Seri Katekismus: MAKNA KEMATIAN KRISTEN


KATKIT (Katekese Sedikit) No. 303

Seri Katekismus
MAKNA KEMATIAN KRISTEN

Syalom aleikhem.
Kematian memisahkan jiwa manusia dengan tubuhnya. Pada hari kebangkitan pada akhir zaman, tubuh disatukan kembali dengan jiwa, dan dengan itu kembali utuhlah manusia dengan jiwa dan raganya.

Dalam pandangan sehari-hari, kematian adalah peristiwa alami. Badan manusia makin lama makin uzur, melemah sejalan usia, dan pada puncaknya semua fungsinya berhenti. Itulah kematian. Kenyataan ini menyentak dan mengingatkan kita bahwa ada jangka waktu tertentu menjalankan kehidupan; hidup manusia pendek dan terbatas.

Dalam kacamata iman, kematian adalah “upah dosa”. Adanya kematian karena ada dosa. Kematian masuk ke dalam dunia karena manusia telah berbuat dosa. Apakah manusia sesungguhnya kekal, tak dapat mati? Manusia mempunyai kodrat “dapat mati”, artinya tak kekal – hanya Allah saja yang kekal – tapi Sang Pencipta menentukan supaya manusia tak mati. Pada awal mula, manusia hidup bersama Allah, dan kebersamaan dengan Allah membuat manusia tak mati.

Karena itu, kematian bertentangan dengan kehendak Sang Pencipta. Kematian datang sebagai akibat adanya dosa. Seandainya manusia tak berdosa, apakah ia tak mati? Ya, tak mati. Dalam Gaudium et Spes no. 18, dikutip Katekismus Gereja Katolik no. 1008, Gereja Katolik mengajarkan demikian: “Kematian badan yang dapat dihindari seandainya manusia tidak berdosa adalah ‘musuh terakhir’ manusia yang harus dikalahkan.”

Jadi, dalam arti tertentu, kematian itu peristiwa alami berhentinya fungsi badan. Namun, dalam pandangan iman, kematian itu upah dosa; manusia mati karena berdosa.

Sejak kematian Yesus Kristus, kematian telah diubah: kematian yang dulunya kutuk, kini menjadi berkat. Manusia harus mati bersama (seperti) Kristus supaya bangkit bersama Kristus. Kematian kini menjadi pintu peralihan dari dunia ini menuju Tuhan.

Karena kematian Kristus, kematian manusia mempunyai arti positif. Kematian kini menjadi gerbang berjumpa dengan Sang Kristus. Itu mengapa orang-orang suci berkata: “mati adalah keuntungan” dan “lebih baiklah bagiku untuk mati”; maksudnya mati bersama Kristus, artinya mati dalam iman sepenuhnya kepada-Nya.

Terkait itu, beginilah pandangan Gereja Katolik mengenai kematian: “Hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan. Dan sesudah roboh rumah kami di dunia ini, akan tersedia bagi kami kediaman abadi di surga.” Keyakinan ini tercatat dalam teks liturgi, yaitu Missale Romanum mengenai Prefasi Arwah.

Sesudah kematian, tak akan ada kehidupan duniawi lagi. Kematian adalah titik akhir kehidupan duniawi. Sesudah kematian, tak ada “reinkarnasi”. Manusia mati, lalu dihakimi untuk kehidupan kekal. Kehidupan sekarang adalah satu-satunya yang kita punya, tak ada “kesempatan kedua”.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 1005-1014

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring