Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Minggu, 16 Agustus 2026 Hari Minggu Biasa XX

 
Minggu, 16 Agustus 2026
Hari Minggu Biasa XX
 
Dalam doa kepada Bapa, Yesus berterima kasih, sebelum Ia menerima anugerah-Nya. Dengan demikian Ia mengajar kita, supaya bertindak dalam keberanian yang sama sebagai seorang anak: "Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya" (Mrk 11:24). Ini merupakan kekuatan doa, karena "tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya" (Mrk 9:23) dan "tidak bimbang" (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena "ketidakpercayaan" (Mrk 6:6) sanak Keluarga dan "orang yang kurang percaya" di antara murid-inurid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan "iman besar" dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan Bdk. Mat 15:28. (Katekismus Gereja Katolik, 2610) 
 
Bacaan berikut berlaku untuk Anda yang tinggal di luar Indonesia dan merayakan Hari Raya SP. Maria Diangkat ke Surga pada 15 Agustus 2026
     
Antifon Pembuka (Mzm 84:10-11)

Ya Allah, Pelindung kami, pandanglah dan perhatikanlah wajah yang Engkau urapi. Lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain.

Turn your eyes, O God, our shield; and look on the face of your anointed one; one day within your courts is better than a thousand elsewhere.
 
Protector noster aspice, Deus, et respice in faciem Christi tui: quia melior est dies una in atriis tuis super millia.

  
Pengantar
    
Kerendahan hati dan kepercayaan yang ditunjukkan oleh perempuan Kanaan telah menjadi tanda nyata bahwa Allah pun berkenan menyelamatkan setiap orang yang mau beriman kepada-Nya. Karya keselamatan Allah tidak pernah dibatasi oleh sekat-sekat teritori, tetapi sangat tergantung pada sikap manusia: apakah mau menerima atau menolaknya?

Doa Pagi


Ya Allah, Engkau menyediakan karunia bagi mereka yang mengasihi-Mu bahkan sebelum mereka minta. Curahkanlah kasih sayang-Mu ke dalam hati kami supaya kami, yang mengasihi Engkau dalam segalanya dan di atas segalanya, diperkenankan menikmati pemenuhan janji-Mu, lebih dari yang kami rindukan.  Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
  

Foto oleh PxHere
Bacaan dari Kitab Yesaya (56:1.6-7)
     
"Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa."
          
Beginilah firman Tuhan: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada Tuhan untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama Tuhan dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Minggu, 16 Agustus 2026 Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

 


Credit: Michelangelo di Pietro Mencherini
Minggu, 16 Agustus 2026
Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga  

 
“Mengikuti kemenangan Putranya atas maut, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya, untuk memerintah di sana sebagai Ratu di sebelah kanan Raja segala abad, tidak dapat mati. (Paus Pius XII) 
 
Untuk Anda yang berada di luar negeri silakan gunakan bacaan Minggu Biasa XX
   
Antifon Pembuka (Why 12:1)

Suatu tanda besar tampak di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan mahkota dua belas bintang pada kepalanya.

A great sign appeared in heaven: a woman clothed with the sun, and the moon beneath her feet, and on her head a crown of twelve stars.

Signum mágnum appáruit in caélo: múlier amícta sóle, et lúna sub pédibus éjus, et in cápite éjus coróna stellárum duódecim.

atau

Marilah kita semua bergembira dalam Tuhan, sambil merayakan hari pesta untuk menghormati Perawan Maria; karena pengangkatannya ke surga para Malaikat bergembira dan memuji Putra Allah.

Let us all rejoice in the Lord, as we celebrate the feast day in honor of the Virgin Mary, at whose Assumption the Angels rejoice.

Gaudeamus omnes in Domino, diem festum celebrantes sub honore Mariæ Virginis: de cuius Assumptione gaudent angeli, et collaudant Filium Dei.


Doa Pagi

Allah Bapa yang Mahakuasa dan kekal, Perawan Maria yang tak bernoda, Bunda Putra-Mu, telah Engkau angkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Kami mohon, semoga dengan tetap mengarahkan hati kepada perkara-perkara surgawi, kami layak ikut serta dalam kemuliaannya.
Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 
     
Bacaan dari Kitab Wahyu (11:19a; 12:1-6a.10ab)
    
   
"Seorang perempuan berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya."
   
Aku, Yohanes, melihat Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu. Lalu tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung. Dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan, ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda lain di langit: Seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Ekornya menyapu sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkannya. Dan perempuan itu melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi. Tetapi tiba-tiba Anak itu direnggut dan dibawa lari kepada Allah dan ke hadapan tahta-Nya. Lalu perempuan itu lari ke padang gurun, di mana Allah telah menyediakan suatu tempat baginya. Kemudian aku mendengar suara yang nyaring di surga, “Sekarang telah tiba keselamatan, kuasa dan pemerintahan Allah kita! Sekarang telah tiba kekuasaan Dia yang diurapi Allah! Sebab para pendakwa yang siang malam mendakwa saudara-saudara kita di hadapan Allah, telah dilemparkan ke bawah!”
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Menyatu dengan Tritunggal: Kekuatan Empat Pilar dalam Hidup Kristiani




Kerangka dasar ajaran dan kehidupan umat Katolik dibangun di atas Empat Pilar Iman Katolik, seperti yang tertuang dalam Katekismus Gereja Katolik. Keempat pilar itu meliputi Syahadat, Sakramen, Kehidupan Moral, dan Doa. Keempat elemen ini saling melengkapi, memberikan panduan menyeluruh tentang bagaimana umat Katolik harus percaya, beribadah, berperilaku, dan membina relasi dengan Tuhan.

​1. Syahadat: Pengakuan Iman
Pilar pertama, Syahadat, merupakan inti sari keyakinan umat Katolik, yang tertuang dalam Syahadat Para Rasul dan Syahadat Nicea. Melalui syahadat ini, umat beriman mengakui Allah Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus). Di dalamnya juga tercakup misteri penciptaan, Inkarnasi, penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus. Syahadat juga memuat keyakinan akan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus, pengampunan dosa, serta pengharapan akan hidup yang kekal. Pilar ini menjadi fondasi bagi seluruh ajaran dan mengarahkan perjalanan iman umat Katolik.

Sabtu, 15 Agustus 2026 Hari Biasa Pekan XIX

 

Sabtu, 15 Agustus 2026
Hari Biasa Pekan XIX
  
“Kristuslah yang telah menebus kita dan mengampuni semua dosa kita” (St. Pacianus)
   
   
Antifon Pembuka (Mat 19:14)
 
Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku. Sebab orang seperti merekalah yang memiliki kerajaan surga.
 
Doa Pagi 
    
Allah Bapa sumber segala harapan, berilah kiranya kami Roh baru dan hati yang sederhana serta terbuka terhadap sabda-Mu. Semoga hidup kami mengungkapkan pengharapan yang sudah tertanam di dalam hati kami.
Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.        
   

Karya: blueringmedia / ISTOCK.com
 
 
Bacaan dari Kitab Yehezkiel (18:1-10.13b.30-32)
    
"Aku menghukum kalian sesuai dengan tindakanmu sendiri."
          
Tuhan bersabda kepadaku, “Apakah maksudnya kalian mengucapkan pepatah ini di Israel, ‘Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu’? Demi Aku yang hidup, demikianlah sabda Tuhan, kalian tidak akan mengucapkan pepatah itu lagi di Israel. Sungguh, semua jiwa itu Aku yang punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Akulah yang punya! Dan orang yang berbuat dosa, dia sendirilah yang harus mati. Orang benar ialah yang melakukan keadilan dan kebaikan. Ia tidak makan daging persembahan di atas gunung. Ia tidak memuja-muja berhala-berhala kaum Israel. Ia tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri wanita yang sedang haid. Ia tidak menindas orang lain. Ia mengembalikan gadaian orang dan tidak merampas apa-apa. Ia memberi makan orang lapar dan memberi pakaian kepada orang telanjang. Ia tidak memungut bunga dan tidak memakan riba. Ia menjauhkan diri dari kecurangan dan melakukan hukum yang benar dalam hubungan dengan sesama manusia. Ia hidup menurut ketetapan-Ku, dan tetap mentaati peraturan-Ku; ia berlaku setia. Orang demikianlah orang yang benar, dan ia pasti hidup,” demikianlah sabda Tuhan Allah. “Tetapi kalau ia melahirkan seorang anak yang menjadi perampok, dan yang suka menumpahkan darah atau melakukan salah satu dari kejahatan tersebut, maka anak itu sendirilah yang harus mati, dan darahnya tertumpah pada dia sendiri. Oleh karena itu Aku akan menghukum kalian masing-masing menurut tindakanmu, hai kaum Israel,” demikianlah sabda Tuhan Allah. “Maka bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, jangan sampai itu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan. Buanglah dari padamu segala durhaka yang kalian lakukan terhadap-Ku dan perbaharuilah hari serta rohmu! Mengapa kalian mau mati, hai kaum Israel? Aku tidak berkenan akan kematian seseorang yang harus ditanggungnya,” demikianlah sabda Tuhan Allah. “Oleh karena itu bertobatlah, supaya kalian hidup.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Orang Kudus hari ini: 14 Agustus 2026 St. Maximilianus Maria Kolbe, Imam – Martir

 

Hari ini, Gereja mengajak kita merenungkan kehidupan dan pengorbanan luar biasa dari Santo Maximilianus Maria Kolbe. Sosok imam dan misionaris Fransiskan Konventual asal Polandia ini bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan cerminan dan inspirasi nyata tentang bagaimana umat Kristiani seharusnya mewujudkan kesetiaan, pengabdian, dan kasih tanpa batas kepada Allah serta sesama.

Panggilan dan Misi Tanpa Lelah

Sepanjang hidupnya, St. Maximilianus Maria Kolbe mendedikasikan diri untuk membawa jiwa-jiwa agar semakin mengenal Tuhan. Langkah misinya membentang jauh melintasi benua hingga ke Timur Jauh, termasuk Jepang dan berbagai wilayah Asia lainnya.

Ia juga dikenal sebagai penggerak utama devosi kepada Hati Tak Bernoda Maria. Melalui karya editorialnya yang gigih di majalah Knights of the Immaculata, ia secara aktif mengajak umat Kristiani untuk hidup dalam kekudusan dan mendekatkan diri pada kasih Tuhan melalui teladan Bunda Maria.

Jumat, 14 Agustus 2026 Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam – Martir


Jumat, 14 Agustus 2026
Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam – Martir 
  
“
Ingatlah bahwa kasih hidup melalui pengorbanan dan dipupuk dengan memberi. Tanpa pengorbanan, tidak ada kasih." - Santo Maximilianus Maria Kolbe
    
Antifon Pembuka (Mat 25: 34, 40)

Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, sabda Tuhan. Amin Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Come, you blessed of my Father, says the Lord. Amen I say to you: Whatever you did for one of the least of my brethren, you did it for me.

Doa Pagi


Ya Allah, Santo Maximilianus Maria Kolbe telah mengorbankan dirinya demi kehidupan dan kebahagiaan sesamanya. Semoga kami juga rela berkorban dan berbagi kasih bagi sesama sehingga kebahagiaan pun mewarnai hidup kami bersama. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.      



   
  Bacaan dari Kitab Yehezkiel (16:59-63)        
 
"Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan dikau, dan engkau akan merasa malu."
  
Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku akan melakukan kepadamu seperti engkau lakukan, yaitu engkau memandang ringan kepada sumpah dengan mengingkari perjanjian. Tetapi Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau pada masa mudamu dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal. Barulah engkau teringat kepada kelakuanmu dan engkau merasa malu, pada waktu Aku mengambil kakak-kakakmu, baik yang tertua maupun yang termuda, dan memberikan mereka kepadamu menjadi anakmu, tetapi bukan berdasarkan engkau memegang perjanjian. Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan engkau, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, dan dengan itu engkau akan teringat-ingat yang dulu dan merasa malu, sehingga mulutmu terkatup sama sekali karena nodamu, waktu Aku mengadakan pendamaian bagimu karena segala perbuatanmu."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Orang Kudus hari ini: 13 Agustus 2026 Paus St. Pontianus dan Hippolitus, Martir

 

 

Hari ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan kehidupan dan teladan iman yang luar biasa dari dua martir besar: Santo Paus Pontianus dan Santo Hippolitus. Kisah mereka bukan sekadar catatan sejarah tentang penganiayaan, melainkan sebuah kesaksian hidup tentang kerendahan hati, pertobatan, dan indahnya pengampunan.

Badai dari Luar dan Perpecahan dari Dalam Pada masa Kekaisaran Romawi awal, Gereja tidak hanya menghadapi ancaman penganiayaan yang kejam dari luar, tetapi juga badai perpecahan dari dalam. Santo Hippolitus dari Roma, seorang tokoh yang sangat berpegang teguh pada aturan (rigorisme), menolak keras kebijakan Paus yang memberikan pengampunan kepada umat Kristen yang jatuh ke dalam dosa berat, seperti perzinahan atau penyembahan berhala.

Penolakannya begitu kuat hingga ia bersedia diangkat menjadi Paus tandingan (Antipaus) oleh para pengikutnya. Tindakan ini memicu luka skisma (perpecahan) yang mendalam di tubuh Gereja—sebuah konflik sengit yang terus berlanjut melewati beberapa masa kepausan, hingga tibanya era Paus Pontianus.

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy