Seri Katekismus: KRISTUS SELEBRAN UTAMA

KatKit (Katekese Sedikit) No. 201

Seri Katekismus
KRISTUS SELEBRAN UTAMA

Syalom aleikhem.
Empat puluh hari lamanya, setelah kebangkitan-Nya dari alam maut, Sang Kristus menampakkan diri kepada para murid. Beliau  makan dan minum bersama para murid serta mengajar mereka mengenai Kerajaan Allah. Penampakan demi penampakan itu menguatkan iman para murid akan kebangkitan Kristus.

Pada saat menampakkan diri, Kristus sudah mulia; tubuh-Nya adalah tubuh kemuliaan, tubuh kebangkitan. Namun, selama penampakan itu kemuliaan-Nya masih “terbatas” atau terselubung dalam sosok tubuh yang sama seperti manusia biasa (meski sekaligus amat berbeda seperti telah dijelaskan pada Seri Katekismus sebelumnya).

Dengan kenaikan-Nya ke surga, tubuh Kristus yang mulia itu benar-benar dan definitif (final) masuk ke dalam kemuliaan ilahi yang dilambangkan dengan awan-awan dan langit. Dalam Injil-injil dikisahkan bahwa Yesus Kristus yang telah bangkit itu naik ke surga disaksikan oleh para murid, lalu berangsur-angsur tubuh-Nya tak dapat terlihat lagi tertutup awan-awan. Sejak itu, kemuliaan Kristus benar-benar bersinar sebab Beliau ditinggikan di sebelah kanan Bapa. Peristiwa kenaikan-Nya ke surga, sebagaimana kebangkitan-Nya, bersifat historis dan transenden.

Pemuliaan definitif itu terkait erat dengan turun-Nya dari surga dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia. Dengan menjadi manusia, Sang Kristus terikat pada kodrat sebagai manusia. Dengan kodrat manusiawi itu, Beliau tak dapat masuk ke dalam rumah Bapa yang kekal. Mengapa? Ya, karena kodrat manusia itu tidak kekal (sebelum kematian), sedangkan kodrat Allah itu kekal. Yang tidak kekal tak bisa masuk ke dalam kekekalan.

Namun, dengan wafat dan kebangkitan-Nya dari maut, Sang Kristus dapat masuk ke dalam rumah Bapa kekal, bahkan Beliau membukakan pintu rumah Bapa bagi manusia. Dan Beliaulah yang pertama masuk ke sana.

Di surga, di rumah Bapa itu, Sang Kristus melaksanakan imamat-Nya terus-menerus (artinya: kekal) sebab Beliaulah Imam Agung untuk selama-lamanya. Di sanalah, Sang Kristus menjadi pusat dan selebran utama liturgi yang menghormati Allah Sang Bapa sepanjang segala masa.

Ungkapan “sisi kanan Bapa” berarti kemuliaan dan kehormatan Allah. Dalam kemuliaan dan kehormatan itu, Sang Kristus yang sehakikat dengan Sang Bapa hidup sejak kekal sampai kekal. Maka dari itu, “duduk di sisi kanan Bapa” bermakna kekuasaan Sang Mesias yang tak akan berakhir.

** Ringkas-uraian atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 659 – 667

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring