Senin, 22 Juni 2026
Hari Biasa Pekan XII
Oleh Tuhan kita diberi kurnia istimewa, boleh ikut memakai nama yang dari Allah, nama yang melebihi segala nama: kita disebut orang Kristiani (St. Gregorius dari Nissa)
Antifon Pembuka (Mzm 33:22)
Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, sebab pada-Mulah kami berharap.
Doa Pagi
Allah Bapa tujuan hidup kami, semoga kami patuh setia melaksanakan tugas yang kami terima dari-Mu. Perkenankanlah kami berusaha, agar dunia ini layak didiami setiap orang sesuai dengan cita-cita Yesus Kristus, Jalan Kehidupan kami, yang bersama Dikau, dalam persekutuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (17:5-8.13-15a.18)
Oleh Tuhan kita diberi kurnia istimewa, boleh ikut memakai nama yang dari Allah, nama yang melebihi segala nama: kita disebut orang Kristiani (St. Gregorius dari Nissa)
Antifon Pembuka (Mzm 33:22)
Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, sebab pada-Mulah kami berharap.
Doa Pagi
Allah Bapa tujuan hidup kami, semoga kami patuh setia melaksanakan tugas yang kami terima dari-Mu. Perkenankanlah kami berusaha, agar dunia ini layak didiami setiap orang sesuai dengan cita-cita Yesus Kristus, Jalan Kehidupan kami, yang bersama Dikau, dalam persekutuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
![]() |
| Credit: Lester120/istock.com |
Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (17:5-8.13-15a.18)
"Tuhan menjauhkan Israel dari hadapan-Nya, dan tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja."
Pada waktu itu setelah memenjarakan Raja Hosea, Salmaneser, raja Asyur, menjelajah seluruh negeri Israel. Ia menyerang Kota Samaria dan mengepungnya selama tiga tahun. Dalam tahun kesembilan zaman Raja Hosea raja Asyur merebut Samaria. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur, ke dalam pembuangan, dan menyuruh mereka tinggal di Halah, di tepi Sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai. Hal itu terjadi, karena orang Israel telah berdosa kepada Tuhan, Allah mereka, yang telah menuntun mereka dari tanah Mesir, dari kekuasaan Firaun, raja Mesir, dan karena mereka telah menyembah allah lain. Lagi pula mereka telah hidup menurut adat istiadat bangsa-bangsa yang telah dihalau Tuhan dari depan orang Israel, dan menurut ketetapan yang telah dibuat raja-raja Israel. Tuhan telah memperingatkan orang Israel dan orang Yehuda dengan perantaraan semua nabi dan semua pelihat, "Berbaliklah kalian dari jalan-jalanmu yang jahat itu; dan tetaplah mengikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku para nabi." Tetapi mereka tidak mau mendengarkan; mereka bertegar hati seperti nenek moyangnya yang tidak percaya kepada Tuhan, Allah mereka. Mereka menolak ketetapan dan perjanjian Tuhan, yang telah diadakan dengan nenek moyang mereka, mereka membuang peraturan-peraturan Tuhan yang telah disampaikan kepada mereka. Sebab itu Tuhan sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya; tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Selamatkanlah kami dengan tangan kanan-Mu, ya Tuhan, dan jawablah kami.
Ayat. (Mzm 60:3.4-5.12-13)
1. Ya Allah, Engkau telah membuang kami, dan menembus pertahanan kami; Engkau telah murka; pulihkanlah kami!
2. Engkau telah menggoncangkan bumi dan membelahnya; perbaikilah retak-retaknya, sebab kami telah goyah. Engkau telah membuat umat-Mu mengalami penderitaan yang berat, Engkau telah memberi kami minum anggur yang memusingkan.
3. Bukankah Engkau, ya Allah, yang telah membuang kami? Bukankah Engkau tidak maju bersama bala tentara kami? Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sialah penyelamatan dari manusia.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Ibr 4:12)
Firman Tuhan itu hidup dan kuat, menusuk ke dalam jiwa dan roh.
Inilah Injil Suci menurut Matius (7:1-5)
Inilah Injil Suci menurut Matius (7:1-5)
"Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri."
Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian sendiri. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu, ‘Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu’, padahal di dalam matamu sendiri ada balok? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe
(U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Salah satu kelemahan kita sebagai manusia adalah menghakimi orang lain, menunjuk jari pada orang lain, melihat apa yang dia lakukan, melihat apa yang dia lakukan, dan melupakan diri kita sendiri, melupakan apa yang kita lakukan. Kita sangat cepat menghakimi orang lain daripada merenungkan diri sendiri untuk melihat apa yang perlu kita perbaiki dalam hidup kita. Ada banyak hal yang kita lakukan yang perlu diperbaiki, yang perlu diluruskan, bukan hanya melihat apa yang dilakukan orang lain.
Yesus menyampaikan kata-kata keras kepada kita semua hari ini dalam Injil karena Dia ingin kita melakukan hal yang benar. Dia ingin kita menjadi baik terlebih dahulu, kemudian kita dapat membantu sesama. Menghakimi orang lain tidak akan membantu kita untuk membantu diri kita sendiri. Dia berkata, janganlah kita menghakimi. Yesus menyampaikan kata-kata keras kepada mereka yang akan menghakimi orang lain tanpa menyadari kesalahan mereka sendiri. Izinkan saya memberi satu contoh, mengemudi. Berapa banyak dari kita yang pernah keluar dan mulai berteriak kepada pengemudi yang ingin masuk ke jalur kita tanpa rambu, terkadang kita berkata, apa itu? Dan kita merasa jika kita menyebabkan kecelakaan, kita akan mati atau membunuh orang lain. Dan ini membuat kita berteriak dan berkata, apa yang kamu lakukan? Dan ada juga orang yang berteriak kepada kita karena mungkin kita linglung, kita ingin mengangkat telepon, lalu kita pergi ke jalur orang lain. Mereka juga berteriak kepada kita, apa yang kamu lakukan? Jadi menghakimi orang lain tidak memberi kita kesempatan untuk menolong diri kita sendiri. Itu juga hanya membuat kita membandingkan diri kita sendiri, oh, aku lebih baik darimu. Aku lebih baik dari orang itu. Jadi tidak ada belas kasihan di dalamnya.
Dalam bacaan pertama, raja Asyur mengirim anak-anak Israel ke negeri asing, ke pengasingan. Tuhan memperingatkan orang Israel untuk meninggalkan jalan-jalan jahat mereka, untuk berhenti menghakimi orang lain, untuk berhenti melakukan hal-hal yang tidak Tuhan inginkan dari mereka. Marilah kita berdoa hari ini semoga Allah Yang Mahakuasa menolong kita. Semakin kita menghakimi orang lain, Tuhan juga akan menghakimi kita dengan cara yang sama. Terkadang kita menghakimi orang lain dan pada akhirnya kita menyadari bahwa, oh, kitalah yang salah karena kita tidak mendengarkan mereka, kita hanya menghakimi mereka. Tetapi pada akhirnya, kita salah karena menghakimi mereka secara keliru. Sebaliknya, mereka benar jika kita mendengarkan mereka sebelum menghakimi mereka. Tepat sebelum kita menghakimi, Dia akan membantu kita untuk memahaminya. Yang perlu kita lakukan bukanlah menghakimi, tetapi berbelas kasih kepada orang lain dan membantu mereka melakukan hal yang benar. Dan kita juga harus introspeksi diri, memperbaiki diri sebelum menghakimi orang lain.
Orang Kudus hari ini: 22 Juni 2026 St. Paulinus dari Nola, St. Yohanes Fisher, dan St. Thomas More
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Godaan yang paling sering dan paling tersembunyi ialah kekurangan iman
dari pihak kita. Hal itu tidak menyatakan diri dalam ketidakpercayaan
jelas, tetapi de facto menonjolkan hal-hal lain. Kalau kita mulai
berdoa, seribu satu pekerjaan dan kesusahan yang kita anggap sangat
mendesak, menampilkan diri sebagai sangat penting. Inilah saatnya, di
mana menjadi nyata, kepada apa hati kita memberikan prioritas. Suatu
ketika kita menghadap Tuhan sebagai pertolongan kita yang terakhir,
tetapi kita tidak selalu benar-benar yakin akan pertolongan-Nya. Pada
waktu lain kita menjadikan Tuhan itu sekutu kita, namun hati kita tetap
sombong. Dalam semua hal ini kekurangan kita dalam iman menyatakan bahwa
kita belum cukup rendah hati: "Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat
apa-apa" (Yoh 15:5). (Katekismus Gereja Katolik, 2732)
RENUNGAN PAGI




