Hari Biasa Pekan XIX
Segala sesuatu yang sekarang terjadi, dahulu sudah dinubuatkan. (St. Agustinus)
Antifon Pembuka (Mzm 113:1-2)
Pujilah hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selamanya.
Doa Pagi
Allah Bapa yang Mahapengasih, Engkau menghendaki agar kami saling mengingatkan dalam cinta kasih. Semoga kami tidak tinggal diam ketika melihat kejahatan ataupun buta terhadap kelaliman tetapi mau ikut serta membangun masyarakat yang damai dan sejahtera. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
![]() |
| SiouxFall Diocese |
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Kemuliaan Tuhan mengatasi langit.
Ayat. (Mzm 113:1-2.3-4.5-6)
1. Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
2. Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya terpujilah nama Tuhan. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.
3. Siapakah seperti Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?
Bait Pengantar Injil do = g, 2/4, PS 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Kristus dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.
Inilah Injil Suci menurut Matius (18:15-20)
Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan dikau, bawalah seorang atau dua orang lain, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kalian lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Dan lagi Aku berkata kepadamu, jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul demi nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka."
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe
(U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Memulihkan Perdamaian: Panggilan untuk Bertindak dalam Kasih
Hari ini, Yesus mengajak kita merenungkan pentingnya memulihkan perdamaian, khususnya di dalam keluarga dan komunitas rohani kita. Yesus menegaskan bahwa kita tidak boleh bersikap pasif atau sekadar menjadi penonton saat saudara kita berbuat salah.
Dalam Kerajaan Allah, tidak ada tempat untuk sikap apatis atau pikiran malas yang menganggap, "Itu salahnya, dia yang harus minta maaf duluan." Kasih Allah selalu mendorong kita untuk mengambil inisiatif. Pihak yang tersinggunglah yang justru diminta untuk mengambil langkah pertama tanpa menunda-nunda.
Yesus memberikan panduan langkah demi langkah untuk merangkul kembali mereka yang berbuat salah:
Temui secara pribadi: Sampaikan kesalahannya empat mata. Jika ia mendengar, keharmonisan pulih.
Bawa satu atau dua orang lain: Jika ia menolak, minta bantuan orang lain agar ia menyadari kesalahannya.
Libatkan komunitas/Gereja: Jika masih menolak, libatkan komunitas yang lebih luas.
Perlakukan seperti pemungut cukai: Ini bukanlah panggilan untuk membuang mereka, melainkan pengingat bahwa Yesus sendiri dikenal sebagai sahabat para pemungut cukai dan orang berdosa. Artinya, jangan pernah berhenti merangkul mereka.
Untuk mendalami pesan ini, mari kita cermati tiga kata kunci dari bacaan Injil:
1. "Saudara" (Identitas Kita di Dalam Kristus)
Yesus tidak menggunakan kata "musuh", "lawan", atau "rekan kerja", melainkan "saudara". Kata ini mengingatkan kita pada ikatan kasih karunia yang mempersatukan kita. Di dalam Gereja, kita diajarkan untuk memanggil Allah sebagai "Bapa Kami". Melalui pembaptisan, kita dibebaskan dari dosa dan label-label keliru yang diberikan dunia, untuk menghidupi jati diri kita yang sejati: putra dan putri Allah yang saling bersaudara.
2. "Jika" (Ketekunan Mencari yang Hilang)
Kata "jika" diulang hingga sembilan kali (jika saudaramu berbuat salah, jika ia mendengarkan, jika ia tidak...). Pengulangan ini menunjukkan penekanan Yesus agar kita tidak mudah menyerah dan terus mencari cara menjangkau saudara yang tersesat.
Paus Fransiskus pernah meralat pernyataannya sendiri terkait hal ini. Awalnya beliau berkata, "Kita harus siap menyambut mereka yang tersesat." Lalu beliau menggeleng dan menegaskan, "Tidak, saya keliru. Kita tidak boleh hanya siap menyambut. Kita perlu mencari dan mengejar mereka sampai ketemu!" Kita yang pernah merasakan belas kasih Tuhan saat kita tersesat, tentu memahami mengapa kita tidak boleh sekadar diam menunggu mereka kembali.
3. "Sepakat" (Menciptakan Simfoni Rohani)
Yesus bersabda bahwa doa dua atau tiga orang yang "sepakat" akan dikabulkan oleh Bapa. Kata Yunani untuk "sepakat" di sini adalah symphonia (simfoni).
Doa dan tindakan kasih yang dilakukan bersama memiliki kuasa yang luar biasa. Layaknya sebuah orkestra simfoni yang terdiri dari berbagai alat musik yang berbeda (dari seruling kecil hingga bass drum besar), keharmonisan tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan latihan terus-menerus, sikap saling mendengarkan, dan kepatuhan kepada Sang Dirigen, yaitu Kristus. Hal yang sama berlaku dalam pernikahan dan keluarga; Allah memberikan rahmat kesatuan, namun kita harus terus mengusahakannya.
Kesimpulan: Menjadi Saluran Belas Kasih
Allah terus berupaya memulihkan kebersamaan kita. Keluarga yang berdoa bersama, akan tetap bersatu. Berdoa bersama, seperti mendaraskan doa tobat setiap malam di dalam keluarga, menyadarkan bahwa kita semua membutuhkan pemulihan dari Tuhan.
Ketika kita mendatangi saudara yang berbuat salah, tujuan kita bukan untuk memenangkan perdebatan, membalas dendam, atau melampiaskan amarah, melainkan merindukan pemulihan melalui kerahiman Allah.
Paus Fransiskus, saat ditanya mengenai siapa dirinya, menjawab dengan sangat indah: "Saya adalah seorang pendosa yang dipandang Tuhan dengan penuh belas kasih." Kesadaran inilah yang memampukan kita. Kita bisa menegur dalam kasih dan membantu sesama yang tersesat, semata-mata karena Yesus telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita.
Doa Malam
Allah Bapa kami di surga, kami bersyukur karena telah menerima Putra-Mu. Semoga berkat anugerah agung ini, kami memperoleh semangat penyangkalan diri agar dapat menerima atau memberi nasihat dengan rendah hati demi kebaikan bersama sampai kami berkumpul lagi dalam Kerajaan-Mu yang abadi. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.




