Seri Alkitab INJIL MARKUS 4:18-21

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 230

Seri Alkitab
INJIL MARKUS 4:18-21

Syalom aleikhem.
Mrk. 4:18-19
Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Et alii sunt, qui in spinis seminantur: hi sunt, qui verbum audierunt, et aerumnae saeculi et deceptio divitiarum et circa reliqua concupiscentiae introeuntes suffocant verbum, et sine fructu efficitur.

Bahasa Yunani untuk “kekuatiran dunia ini” berbunyi “kekuatiran zaman ini”. Maksudnya, kekuatiran mengenai masalah hidup sehari-hari. Kekuatiran seperti itu dapat membuat orang berpaling dari hal rohani. Alhasil, orang hanya mementingkan hal jasmani, melupakan perihal iman.

Selanjutnya, ada “tipu daya kekayaan”. Maksudnya, kemewahan yang menjerumuskan. Kekayaan di sini bermakna negatif, bukan netral dalam arti harta milik pada umumnya. Tipu daya kekayaan artinya kenikmatan hidup dari harta yang mengarahkan orang pada kehampaan. Arti lain: orang mengira bahwa kekayaan adalah hal terpenting dalam hidup dan mampu mengatasi segala masalah.

Kata “keinginan” dalam ayat ini bermakna hawa nafsu, bukan keinginan dalam arti netral. Semua itu, hal-hal negatif tersebut di atas, membuat firman Allah tak menghasilkan apapun yang baik.

Mrk. 4:20
Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”
Et hi sunt, qui super terram bonam seminati sunt: qui audiunt verbum et suscipiunt et fructificant unum triginta et unum sexaginta et unum centum ”.

Arti “mendengar” sudah jelas. Lalu, apa arti “menyambut firman”? Artinya, mempercayai dan menaati perkataan Allah. Istilah “berbuah” mudah dipahami dalam bahasa Indonesia, kita mengenal “membuahkan hasil”. Itulah arti berbuah, ada hasil yang baik.

Mrk. 4:21
Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.
Et dicebat illis: “ Numquid venit lucerna, ut sub modio ponatur aut sub lecto? Nonne ut super candelabrum ponatur?

Ini perumpamaan lain yang dikatakan Tuhan Yesus. Kalimat aslinya berupa pertanyaan retoris. Apa itu “pelita”? Lampu minyak bersumbu yang biasa dipakai untuk penerangan oleh orang zaman dulu. Apa pula “gantang”? Itu suatu wadah yang digunakan untuk menakar volume biji-bijian, biasanya gandum. Bentuknya semacam periuk kecil. Gantang terbuat dari tanah liat, tidak tembus cahaya. Kalau lampu minyak diletakkan di bawahnya, sinar tak bisa tembus, gelap jadinya. Sia-sia menyalakan lampu minyak. Sama sia-sianya dengan menaruhnya lampu itu di bawah ranjang. Gelap.

Apa itu “kaki dian”? Ini istilah untuk menyebut tempat/tiang yang agak tinggi untuk menaruh lampu minyak. Dengan ditaruh di tempat agak tinggi, sinar pelita menerangi ruangan. By the way, “dian” itu artinya lampu minyak, jadi sama dengan pelita.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring