Seri Alkitab: INJIL MARKUS 5:30-33

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 272

Seri Alkitab
INJIL MARKUS 5:30-33


Mrk. 5:30
Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?”

Et statim Iesus cognoscens in semetipso virtutem, quae exierat de eo, conversus ad turbam aiebat: “ Quis tetigit vestimenta mea? ”.

Ungkapan “pada ketika itu” berarti ‘dan segera’ atau ‘seketika itu juga’, yaitu saat si perempuan menyentuh jubah Tuhan. Kata kerja “mengetahui” artinya ‘merasakan’. “Tenaga” diterjemahkan dari kata “kuasa” (Latin: virtus), dalam hal ini bermakna ‘kuasa menyembuhkan penyakit’.

Merasakan bahwa ada seseorang disembuhkan oleh kuasa-Nya, Tuhan menengok ke belakang. Pada bagian sebelumnya diterangkan si perempuan datang dari belakang, tak berhadapan muka dengan Tuhan. Maka, Tuhan balik badan untuk melihat siapa orang itu, lalu bertanya. Pertanyaan Tuhan ditujukan kepada orang banyak secara umum.

Mrk. 5:31
Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?”

Et dicebant ei discipuli sui: “ Vides turbam comprimentem te et dicis: “Quis me tetigit?” ”.

Jika dilugaskan, jawaban para murid berbunyi: “Kami tak tahu siapa yang menyentuh pakaian-Mu.” Dengan orang berdesak-desakan di sekitar Tuhan, sulit mengetahui siapa yang menyentuh jubah Tuhan. Wajarlah para murid menjawab demikian.

Mrk. 5:32
Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.

Et circumspiciebat videre eam, quae hoc fecerat.

Karena tak mendapat jawaban jelas, Tuhan memandang sekeliling. Artinya, Beliau mencari siapakah orang yang baru saja disembuhkan oleh tenaga-Nya.

Mrk. 5:33
Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.

Mulier autem timens et tremens, sciens quod factum esset in se, venit et procidit ante eum et dixit ei omnem veritatem.

Mengapa si perempuan takut? Karena Tuhan mencarinya, atau karena apa? Tentulah si perempuan ketakutan karena kesembuhan secara ajaib yang dialaminya. Takut di sini bukan takut dalam arti ngeri, melainkan takut penuh hormat sebagaimana ketika para murid pun takut ketika melihat mujizat Tuhan yang penuh kuasa. Terbukti, si perempuan malah tampil ke depan, bukannya lari. Ketakutan ngeri pasti membuat lari. Ini ketakutan yang berbeda, takut dalam arti takjub penuh syukur.

Si perempuan tersungkur, artinya berlutut dan bersujud, bukan jatuh tanpa sengaja. Dalam keadaan bersujud itu, ia menyampaikan kepada Tuhan – tentu saja juga kepada orang-orang yang hadir di sana – apa yang baru saja dialaminya. Ia mengaku bahwa dia yang telah menyentuh jubah Tuhan dan memperoleh kesembuhan secara ajaib.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring