Seri Katekismus BAHAGIA TERTINGGI & DEFINITIF


KATKIT (Katekese Sedikit) No. 312

Seri Katekismus
BAHAGIA TERTINGGI & DEFINITIF

Syalom aleikhem.
Surga itu kebahagiaan tertinggi dan definitif. Tertinggi secara kiasan menyatakan kesempurnaan, tiada yang melebihi. Definitif artinya sudah pasti, bukan sementara. Surga itu kebahagiaan terus-menerus tanpa jeda tanpa akhir. Konkretnya? Entahlah. Katekismus – berbasis Alkitab dan Tradisi – bicara selalu memakai gegambaran.

Hidup di surga berarti “ada bersama Sang Kristus” sebagaimana telah Beliau nyatakan dalam Yoh. 14:3: “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.”

Manusia yang jatuh ke dalam dosa sejak semula telah kehilangan martabat sebagai anak-anak Allah dan, dengan demikian, hak atas surga. Mudahnya, surga telah tertutup bagi manusia. Dan, manusia tak sanggup membukanya kembali karena telah terpisah dari Allah. Berkat wafat dan kebangkitan Kristus, surga dibuka kembali.

Buah penebusan oleh Kristus adalah terbukanya kembali surga bagi manusia. Siapa beriman kepada-Nya dan setia melakukan kehendak-Nya, turut ambil bagian dalam hak atas surga. Tentu saja, manusia tak berhak atas surga, namun karena ikut Kristus, diperkenankan ambil bagian dalam kehidupan-Nya di surga.

Diwahyukan Melalui Gegambaran

Bagaimana keadaan surga dan penghuninya tak terbayangkan oleh nalar yang paling canggih sekalipun. Pikiran manusiawi tak sanggup mencakup sepenuh wahyu mengenai surga, benak kita tak mampu menampungnya. Karena itu, wahyu ilahi senantiasa menggunakan gegambaran ketika memaparkan seperti apa surga.

Apa yang disampaikan Alkitab mengenai surga bukan perihal harafiah. Di sana digambarkan surga sebagai kehidupan, terang, perdamaian, perjamuan nikah, anggur kerajaan, rumah Bapa, Yerusalem surgawi, firdaus. Tak ada yang benar-benar harafiah seperti dinyatakan. Surga melebihi semua gambaran.

Jangan dibayangkan, contohnya, ada makan seperti halnya makan di dunia ini. Kalaupun – ingat, kalaupun – ada makan di surga, pasti tak sama dengan makan duniawi. Alkitab, 1Kor. 2:9, melukiskan surga: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Di surga, semua serba lain daripada apa yang di dunia ini.

Semua penghuni surga diperkenankan memandang Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Allah mengizinkan manusia melihat misteri-Nya secara langsung. Pandangan itu disebut “pandangan membahagiakan”. Bahkan hanya dengan memandang Allah, kita bahagia selama-lamanya. Bagaimana konkretnya? Entahlah.

Di surga tiada bosan, tiada sedih, dan perihal negatif lainnya. Mengenai itu, Katekismus menyatakan: “mereka… memenuhi kehendak Allah dengan gembira.” Hanya ada sukacita kekal.

** Ikhtisar atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 1025-1029

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring