Minggu, 03 Juli 2022 Hari Minggu Biasa XIV

 

Minggu, 03 Juli 2022
Hari Minggu Biasa XIV
     
Kebebasan tidak memberi kita izin untuk melakukan hal-hal yang buruk. Kebebasan diberikan kepada kita oleh Allah sehingga kita dapat melakukan hal-hal yang baik. (St. Paus Yohanes Paulus II, Homili Kongres Ekaristi Internasional di Philadelphia).

Antifon Pembuka (Bdk. Mzm 48:10-11)

Kami mengenangkan kasih setia-Mu, ya Allah, dalam rumah-Mu yang kudus. Seperti nama-Mu memenuhi seluruh bumi, demikian juga kemahsyuran-Mu, ya Allah; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.

Your merciful love, O God, we have received in the midst of your temple. Your praise, O God, like your name, reaches the ends of the earth; your right hand is filled with saving justice.

Suscepimus, Deus, misericordiam tuam in medio templi tui: secundum nomen tuum Deus, ita et laus tua in fines terræ: iustitia plena est dextera tua.
Mzm. Magnus Dominus et laudabilis nimis: in civitate Dei nostri, in monte sancto eius.

    
Doa Pagi

Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau menghendaki agar kami mengikuti Putra-Mu dengan sepenuh hati. Kami mohon, bebaskanlah kami dari segala hambatan agar kami dapat menjadi pengikut-pengikut-Nya yang setia dan siap sedia melaksanakan kehendak-Nya. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
     
Bacaan dari Kitab Yesaya (66:10-14c)
   
"Aku akan mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai."
 
Bersukacitalah bersama dengan Yerusalem, bersorak-sorailah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya, supaya kamu menghisap dari susu yang menyegarkan dan menjadi kenyang, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas. Sebab beginilah firman Tuhan: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah kamu akan Kuhibur; kamu akan dihibur di Yerusalem. Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat; maka tangan Tuhan akan nyata kepada hamba-hamba-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah. 
 
Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi.
Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu, karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 66:1-3a.4-5.6-8a.16.20)
1. Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi; mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Katakanlah kepada Allah "Betapa dahsyat segala pekerjaan-Mu.
2. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, seluruh bumi memazmurkan nama-Mu." Pergilah dan lihatlah karya-karya Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia!
3. Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang berjalan kaki menyeberang sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita kar'na Dia, yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya.
4. Marilah, dengarlah, hai kamu semua yang takwa pada Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadapku. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku, dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia (6:14-18)
 
"Pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus."
 
Saudara-saudara, aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya; tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Bagi semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, dan bagi semua orang yang menjadi milik Allah, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat. Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. Saudara-saudara, kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai rohmu. Amin.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah. 
 
  
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4 PS 952
Ref. Alelluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Kol 3:15a.16a)
Hendaklah damai sejahtera Kristus menguasai hatimu, dan perkataan Kristus diam di antara kamu dengan segala kekayaannya.

Inilah Injil Suci menurut Lukas 10:1-12.17-20 (Singkat: 10:1-9)
 
"Salammu itu akan tinggal padanya."
 
Sekali peristiwa Tuhan menunjuk tujuh puluh murid. Ia lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit! Sebab itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, agar ia mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu. Pergilah! Camkanlah, Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu ‘Damai sejahtera bagi rumah ini’. Dan jika di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya; tetapi jika tidak, salammu akan kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jika kamu masuk ke dalam sebuah kota dan diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ. Dan katakanlah kepada mereka, ‘Kerajaan Allah sudah dekat padamu’.”
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe  
(U. Terpujilah Kristus)


Renungan
 
Salib kayu yang indah dari periode Baroque oleh seorang penulis tak dikenal yang diawetkan di dalam Biara Santa Maria di Follina di Perbukitan Prosecco Karya:Orietta Gaspari/istockphoto.com


Salib adalah simbol Kekristenan yang paling dikenal secara universal. Setiap institusi yang ingin mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen akan memiliki simbol salib. Dan bagi kami umat Katolik, itu lebih dari sekedar simbol salib. Itu juga akan menjadi salib – salib dengan sosok Yesus di atasnya. Dan lebih dari itu, kita akan mengidentifikasi diri kita sebagai umat Katolik setiap kali kita membuat tanda salib. Di satu sisi itu adalah sikap Katolik yang unik.

Kita membuat tanda salib ketika kita berdoa. Dan terlebih lagi di gereja kita akan membuat tanda salib yang besar. Tetapi di food court, ketika kita mengucapkan "doa sebelum makan" kita membuat tanda salib kecil, bahkan mungkin berharap tidak ada yang melihat kita melakukannya. Tetapi apakah kita membuat tanda salib besar atau kecil, itu adalah ekspresi iman. Saat kita membuat tanda salib, kita memanggil nama Tuhan yang adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Saat kita membuat tanda salib, kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa Tuhan berdiam di dalam kita dan kita harus menjalani hidup kita di dalam Tuhan. Namun ada juga alasan lain yang sering terlupakan mengapa kita membuat tanda salib. Ketika kita membuat tanda salib, kita menandai diri kita lima kali. Lima tanda ini mewakili lima luka Yesus. Itulah lima luka yang Ia derita di kayu salib dan bahkan setelah Kebangkitan-Nya, bahkan di dalam tubuh kemuliaan-Nya, Ia menahan kelima luka itu. Melalui luka-luka itulah St. Thomas membuat pernyataan yang mendalam – Ya Tuhanku dan Allahku. Oleh luka-luka itulah kita disembuhkan (1 Petrus 2:24) dan oleh darah yang mengalir dari luka-luka itulah kita diselamatkan. 
 
Itulah sebabnya dalam bacaan ke-2, Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat Galatia bahwa tanda-tanda di tubuhnya adalah tanda-tanda Yesus, dan dia mengacu pada lima luka itu. Dia menjelaskannya seperti ini: "Aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia."

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa kedamaian dan belas kasihan datang kepada semua orang yang mengikuti jalan Kristus, dan dengan menanggung luka-luka Yesus, kita juga akan menerima penderitaan kita sendiri demi Yesus (Kol 1:24).

Ketika kita melihat dalam penderitaan kita sendiri luka-luka Yesus, maka kita akan bersedia menjadi pekerja dalam tuaian Tuhan. Dan kita akan bersedia dikirim seperti anak domba di antara serigala dan untuk membawa perdamaian ke dunia yang bermasalah dan berbahaya.

Di tengah kesulitan dan bahaya inilah Yesus berkata Dia akan memberi kita kekuatan untuk menginjak ular dan kalajengking dan seluruh kekuatan musuh. Nah untuk itu, seorang misionaris dapat memberikan kesaksian ketika dia menghubungkan perjumpaannya dengan bahaya. Misionaris ini melayani di daerah pedesaan di mana listrik dihasilkan oleh generator diesel.

Suatu malam badai, generator gagal dan rumahnya dalam kegelapan total. Dia tidak memiliki obor tetapi dia ingat bahwa ada lilin dan korek api di gereja. Jadi dia meraba-raba, keluar dari rumah dan menggunakan dinding sebagai panduan, berjalan ke gereja, semua ini dalam kegelapan.

Akhirnya, dia sampai ke lilin dan menyalakan lilin, dia berjalan kembali ke rumah dengan selamat. Beberapa hari kemudian, terjadi badai lagi, dan lagi-lagi genset mati. Kali ini, misionaris telah siap dan dia memiliki lampu obor. Jadi, dengan percaya diri, dia pergi ke gereja untuk mengambil lilin. Tetapi ketika dia membuka pintu untuk melangkah ke dalam gereja, langkahnya tiba-tiba terhenti. Karena, saat dia menyorotkan cahaya obor di depannya, dia melihat seekor ular melingkar di pintu masuk; itu berlindung dari hujan. 
  
Dia segera berbalik dan langsung menuju rumahnya, dan ketika dia kembali, dia berlutut untuk berterima kasih kepada Tuhan (tentu saja dia membuat tanda salib yang besar) Saat dia memikirkannya, hanya beberapa hari yang lalu, dia melakukan hal yang sama dalam kegelapan pekat dan, syukurlah, tidak ada ular. Dengan cara apa pun yang kita inginkan, kita dapat yakin bahwa Yesus melindungi misionaris itu, ketika ia berjalan ke gereja dalam kegelapan gulita. Yesus ingin melindungi kita saat kita berjalan di dunia yang digelapkan oleh ketakutan dan bahaya ini, di mana serigala melolong, ular menggigit dan kalajengking menyengat.

Yesus mengutus kita ke dunia untuk menjadi alat dan saluran kedamaian-Nya di tengah ketakutan dan bahaya. Tetapi marilah kita juga ingat bahwa perdamaian bukanlah tidak adanya ketakutan dan bahaya. Akan selalu ada ketakutan dan bahaya. Damai adalah hadirat Tuhan, di tengah ketakutan dan bahaya.

Di setiap Misa, Yesus berkata kepada kita – Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku kuberikan kepadamu. Jadi Yesus sudah memberi kita damai sejahtera-Nya. Itulah yang kita miliki. Itulah yang kita harus – orang yang damai. Karena Yesus adalah damai sejahtera kita; dari luka-luka-Nya mengalir kedamaian dan belas kasihan. Maka ketika kita menghadapi ketakutan dan bahaya, marilah kita membuat tanda salib. Luka-luka Yesus akan melindungi kita. Oleh bilur-bilur-Nya kita akan disembuhkan dan kita akan diselamatkan.. (RENUNGAN PAGI) 

Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
  
Antifon Komuni (Mzm 34:9)

Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan. Berbahagialah orang yang berharap pada-Nya.

Taste and see that the Lord is good; blessed the man who seeks refuge in him.

Gustate et videte, quoniam suavis est Dominus: beatus vir, qui speret in eo.