Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria?

Jumat, 01 Mei 2015
Hari Biasa Pekan IV Paskah
 

Kej 1,26-2,3 atau Kol 3,14-15.17.23-14; Mzm 89/90; Mat 13,54-58

Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria?

Tanggal 1 Mei adalah Hari Buruh. Dan sejak tahun 1955, Paus XXII mengajak kita semua untuk memberi isi rohani pada Hari Buruh ini dengan menjadikannya sebagai peringatan fakultatif St. Yusuf Pekerja. Kita tahu, bahwa St. Yusuf adalah tukang kayu dan Yesus pun dikenal sebagai anak tukang kayu (Injil). Dalam hal ini, kita diajak untuk memaknai peran Yusuf yang dipilih Allah untuk menjadi suami Maria dan bapa bagi Yesus, sebagai kesediannya untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Melalui perannya sebagai bapa keluarga, ia berpartisipasi dalam membentuk keluarga kudus Nazaret, di mana Yesus, Sang Penyelamat, dilahirkan, tumbuh dan berkembang. Melalui pekerjaannya sebagai tukang kayu, ia memberi nafkah kepada keluarganya (Maria dan Yesus). Oleh karena itu, melalui peringatan ini, kita diajak untuk memaknai setiap pekerjaan kita sebagai partisipasi dalam karya penciptaan, pemeliharaan dan penyelamatan Allah bagi dunia dan segala isinya. Pada bulan Mei ini, kita tentu berdevosi secara khusus kepada Bunda Maria karena bulan Mei memang merupakan bulan Maria, namun sebaiknya kita tidak melupakan St. Yusuf, suaminya.

Doa: Novena St. Yusuf
Santo Yusuf yang mulia, engkaulah pelindung para pekerja. Tolonglah aku untuk mendapat rahmat, agar aku dapat bekerja sungguh-sungguh dan lebih taat pada kewajiban daripada mengikuti selera sendiri. Bantulah aku, agar aku mengerjakan tugas sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan, ini disebabkan karena mengembangkan karunia dan bakat yang kuterima dari kekuasaan Tuhan, merupakan suatu kehormatan.
Semoga aku dapat bekerja dengan tertib, tenang tidak tergesa-gesa dan sabar tanpa takut lelah dan berani menghadapi kesulitan. Aku mempersembahkan kelelahan dan kegelisahanku sebagai silih atas dosaku.
Aku mau bekerja dengan ujud murni dan bebas dari kelekatan pada diriku, dengan selalu menatap saat kematian dan tanggung jawab yang harus kuberikan. Aku harus bertanggung jawab atas waktu yang dipergunakan dengan tidak baik, atas bakat yang tidak terpakai, atas kebaikan yang dilalaikan atas kesombongan kalau berhasil dan hal-hal yang menghalangi karya Allah
(Sebutkan permohonan anda...........)
Santo Yusuf, untuk mengikuti teladanmu aku menyerahkan semua kepada Yesus, melalui Maria. Ini akan menjadi semboyanku dalam hidup dan mati. Amin.