Hari ini, Gereja memperingati Santo Dominikus (Santo Dominikus de Guzman), pendiri Ordo Pengkhotbah (Ordo Praedicatorum), yang lebih kita kenal sebagai Ordo Dominikan. Kehidupan dan panggilannya adalah kisah nyata tentang terang, keberanian, dan dedikasi tanpa henti untuk keselamatan jiwa-jiwa.
Api Pewartaan: Makna di Balik Mimpi Sang Ibu
Kisah Santo Dominikus yang lahir di Spanyol ini tidak bisa dilepaskan dari tradisi hagiografinya yang kaya makna. Dikisahkan bahwa sebelum kelahirannya, sang ibu bermimpi melihat seekor anjing melompat dari rahimnya dengan obor menyala di mulutnya, obor yang kemudian membakar seluruh bumi.
Mimpi ini bukanlah sekadar bunga tidur, melainkan nubuat akan karisma Ordo Dominikan di masa depan: keberanian dan semangat yang menyala-nyala dalam mewartakan Kabar Baik, menyebarkan api kebenaran Allah ke seluruh penjuru dunia.
Sosok Penuh Cahaya dan Misteri Transfigurasi
Biasanya, Gereja memperingati para kudus pada tanggal wafatnya sebagai penanda hari "kelahiran" mereka di Surga. Santo Dominikus wafat pada tanggal 6 Agustus, yang bertepatan dengan Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Karena Pesta tersebut sudah memiliki tempat khusus, peringatan Santo Dominikus dipindahkan ke hari terdekat yang tersedia.
Namun, tanggal wafatnya ini memiliki makna simbolis yang sangat mendalam. Santo Dominikus dikenal luas oleh tokoh-tokoh sezamannya sebagai sosok yang "penuh cahaya." Hal ini tergambar dari beberapa peristiwa:
Bintang Pembaptisan: Menurut tradisi, ibu baptisnya melihat sebuah bintang bersinar terang di dahinya saat upacara pembaptisan berlangsung.
Pancaran Kasih: Beata Sisilia memberikan kesaksian indah mengenai pesona rohani Santo Dominikus:
"Dari dahi dan matanya memancar semacam cahaya yang menarik hati setiap orang untuk menghormati dan mengasihinya."
Semasa hidupnya, Santo Dominikus seolah telah "mengalami transfigurasi" dengan membiarkan cahaya Yesus memancar melalui dirinya kepada siapa pun yang ia jumpai. Oleh karena itu, sangatlah puitis dan tepat bahwa ia wafat pada Pesta Yesus menampakkan Kemuliaan-Nya, hari di mana ia akhirnya bersatu dalam kepenuhan cahaya Kristus secara abadi.
Melawan Kesesatan dan Mewariskan Rosario
Ia ditahbiskan sebagai imam pada usia muda, 24 tahun, Santo Dominikus langsung membaktikan seluruh hidupnya untuk Gereja. Ia melihat banyak umat yang tersesat akibat ajaran sesat (heresi) Katarisme.
Alih-alih menggunakan kekerasan, Santo Dominikus dan para pengikutnya masuk ke wilayah-wilayah tersebut dengan senjata khotbah, teladan hidup miskin, dan doa. Dalam pergumulan misi inilah, menurut Tradisi Suci, ia menerima penglihatan dari Santa Perawan Maria yang memberinya Rosario. Peristiwa ini menjadi tonggak awal populernya devosi Rosario sebagai jalan doa rohani yang kuat di kalangan umat Kristiani hingga hari ini.
Panggilan Kita Hari Ini
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, dedikasi Santo Dominikus bukanlah sekadar sejarah untuk dikenang, melainkan undangan bagi kita semua. Sebagai bagian dari Gereja, kita juga memikul panggilan yang sama:
Menjadi Misionaris dan Saksi Iman: Kita dipanggil untuk memancarkan terang Kristus dan mewartakan kasih-Nya melalui tindakan serta tutur kata kita di tengah masyarakat.
Menolak Kesombongan Duniawi: Banyak kejatuhan di masa lalu disebabkan oleh ego dan kesombongan. Kita diajak untuk senantiasa berpaling dari godaan ini dan kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus.
Menghidupi Sabda: Mari kita wujudkan perenungan hari ini ke dalam tindakan nyata, agar kita pantas disebut sebagai pengikut Allah dan menjadi sumber inspirasi bagi sesama.




