Minggu, 17 Maret 2019 Hari Minggu Prapaskah II

Minggu, 17 Maret 2019
Hari Minggu Prapaskah II
    
Tak seorang pun boleh malu terhadap salib Kristus, yang digunakan-Nya untuk menebus dunia (St. Leo Agung)
  

Antifon Pembuka (Mzm 27:8-9)

Kepada-Mu, ya Tuhan, hatiku berkata, "Kucari wajah-Mu." Wajah-Mu kucari, ya Tuhan, janganlah memalingkan muka daripadaku.

Tibi dixit cor meum, quæsivi vultum tuum, vultum tuum Domine requiram: ne avertas faciem tuam a me.

(Antifon ini dapat diulangi sesudah tiap ayat dari Mazmur 84)

Doa Pembuka


Ya Allah, Engkau menghendaki agar kami mendengarkan Putra-Mu yang terkasih. Semoga Engkau berkenan menggerakkan hati kami dengan Sabda-Mu dan memurnikan mata batin kami agar dapat memandang kemuliaan-Mu dengan sukacita. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kejadian (15:5-12.17-18)
   
      
"Perjanjian Allah dengan Abraham."
     
Sekali peristiwa Tuhan membawa Abram keluar dari rumah serta berfirman, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat!” Maka firman-Nya kepada Abram, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abram kepada Tuhan; maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Tuhan berfirman lagi kepada Abram, “Akulah Tuhan, yang membawa engkau keluar dari Ur Kasdim guna memberikan negeri ini menjadi milikmu.” Tetapi Abram bertanya, “Ya Tuhan Allah, dari manakah aku tahu bahwa aku akan memilikinya?” Firman Tuhan kepadanya, “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.” Abram mengambil semuanya itu, membelahnya menjadi dua, lalu diletakkannya belahan-belahan itu yang satu di samping yang lain; tetapi burung-burung itu tidak ia belah. Ketika burung-burung buas hinggap di atas daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu gelap gulita yang mengerikan turun meliputinya. Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara belahan-belahan daging itu. Pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman, “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai Efrat yang besar itu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, la = a, 4/4, PS 801
Ref. Tuhan adalah terang dan keselamatanku.
atau Aku percaya kepada-Mu, Tuhanlah pengharapanku. Tuhan, pada-Mu 'kuberserah, dan mengharap kerahiman-Mu.
Ayat. (Mzm 27:1.7-8.9abc.13-14)
1. Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
2. Dengarlah, ya Tuhan, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! Wajah-Mu kucari, ya Tuhan, seturut firman-Mu, "Carilah wajah-Ku!"
3. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu dari pada-Ku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka. Engkaulah pertolonganku, ya Allah penyelamatku, janganlah membuang aku, dan janganlah meninggalkan daku.
4. Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan, di negeri orang-orang yang hidup. Nantikanlah Tuhan, kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi (3:17-4:1)
   
"Kristus akan mengubah tubuh kita menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia."
   
Saudara-saudara, ikutilah teladanku, dan perhatikanlah mereka yang hidup seperti kami. Sebab, seperti yang telah sering kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang hidup sebagai musuh salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut, kemuliaan mereka ialah hal-hal aib, sedangkan pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara-perkara duniawi. Tetapi kita adalah warga Kerajaan Surga. Dari sana juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus, Sang Penyelamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, sesuai dengan kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya. Karena itu, Saudara-saudaraku yang kukasihi dan kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah dengan teguh dalam Tuhan!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
Ayat. Dari awan yang bercahaya Allah Bapa berbicara, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!"

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:28b-36)
  
"Ketika sedang berdoa, berubahlah rupa wajah Yesus."
 
Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika sedang berdoa, wajah Yesus berubah, dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan, dan berbicara tentang tujuan kepergian Yesus yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur, dan ketika terbangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya; juga kedua orang yang berdiri di dekat Yesus itu. Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada Yesus, “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Sementara Petrus berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Murid-murid itu merahasiakan semua itu, dan pada masa itu mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

 
IMAN DAN KEMULIAAN 
 
ABRAHAM memang dikenal sebagai bapa kaum beriman. Julukan tersebut tentu saja bukan tanpa alasan. Ia diminta oleh Allah untuk meninggalkan tempat tinggalnya di Ur Kasdim untuk mendiami negeri yang Allah akan tunjukkan. Tentu saja ia belum mengetahui negeri yang mana. Keputusannya untuk meninggaIkan tempat nyamannya dan meninggalkan sanak saudara serta ayahnya untuk pergi ke suatu tempat yang ia sendiri tidak mengetahui kebenaran dan di mana adanya tentu merupakan keputusan yang fatal. Untuk banyak orang, barangkali keputusan yang bodoh. Betapa tidak, kenyamanan ditukar dengan ketidakpastian.

Bukan hanya itu, janji Allah kepadanya, ”Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat,” tidak kunjung terpenuhi dan ia tidak mengetahui kapan janji itu akan terpenuhi. Bahkan, janji itu dikatakan sampai tiga kali oleh Allah, sementara ia sendiri sampai usia yang uzur, tidak kunjung juga mendapatkan eturunan. Ia tetap menuruti kehendak Tuhan meskipun ia bertanya, "Ya Tuhan Allah, dari manakah aku tahu bahwa aku akan memilikinya?” Tuhan berbelas kasih dan tanda diberikan melalui korban bakaran. Selagi Abraham Ielap tertidur setelah menyiapkan korban persembahan, gelap gulita datang bersama terbenamnya matahari, dan tiba-tiba ada perapian yang berasap beserta suluh berapi yang lewat di antara potongan-potongan daging korban bakaran itu. Abraham mengerti tanda-tanda tersebut dan percaya kepada Tuhan, pengharapannya. la teguh dalam Tuhan.

Iman yang berarti kesetiaan kepada Tuhan memang anugerah, tetapi sekaligus merupakan hasil pengolahan dan tanggapan atas rahmat Allah. Kesetiaan itu mengandung pengetahuan dan pengenalan akan siapa Allah. Pergulatan Abraham untuk tetap setia meskipun tidak ada dasar untuk berharap lagi atas kebenaran janji Allah membuahkan kegembiraan. Semula ia bernama Abram, dan kemudian Allah menamainya Abraham. Kata Abram, dari kata a-baf am-ra-am berarti bapa banyak orang, memang terkesan ironis karena sampai masa senja pun ia tidak memiliki keturunan. Sementara Allah juga menjanjikan untuk menjadikannya bapa bangsa-bangsa. Terkesan seperti menjadi bahan ketawaan. Akan tetapi, nama dan janji itu bukan bahan ejek-ejekan. Ketika Allah mengubah Namanya menjadi Abraham, dari kata a-ba-am-ra-ham, ia menjadi bapa kaum yang mendapat kerahiman Tuhan.

Perjalanan dalam menelusuri ketidakpastian merupakan perjalanan bagaimana sesungguhnya hidup beriman. Beriman tidak lantas otomatis semuanya serba jelas, menjadi jelas. Namun, ada satu hal yang pasti: kebaikan Tuhan tidak akan pernah menjauh daripadanya. Kata-kata pemazmur mewakili batin yang beriman, "Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan, di negeri orangorang yang hidup. Nantikanlah Tuhan, kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan.” Imannya yang mengejawantah dalam perbuatan-perbuatan membuat ia dibenarkan oleh Tuhan dan dimuliakan. Kesetiaan yang demikian kembali diketemukan oleh orang beriman dalam diri Yesus, yang kemuliaan-Nya dinyatakan sendiri oleh Allah ketika berada di Gunung Tabor.

Pernyataan Allah tentang sejatinya Yesus dalam peristiwa Gunung Tabor merupakan pencicipan kemuliaan sejati yang dialami pribadi-pribadi agung: Musa, Elia dan Yesus. Keagungan mereka berasal dari Allah. Allah sendiri yang mengagungkan dan memuliakan mereka. Sebab utamanya ialah kesetiaan yang sempurna dalam menurutkan kehendak Allah. Iman dalam artian kesetiaan sungguh mendapatkan
kebenarannya yang paling sempurna. Mereka adalah tokoh-tokoh iman yang menuntaskan segala pekerjaan yang telah Allah percayakan. Yesus sendiri mengatakan, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Allah.” 
     
Percakapan antara Yesus, Musa dan Elia adalah percakapan tentang penuntasan tugas Yesus yang akan dipenuhi di Yerusalem dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Semua yang akan terjadi itu adalah sabda, kata yang mewujud. Oleh karena itu, perintah agung yang ilahi, ”Inilah anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” meliputi tindakan menyimak, mengerti dan memahami tindakan-tindakan, pikiranpikiran Yesus. Akan tetapi, alur berpikir dalam tuntunan iman sepem‘ ini berbeda benar dari alur pikiran Petrus yang ingin mendirikan tendatenda kemapanan hidup.

Hidup dalam tuntunan iman adalah hidup dalam tuntunan kesetiaan kepada kehendak Allah dalam menjalani proses-proses kehidupan yang penuh dengan masalah dan kesulitan seperti yang dialami Abraham, Musa, Elia dan Yesus, bukan dalam tenda-tenda kenyamanan yang ditandai dengan ketidaktahuan apalagi dengan ketakutan-ketakutan. Allah tidak dimuliakan dengan kegemilangan kejayaan dan kesuksesan tetapi dengan kesetiaan menjalani tugas-tugas yang telah dipercayakan oleh Allah kepada kita masing, dalam bidang masing-masing. Allah sendiri yang akan memuliakan orang yang beriman dan setia menjalankan kehendak Allah. 
(RP. Agustinus Sutiono, O.Carm/RUAH)

Antifon Komuni (Mat 17:5)

Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia.

Visionem quam vidistis, nemini dixeritis, donec a mortuis resurgat Filius hominis.

(Antifon ini dapat diulangi sesudah tiap ayat dari Mzm 45:2ab,3,4,5,6,7,8,18ab atau Mzm 97:1,2,3,4,5,6,11,12)