“Rosario adalah doa yang paling indah dan paling kaya rahmat dari semua doa; itu adalah doa yang paling menyentuh Hati Bunda Allah… dan jika kalian menginginkan kedamaian memerintah di rumah kalian, doakan Rosario (bersama) keluarga. (Paus St. Pius X)
Antifon Pembuka (Sir 45:30)
Doa Pagi
Ya Allah, untuk menjaga iman Katolik dan membarui segala sesuatu dalam Kristus, Engkau telah memenuhi Santo Pius, Paus, dengan kebijaksanaan surgawi dan semangat rasuli. Kami mohon dengan rendah hati semoga kami yang mengikuti ajaran dan teladannya mencapai kehidupan yang kekal. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Pada suatu hari, kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang. Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering. Lalu Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?" Aku menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!" Lalu firman-Nya kepadaku: "Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN." Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain. Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas. Maka firman-Nya kepadaku: "Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali." Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar. Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setia-Nya.
Ayat. (Mzm 107:2-3.4-5.6-7.8-9; R:1)
1. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus Tuhan, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan selatan.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mzm 25:5c)
Inilah Injil Suci menurut Matius (22:34-40)
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki, berkumpullah mereka. Seorang dari antaranya, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus hendak mencobai Dia, "Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?" Yesus menjawab, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang utama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Verbum Domini
Sebagai anak sulung sekaligus siswa sekolah Katolik yang tumbuh di era 1950-an, masa kecil saya berjalan di atas rel peraturan yang ketat. Ada aturan di ruang kelas, di taman bermain, hingga standar seragam dan potongan rambut yang diperiksa secara berkala. Di hari Minggu, saat teman-teman sekolah negeri atau yang beragama Protestan bisa bersantai, saya harus berada di gereja. Di rumah pun, sebagai anak tertua, pundak saya dititipi beban untuk selalu menjadi teladan. Saat itu, saya merasa hidup terombang-ambing dari satu tekanan ke tekanan lainnya. Semua aturan itu terasa begitu mengekang.
Pengalaman masa kecil itu sering mengingatkan saya pada 613 perintah dalam hukum Musa yang membelenggu masyarakat pada zaman Yesus. Ketika iman hanya direduksi menjadi rentetan aturan yang harus ditaati tanpa pemaknaan, ia kehilangan nyawanya. Ia hanya menjadi sebuah struktur. Ia berubah menjadi kerangka.
Melihat kerangka bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Sejak zaman bajak laut hingga kini, gambar tengkorak dan tulang bersilang selalu melambangkan bahaya atau akhir dari segalanya. Kerangka adalah simbol kematian; sisa yang tertinggal ketika napas kehidupan telah berlalu.
Seperti itulah kondisi jiwa kita ketika kita hidup hanya sebatas rutinitas, terpuruk dalam kekecewaan yang terus-menerus, dan kehilangan harapan. Kita menjadi mati rasa. Kita persis seperti penglihatan Nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama: teronggok sebagai tulang-tulang kering di lembah kematian.
Namun, Allah yang kita imani adalah Allah sumber kehidupan, dan Ia tidak membiarkan kita berserakan di lembah kematian. Kepada Yehezkiel, Tuhan memerintahkan agar tulang-tulang kering itu kembali dibalut daging, diembuskan napas, dan dihidupkan kembali.
Napas kehidupan yang membangkitkan tulang-tulang kering itu memiliki nama: Kasih.
Dengan cara-Nya yang luar biasa sederhana, Yesus membuktikan hal ini ketika Ia menyaring 613 hukum Musa yang kaku menjadi dua fondasi yang hidup: Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, dan kasihilah sesamamu manusia. Bahkan, Sepuluh Perintah Allah pun bermuara pada napas yang sama—tiga perintah pertama untuk mengasihi Sang Pencipta, dan tujuh sisanya untuk mengasihi sesama ciptaan.
Pada akhirnya, Tuhan tidak menciptakan kita untuk menjadi individu-individu kaku yang sekadar taat aturan. Ia menciptakan kita untuk saling membutuhkan dan bergantung satu sama lain. Ketika tulang-tulang kering kekecewaan kita dihidupkan kembali oleh kasih Tuhan, kita dimampukan untuk hidup dalam semangat persahabatan dan komunitas. Di saat itulah, kita bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita.
Oleh karena itu, janganlah kita berdiam diri di lembah kematian yang dingin dan kering. Marilah kita melangkah, mendaki gunung Allah dengan napas kehidupan dan semangat kasih di dalam dada kita.



