Seri Katekismus GEREJA: ALAT PENYELAMATAN

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 219

Seri Katekismus
GEREJA: ALAT PENYELAMATAN

Syalom aleikhem.
Pada hari Pentakosta, tahun 33 M di kota Yerusalem, sebagaimana diceritakan dalam Kisah Para Rasul, Gereja mulai ditampilkan secara terbuka di depan khalayak dan dimulailah pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa.

“Ditampilkan secara terbuka” dapat diartikan “dilahirkan”. Hari Pentakosta itulah memang hari lahirnya Gereja Kristus. Menurut kodratnya, Gereja bersifat misioner karena diutus oleh Sang Kristus untuk menjadikan semua orang murid-murid-Nya.

Gereja Kristus berada di tengah sejarah umat manusia karena terlihat ada di tengah dunia ini. Jadi, Gereja itu kelihatan. Namun, Gereja sekaligus tidak kelihatan alias rohani karena adanya karunia-karunia surgawi di dalamnya. Di dalam Gereja terpadulah unsur manusiawi dan ilahi, juga jasmani dan rohani. Kedua-duanya ada pada Gereja secara serentak dan sekaligus.

Gereja bagaikan sakramen, yaitu tanda dan sarana persatuan dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Persatuan manusia dan Allah ditandakan oleh adanya Gereja, sekaligus diberi “fasilitas” dalam Gereja. Hubungan manusia dengan Allah menjadi mungkin karena adanya Gereja di dunia ini.

Demikian pula halnya hubungan manusia dengan manusia lain dalam iman kepada Sang Kristus. Semua itu menjadi mungkin terjadi berkat adanya Gereja. Itulah yang disebut “tanda dan sarana”, Gereja menandakan sekaligus menjadi sarana bagi hubungan antara Allah dan manusia serta antarmanusia.

Dalam dirinya, Gereja memuat rahmat Allah yang tidak tampak dan menyampaikannya kepada umat manusia sehingga yang tidak tampak itu menjadi tampak, tetapi sekaligus tetaplah tidak tampak karena sifatnya yang rohani. Rahmat Allah itu rohani, namun dapat dilihat wujudnya melalui tanda-tanda (lambang yang fisik) yang ada/dipakai dalam Gereja.

Karena mengandung dan menyampaikan rahmat ilahi itu, Gereja disebut “sakramen”. Karena sakramen-sakramen (dalam arti tujuh sakramen) berasal/berada dalam Gereja dan diberikan oleh Gereja, Gereja pun “dapat” disebut sakramen.

Melalui Gereja, Sang Kristus menyatakan cinta Allah kepada umat manusia. Di dalam tangan-Nya, Gereja menjadi “alat penyelamatan bagi semua orang”, dan karena itulah Gereja disebut sebagai “alat Kristus”. Gereja bukan penyelamat – sebab penyelamat adalah Sang Kristus – melainkan alat penyelamatan yang digunakan oleh Sang Kristus untuk menyelamatkan umat manusia jaman now dan sepanjang masa.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 767 – 780

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring