Dapatkah orang percaya kepada Yesus dan menolak Salib?

 

Jeff Turner, Flickr / CC BY 2.0

 

 Kita harus membaca kisah pengakuan iman Petrus secara keseluruhan untuk menemukan jawabannya.

Mat 16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” 16 Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 17 Kata Yesus kepadanya: ”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18 Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

  Bagian dalam Injil Matius yang menggambarkan pengakuan iman Petrus harus selalu dibaca secara keseluruhan. Kita dapat tergoda untuk berhenti hanya pada karunia yang diberikan kepada rasul itu untuk menjawab dengan jawaban yang benar atas pertanyaan Kristus; Simon Petrus menjawab, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup." Jawab Yesus kepadanya, ”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi karunia luar biasa yang diberikan kepadanya tidak melindunginya dari pemikiran duniawi yang terus dia ikuti. Memang, yang harus dilakukan Yesus hanyalah mengangkat topik tentang salib untuk segera memicu reaksi penolakan Petrus dalam Mat 16:22:Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ”Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.

 Mat 16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. 22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ”Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” 23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

  Dapatkah seseorang percaya kepada Yesus dan menolak salib? Melakukan hal itu sebenarnya berarti memiliki iman yang jahat: Mat 16:23 "Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. Diabolis secara harfiah berarti “terbagi.” Kecenderungan manusiawi kita: menginginkan yang serba enak dan nyaman serta menyangkal segala bentuk penderitaan. Penyangkalan diri nyata dalam berbagai bentuk pengendalian diri terhadap berbagai macam nafsu, kenikmatan, keserakahan dan kesenangan terhadap hal-hal duniawi. 

Apakah kita mau menyangkal diri kita sendiri dan memikul salib kita dan mengikuti Yesus? Hidup biasanya memberi kita berbagai salib. Beberapa dari mereka lebih sulit daripada yang lain. Namun, tidak pernah mudah untuk menerima salib, apakah itu penyakit, kekhawatiran keuangan, kesulitan keluarga, depresi, pengangguran, dll. Yang mungkin membantu atau merugikan kita adalah bagaimana kita memandang salib kita. Apakah kita menganggapnya sebagai hukuman dari Tuhan atau apakah kita percaya bahwa salib hanyalah bagian dari hidup kita, seperti halnya sukacita dan cinta adalah bagian dari kondisi manusiawi kita?

 Menerima salib bukan berarti mencintai penderitaan, tetapi membuat pilihan yang sesuai dengan keinginan besar kita. Kita sangat sering hidup dengan logika ini. Yesus mengasihi kita dan sebagai akibatnya menyerahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib. Bagaimana kita bisa melarang Dia untuk memberikan hidup-Nya demi cinta kita? Bisakah kita mengatakan kepada orang yang mencintai, "Cinta, tapi tanpa komitmen?" Cinta seperti itu hanya akan menjadi kata yang hampa dan bukan fakta yang menyelamatkan kita. Masih ada jalan panjang yang harus dilalui oleh Petrus (dan kita).