Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Kamis, 18 Juni 2026 Hari Biasa Pekan XI

 
Kamis, 18 Juni 2026
Hari Biasa Pekan XI
    
“Misi Gereja adalah untuk “mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya ditengah semua bangsa. Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu di dunia”. Di satu sisi, Gereja adalah “sebuah sakramen – “yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (Deklarasi Dominus Iesus, No. 18)
   
Antifon Pembuka (Mzm 111:3-4)   
  
Agung dan semaraklah karya Tuhan, keadilan-Nya tetap untuk selama-lamanya. Perbuatan-Nya yang agung pantas dikenang. Tuhan itu pengasih dan penyayang.

Doa Pagi

    
Allah Bapa kami di surga, perkenankanlah kami menyapa nama-Mu sebagaimana dilakukan Putra-Mu terkasih. Semoga kami dapat menghayati, bahwa Engkaulah Bapa kami dan kami saling bersaudara karena se-Bapa. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.      
Bacaan dari Kitab Putera Sirakh (48:1-14)
  
"Elia terangkat dalam badai, dan Elisa dipenuhi dengan rohnya."
   
 Dahulu kala tampillah Nabi Elia, bagaikan api; sabdanya membakar laksana obor. Dialah yang mendatangkan kelaparan atas orang Israel dan karena geramnya, jumlah mereka dijadikannya sedikit. Atas firman Tuhan langit dikunci olehnya, dan api diturunkannya sampai tiga kali. Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mukjizatmu! Siapa dapat memegahkan diri sama dengan dikau? Orang mati kaubangkitkan dari alam arwah dan dari dunia orang mati dengan sabda Yang Mahatinggi. Raja-raja kauturunkan sampai jatuh binasa, dan orang-orang tersohor kaujatuhkan dari tempat tidurnya. Teguran kaudengar di Gunung Sinai, dan di Gunung Horeb keputusan untuk balas dendam. Engkau mengurapi raja-raja untuk menimpakan balasan, dan nabi-nabi kauurapi menjadi penggantimu. Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi. Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub. Berbahagialah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dalam kasih, sebab kami pun pasti akan hidup. Elia ditutupi dengan olak angin, tetapi Elisa dipenuhi dengan rohnya. Selama hidup Elisa tidak gentar terhadap seorang penguasa, dan tidak seorang pun menaklukkannya. Tidak ada sesuatu pun yang terlalu ajaib baginya, bahkan di kubur pun jenazahnya masih bernubuat. Sepanjang hidupnya ia membuat mukjizat, dan malah ketika meninggal pekerjaannya menakjubkan.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan

Ref. Bersukacitalah karena Tuhan, hai orang-orang benar.
Ayat. (Mzm 97:1-2.3-4.5-6.7; R:9a)

1. Tuhan adalah Raja. Biarlah bumi bersorak-sorai, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada di sekeliling-Nya, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.
2. Api menjalar di hadapan-Nya, dan menghanguskan para lawan di sekeliling-Nya. Kilat-kilat-Nya menerangi dunia, bumi melihatnya dan gemetar.
3. Gunung-gunung luluh laksana lilin di hadapan Tuhan, di hadapan Tuhan semesta alam. Langit memberitakan keadilan-Nya dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.
4. Akan mendapat malulah semua orang yang beribadah kepada patung, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala dewata sujud menyembah Allah.

Bait Pengantar Injil do = f, 2/4, PS 956

Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Rm 8:15bc)
Kalian akan menerima roh pengangkatan menjadi anak, dalam roh itu kita akan berseru, “Abba, ya Bapa”.
       

Inilah Injil Suci menurut Matius (6:7-15)

 
"Berdoalah kalian demikianlah."
   
Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus, “Bila kalian berdoa janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka doanya akan dikabulkan karena banyaknya kata-kata. Jadi janganlah kalian seperti mereka. Karena Bapamu tahu apa yang kalian perlukan, sebelum kalian minta kepada-Nya. Maka berdoalah kalian demikian, ‘Bapa kami, yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di surga. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.’ Karena, jikalau kalian mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kalian pula. Tetapi jikalau kalian tidak mengampuni orang, Bapamu pun tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe
(U. Terpujilah Kristus)

 

Renungan 
  
 Semalam saya membaca bahwa 2,5 miliar umat Kristen di seluruh dunia kemungkinan besar berdoa Doa Bapa Kami pada suatu waktu, mungkin bahkan setiap hari. Dan itu membuat saya berpikir tentang pertama kali saya ingat mampu melafalkan Doa Bapa Kami sendiri. Saya dibimbing dan diajari di rumah dan di sekolah, tetapi saya tidak ingat momen ketika saya mampu melakukannya sendiri, mungkin saat melafalkan Rosario.
   
Tentu saja di zaman saya ketika liturgi masih dalam bahasa Latin, itu tidak akan dilakukan di Misa seperti yang kita lakukan setiap hari. Tetapi itu adalah ringkasan yang sangat sederhana dan praktis yang Yesus berikan kepada kita dan kepada orang-orang di zaman-Nya tentang bagaimana kita harus mendekati Bapa kita dalam doa yang tidak terlalu panjang, tetapi sangat berpengaruh karena ada begitu banyak elemen yang berbeda di dalamnya.
   
Hampir seperti kisah kita yang familiar tentang Sabda Bahagia dalam Khotbah di Bukit, enam, atau lebih tepatnya delapan, delapan permohonan yang benar-benar menentukan arah hidup orang-orang di zaman Yesus. Jadi, Anda lihat, doa ini dimulai dengan memuji Allah Bapa dan diakhiri dengan doa untuk pembebasan. Dan mungkin hal yang paling mengganggu adalah penekanan pada pengampunan di akhir doa, sebuah topik, sebuah subjek yang membuat sebagian besar dari kita sangat, sangat tidak nyaman.
 
Jika kita tidak memahami pesan dalam kata-kata Doa Bapa Kami, Yesus mengambil kesempatan lain untuk memperjelas ketika Dia mengingatkan semua orang, "Karena, jikalau kalian mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kalian pula. Tetapi jikalau kalian tidak mengampuni orang, Bapamu pun tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:14-15) 
       
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini 

 
Antifon Komuni (Mat 6:14)
 
Jikalau kalian mengampuni kesalahan orang, Bapamu di surga akan mengampuni kalian juga.  
  
Doa Malam   
  
Terima kasih Yesus, Engkau telah mengajarkan kami suatu doa yang sempurna. Berkatilah kami agar selalu berdoa “Bapa Kami” dengan penuh iman dan sepenuh hati. Amin.    
  
      LM/RENUNGAN PAGI

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy