapat menyebabkan iri hati.
Tuhan Yesus, ajarikah aku untuk mencintai jalan-jalan-Mu agar aku cepat meninggalkan dosa dan kesengsaraan dalam hidupku. Membuatku utuh dan bersih kembali agar aku senang melakukan kehendak-Mu. (RENUNGAN PAGI)
Orang Kudus hari ini: 09 Maret 2026 St. Fransiska dari Roma
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Antifon Komuni (Mzm 117(116):1.2)
Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita,
O praise the Lord, all you nations, for his merciful love towards us is great.
Doa Malam
Allah Bapa sumber cahaya mulia, kami bersyukur atas terang Sabda-Mu, yang membuka jalan kerukunan; pun pula atas rezeki suci yang membawa kesembuhan dan cinta kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita,
O praise the Lord, all you nations, for his merciful love towards us is great.
Doa Malam
Allah Bapa sumber cahaya mulia, kami bersyukur atas terang Sabda-Mu, yang membuka jalan kerukunan; pun pula atas rezeki suci yang membawa kesembuhan dan cinta kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
“Tidak ada satu tangga lain untuk naik ke surga, selain salib” (St. Rosa dari Lima).



