Seri Liturgi: DEMI SIKAP BATIN

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 268

Seri Liturgi
DEMI SIKAP BATIN

Syalom aleikhem.
Sepanjang Misa, imam dan umat bergerak-gerak; ada beberapa gerakan yang mesti dilakukan secara berbeda-beda. Apa sebenarnya maksud tata gerak dalam Misa? Bukankah duduk manis saja sepanjang Misa lebih efektif dan “enak”?

PUMR no. 42 menulis penjelasan mengenai tujuan tata gerak: (1) keindahan perayaan terpancar; (2) makna bagian demi bagian perayaan terpahami; (3) umat dapat berpartisipasi. Ketiga hal inilah maksud tata gerak dalam Misa.

Duduk dan berdiri berbeda makna bukan? Itulah salah satu maksud tata gerak. Memohon dan mengagungkan juga berbeda ‘kan? Begitu pula menyembah dan menghormati mengandung nuansa makna yang tak sama. Itu semua diungkapkan melalui gerakan-gerakan.

Tata gerak juga membangun sikap batin. Bukankah sikap batin ada di “dalam”, bagaimana bisa dibangun dengan hal yang di “luar”, seperti tata gerak? Oh, bisa saja. Berlutut, contohnya, itu membangun sikap batin merendah diri, seakan-akan “menyerah” di depan yang lebih berkuasa. (Bahasa Indonesia punya idiom bagus terkait berlutut, yaitu “bertekuk lutut” yang artinya ‘menyerah kalah’. Bukankah di hadapan Tuhan, kita memang menyerah kalah?)

Begitulah sikap lahiriah, dalam hal ini tata gerak, membangun sikap batin. Tambahan lagi, sikap batin juga dibangun oleh keheningan. PUMR no. 45 menyarankan ada beberapa saat hening selama Misa dan sebelum Misa.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring