Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Jumat, 14 Agustus 2026 Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam – Martir


Jumat, 14 Agustus 2026
Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam – Martir 
  
“
Ingatlah bahwa kasih hidup melalui pengorbanan dan dipupuk dengan memberi. Tanpa pengorbanan, tidak ada kasih." - Santo Maximilianus Maria Kolbe
    
Antifon Pembuka (Mat 25: 34, 40)

Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, sabda Tuhan. Amin Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Come, you blessed of my Father, says the Lord. Amen I say to you: Whatever you did for one of the least of my brethren, you did it for me.

Doa Pagi


Ya Allah, Santo Maximilianus Maria Kolbe telah mengorbankan dirinya demi kehidupan dan kebahagiaan sesamanya. Semoga kami juga rela berkorban dan berbagi kasih bagi sesama sehingga kebahagiaan pun mewarnai hidup kami bersama. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.      



   
  Bacaan dari Kitab Yehezkiel (16:59-63)        
 
"Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan dikau, dan engkau akan merasa malu."
  
Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku akan melakukan kepadamu seperti engkau lakukan, yaitu engkau memandang ringan kepada sumpah dengan mengingkari perjanjian. Tetapi Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau pada masa mudamu dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal. Barulah engkau teringat kepada kelakuanmu dan engkau merasa malu, pada waktu Aku mengambil kakak-kakakmu, baik yang tertua maupun yang termuda, dan memberikan mereka kepadamu menjadi anakmu, tetapi bukan berdasarkan engkau memegang perjanjian. Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan engkau, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, dan dengan itu engkau akan teringat-ingat yang dulu dan merasa malu, sehingga mulutmu terkatup sama sekali karena nodamu, waktu Aku mengadakan pendamaian bagimu karena segala perbuatanmu."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = c, 4/4, PS 864
Ref. Tuhan, Dikaulah sumber air hidup.
Ayat. (Yes 12:2-3.4bcd.5-6)
1. Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar; sebab Tuhan Allah itu kekuatan dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.
2. "Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukanlah karya-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah bahwa nama-Nya tinggi luhur.
3. Bermazmurlah bagi Tuhan, sebab mulialah karya-Nya; Baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi! Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakuasa, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu."

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (lih. 1Tes 2:13) 
Sambutlah pewartaan ini sebagai sabda Allah, bukan sebagai perkataan manusia.

Inilah Injil Suci menurut Matius (19:3-12)
   
"Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu, tetapi semula tidaklah demikian."
       
Pada suatu hari datanglah orang-orang Farisi kepada Yesus, untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe  
(U. Terpujilah Kristus)
 
Renungan 


Salah satu perayaan paling menggembirakan yang sering berlangsung di gereja adalah upacara pernikahan. Hampir setiap hari Sabtu, setidaknya ada satu pernikahan, dan semuanya selalu menjadi peristiwa yang sangat indah. Saat pintu depan gereja terbuka dan pasangan pengantin baru melangkah keluar, suasana di depan gereja bahkan seolah terhenti karena semua orang ingin melihat dan memotret mereka; hal ini sungguh menjadi kesaksian yang luar biasa bagi dunia mengenai keindahan sakramen perkawinan.
   
Tentu saja, kami menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan pernikahan tersebut, bekerja sama dengan pasangan calon pengantin, dan mendampingi mereka melalui seluruh proses hingga tiba hari pernikahan mereka. Hal yang selalu kami anjurkan—atau lebih tepatnya kami ingatkan—dan sesuatu yang harus kita tanamkan sejak dini kepada kaum muda (bukan hanya saat mereka hendak menikah), adalah kesadaran bahwa pernikahan merupakan panggilan hidup yang kudus. Pernikahan adalah sakramen yang akan berdampak pada kehidupan banyak orang.
 
Sebenarnya, terkait sakramen-sakramen Gereja, ada dua sakramen yang dianggap sebagai sakramen publik. Sakramen publik bukanlah sakramen yang utamanya ditujukan bagi keselamatan jiwa kita sendiri, melainkan sakramen yang hadir untuk membawa dampak bagi orang lain; kedua sakramen tersebut adalah tahbisan imamat dan pernikahan, karena sakramen-sakramen ini akan memengaruhi kehidupan banyak orang. Jika kita merenungkannya—dan hal ini selalu saya sampaikan kepada pasangan calon pengantin—setiap pasangan yang dipersembahkan, dikuduskan, dan diberkati oleh Allah, serta dipersatukan sebagaimana yang difirmankan Yesus dalam sakramen ini, akan berdampak pada orang-orang yang saat ini bahkan belum lahir dan hanya ada dalam pikiran Allah berabad-abad mendatang. Ribuan orang akan merasakan dampak dari setiap pernikahan. Kita sendiri merasakan dampak dari pernikahan yang terjadi berabad-abad yang lalu; begitulah penting, berharga, dan perlunya pernikahan bagi kehidupan dunia.
 
Oleh karena itu, pernikahan—atau panggilan hidup apa pun yang dimiliki seseorang—adalah hal yang harus kita ingatkan kepada anak-anak dan kaum muda agar mereka doakan setiap hari. Kita harus senantiasa mengingatkan mereka untuk mendoakan panggilan hidup mereka. Allah memiliki kehendak khusus bagi kehidupan setiap orang; Dia tidak hanya memiliki panggilan khusus bagi setiap individu, tetapi juga memiliki rencana spesifik yang sangat indah untuk mewujudkan hal-hal tersebut.
   
Kita harus berdoa—bukan sekadar agar hal-hal itu terjadi, karena apa pun yang telah Dia rancang adalah kehendak-Nya semata. Kita harus berdoa agar kita menyadarinya, agar kita mampu mengatakan "ya" terhadapnya, agar kita berada dalam situasi yang tepat—dengan mengikuti kehendak Allah dalam segala hal—sehingga segalanya dapat terwujud, dan agar kita senantiasa menjadi alat-Nya. Ini adalah pengingat yang indah; seperti yang sering saya sampaikan kepada pasangan-pasangan, bukankah terdengar agak aneh jika seorang imam, biarawati, atau siapa pun yang hendak menerima tahbisan atau mengucapkan kaul religius tidak mendoakan hal itu? Nah, saya ingatkan pula kepada Anda sekalian: Anda akan mengucapkan kaul yang kudus, kaul yang sakral, sebuah sakramen. Anda harus mendoakannya setiap hari—di atas segala persiapan lainnya, di atas segala hal terkait masa pacaran, dan di atas segala sesuatu yang menyangkut hal itu—semoga Allah menjadi pusat dari segalanya. Amin.  (EQS/RENUNGAN PAGI) 


Jangan lupa bahwa kekudusan tidak terletak pada tindakan-tindakan luar biasa, melainkan pada pelaksanaan kewajiban Anda terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama dengan baik.

- Santo Maximilian Kolbe
 
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini  

Antifon Komuni (Mzm 136:26, 23, 24)
 
Bersyukurlah kepada Allah semesta alam! Dialah yang mengingat kita dalam kerendahan kita. Dialah yang membebaskan kita dari pada lawan. 
 

Gereja menegaskan kembali praktik yang berdasarkan Kitab Suci, yakni tidak mengizinkan mereka yang bercerai dan kawin lagi untuk menyambut komuni (St. Yohanes Paulus II).

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy