“Ketika Tuhan memberimu rahmat untuk merasakan kehadiran-Nya, dan menghendaki agar engkau dapat berbicara kepada-Nya seperti kepada sahabat yang terkasih, katakanlah kepada-Nya perasaanmu dengan bebas dan percaya diri. Sang Kebijaksanaan itu akan bersegera menyatakan diri-Nya kepada orang-orang yang mencari-Nya (lih. Keb 6:14). Ia akan bersegera menghampirimu, ketika engkau mencari kasih-Nya. Ia akan menghadirkan diri-Nya kepadamu, untuk memberimu rahmat dan obat yang engkau perlukan. Ia hanya menunggu satu kata darimu, untuk menunjukkan bahwa Ia ada di sisimu dan mau mendengarkanmu dan menopangmu….” (St. Alfonsus de Liguori)
Antifon Pembuka (bdk. Mat 17:5)
Dalam awan yang bercahaya tampaklah Roh Kudus, dan terdengarlah suara Bapa: Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!
In a resplendent cloud the Holy Spirit appeared. The Father's voice was heard: This is my beloved Son, with whom I am well pleased. Listen to him.
Tibi dixit cor meum, quæsivi vultum tuum, vultum tuum Domine requiram: ne avertas faciem tuam a me.
Doa Pagi
Ya Allah, dalam Penampakan Kemuliaan Putra Tunggal-Mu, Engkau mengukuhkan misteri iman dengan kesaksian Musa dan Elia. Secara mengagumkan, Engkau juga memaklumkan martabat kami sebagai anak-anak angkat-Mu yang terkasih. Semoga kami, yang mendengarkan suara Putra-Mu terkasih, menjadi ahli waris yang sah bersama-Nya, yang hidup dan berkuasa, bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Nubuat Daniel (7:9-10.13-14)
Aku, Daniel, melihat takhta-takhta dipasang, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya. Pakaian-Nya putih seperti salju, dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba. Takhta-Nya dari nyala api, roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar. Suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya. Beribu-ribu melayani Dia, beratus-ratus ribu berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-Kitab. Aku terus melihat dalam penglihatan itu, tampak dari langit bersama awan-gemawan seorang serupa Anak Manusia. Ia menghadap Dia Yang Lanjut Usianya itu, dan Ia dihantar ke hadapan-Nya. Kepada Dia yang serupa Anak Manusia itu diserahkan kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja. Maka segala bangsa, suku dan bahasa mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal adanya, dan kerajaan-Nya tidak akan binasa.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan do = g, 2/4, PS 836
Ref. Tuhan adalah Raja, Mahatinggi di atas seluruh bumi.
Atau Segala bangsa bertepuk tanganlah, berpekiklah untuk Allah raja semesta.
Ayat. (Mzm 97:1-2.5-6.9; R: lih. 1a.9a)
1. Tuhan adalah Raja. Biarlah bumi bersorak-sorai, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada di sekeliling-Nya, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.
2. Gunung-gunung luluh laksana lilin di hadapan Tuhan, di hadapan Tuhan semesta alam. Langit memberitakan keadilan-Nya dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.
3. Sebab, ya Tuhan Engkaulah Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala dewata.
Bacaan dari Surat Kedua Rasul Petrus (1:16-19)
Saudara-saudara, kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitakan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika suara dari Yang Mahamulia datang kepada-Nya dan mengatakan, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Suara itu kami dengar datang dari surga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baik kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing, dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil do = f, 2/4, PS 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Mat 17:5c)
Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!
Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka: Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka tampak kepada mereka, Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia." Sementara Petrus berkata begitu, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka, dan dari dalam awan itu terdengarlah suara yang berkata, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!" Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka. Ia menyentuh mereka sambil berkata, "Berdirilah, jangan takut!" Dan ketika mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung, Yesus berpesan kepada mereka, "Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
Peristiwa Transfigurasi (Yesus berubah rupa) bukanlah satu-satunya momen dalam Injil di mana Yesus memisahkan Petrus, Yakobus, dan Yohanes dari para rasul lainnya pada saat yang krusial. Sepanjang pelayanan-Nya, Injil mencatat setidaknya tiga peristiwa penting di mana Ia melakukan hal serupa:
Pembangkitan putri Yairus: Yesus hanya mengizinkan ketiga murid ini masuk bersama-Nya ke dalam rumah saat melakukan mukjizat tersebut.
Transfigurasi di atas gunung: Yesus membawa mereka mendaki gunung untuk menyaksikan kemuliaan-Nya.
Taman Getsemani: Setelah Perjamuan Terakhir, Ia membawa semua murid ke taman, namun hanya mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk masuk lebih jauh ke dalam bersama-Nya.
Mengapa Yesus tampak lebih mengutamakan ketiga orang ini? Kita mungkin tidak tahu pasti alasannya, tetapi mengingat siapa Dia, alasan tersebut pastilah alasan yang sangat baik dan sarat makna.
Dinamika Keintiman Rohani
Dinamika pengkhususan ini terus berlanjut sepanjang sejarah Kekristenan. Para mistikus besar seperti Santa Teresia dari Avila dan Santo Yohanes dari Salib dianugerahi persatuan pribadi yang begitu intim dengan Tuhan—suatu anugerah yang tidak diberikan dengan cara yang sama kepada semua orang.
Menghadapi kenyataan ini, kita memiliki dua pilihan: meratapi dan bertanya, "Mengapa mereka dan bukan saya?" atau memercayai sepenuhnya bahwa Allah tahu yang terbaik dalam memilih alat-Nya. Kita justru diajak untuk belajar dari pengalaman mereka.
Tokoh besar Gereja, Origenes, memberikan pandangan yang indah mengenai peristiwa Transfigurasi ini. Mengutip Injil yang menyatakan, "Ia berubah rupa di hadapan mereka", Origenes merenungkan:
Yesus mengalami transfigurasi di hadapan mereka yang mendaki, bukan di hadapan mereka yang berada di bawah.
Ia menampakkan kemuliaan-Nya kepada mereka yang bersedia mendaki gunung tinggi untuk menyendiri bersama-Nya. Namun, ini tidak berarti Yesus mengabaikan murid-murid di bawah. Mereka yang tidak mendaki tetap merasakan kasih-Nya, melihat karya-Nya, dan mendengar sabda-Nya. Kita semua pada akhirnya memperoleh manfaat dari penyingkapan diri Yesus kepada mereka yang dikhususkan ini, persis seperti bagaimana kesaksian Santo Petrus menguatkan iman kita hingga hari ini.
Mendaki Lebih Tinggi, Masuk Lebih Dalam
Mari kita cermati dinamika Yesus bersama Petrus, Yakobus, dan Yohanes.
Di peristiwa Transfigurasi, Yesus membawa mereka lebih tinggi ke atas gunung.
Di Getsemani, Ia membawa mereka lebih jauh dan dalam ke tengah taman.
Ia membawa mereka lebih tinggi untuk menyingkapkan kemuliaan-Nya sebagai Allah, demi mempersiapkan mereka agar mampu masuk lebih dalam ke dalam sengsara-Nya. Yesus ingin memberi mereka kekuatan. Ketika penderitaan itu tiba, mereka diharapkan tidak putus asa karena telah menyaksikan sendiri kemuliaan-Nya yang sejati.
Sama seperti Ia mengundang ketiga murid itu, Yesus pun mengundang kita masing-masing saat ini untuk menjalin hubungan yang lebih akrab dengan-Nya, meskipun dengan cara yang berbeda.
"Tidakkah Kamu Sanggup Berjaga-jaga Satu Jam Saja?"
Di Taman Getsemani, setelah berdoa seorang diri, Yesus mendapati murid-murid pilihan-Nya tertidur. Ia pun bertanya, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam saja bersama-Ku?"
Jika kita menghubungkan panggilan untuk melangkah "lebih tinggi dan lebih dalam" dengan teguran "berjaga-jaga selama satu jam", kita menemukan satu cara khusus untuk berjumpa dengan Yesus secara intim di masa kini: Adorasi Ekaristi, khususnya Adorasi Abadi.
Dalam Kurban Misa, roti dan anggur tidak sekadar berubah wujud, melainkan diubah menjadi Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keallahan Yesus Kristus. Pada saat Adorasi, Tubuh Kristus ditahtakan untuk disembah dan dipuja. Dalam Adorasi Abadi, umat berkomitmen menemani Yesus selama 168 jam penuh dalam seminggu, sehingga senantiasa ada yang berjaga bersama-Nya.
Namun, sering kali, masih banyak jam yang kosong. Yesus duduk sendirian, seolah kembali mengulang pertanyaan-Nya di Getsemani: "Tidak bisakah kalian berjaga bersama-Ku selama satu jam? Apakah tidak ada seorang pun yang mau meluangkan waktu bersama-Ku?"
Mempersiapkan Tabernakel di Dalam Hati
Berkomitmen meluangkan waktu satu jam bersama Yesus berarti kita harus bersedia "mendaki" melampaui hiruk-pikuk kehidupan. Ini berarti meninjau kembali prioritas kita—mungkin dengan mengorbankan waktu membuka sosial media demi menemani dan menyembah Yesus.
Mustahil meluangkan waktu bagi-Nya tanpa Ia membalasnya dengan rahmat yang melimpah. Hidup mereka yang setia dalam Adorasi perlahan namun pasti akan diubahkan; prioritas bergeser, iman bertumbuh, dan hati menjadi lebih damai.
Saat Transfigurasi, Petrus yang takjub menawarkan diri untuk mendirikan tiga kemah (tabernakel) bagi Yesus, Musa, dan Elia. Namun, tawaran itu tidak diperlukan. Mengapa? Jawabannya ada pada Injil Yohanes 14:23:
"Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia."
Allah Bapa tidak ingin Putra-Nya sekadar tinggal di dalam kemah buatan tangan manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Santo Hieronimus: Tuhan ingin kita mempersiapkan tabernakel bagi-Nya di relung hati kita yang terdalam.
Sebuah Undangan untuk Anda
Perbedaan antara Petrus, Yakobus, Yohanes dengan kita bukanlah soal siapa yang lebih dikasihi Yesus. Kita tidak pernah ditempatkan di posisi yang kurang istimewa. Sebaliknya, melalui Ekaristi dan Adorasi, Yesus sedang memberikan undangan yang sama kepada Anda: undangan untuk melangkah lebih tinggi, menyelam lebih dalam, dan ditarik ke dalam persatuan hati yang tak terpisahkan dengan-Nya.
Dalam adorasi Ekaristi, kita diajak untuk melakukan hal yang sama, agar kita dapat menyiapkan tabernakel bagi-Nya di pusat jiwa kita dengan mendengarkan Dia dan melakukan apa pun yang diperintahkan-Nya kepada kita. Jadi, perbedaan antara Petrus, Yakobus, dan Yohanes dengan kita bukanlah karena Yesus lebih mengasihi mereka. Bukan berarti kita ditempatkan di posisi yang kurang istimewa di hati Yesus dibandingkan mereka. Sebaliknya, mereka menerima undangan-Nya untuk melangkah lebih tinggi dan lebih dalam, serta membiarkan Yesus menarik mereka ke dalam persatuan hati yang lebih erat dengan-Nya.
Janganlah keliru, ketika Yesus mengundang kita untuk menyembah-Nya dalam Ekaristi, Dia menunjukkan kasih dan perkenanan yang sama seperti yang Dia tunjukkan kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes, bahkan dengan janji yang lebih besar daripada peristiwa Transfigurasi yang mereka saksikan. Yesus mengundang kita untuk diubah menjadi orang kudus sebagaimana kita diciptakan, berkat persatuan yang erat dengan-Nya.
Ia mengundang kita untuk diubah menjadi orang-orang kudus. Pertanyaannya sekarang: Bersediakah Anda meluangkan waktu satu jam bersama Yesus?
Jawaban atas pertanyaan tersebut menyimpan janji damai sejahtera, sukacita, dan kepuasan sejati yang jauh melampaui apa pun yang dapat ditawarkan oleh dunia ini. (JL)
Antifon Komuni (1Yoh 3:2)
Apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
When Christ appears, we shall be like him, for we shall see him as he is.




