| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Meditasi Antonio Kardinal Bacci: Novena Natal Hari Ketiga (18 Desember)


 18 Desember
NOVENA NATAL

Jam-jam Pertama Masa Kecil Yesus Kristus


Masuklah dalam roh ke dalam kandang di Betlehem dan dengan rendah hati berlutut di hadapan Firman Tuhan yang menjadi manusia. Apa yang Yesus lakukan pada saat-saat pertama kehidupan fana-Nya? Dengan satu tindakan kehendak ilahi-Nya, Dia dapat mengubah umat manusia secara instan. Namun Dia datang untuk menebus manusia dan mengkhotbahkan kepada mereka kebajikan-kebajikan yang paling mereka butuhkan—kerendahan hati, ketidakpedulian terhadap harta benda duniawi, dan penerimaan terhadap penderitaan. Dia mengajar mereka untuk menanggung penderitaan, bukan sebagai pemberontakan atau bahkan sebagai kebutuhan yang tidak menyenangkan, tetapi sebagai sarana penyucian dan pengudusan. Sebelum zaman Yesus Kristus, penderitaan ditakuti dan dibenci. Dia mengajarkan kita untuk menyukainya karena garam dunialah yang menyelamatkan kita dari kerusakan, karena hal ini menjauhkan kita dari hal-hal duniawi, dan karena hal ini mengangkat pikiran kita menuju Surga.

Kalau begitu, apa yang Yesus lakukan pada saat-saat pertama kehidupan fana-Nya ini? Dia menangis dan tersenyum secara bergantian, seperti bayi yang baru lahir. Bagaimana kita dapat memahami misteri di balik air mata ilahi ini? Yesus tidak menangis karena cuaca dingin dan lembap, juga bukan karena Ia merasa tidak nyaman di tempat tidur jerami-Nya. Dia dapat mengatasi ketidaknyamanan ini, jika Dia menghendakinya, hanya dengan satu tindakan atas kehendak-Nya. Tidak, Dia menangisi kita, karena umat manusia tenggelam dalam dosa. Dia menangis dan menderita agar kita juga dapat belajar menangis dan menderita karena dosa-dosa kita dan melakukan penebusan dosa bagi dosa-dosa itu. Inilah penjelasan air mata Putra Ilahi. Marilah kita belajar menangis bersama Dia, maka kita akan disucikan dan dihibur.

Melalui perjalanan hidup yang panjang, kita sering kali berkesempatan menitikkan air mata. Kita menangis karena kesakitan fisik atau penderitaan moral. Kadang-kadang, mungkin, kita menangis karena kegembiraan, karena kegembiraan yang diberikan dunia. Pada kesempatan lain, rasa iri, kebencian, atau tingkah laku mungkin membuat kita meneteskan air mata. Namun pernahkah kita menangis, seperti Maria Magdalena atau St. Agustinus, atas dosa-dosa yang telah kita lakukan?

Jika Bayi Yesus menangisi dosa-dosa kita, mengapa kita tidak menangis karena pertobatannya? Jika air mata yang kita keluarkan karena alasan-alasan lemah dan manusiawi tidak diilhami dengan cara apa pun oleh perasaan iman, cinta atau silih, maka air mata tersebut tidak dapat meredakan penderitaan kita atau memberikan pahala yang kekal bagi kita.

Ketika kita merenungkan misteri kasih yang menyebabkan Allah menciptakan manusia menangisi dosa-dosa kita, kita mungkin tidak tergerak untuk menitikkan air mata. Namun setidaknya kita hendaknya menitikkan air mata rohani berupa pertobatan dan kasih, serta kerinduan akan kekudusan dan dedikasi penuh kepada Yesus Kristus. Kita harus mengasihi Yesus karena banyaknya orang yang tidak mengasihi Dia, atau yang menghujat dan mengabaikan Dia. Kita harus rindu untuk melakukan silih atas begitu banyak rasa tidak berterima kasih dan kelalaian melalui doa dan penebusan dosa kita. Cinta tak terbatas dari Putra Allah menuntut balasan dari semua cinta kita..——
    
Antonio Bacci  (4 September 1885 – 20 Januari 1971) adalah seorang kardinal Gereja Katolik Roma asal Italia. Ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Yohanes XXIII.

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy