Pernikahan dan Tradisi Kroasia

 


Keluarga adalah salah satu institusi yang paling terkena dampak krisis di zaman kita yang dekaden ini. Sentimen agama dan moral praktis menghilang seolah-olah tercabik-cabik. Tingkat perceraian sangat tinggi—diperkirakan 50% pernikahan berantakan. Selain itu, ada serikat pekerja terlarang, yang umum dan tampaknya tanpa konsekuensi.


Itulah mengapa sangat baik untuk mendengar—lihatlah!—bahwa terlepas dari kedengkian zaman, ada sebuah kota di dunia ini yang belum menyerah pada kerusakan universal dan di mana ikatan keluarga begitu kuat sehingga tidak ada catatan perceraian.


Kota istimewa ini adalah Siroki-Brijeg. Terletak di Bosnia, sekitar 26.000 penduduk asal Kroasia, selalu siap untuk mempertahankan iman Katolik mereka bahkan dalam menghadapi kesulitan terburuk.


Menurut tradisi Kroasia, ketika pasangan menikah, imam berkata kepada mereka bahwa mereka telah menemukan salib mereka satu sama lain: "Ini adalah salib untuk mencintai, untuk membawanya bersamamu, sebuah salib yang tidak untuk dibuang tetapi untuk disimpan."


Ketika pengantin memasuki gereja pada hari pernikahan mereka, mereka membawa salib bersama mereka. Ketika saatnya tiba untuk bertukar janji mereka, pengantin wanita dan pria meletakkan tangan kanannya di salib sehingga kedua tangan disatukan di salib.


Imam menutupi tangan mereka dengan stolanya ketika mereka mengucapkan janji perkawinan, menurut ritus Gereja, untuk setia satu sama lain, dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, sampai maut memisahkan mereka.


Kemudian, alih-alih saling berciuman, pengantin pria dan wanita mencium salib. Mereka yang menyaksikan upacara itu mengerti darinya bahwa jika salah satu dari mereka meninggalkan yang lain, dia meninggalkan Kristus di kayu Salib.


Setelah upacara, pengantin baru membawa salib yang diberkati ke rumah mereka dan meletakkannya di tempat yang terhormat. Itu akan selamanya menjadi acuan dan tempat doa keluarga.


Suami dan istri akan mengajar anak-anak mereka untuk mencium salib setiap hari dan tidak tidur seperti orang kafir, tanpa terlebih dahulu mengucap syukur kepada Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus memegang mereka dan tidak ada yang perlu ditakuti.


Laporan dari beberapa situs Katolik tepercaya mengatakan bahwa “Siroki-Brijeg luar biasa … karena dalam ingatan kolektif tidak pernah ada satu perceraian pun di antara umat Katolik Kroasia di kota itu.”


Apa penjelasan untuk fakta yang begitu luar biasa?


Pertama, konsisten dengan tradisi Kroasia yang mendalam, penduduk kota ini hampir 100% Katolik, dan mereka menjalankan iman mereka dengan sangat serius. Mereka menganggapnya sebagai suatu kehormatan untuk mempertahankan pernikahan yang tak terceraikan dan keluarga monogami yang dibentuk oleh penyatuan seorang pria dan seorang wanita—sebagaimana dinyatakan dalam Konstitusi negara itu—dengan restu dari Gereja Bunda Suci.


Namun, apa yang menandai sikap religius yang mendalam ini adalah bahwa mereka melihat  pernikahan sebagai  sebuah salib yang tak terpisahkan bersatu dengan Salib Kristus. Hal ini menyebabkan pasangan menghadapi persatuan mereka tanpa romantisme, harapan palsu, atau ilusi. Secara realistis, mereka tahu bahwa di lembah air mata ini setiap orang memiliki kekurangan. Tidak ada saling pengertian tanpa saling melatih kesabaran.


Pandangan Katolik tentang perkawinan inilah yang mencegah terjadinya perceraian dan perpisahan. Ketika pencobaan, kesalahpahaman, ketidaksepakatan dan kesulitan yang biasa terjadi pada semua pernikahan muncul, kedua pasangan berlutut di depan salib dan dengan iman yang tak tergoyahkan meminta kekuatan untuk menanggungnya, karena kuk Tuhan kita “mudah, dan beban-Nya ringan.” Sikap ini sesuai dengan keyakinan bahwa salib akan memberi mereka kekuatan untuk mengatasi cobaan sehari-hari jika mereka mendasarkan pernikahan mereka di atasnya.