Hari ini, Gereja memperingati Santo Yohanes Vianney seorang imam paroki bersahaja dari Ars, sebuah desa kecil di Prancis selatan. Lahir di tengah keluarga sederhana yang sangat saleh, benih panggilannya tumbuh subur melalui teladan iman di rumahnya. Kecintaannya yang mendalam pada Tuhan, secara khusus dalam Sakramen Mahakudus, perlahan-lahan menggerakkan hatinya untuk menjawab panggilan suci menjadi seorang imam.
Namun, perjalanan menanggapi panggilan itu jauh dari kata mulus. Yohanes harus berjuang keras secara akademis, terutama dalam menguasai bahasa Latin yang saat itu menjadi bahasa resmi dan liturgi Gereja. Kegagalan demi kegagalan ia alami. Rintangannya pun semakin berat ketika proses studinya sempat terhambat oleh kekacauan akibat Perang Napoleon. Meski berkali-kali dihadapkan pada jalan buntu, tekad dan kerinduannya untuk melayani Tuhan tidak pernah padam. Kegigihannya membuktikan bahwa ketidaksempurnaan manusia bukanlah halangan bagi kasih karunia Tuhan. Pada akhirnya, dengan ketekunan yang luar biasa, ia berhasil melewati semua ujian itu, menerima tahbisan, dan kelak dikenang sebagai salah satu teladan imam paroki terbesar dalam sejarah Gereja.
Saudara-saudari dalam Kristus, marilah kita semua berdoa bagi para imam kita, semua yang telah mengabdikan diri untuk pelayanan Tuhan, agar dengan terinspirasi oleh kehidupan dan teladan santo pelindung mereka, St. Yohanes Vianney, mereka dapat tetap teguh dan kuat dalam terus menjawab panggilan misi dan pelayanan mereka. Marilah kita juga mendukung mereka sebaik mungkin, melakukan apa yang kita bisa untuk memainkan peran kita dalam mendukung para imam kita dalam memuliakan Tuhan melalui upaya dan perbuatan baik kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita dan menyertai Gereja-Nya, sekarang dan selamanya. Amin.




