Seri Liturgi: BAGAIMANA MENUTUP DOA? (Bagian II)


KATKIT (Katekese Sedikit) No. 328

Seri Liturgi
BAGAIMANA MENUTUP DOA?
Bagian II

Syalom aleikhem.
Amat baik kita belajar berdoa menggunakan rumus tradisional yang telah dikenal berabad-abad dalam Gereja Katolik; salah satunya: arah doa dengan penutupnya harus sinkron. Seturut Pedoman Umum Misale Romawi no. 50, arah doa dibedakan tiga: (1) kepada Bapa, (2) kepada Putra, (3) kepada Bapa dengan menyebut Putra.

Di sini kita belajar no. 1 dan 2 saja. Penutup untuk doa no. 1 (kepada Bapa): “Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa”.

Penutup untuk doa no. 2 (kepada Putra): “Sebab Engkaulah Tuhan, pengantara kami, yang bersama dengan Bapa dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.”

Ingatlah, rumus penutup doa mesti sinkron dengan arah doa. Per definitionem malah sulit; dengan contoh, mudah. Perhatikan! Contoh untuk no. 1: “Ya Bapa, … (isi doa). Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu….” Contoh untuk no. 2: “Ya Tuhan Yesus Kristus, … (isi doa). Sebab Engkaulah Tuhan….”

Sinkron ‘kan awal dan akhir. Doa paling tulus mengalir dari hati. Namun, hati yang diterangi akal budi (in casu: pengetahuan mengenai rumus doa) menyempurnakan penyembahan. Oh ya, masih ada lanjutan corat-coret ini.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring