Seri Liturgi: DOA-DOA BATIN


KATKIT (Katekese Sedikit) No. 250

Seri Liturgi
DOA-DOA BATIN

Syalom aleikhem.
Sewaktu imam melambungkan doa-doa presidensial (yang didoakan oleh imam sendirian) dalam Misa, umat wajib mendengarkannya dengan penuh perhatian. Siapa belum melakukannya? Mulai besok, cobalah lakukan supaya engkau mengamini doa yang benar-benar kauketahui isinya.

Agar umat tahu apa isi doa imam, suasana mesti hening. Tiada aktivitas lain pada saat itu. Doa lain juga jangan, apalagi nyanyian. Bahkan – catatan untuk pemusik – iringan alat musik pun jangan. Suara imam, entah berucap entah bernyanyi, harus clear, jelas dan terdengar kata demi kata. Iringan organ, apalagi yang terlampau keras, dapat menutup atau mengaburkan jelasnya kata-kata doa. Hal ini dicatat dalam PUMR no. 32. Ikutilah petunjuk ini.

Selanjutnya, PUMR no. 33 menulis bahwa ada kalanya imam berdoa batin untuk dirinya sendiri. Dalam adat liturgi Latin, doa semacam itu disebut secreta, didaraskan dalam hati saja atau bisik-bisik sangat lirih. Kapan? Sebelum pembacaan Injil, saat persiapan persembahan, juga sebelum dan sesudah komuni. Dalam ritus lama (Missa Forma Extraordinaria) doa semacam itu lebih banyak lagi.

Meski “peraturan” itu untuk imam, bagus juga umat “mencontoh” polanya. Artinya, adakanlah doa-doa singkat dalam hati pada saat-saat tertentu. Contoh, sebelum pembacaan Alkitab, katakan dalam hati: “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” Anda bisa menyusun sendiri doa-doa batin semacam itu sesuai kebutuhan. Singkat saja, tapi terarah dan mengarahkan hati.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring