| Halaman Depan | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Minggu, 22 September 2019 Hari Minggu Biasa XXV

Minggu, 22 September 2019
Hari Minggu Biasa XXV
  
Wanita adalah "daging dari dagingnya" Bdk. Kej 2:23., artinya: ia adalah partner sederajat dan sangat dekat. Ia diberikan oleh Allah kepadanya sebagai penolong Bdk. Kej 2:18.20. dan dengan demikian mewakili Allah, pada-Nya kita beroleh pertolongan. Bdk. Mzm 121:2. "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej 2:24). Bahwa ini berarti 'kesatuan hidup mereka berdua yang tidak dapat diceraikan, ditegaskan oleh Yesus sendiri, karena Ia mengingatkan bahwa "sejak awal" adalah rencana Allah bahwa "mereka bukan lagi dua, melainkan satu" (Mat 19:6). (Selengkapnya lih. Katekismus Gereja Katolik, 1605)
   
  
Antifon Pembuka (lih. Mzm 37:39,40,28)
 
Akulah keselamatan umat, Sabda Tuhan. Aku akan mendengarkan seruannya dalam segala kesulitan. Aku akan tetap menjadi Tuhan mereka sepanjang masa.


I am the salvation of the people, says the Lord. Should they cry to me in any distress, I will hear them, and I will be their Lord for ever.

Salus populi ego sum, dicit Dominus: de quacumque tribulatione clamaverint ad me, exaudiam eos: et ero illorum Dominus in perpetuum. 
      
Doa Pembuka
Ya Allah, segala ketetapan Hukum-Mu yang kudus Engkau rangkum dalam hukum kasih kepada-Mu dan kepada sesama. Semoga dengan menaati perintah-perintah-Mu, kami dapat sampai ke hidup yang kekal. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
  
Bacaan dari Kitab Amos (8:4-7)
    
"Peringatan terhadap orang yang membeli orang papa karena uang."
     
Dengarkanlah ini, hai kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini, dan yang berpikir, “Kapan pesta bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum; kapan hari Sabat berlalu, supaya kita boleh berdagang terigu; kita akan memperkecil takaran, menaikkan harga dan menipu dengan neraca palsu; kita akan membeli orang papa karena uang, dan membeli orang miskin karena sepasang kasut; kita akan menjual terigu tua.” Beginilah Tuhan telah bersumpah demi kebanggaan Yakub, “Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.






Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823.
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
Ayat. (Mzm 113:1-2.4-6.7-8; Ul: 1a.7b)

1. Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
2. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti Tuhan Allah kita, yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?
3. Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama para bangsawan, bersama dengan para bangsawan bangsanya.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (1Tim 2:1-8)
  
"Panjatkanlah permohonan untuk semua orang. Itulah yang berkenan kepada Allah, yang menghendaki agar semua orang diselamatkan."
 
Saudaraku yang terkasih, pertama-tama aku menasihatkan: Panjatkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, bagi pemerintah dan penguasa, agar kita dapat hidup aman dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan berkenan kepada Allah, Penyelamat kita. Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara diri sebagai tebusan bagi semua orang: suatu kesaksian pada waktu yang tepat. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pewarta dan rasul. Yang kukatakan ini benar, dan aku tidak berdusta! Aku ditetapkan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi dalam iman dan kebenaran. Oleh karena itu, aku ingin agar di mana pun kaum laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa kemarahan dan perselisihan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


    




Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952.
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat (2Kor 8:9)
Yesus Kristus menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (16:10-13)
 
"Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
  
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan harta sejati kepadamu? Dan jika kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain; atau ia akan setia kepada yang seorang, dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan



 “Double life” atau “hidup mendua” itulah yang rasanya tumbuh berkembang terutama di kota-kota besar di antara orang-orang kaya dan berduit. Istilah ini pertama kali saya dengar beberapa tahun lalu di Jerman dalam pertemuan dengan rekan pastor Yesuit. Ceriteranya secara singkat demikian: sebut saja namanya pastor Yudas (samaran), ia adalah pastor paroki yang disegani umatnya alias sukses dalam berkarya atau melayani umat, tetapi diam-diam ia sukses juga berpacaran dengan serang janda cantik yang belum punya anak. Dengan kata lain tugas pokok dikerjakan dengan baik dan pacaran juga baik alias belum sampai menimbulkan batu sandungan di kalangan umat atau masyarakat. Jika dicermati sang pastor ini memang sukses dalam bekerja atau bertindak secara fisik, tetapi apakah tindakan tersebut merupakan perwujudan atau kesaksian iman kiranya menjadi pertanyaan. Ada kemungkinan sang pastor memang sebagai manusia hebat atau luar biasa alias memiliki kecerdasan intelektual dan keterampilan tetapi tidak memiliki kecerdasan spiritual. Jika sang pastor sungguh memiliki kecerdasan spiritual kiranya ia akan mengurus paroki dan melayani umat dengan lebih baik dan berkualitas serta tidak akan pacaran. Bagaimanapun perhatian sang pastor tersebut mendua, mungkin fifty-fifty, 50% untuk paroki dan 50% untuk pacaran. Alangkah indahnya jika perhatian untuk paroki 100% sehingga ia juga akan mampu mengerjakan atau memperhatikan yang kecil-kecil. 
 
 Perkara-perkara atau hal-hal kecil sering menjadi barang hinaan, cemoohan; sebaliknya berbagai macam jenis peralatan elektronik masa kini yang kecil-kecil sungguh bermanfaat atau berdaya guna. Apa yang kecil dan sederhana dalam masa biasa memang pada umumnya kurang memperoleh tempat atau perhatian, dan yang kecil dan sederhana pada umumnya sungguh berfungsi menyelamatkan pada saat-saat genting atau kurang beres, misalnya: (1) yang sederhana dalam hidup sehari-hari: jika ada kotoran di gang atau lantai langsung panggil mereka yang kecil dan sederhana, (2) ada mobil mogok maka anak-anak atau orang-orang kecil yang mendorong dan menyelamatkan, dan (3) yang tidak kalah penting anak kecil dalam keluarga sungguh menjadi perhatian dan motivator untuk hidup bergairah dan bahagia. Maka jika Yesus bersabda :”Kamu tidak dapat mengabdi Allah dan Mamon", kiranya kita diharapkan mengurus mamon yang kecil dan sederhana setiap hari sebaik mungkin dan dengan demikian berkenan di hati Allah, dengan kata lain tidak memisahkan hidup doa dan kerja/kesibukan sehari-hari melainkan menemukan Allah dalam segala sesuatu atau segala sesuatu dalam Allah (contemplativus in actione). 
   
· Pada umumnya manusia mengagumi apa-apa yang besar, megah dan kaya, misalnya para pejabat tinggi, rumah atau bangunan besar, perkara besar, perempuan cantik, laki-laki tampan, orang bergelar professor, doktor atau sarjana dst. Sementara itu mereka melalaikan atau kurang memperhatikan hal-hal atau perkara kecil, anak kecil, orang kecil dst.. Orang juga sering mengagumi gedung-gedung mewah rumah sakit, sekolah atau gereja/tempat ibadat. 
   
Mengagumi pada umumnya berada di luar dan tidak masuk. Bagi orang beriman atau beragama yang utama dan penting adalah dikasihi, bukan dikagumi; dikasihi berarti mempesona, memikat dan menarik sehingga banyak tergerak untuk mendekat dan memasuki. Sebagai orang beriman atau beragama kita dipanggil juga untuk mengasihi mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan, yang pada umumnya tidak ada yang didunia ini yang dapat diandalkan dan mereka mengandalkan diri pada kemurahan hati Tuhan dan belaskasih-Nya melalui orang-orang yang baik hati dan berbelas kasih. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk baik hati dan berbelas kasih kepada yang kecil, miskin dan berkekurangan. Secara khusus kami mengajak untuk memperhatikan anak-anak kecil, entah yang masih balita atau sudah duduk di Taman Kanak-Kanak maupun Sekolah Dasar. Ingat dan sadari bahwa mereka adalah masa depan kita, tidak baik hati, berbelas kasih dan memperhatikan mereka berarti tidak mendambakan masa depan yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan.  
 
Mengabdi Tuhan secara konkret berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui saudara-saudari kita, maka marilah dengan rendah hati kita senantiasa berusaha membahagiakan orang lain dimanapun dan kapanpun, alias menjadi orang baik dan berbudi pekerti luhur. Kami juga berharap kepada kita semua untuk tidak takut dan tidak gentar mengingatkan dan menegor saudara-saudari kita yang meninggalkan atau melupakan Tuhan untuk bertobat. Jika kita tidak mengingatkan saudara-saudari kita berarti kita mendukung atau menyetujui mereka.


“Aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan” (2Tim 2:8)



Apa yang dikatakan Paulus kepada Timotius ini kiranya bukan tanpa alasan atau sekedar omong kosong belaka, juga untuk masa kini. Jika kita cermati dalam berbagai kegiatan doa bersama di lingkungan-lingkungan, wilayah atau stasi pada umumnya yang banyak terlibat atau berpartisipasi adalah kaum perempuan daripada kaum laki-laki. Dalam kehidupan seksual atau berkeluarga rasanya yang banyak menyeleweng adalah kaum laki-laki, dan dengan demikian entah secara langsung atau tidak langsung menimbulkan perselisihan di sana-sini.
 
Kita, kaum laki-laki diingatkan supaya tidak lupa berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan, maka marilah kita renungkan dan hayati peringatan atau ajakan ini:

· Berdoa dengan menadahkan tangan yang suci. Berdoa berarti berkomunikasi atau berwancara dengan Tuhan, namun yang berkomunikasi, kita dan Tuhan, tidak sama kedudukannya. Kita berada di bawah dan yang lemah, maka sikap orang berdoa berarti siap sedia dengan membuka diri sepenuhnya untuk menerima sesuatu dari Tuhan. Maka diingatkan: hendaknya berdoa dengan menadahkan tangan yang suci. Yang suci berarti yang disisihkan atau dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan tanpa syarat. Dengan kata lain tangan yang suci berarti tangan yang tidak pernah menyakiti orang lain atau sesamanya, maka hendaknya tanpa marah dan tanpa perselisihan dalam berdoa.

· Tanpa marah dan tanpa perselisihan. Marah atau berselisih hemat saya berarti menghendaki yang lain atau yang dimarahi tidak ada alias kalau masih hidup semoga mati saja. Bentuk kemarahan dari yang paling lembut sampai yang paling kasar kiranya dapat digambarkan demikian: mengeluh -> ‘nggrundel’-> ngrumpi/ngrasani -> mengata-ngatai dengan kasar -> menyakiti secara fisik -> membunuh. Marah juga berarti melecehkan dan merendahkan yang lain atau sesamanya dan dengan demikian melanggar hak asasi dan harkat martabat manusia. Secara konkret marah mengeluarkan enerji yang tiada guna dan untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum marah kurang lebih membutuhkan enerji yang sama, dengan kata lain terjadi pemborosan enerji (pikiran, perasaan, sikap dan tindakan) yang tiada guna sama sekali. Marah berarti juga menjadi hamba-hamba setan, menimbulkan maupun mempertajam perselisihan-perselisihan.
  
Antifon Komuni (Mzm 119:4-5)

Engkau telah menyampaikan titah-Mu, supaya ditepati dengan sungguh-sungguh. Semoga tetaplah jalan hidupku, untuk melaksanakan ketetapan-Mu.

You have laid down your precepts to be carefully kept; may my ways be firm in keeping your statutes.
  
Satu teori,yang menjadikan keuntungan sebagai patokan yang satu-satunya dan sebagai tujuan terakhir dari segala kegiatan ekonomi tidak dapat diterima secara moral. Kerakusan akan uang yang tidak terkendalikan menimbulkan akibat-akibat buruk. Ia adalah salah satu sebab dari banyak konflik yang mengganggu tata masyarakat Bdk. GS 63,3; LE 7; CA 35.
 Sistem-sistem, yang "mengurbankan hak-hak asasi perorangan serta kelompok-kelompok demi organisasi kolektif penyelenggara produksi", bertentangan dengan martabat pribadi manusia (GS 65,2). Segala sesuatu yang merendahkan manusia menjadi saran guna memperoleh keuntungan, memperhamba manusia, mengantar ke pendewaan uang, dan menambah penyebarluasan ateisme. "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Mat 6:24; Luk 16:13).
  
Arsip Renungan Rm. Ign. Sumarya, SJ

Seri Liturgi: HENING ITU PENTING

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 274

Seri Liturgi
HENING ITU PENTING

Syalom aleikhem.
Hening berbeda dengan sepi, keheningan berbeda dengan kesepian. Hening dan sepi memang sama-sama sunyi, namun berbeda dalam tingkat kedalaman. Kesepian mengakibatkan depresi, keheningan menumbuhkan harapan. Dengan hening, orang masuk ke dalam relung batinnya, bertemu Tuhan, dan memperoleh kekuatan bagi langkah hidupnya selanjutnya.

Dalam tiap-tiap Kurban Misa, hening itu penting. PUMR no. 45 memberikan amanat di saat mana sajakah dalam Ekaristi keheningan perlu diciptakan. PUMR bahkan menyebutkan bahwa saat hening pun bagian dari perayaan. Saat hening bukan saat kekosongan, justru saat “berisi”. Saat hening bukan waktu menunggu melongo, tapi saat aktif dalam batin meski tanpa suara lahiriah.

Sebelum Pernyataan Tobat, kita hening, mawas diri melihat cacat-cela untuk dimohonkan ampun kepada Tuhan. Sesudah ajakan Doa Pembuka, kita hening pula. Pada saat inilah, imam dan semua umat mendoakan intensi (ujub) dalam hati. Karena itu, setelah ucapan “marilah kita berdoa”, imam janganlah langsung buka suara untuk berdoa. Heninglah dulu, beri kesempatan umat berdoa. Ketika imam memberi kesempatan hening, umat jangan pula bingung sampai-sampai celingukan tanpa tahu harus berbuat apa saat itu; berdoalah dalam hati bagi diri pribadi, keluarga, orang yang butuh doa kita.

Saat hening lain terjadi sesudah Bacaan-Bacaan dan Homili, juga sesudah Komuni. Hening itu penting untuk meresapkan setiap peristiwa dalam Kurban Misa.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring

Sabtu, 21 September 2019 Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil

Sabtu, 21 September 2019
Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil
   
“Matius, seorang pemungut cukai, menjadi contoh pertobatan dan pengampunan bagi banyak pemungut cukai dan pendosa” (St. Beda Venerabilis)


Antifon Pembuka (Bdk. Mat 28:19-20)

Tuhan bersabda, “Pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka. Ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

Go and make disciples of all nations, baptizing them and teaching them to observe all that I have commanded you, says the Lord.
   
  
Pada Misa ini ada Madah Kemuliaan
  
Doa Pembuka

Allah Bapa Mahamurah, kerahiman-Mu tiada taranya. Santo Matius, pegawai pajak, telah Kaupilih menjadi rasul dan kelak juga pengarang Injil-Mu. Semoga kami dikuatkan oleh teladan hidupnya dan dibantu oleh doa permohonannya serta mengikat diri pada-Mu dengan hati teguh. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (4:1-7.11-13)
  
"Ada macam-macam tugas pelayanan demi pembangunan umat."
   
Saudara-saudara, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihati kamu, supaya sebagai orang-orang yang terpanggil, kamu hidup sepadan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu; satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua, menyertai semua dan menjiwai semua. Akan tetapi, kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita Injil, gembala umat, maupun pengajar; semuanya itu untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi tugas pelayanan demi pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian, akhirnya kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 4/4, PS 834
Ref. Nama Tuhan hendak kuwartakan di tengah umat kumuliakan.
atau Di seluruh bumi bergemalah suara mereka.
Ayat. (Mzm 19:2-3.4-5; R:5a)
1. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.
2. Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.

Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 5:16)
Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan. Kepada-Mu paduan para rasul bersyukur.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:9-13)
   
"Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus."
   
Pada suatu hari, Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Matius, lalu mengikuti Dia. Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa, makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Maka pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan



Murid-murid Yesus berasal dari berbagai lapisan masyarakat dengan pekerjaan dan gaya hidup masing-masing: rakyat jelata dan pegawai, miskin dan kaya, nelayan dan pemungut cukai. Hari ini Gereja merayakan pesta Santo Matius, Rasul dan Pengarang Injil. Ayahnya bernama Alpheus. Ia sendiri pun disebut juga Levi. Matius dikenal luas sebagai pemungut cukai di kota Kapernaum, daerah Galilea. Di kalangan masyarakat Yahudi, terutama para pemimpinnya, jabatan pemungut cukai dipandang sebagai jabatan kotor. Para pemungut cukai dipandang sebagai pendosa, yang dapat disejajarkan dengan pembunuh, perampok, penjahat, pelacur dll. Alasannya ialah mereka itu adalah sahabat dan kaki-tangan Romawi, bangsa kafir yang menjajah mereka. Meskipun tuduhan itu tidak seluruhnya benar, namun Matius jelas digolongkan dalam kelompok yang tak terhormat ini. Apa boleh buat karena itulah pandangan umum masyarakat Yahudi.

Segera terlihat bahwa Matius masih berharga di mata Tuhan. Yesus memanggil dia: "Ikutilah Aku!" Panggilan ini menunjukkan bahwa bagi Yesus, Matius masih memiliki titik-titik kebaikan yang dapat diandalkan. Peristiwa panggilan Matius sempat mencengangkan banyak orang: "Bagaimana mungkin Yesus memanggil dan memilih seorang pendosa menjadi murid-Nya?" Ketika Matius mengadakan perjamuan besar di rumahnya bagi Yesus dan murid-murid-Nya, banyak pemungut cukai hadir juga. Kaum Farisi dan orang-orang lain yang tidak menyukai Yesus semakin membenci Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama dengan para pendosa?" Pada saat itulah, Yesus mengatakan: "Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang saleh, melainkan orang berdosa."

Terhadap panggilan Yesus "Ikutilah Aku!", Matius segera bangun dan mengikuti Yesus. Ia meninggalkan seluruh hartanya yang banyak itu, dan dengan rela memulai suatu hidup yang baru bersama Yesus dan murid-murid lainnya. Sikap tegas Matius menunjukkan bahwa ia memiliki sifat-sifat Kerajaan Allah: semangat kemiskinan dan pelayanan, terutama cinta dan iman-kepercayaan akan Yesus.

Matius, seorang terpelajar. Ia dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Aramik, suatu dialek bahasa Ibrani. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, baik sebelum maupun sesudah dipanggil Yesus. Menurut tradisi lisan purba, setelah Yesus naik ke surga, Matius mewartakan Injil dan berkarya di tengah kaum sebangsanya: orang-orang Kristen keturunan Yahudi di Palestina atau Siria selama kira-kira 15 tahun. Selama itulah ia menulis Injilnya yang berisi pengajaran agama dan kesaksian tentang Yesus kepada orang-orang Kristen keturunan Yahudi. Injilnya ditulis kira-kira antara tahun 50-65. Dalam Injilnya, Matius menegaskan bahwa Yesus dari Nazareth itu adalah benar-benar Mesias yang dijanjikan Allah dan dinubuatkan para nabi dalam masa Perjanjian Lama: la membuka Injilnya dengan membeberkan silsilah Yesus Kristus mulai dari Abraham sampai Maria yang melahirkan Yesus. Dengan silsilah itu, ia mau menunjukkan dengan tegas kemanusiaan Yesus dan kedudukan-Nya sebagai Penyelamat (terakhir!) yang dijanjikan Allah. Itulah sebabnya, Injil Matius dilambangkan dengan 'manusia bersayap'.Setelah menuliskan Injilnya, Matius pergi ke arah timur: ke Masedonia, Mesir, Etiopia dan Persia. Konon ia mati sebagai martir di Persia karena mewartakan Injil tentang Yesus Kristus.
(imankatolik.or.id)

Antifon Komuni (Mat 9:13)

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa, demikianlah firman Tuhan.

I did not come to call the just, but sinners, says the Lord.
 
 
 

Jumat, 20 September 2019 Peringatan Wajib St. Andreas Kim Tae-gŏn, Imam dan St. Paulus Chŏng Ha-sang

Jumat, 20 September 2019
Peringatan Wajib St. Andreas Kim Tae-gŏn, Imam dan St. Paulus Chŏng Ha-sang
      
“Jadilah orang Kristiani, bila engkau berharap untuk bahagia setelah meninggal dunia.” (St.
Andreas Kim Tae-gŏn)
              

Antifon Pembuka 
   
Para kudus bergembira di surga sambil mengikuti jejak Kristus. Mereka menumpahkan darahnya demi Dia, maka kini bersukaria selamanya.
  
Doa Pembuka

   
Allah Bapa kami di surga, hari ini kami memperingati para martir Korea. Semoga pengorbanan hidup mereka tidak sia-sia dan menjadi semangat bagi kami untuk rela menjadi saksi kebenaran hidup yaitu Putra-Mu sendiri. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
        
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (6:2c-12)
     
  
"Hai manusia Allah, kejarlah keadilan."
       
Saudara terkasih, ajarkanlah dan nasihatkanlah semua ini. Jika ada orang yang mengajarkan ajaran lain, dan tidak menurut ajaran sehat, yakni ajaran Tuhan kita Yesus Kristus, dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan iman kita, dialah orang yang berlagak tahu, padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, iri hati, fitnah, dan curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berfikiran sehat, yang kehilangan kebenaran, yang mengira agama itu suatu sumber keuntungan. Memang iman itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia ini, dan kita pun tidak membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya, terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan pelbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Karena memburu uanglah, maka beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai penderitaan. Tetapi engkau, hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, takwa, kesetiaan, cinta kasih, kesabaran, dan kelembutan hati. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil; untuk itulah engkau telah mengikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah yang hidup miskin terdorong oleh Roh Kudus, sebab bagi merekalah Kerajaan Allah.
Ayat. (Mzm 49:6-7.8-9.17-18.20)
1. Mengapa aku takut pada hari-hari celaka pada waktu aku dikepung oleh kejahatan para pengejarku, yang percaya akan harta bendanya, dan memegahkan diri karena banyaknya kekayaan mereka?
2. Tidak seorang pun dapat membebaskan diri, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya! Terlalu mahallah harga pembebasan nyawanya, dan tidak terjangkau untuk selama-lamanya kalau ia ingin hidup abadi dengan tidak melihat liang kubur.
3. Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah, sebab pada waktu mati semuanya itu tidak akan dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia.
4. Sekalipun pada masa hidupnya ia menganggap dirinya berbahagia, sekalipun orang menyanjungnya karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, yang tidak akan melihat terang untuk seterusnya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 11:25)
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (8:1-3)
     
"Beberapa wanita menyertai Yesus dan melayani Dia dengan harta bendanya."
      
Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid menyertai Dia, dan juga beberapa wanita, yang telah disembuhkan-Nya dari roh-roh jahat serta berbagai macam penyakit, selalu menyertai Dia. Para wanita itu ialah: Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh setan; Yohana, isteri Khuza, bendahara Herodes, Susana dan masih banyak lagi yang lain. Wanita-wanita itu melayani seluruh rombongan dengan harta kekayaan mereka.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
 
Renungan

 

”Akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari imannya.” Bagaimana sikap Anda terhadap uang yang Anda miliki? Banyak orang di zaman sekarang mencari dan mengejar kekayaan. Mereka mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Mereka merasa bahwa uang mampu memberi kebahagiaan dan ketenangan bagi mereka dalam hidup ini. Mereka mengorbankan begitu banyak waktu dan tenaga untuk mencari dan mengumpulkan uang. Tetapi apakah mereka semakin bahagia dalam hidup ini? Kebahagiaan itu tidak diukur dari harta kekayaan. Ketenangan hidup itu tidak terletak pada banyaknya uang dan harta yang dimiliki. Tetapi kebahagiaan itu terjadi ketika orang mampu menggunakan harta kekayaan itu demi membahagiakan diri dan sesamanya. Karena itu, ketika harta kekayaan tidak bisa diandalkan untuk mencapai kebahagiaan, harta itu mesti dilepas. Rasul Paulus mengingatkan kita, "Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi." (1Tim 6:12)
  
Dalam Injil hari ini menggambarkan bagaimana banyak orang terlibat dalam karya pelayanan Yesus. Dalam karya-Nya, Yesus melibatkan banyak orang tanpa memandang jenis kelamin, kedudukan, dan ras. Mereka terlibat dengan cara dan kemampuan masing-masing. Semua demi pewartaan kabar gembira yang dinyatakan oleh Yesus.

Kiranya, apa yang dilakukan oleh Yesus itu dapat memberikan inspirasi kepada kita. Bagaimana kita terlibat dalam karya-karya lingkungan atau Gereja kita sendiri. Kita diajak untuk melibatkan banyak orang tanpa memandang asal-usul, jenis kelamin, dan suku bangsa. St. Andreas Kim Taegon, dan Paulus Chong Hasang serta kawan-kawannya adalah martir di tanah Korea. Dalam diri mereka, benih sabda Allah telah tumbuh serta berkembang dengan baik. Para martir suci ini adalah lahan yang subur bagi sabda Allah.
Para martir Korea yang memberikan diri mereka bagi Tuhan, bisa dllihat pula seperti para wanita yang melayani Yesus dalam tugas perutusan-Nya. Para martir itu memberikan yang terbaik yang mereka miliki kepada Yesus, yakni hidup mereka sendiri. Semua orang yang telah mengalami kasih Tuhan tentu juga akan tergerak untuk membagikannya kepada orang lain. (RENUNGAN PAGI)


Antifon Komuni (Mat 10:32)
  
Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga.
   
Everyone who acknowledges me before others I will acknowledge before my heavenly Father, says the Lord.
          
Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)
     
Allah, Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu, karena Yesus telah menghimpun umat baru bagi-Mu, yakni Gereja. Sungguh berat perjuangan-Nya untuk mewujudkan umat baru itu; la harus menderita, bahkan harus wafat di salib. Tetapi la sendiri telah meyakinkan kami bahwa la mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, dan alam maut tidak akan menguasainya.

Bapa, keyakinan ini pulalah yang telah memberikan kekuatan besar kepada para murid-Nya yang harus menderita karena nama-Nya. Kami ingat akan para rasul yang dikejar-kejar, ditangkap, dan dipenjarakan karena nama Yesus. Kami ingat akan Stefanus yang demi kesetiaannya kepada Yesus harus menanggung penganiayaan yang kejam, dibunuh dengan dilempari batu. Tetapi dengan perkasa dia sendiri mendoakan orang-orang yang menganiayanya dan memohonkan pengampunan dari-Mu. Juga kami ingat akan Rasul Paulus, yang selalu membawa salib Kristus ke mana pun pergi.

Semoga teladan hidup mereka menyadarkan kami semua, terutama saudara-saudara kami yang sedang dianiaya di Timur Tengah. Betapa besar kekuatan yang Kau berikan kepada mereka yang dianiaya demi nama Yesus. Semoga kesadaran itu membangkitkan pula kekuatan dan ketabahan dalam diri mereka. Semoga mereka tetap setia, bahkan merasa bangga karena boleh ikut memanggul salib Kristus, dan memberikan kesaksian tentang salib yang sungguh memberikan kekuatan. Demi Kristus, Tuhan kami. (Amin.)
 
 
 
    
   

Seri Katekismus: TIGA WEWENANG USKUP


KATKIT (Katekese Sedikit) No. 273

Seri Katekismus
TIGA WEWENANG USKUP


Syalom aleikhem.
Para uskup Gereja Katolik adalah pengganti Para Rasul, meneruskan tugas pelayanan Para Rasul yang dipilih Tuhan untuk menggembalakan umat-Nya, Umat Allah Perjanjian Baru, yaitu Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, Apostolik. Untuk melaksanakan tugas pelayanan, para uskup memiliki tiga wewenang (disebut juga “tiga tugas”): mengajar, menguduskan, memimpin.

Mengajar


Tugas utama para uskup, bersama dengan para presbiter (imam) sebagai rekan sekerja, adalah mewartakan Injil kepada semua orang seperti yang diperintahkan Tuhan. Para uskup pertama-tama adalah pewarta iman. Sebagai pewarta iman, para uskup membawa murid-murid baru kepada Kristus. Murid-murid artinya mereka yang baru mulai mengenal Kristus dan ajaran-Nya. Para uskup adalah pengajar otentik yang membawa otoritas Kristus. Mereka mengajar dengan kewibawaan Tuhan yang diteruskan melalui Para Rasul.

Para uskup menjaga kemurnian iman Gereja. Kemurnian iman yang dimaksud adalah iman yang diwariskan oleh Para Rasul. Kita tahu, Tuhan Yesus dikenal melalui pewartaan Para Rasul, ajaran-Nya diketahui melalui ajaran Para Rasul. Ajaran Para Rasul penting sekali nilai dan wibawanya bagi Gereja dari masa ke masa, karena itulah perlu dijaga kemurniannya. Iman akan Yesus Kristus tak lain adalah iman Para Rasul yang diteruskan lestari dari zaman ke zaman.

Karena Kristus adalah kebenaran, Gereja-Nya ambil bagian dalam kebenaran itu. Wewenang Mengajar yang dimiliki Gereja – istilahnya Magisterium – melindungi Umat Allah dari kekeliruan dan kelemahan iman. Untuk menjalankan tugas pelayanan ini, Kristus menganugerahkan kepada para gembala, yaitu para uskup, karunia “tidak dapat sesat” (infallibilitas) dalam perkara iman dan moral. Maksudnya, Gereja Kristus tidak dapat salah ketika mengajarkan perkara iman dan moral. Ketidakdapatsalahan ini adalah karunia Allah.

Karunia (karisma) ini dijalankan dengan berbagai cara. Pertama, infallibilitas ada pada Imam Agung Roma, Sri Paus, sebagai kepala dewan para uskup, bila ia menetapkan ajaran tentang iman dan moral. Kedua, infallibilitas juga ada pada dewan para uskup bila melaksanakan Wewenang Mengajar bersama dengan Pengganti Petrus, Sri Paus, terutama dalam konsili ekumenis.

Degan kedua cara itulah, Gereja Katolik mengajarkan perkara iman dan moral dengan tanpa sesat. Karena itu, bila Gereja melalui para uskup dalam persatuan dengan Uskup Roma, yaitu Sri Paus, menyatakan suatu ajaran sebagai diwahyukan oleh Allah, umat beriman harus mematuhi penetapan itu dengan kepatuhan kehendak dan akal budi yang suci.

Menguduskan


Para uskup menguduskan Gereja Kristus dengan doa dan karya, dengan pelayanan sabda dan sakramen-sakramen. Mereka menguduskan umat melalui teladan hidup nyata.

Memimpin


Wewenang memimpin yang dimiliki para uskup perlu dipahami sebagai semangat melayani demi membangun iman umat.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 888-896

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring

Kamis, 19 September 2019 Hari Biasa Pekan XXIV

Kamis, 19 September 2019
Hari Biasa Pekan XXIV
 
“Hendaknya pedang Roh, yaitu firman Allah, diam berlimpah-limpah dalam mulut dan hatimu” (St. Albertus dari Yerusalem)

 
Antifon Pembuka (Mzm 111:10)

Pangkal kebijaksanaan adalah takut akan Tuhan, semua orang yang mengamalkannya memiliki budi bahasa baik. Dia disanjung sepanjang masa.

Doa Pembuka


Allah Bapa Mahabaik, perkenankanlah kami memperhatikan anugerah yang telah Kauberikan melalui Yesus Putra-Mu terkasih. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Berapa pun usia seseorang, tidak menjadi penghalang untuk terus maju dan berjuang dalam kesempurnaan hidup. Karena kesempurnaan hidup itulah yang menentukan keselamatan seseorang dan bukan usianya.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (4:12-16)
      
"Awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu; dengan demikian engkau menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau."
      
Saudara terkasih, jangan seorang pun menganggap dirimu rendah karena engkau masih muda. Jadilah teladan bagi orang-orang beriman, dalam perkataan dan tingkah laku, dalam kasih, kesetiaan dan kesucianmu. Sementara itu, sambil menunggu kedatanganku, bertekunlah dalam membaca Kitab Suci, dalam membangun dan mengajar. Janganlah lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang diberikan oleh penumpangan tangan Sidang penatua disertai nubuat. Perhatikanlah semuanya itu dan hiduplah di dalamnya, supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Agunglah karya Tuhan.
Ayat. (Mzm 111:7-8.9.10)
1. Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh; perintah-Nya lestari untuk selama-lamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.
2. Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya, Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya; kudus dan dahsyatlah nama-Nya!
3. Pangkal kebijaksanaan adalah takut akan Tuhan, semua orang yang mengamalkannya memiliki budi bahasa yang baik; dia akan disanjung sepanjang masa.
 
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya
Ayat. (Mat 11:28)
Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.
 
Cinta kasih Allah tidak dibatasi oleh sekat-sekat yang dibentuk oleh masyarakat. Cinta kasih itu menyentuh semua orang, termasuk mereka yang dipinggirkan dan tidak dianggap bernilai oleh masyarakat.
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:36-50)
    
"Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih."
  
Pada suatu ketika seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. Ketika mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hati, “Seandainya Dia ini nabi, mestinya Ia tahu, siapakah dan orang apakah wanita yang menjamah-Nya ini; mestinya Ia tahu, bahwa wanita ini adalah orang yang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.” Ada dua orang yang berutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang beritang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka utang kedua orang itu dihapuskannya. Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu!” Dan sambil berpaling kepada wanita itu, Yesus berkata kepada Simon, “Engkau melihat wanita ini? Aku masuk ke dalam rumahmu, namun engkau tidak memberi Aku air untuk membasuh kaki-Ku; tetapi wanita ini membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk, ia tiada henti-hentinya menciumi kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit pula ia berbuat kasih!” Lalu Yesus berkata kepada wanita itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang makan bersama Yesus berpikir dalam hati, “Siapakah Dia ini, maka Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu, “Imanmu telah menyelamatkan dikau. Pergilah dengan selamat!”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan

 
Yesus menegaskan bahwa dosa wanita yang disebut dalam Injil hari ini diampuni karena ia banyak berbuat kasih. Kita semua adalah orang-orang berdosa. Kita sadar bahwa kita harus bertobat tetapi sering ragu-ragu apakah dosa kita sungguh diampuni oleh Tuhan. Yesus menambah satu hal sebagai bukti pertobatan yaitu banyak berbuat kasih. Dengan banyak berbuat kasih, banyak dosa kita diampuni. Sedikit berbuat kasih sedikit pula dosa kita diampuni. Kita tahu apa yang Yesus mau! Lakukan itu, juga hari ini.

Antifon Komuni (1Tim 4:13)

Jadilah teladan bagi orang-orang beriman dalam kata dan tingkah laku, dalam kasih, kesetiaan dan kesucianmu.

Doa Malam

Tuhan yang berbelas kasih, runtuhkanlah tembok kesombongan kami agar tidak memandang diri selalu benar dan saleh dan memandang rendah sesama kami. Ampunilah dosa kesombongan kami dan buatlah hidup kami semakin berkenan di hadapan-Mu. Amin.
 
 
  


RUAH

Rabu, 18 September 2019 Hari Biasa Pekan XXIV

Rabu, 18 September 2019
Hari Biasa Pekan XXIV
      
“Ada bukti yang tidak kecil bahwa maut telah dihancurkan, dan bahwa salib telah menang atasnya, dan bahwa maut tidak lagi punya kekuatan melainkan telah binasa. Kini telah terbukti bahwa maut dihina oleh semua murid Kristus, dan mereka melawannya kuat-kuat dan tidak lagi takut terhadapnya. Oleh tanda salib dan oleh iman dalam Kristus, mereka menginjak-injaknya sebagai benda mati.” — St. Athanasius dari Alexandria

              

Antifon Pembuka (Mzm 111:1) 
   
Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan di tengah jemaat.
  
Doa Pembuka
   
Allah Bapa Sumber Kebahagiaan, Engkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kami. Semoga kami menerima dan menaati sabda-Nya yang menunjukkan cinta kasih-Mu kepada manusia. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
      
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (3:14-16)
    
      
"Sungguh agunglah rahasia iman kita."
     
Saudara-saudara terkasih, semuanya ini kutulis kepadamu, walaupun aku berharap segera dapat mengunjungi engkau. Maka, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, artinya sebagai jemaat Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Sungguh agunglah rahasia iman kita: Kristus, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia diimani di dunia, diangkat ke dalam kemuliaan."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan
Ref. Agunglah karya Tuhan
Ayat. (Mzm111:1-6)
1. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan di tengah jemaat. Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.
2. Agung dan semaraklah pekerjaan-Nya, keadilan-Nya tetap untuk selama-lamanya. Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan peringatan; Tuhan itu pengasih dan penyayang.
3. Kepada orang takwa diberikan-Nya rezeki, selama-lamanya Ia ingat akan perjanjian-Nya. Kekuatan perbuatan-Nya Ia tunjukkan kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka para bangsa.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 6:64b.69b)
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Pada-Mulah sabda kehidupan kekal.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:31-35)
  
"Hikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya."
   
Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru. ‘Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.’ Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang, dan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur, kalian berkata, ‘Ia kerasukan setan.’ Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kalian berkata, ‘Lihatlah, seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.’ Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan

 
Kepada orang yang sedang ditimpa kemalangan, kita biasanya mengungkapkan perasaan simpatik dengan pernyataan turut berdukacita, dan bagi yang bergembira dengan pernyataan turut bergembira atau selamat. Perasaan ini dapat diungkapkan seseorang kepada orang yang ditujukan lewat ucapan lisan, pesan singkat, kartu ucapan, atau papan bunga. Orang yang menerima ungkapan perasaan simpatik tersebut diharapkan semakin mengalami peneguhan dan kegembiraan. Misalnya, ketika seseorang terpilih menjadi presiden, lawan politiknya dapat mengucapkan selamat dan turut bergembira Akan tetapi perasaan simpatik tersebut sering terkesan hanya basa-basi dan datar.

Perasaan empati atau respons yang lebih dalam atas kemalangan atau kegembiraan orang lain pada umumnya diberikan hanya oleh kerabat dekat dari orang yang sedang ditimpa kemalangan atau bergembira tersebut. Mereka bukan hanya mengungkapkan perasaan simpatik, tetapi juga menjadi bagian yang sungguh turut mengalaminya. Mereka turut merasa kehilangan dan menangis ketika ada anggota kerabatnya yang meninggal. Mereka turut terlibat dan bergembira ketika ada anggota kerabatnya berpesta. Seperti ketika tim sepak bola Indonesia berhasil memenangkan pertandingan sepak bola melawan tim dari negara lain, kita juga turut bergembira, kendati kita tidak ikut dalam pertandingan sepak bola itu. Kemenangan tim Indonesia itu menjadi kemenangan dan kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Yesus mengkritik sikap kebanyakan orang Yahudi yang menolak pewartaan-Nya.

Mereka menolak pewartaan Yesus yang sesungguhnya menjadi kabar sukacita bagi mereka. Keselamatan yang diberikan Yesus kepada mereka diterima dengan perasaan hambar. Sikap empati hanya dapat muncul jika kita percaya dan sungguh membuka hati. Apakah kita sungguh bergembira sebagai pengikut Kristus? 
(MT/INSPIRASI BATIN 2019).
  
Antifon Komuni (Mzm 111:2)

Agunglah karya Tuhan, layak diselidiki orang yang mengagumi-Nya. 
 
 
 

Seri Alkitab: INJIL MARKUS 5:30-33

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 272

Seri Alkitab
INJIL MARKUS 5:30-33


Mrk. 5:30
Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?”

Et statim Iesus cognoscens in semetipso virtutem, quae exierat de eo, conversus ad turbam aiebat: “ Quis tetigit vestimenta mea? ”.

Ungkapan “pada ketika itu” berarti ‘dan segera’ atau ‘seketika itu juga’, yaitu saat si perempuan menyentuh jubah Tuhan. Kata kerja “mengetahui” artinya ‘merasakan’. “Tenaga” diterjemahkan dari kata “kuasa” (Latin: virtus), dalam hal ini bermakna ‘kuasa menyembuhkan penyakit’.

Merasakan bahwa ada seseorang disembuhkan oleh kuasa-Nya, Tuhan menengok ke belakang. Pada bagian sebelumnya diterangkan si perempuan datang dari belakang, tak berhadapan muka dengan Tuhan. Maka, Tuhan balik badan untuk melihat siapa orang itu, lalu bertanya. Pertanyaan Tuhan ditujukan kepada orang banyak secara umum.

Mrk. 5:31
Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?”

Et dicebant ei discipuli sui: “ Vides turbam comprimentem te et dicis: “Quis me tetigit?” ”.

Jika dilugaskan, jawaban para murid berbunyi: “Kami tak tahu siapa yang menyentuh pakaian-Mu.” Dengan orang berdesak-desakan di sekitar Tuhan, sulit mengetahui siapa yang menyentuh jubah Tuhan. Wajarlah para murid menjawab demikian.

Mrk. 5:32
Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.

Et circumspiciebat videre eam, quae hoc fecerat.

Karena tak mendapat jawaban jelas, Tuhan memandang sekeliling. Artinya, Beliau mencari siapakah orang yang baru saja disembuhkan oleh tenaga-Nya.

Mrk. 5:33
Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.

Mulier autem timens et tremens, sciens quod factum esset in se, venit et procidit ante eum et dixit ei omnem veritatem.

Mengapa si perempuan takut? Karena Tuhan mencarinya, atau karena apa? Tentulah si perempuan ketakutan karena kesembuhan secara ajaib yang dialaminya. Takut di sini bukan takut dalam arti ngeri, melainkan takut penuh hormat sebagaimana ketika para murid pun takut ketika melihat mujizat Tuhan yang penuh kuasa. Terbukti, si perempuan malah tampil ke depan, bukannya lari. Ketakutan ngeri pasti membuat lari. Ini ketakutan yang berbeda, takut dalam arti takjub penuh syukur.

Si perempuan tersungkur, artinya berlutut dan bersujud, bukan jatuh tanpa sengaja. Dalam keadaan bersujud itu, ia menyampaikan kepada Tuhan – tentu saja juga kepada orang-orang yang hadir di sana – apa yang baru saja dialaminya. Ia mengaku bahwa dia yang telah menyentuh jubah Tuhan dan memperoleh kesembuhan secara ajaib.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring

Selasa, 17 September 2019 Hari Biasa Pekan XXIV

Selasa, 17 September 2019
Hari Biasa Pekan XXIV
   
“Semua kerugian yang masuk ke dunia berasal dari ketidaktahuannya akan kebenaran-kebenaran Kitab Suci secara jelas dan benar.” (St. Teresa dari Yesus)
  
Antifon Pembuka (Mzm 101:1.2)
   
Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu ya Tuhan. Aku hendak memerhatikan hidup yang tidak bercela.

Doa Pembuka

Allah Bapa Maha Pengasih, berilah kiranya kami pewarta-pewarta sabda-Mu. Tunjukkanlah bahwa Engkau hadir di tengah-tengah orang yang berhimpun dalam nama-Mu dan saling membawakan kedamaian dan kebaikan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
 
Ada kriteria yang baik dan jelas untuk menjadi pelayan umat. Keunggulan iman dan teladan hidup sangat dibutuhkan bagi seorang pelayan umat.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (1Tim 3:1-13)  
  
"Penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat; diakon haruslah orang yang memelihara iman dalam hati nurani yang suci."
     
Saudara terkasih, benarlah perkataan ini, “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat, menginginkan pekerjaan yang indah.” Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari seorang isteri saja. Ia harus dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, dan cakap mengajar orang; bukan peminum, bukan pemarah, melainkan peramah dan pendamai, bukan hamba uang; seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jika seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimana mungkin ia mengurus jemaat Allah? Janganlah ia seorang yang baru saja bertobat, agar jangan menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. Demikian juga diakon-diakon: haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. Mereka juga harus diuji dahulu, dan baru ditetapkan dalam pelayanan ini setelah ternyata mereka tak bercacat. Demikian pula, para isteri mereka hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah; hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercaya dalam segala hal. Diakon haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anak serta keluarganya dengan baik. Karena mereka yang melaksanakan tugas pelayanan dengan baik, memperoleh kedudukan yang baik, sehingga dalam iman akan Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 2/4, PS 862
Ref. Kamu dipanggil untuk kemerdekaan; maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih.
atau 
Aku hendak hidup dalam ketulusan hati. 
Ayat. (Mzm 101:1.2ac.3a.6-7; Ul: Gal 5:13)
1. Ya Tuhan, aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum-Mu. Aku hendak hidup tanpa cela. Aku hendak hidup dengan suci dalam rumahku, hal-hal yang jahat takkan kuperhatikan.
2. Mataku tertuju kepada rakyatku yang setia, supaya mereka tinggal bersama aku. Orang yang hidup dengan tidak bercela akan mendukung aku.
3. Orang yang melakukan tipu daya, tidak akan diam dalam rumahku. Orang yang berbicara dusta tidak bertahan di dalam pandanganku.

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (Luk 7:16)
Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah mengunjungi umat-Nya. => Alleluya (2x)

Tuhan begitu mengerti penderitaan seorang janda miskin. Maka, Yesus menunjukkan belas kasih-Nya. Yesus juga selalu mengerti setiap penderitaan kita.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:11-17)
  
"Hai pemuda, bangkitlah!"
 
Pada suatu ketika pergilah Yesus ke sebuah kota bernama Nain. Para murid serta banyak orang pergi bersama Dia. Ketika Ia mendekati pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda. Banyak orang kota itu menyertai janda tersebut. Melihat janda itu, tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasih. Lalu Tuhan berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Dihampiri-Nya usungan jenazah itu dan disentuh-Nya. Maka para pengusung berhenti. Tuhan berkata, “Hai Pemuda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah pemuda itu, duduk dan mulai berbicara. Yesus lalu menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang ketakutan, dan mereka memuliakan Allah sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah mengunjungi umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus ke seluruh Yudea dan ke seluruh daerah sekitarnya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Yesus adalah seorang Nabi besar bagi kita. Namun, lebih dari itu Dia juga adalah Tuhan dan Penyelamat kita. Dia mengajarkan kepada kita untuk memiliki rasa berbelas kasih dan solider dengan siapa pun, terutama dengan sesama saudara kita yang menderita. Belarasa dan solider ini amat mudah kita ucapkan dan kita inginkan, namun sulit kita hayati dengan sungguh-sungguh. Mari berbenah diri dalam mengolah kemampuan berbelas kasih dan bersolider kita agar kita memiliki spirit ini seperti Yesus sendiri.

Antifon Komuni (Luk 7:16)
 
Seorang nabi agung muncul di tengah kita, dan Allah telah mengunjungi umat-Nya.
 
Doa Malam

Tuhan Yesus, aku bangga akan sikap-Mu terhadap janda miskin itu. Alangkah bahagianya bila aku pun mampu meneladan Engkau. Maka, utuslah Roh-Mu agar aku mampu berlaku peka terhadap situasi sesamaku yang membutuhkan sapaan dan bantuan. Amin.
 
 
    

RUAH

Senin, 16 September 2019 Peringatan Wajib St. Kornelius, Paus-Martir dan Siprianus, Uskup-Martir

Senin, 16 September 2019
Peringatan Wajib St. Kornelius, Paus-Martir dan Siprianus, Uskup-Martir
   

Inilah pertahanan rohani dan senjata ilahi, yang menjadi pelindung bagi kita: berpuasa, berjaga-jaga dan berdoa. (St. Siprianus)

      

Antifon Pembuka   

Para kudus bergembira di surga, sebab mengikuti jejak Kristus. Mereka menumpahkan darahnya demi Dia, sehingga kini bersukaria selamanya.

       

Doa Pembuka

  
Allah Bapa, Gembala kami, Engkau telah memberi umat-Mu pemimpin setia dan martir perkasa, yaitu Santo Kornelius dan Siprianus. Semoga berkat doa mereka kami tetap teguh, kuat dalam iman dan ulet dalam memajukan kesatuan di dalam Gereja. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
           
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (2:1-8)
 
"Kita harus berdoa untuk semua orang karena Allah ingin semua orang diselamatkan."

Saudara terkasih, pertama-tama aku menasihatkan, agar dipanjatkan doa-doa dan permohonan serta ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, bagi pemerintah dan penguasa, agar kita dapat hidup aman dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan berkenan di hati Tuhan, penyelamat kita. Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. Ia telah menyerahkan diri sebagai tebusan bagi semua orang, suatu kesaksian pada waktu yang tepat. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pewarta dan rasul. Yang kukatakan ini benar, dan aku tidak berdusta. Aku ditetapkan sebagai pengajar bangsa-bangsa dalam iman dan kebenaran. Oleh karena itu aku ingin agar di mana pun kaum lelaki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa kemarahan dan perselisihan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Terpujilah Tuhan, sebab Ia telah mendengarkan doa permohonanku.
 
Ayat. (Mzm 28:2.7.8-9)
1. Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku kearah tempat-Mu yang mahakudus.
2. Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong, sebab itu beria-rialah hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.
3. Tuhan adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya! Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 3:16)
Begitu besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
 
     
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:1-10)
 
"Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai."

Pada suatu ketika, setelah mengakhiri pengajaran-Nya kepada orang banyak, masuklah Yesus ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba yang amat ia hargai. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta agar Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus, dan dengan sangat mohon pertolongan-Nya, katanya, “Sudah selayaknya Engkau menolong dia, sebab ia mengasihi bangsa kita, dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Maka pergilah Yesus bersama mereka. Ketika Yesus tidak jauh lagi dari rumahnya, perwira itu menyuruh beberapa sahabatnya mengatakan kepada Yesus, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku merasa tidak layak menerima Tuan dalam rumahku. Sebab itu aku juga merasa tidak pantas datang sendiri mendapatkan Tuan. Tetapi katakanlah sepatah kata saja, maka hambaku akan sembuh. Sebab aku pun seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang, ‘Pergi!’ maka ia pergi; atau kepada yang lain, ‘Datanglah!’ maka ia datang; dan jika aku berkata kepada hambaku, ‘Kerjakanlah ini!’ maka ia pun mengerjakannya.” Mendengar itu, heranlah Yesus akan dia. Sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu: Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai.” Setelah orang-orang suruhan itu kembali ke rumah, mereka mendapati hamba yang sakit itu sudah sehat kembali.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
 
 
Dalam adorasi-adorasi yang saya dampingi, saya melihat banyak orang berusaha untuk menyentuh jumbai jubah pastor atau velum di saat ada pemberkatan Sakramen Mahakudus. Ada banyak orang percaya bahwa Yesus yang tersamar dalam Roti Kudus memberi daya kekuatan. Ini adalah persoalan Iman. Demikian juga Perwira yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Perwira Romawi itu percaya bahwa Yesus mempunyai kuasa dan kekuatan yang luarbiasa yang akan mampu menyembuhkan hamba-Nya, meskipun tidak datang ke rumahnya. Perwira itu percaya bahwa Yesus mempunyai kuasa Allah dan tidak perlu pergi kepada hambanya yang sakit. Bacaan Injil hari ini memberi contoh kepada kita betapa iman yang kuat kepada Allah melahirkan sebuah mukjizat kesembuhan. Mukjizat membutuhkan sebuah iman.

Dalam kehidupan kita, iman yang sama dituntut. Iman kepada Allah menjadikan hal yang mustahil dapat terjadi dalam kehidupan ini. Persoalannya adalah bahwa kita manusia lebih sering mengandalkan diri pada logika, kehebatan, kekayaan, kekuasaan dan kemampuan pribadi yang seringkali menyingkirkan kuat kuasa Allah. Mukjijat tidak terjadi. rahmat terhalangi di saat kita hanya mengandalkan kehebatan diri kita dan tidak mau rendah hati percaya kepada Kuasa Allah Yesus mengajarkan kepada kita untuk percaya dan berserah kepada Allah.  
   
Antifon Komuni (Luk 22:28-30)
 
Tuhan bersabda, "Kalian tetap bertahan dalam kesusahan. Kerajaan-Ku tersedia bagi kalian dan kalian akan makan minum bersama-Ku."      
  
 
 

           

HS/RENUNGAN HARIAN MUTIARA IMAN 2019

Seri Liturgi: BERDIRI BERLUTUT DUDUK

foto: Youtube HtDiocese
KATKIT (Katekese Sedikit) No. 271

Seri Liturgi
BERDIRI BERLUTUT DUDUK


Syalom aleikhem.
Sikap tubuh jemaat yang seragam sewaktu merayakan Ekaristi, demikian bunyi PUMR no. 42, menandakan kesatuan seluruh umat yang berhimpun dalam satu iman. Kompak, menurut bahasa jaman now. Dalam hal ini, selera pribadi tak boleh diikuti. Perihal tata gerak bukan perkara selera orang per orang, namun ketentuan dan tradisi liturgis Gereja.

Inilah beberapa tata gerak jemaat. Pertama, berdiri kapankah? Dari awal, yaitu Nyanyian Pembuka, sampai akhir Doa Pembuka. Kemudian, umat berdiri lagi sewaktu Bait Pengantar Injil dilagukan sampai Injil selesai diwartakan. Saat Syahadat, umat berdiri sampai selesainya Doa Umat. Terakhir, umat berdiri dari “Berdoalah Saudara” sampai akhir Misa dengan beberapa pengecualian yang disebut di bawah.

Setelah Kudus selesai, umat berlutut selama Doa Syukur Agung, terutama saat Konsekrasi, demikian PUMR no. 43 menyebut. Apakah boleh umat tak berlutut saat Konsekrasi? Boleh dengan syarat: masalah kesehatan (misalnya sakit lutut) dan masalah teknis (tempat tak memungkinkan). Namun, saat imam berlutut setelah Konsekrasi, umat yang tak bisa berlutut hendaknya membungkuk khidmat. Ungkapan hormat dan sembah mesti muncul sewaktu Konsekkrasi.

Kapan umat duduk? Selama Bacaan I & I serta Mazmur Tanggapan, Homili, Persiapan Persembahan, serta saat hening sesudah Komuni.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS/GOPAY/OVO/LINKAJA/SHOPEEPAY/DANA/BCA MOBILE/OCTOMOBILE/SAKUKU,dll klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2023 -

Privacy Policy