Kamis, 15 September 2022 Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita

Author Zarateman (CC)
  
Kamis, 15 September 2022
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita

“Ibu tersuci, kami menyebut engkau lebih dari seorang martir, karena kecemasan hati yang kauderita melebihi semua penderitaan badani” (St. Bernardus Abas)

Antifon Pembuka (Bdk. Lk 2: 34-35)

Simeon berkata kepada Maria, “Anak ini menentukan jatuh bangkitnya banyak orang di Israel. Ia menjadi tanda yang menimbulkan pertentangan. Dan hatimu sendiri akan ditembus dengan pedang.”
  
Simeon said to Mary: Behold, this child is destined for the ruin and rising of many in Israel, and to be a sign of contradiction; and your own soul a sword will pierce.


Pengantar


Santa Perawan Maria sebagai martir, terkandung dalam nubuatan Simeon, tampil di hadapan mata dalam kisah sengsara Tuhan kita. Orang tua yang diberkati, yaitu Simeon, berkata tentang kanak-kanak Yesus, "Anak ini ditentukan sebagai tanda yang akan ditentang," dan kepada Maria, "Hatimu akan ditembus pedang."

Jangan heran, Saudara-saudara, bahwa Maria dikatakan menderita sebagai martir dalam jiwanya. Tetapi ada orang akan heran, yaitu mereka yang lupa akan kata-kata Paulus tentang orang kafir, bahwa di antara cacat mereka, yang paling berat ialah bahwa mereka tidak mengenal belas kasih. Tidak begitulah Maria! Semoga jangan sampai begitu mereka, yang menghormati dia! (St. Bernardus, Sumber: Bacaan Ofisi Para Kudus 3, Yogyakarta - Kanisius, 1982, hlm. 34-36)

Doa Pagi
    
Allah Bapa sumber kekuatan kami, ketika Putra-Mu ditinggikan di salib, Ibunda-Nya berdiri di situ dan ikut menderita. Semoga kami pun ikut serta dalam sengsara yang diderita Kristus demi keselamatan umat manusia, agar kami dapat ikut serta pula dibangkitkan bersama Dia.  
Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.   
            
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (5:7-9)

  
Saudara-saudara, dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat; dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya. Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Selamatkanlah aku, ya Tuhan, oleh kasih setia-Mu.
Ayat. (Mzm 31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20)

1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku.
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
3. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.
4. Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, aku berkata, “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskanlah dari orang-orang yang mengejarku.
5. Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu, yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu!



   
Sekuensia (Lihat Bunda Yang Berduka / Stabat mater dolorosa), do = f, 4/4, PS 639 -fakultatif-
1. Lihat bunda yang berduka / di depan salib Sang Putra ; air mata bergenang. /
O betapa jiwa ibu / tersedu menanggung pilu, bagai ditembus pedang.
2. Bunda Putra Tunggal Allah disebut Yang Berbahagia / kini sangat bersedih. / Hatinya dirundung duka, kar'na putra yang termulia bersengsara di salib.
3. O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus menangisi Putranya?
/ Dan siapa tak tergugah menyelami duka bunda kar'na siksa Anak-Nya.
4. Dilihatnya Yesus, putra, yang tersiksa dan terluka / kar'na dosa umat-Nya /
dan bergumul sendirian / menghadapi kematian / menyerahkan nyawa-Nya.
5. Wahai bunda sumber kasih, / biar turut kuhayati dukamu yang mencekam;
biar hatiku bernyala / mengasihi Putra Allah dan pada-Nya berkenan.
6. Biarlah sengsara aib / dari Dia yang tersalib tersemat di hatiku;
biar siksa salib itu / yang ditanggung-Nya bagiku kudekap bersamamu.
7. Biar aku di sampingmu / pilu kar'na wafat Kristus di sepanjang hidupku;
inilah keinginanku: / di dekat salib Putramu besertamu tersedu.
8. O perawan yang terpilih, / perkenankan aku ini ikut dikau bersedih;
biar kematian Tuhan / dan darah-Nya yang tercurah kukenangkan tak henti.
9. Biar aku pun terluka / menghayati salib Tuhan, digerakkan kasih-Nya. Hatiku engkau kobarkan; / biar aku dibebaskan dalam penghakiman-Nya.
10. Biarlah salib Tuhanku / jadi benteng naunganku, dan kurasa rahmat-Nya.
Bila nanti aku mati / biar aku mewarisi kemuliaan yang kekal.

Stabat mater dolorosa
juxta crucem lacrimosa,
dum pendebat filius.

Cujus animam gementem,
contristatam et dolentem
per transivit gladius.

O quam tristis et afflicta
fuit illa benedicta
Mater Unigeniti!

Quae moerebat et dolebat,
et tremebat cum videbat
nati poenas inclyti.

Quis est homo qui non fleret,
Christi materm si videret
in tanto supplicio?

Quis non posset contristari,
piam Matrem contemplari
dolentem cum Filio?

Pro peccatis suae gentis,
vidit Jesum in tormentis
et flagellis subditum.

Vidit suum dulcem natum,
morientem, desolatum,
dum emisit spiritum.

Eja Mater, fons amoris,
Me sentire vim doloris
Fac, ut tecum lugeam.

Fac, ut ardeat cor meum
In amando Christum Deum,
Ut sibi complaceam.

Sancta Mater, istud agas,
Crucifixi fige plagas
Cordi meo valide.

Tui nati vulnerati,
Tam dignati pro me pati,
Mecum poenas divide.

Fac me vere tecum flere,
Crucifixo condolere,
Donec ego vixero.

Juxta crucem tecum stare,
Te libenter sociare
In planctu desidero.

Virgo virginum praeclara,
Mihi jam non sis amara,
Fac me tecum plangere.

Fac, ut portem Christi mortem,
Passionis eius sortem,
Et plagas recolere.

Fac me plagis vulnerari,
Cruce hac inebriari,
Ob amorem Filii.

Inflammatus et accensus
Per te, Virgo, sim defensus
In die judicii.

Fac me cruce custodiri,
Morte Christi muniri,
Confoveri gratia.

Quando corpus morietur,
Fac, ut animae donetur
Paradisi gloria.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Berbahagialah Engkau, Sang Perawan Maria, sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir tanpa menumpahkan darahmu
    

Inilah Injil Suci menurut Yohanes (19:25-27)

 
Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, isteri Kleopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.

Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)

Atau:
   
Inilah Injil Suci menurut Lukas (2:33-35)


Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)

Renungan

   
 
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, pada hari ini kita merayakan Peringatan SP. Maria Berdukacita, yang berkaitan dengan Pesta yang baru saja kita rayakan sehari sebelumnya, yaitu Pesta Pemuliaan Salib Suci. Dan sementara kemarin kita bersukacita dalam kemuliaan Salib Suci dan kemenangan yang telah dimenangkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus karena pengorbanan-Nya di kayu Salib, hari ini kita ingat bahwa di belakang Salib, tepatnya di kaki Salib, adalah Maria, ibu Tuhan kita. 
  
 SP. Maria Berdukacita adalah salah satu gelar yang lebih menonjol dari Bunda Maria. Ada banyak gelar yang disematkan ke pada sosok Bunda Yesus ini. Bunda yang Termurni, Bunda yang Patut Dicintai, Bunda Penebus, Bunda Segala Bangsa, Bunda Segala Kemenangan, Perawan yang Murah Hati, Perawan yang Setia, Cermin Kekudusan, Takhta Kebijaksanaan, Bejana Rohani, Bunda Keselamatan Orang Sakit, Bunda Pertolongan Umat Kristen, Ratu Para Malaikat, Tabernakel Pertama, dan Ratu Samudra Pasifik. Ini hanya sebagian deretan gelar yang dilekatkan kepada pribadi Maria. Jika disebutkan semua, ada 17 gelar yang dimiliki Maria. Gelar-gelar itu memiliki latar belakang beragam, yang muncul dari pengalaman perjumpaan iman umat Allah bersama Maria. Gelar ini jelas merujuk pada saat-saat duka dan duka yang mendalam dalam kehidupan Maria.
  
Inilah yang dinubuatkan nabi Simeon kepada Maria dan Yusuf, pada saat mereka membawa Bayi Yesus ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Dia menubuatkan bahwa pedang akan menembus hati Maria, ibu Tuhan kita, tetapi melalui itu, dari banyak hati, pikiran dapat terungkap. Ini adalah pemikiran yang selalu dimiliki Maria untuk Putranya, yang selalu menempatkan Dia di garis depan pikirannya, dan perhatian dan cinta yang Dia miliki untuknya, yang sekarang dia tunjukkan kepada kita dari hatinya yang terluka.
 
Di antara devosi kepada SP. Maria Berdukacita adalah meditasi dan refleksi Tujuh Duka SP. Maria.

Berikut ini adalah Tujuh Duka Maria:
1. Nubuat Simeon. (Lukas 2: 34-35)
2. Perjalanan ke Mesir. (Matius 2:13)
3. Kehilangan Yesus di Bait Suci. (Lukas 2: 43-45)
4. Maria bertemu Yesus dalam Perjalanan ke Kalvari (Jalan Salib)
5. Yesus wafat di Kayu Salib. (Yohanes 19:25)
6. Maria menerima Tubuh Yesus dalam pelukannya. (Matius 27: 57-59)
7. Tubuh Yesus Ditempatkan di makam. (Yohanes 19: 40-42)

Tak perlu dikatakan bahwa bahkan Bunda Yesus pun tidak luput dari penderitaan dan kesedihan. Namun penderitaan dan kesedihan Maria sangat erat bersatu dengan penderitaan dan kesedihan Yesus seperti yang dapat kita lihat dalam Tujuh Duka Maria.

   
 Penderitaan dan kesedihan Maria juga membuatnya bersatu dengan kita dalam penderitaan dan kesedihan kita sendiri dalam hidup. Tuhan tidak membebaskan Maria dari kesedihan dan penderitaan, sama seperti Dia tidak menyelamatkan Yesus dari kematian di kayu salib.

Tetapi seperti yang kita dengar pada bacaan pertama, Yesus berserah diri dengan rendah hati kepada Tuhan yang menyelamatkan Dia dari kematian, demikian pula Maria juga tunduk dengan rendah hati kepada Tuhan meskipun pedang kesedihan menembus hatinya. Maria percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkannya dari kesedihan dan penderitaannya.
 
  Oleh karena itu, hari ini kita semua memandang Maria, Bunda Tuhan dan Allah kita, yang telah dipercayakan Putranya kepada kita sebagai Bunda kita, dan sebaliknya, bahwa kita juga telah dipercayakan kepadanya sebagai anak angkatnya. Dan di dalam dia kita melihat mata sedih yang telah menatap penderitaan Putranya, saat Dia memikul salib-Nya, berjalan di jalan yang panjang dari Yerusalem ke Kalvari, melihat Putranya ditolak dan diinjak-injak, dibenci dan dibuat menderita, menanggung beban beban dosa kita, keseluruhan beban dosa umat manusia yang tak terbayangkan.
 
  Oleh karena itu, itulah sebabnya kesedihan Maria, Bunda Dukacita kita jelas, bahkan sampai hari ini, karena meskipun Tuhan telah mengasihi kita dan Dia bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya demi kita, mengorbankan diri-Nya di kayu salib untuk kita, tetapi kita terus berbuat dosa dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, menolak untuk menaati Tuhan dan hukum-hukum-Nya, dan terus melakukan apa yang bertentangan dengan Hukum Tuhan. Setiap dosa yang kita lakukan, setiap kegagalan kita dalam melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menaati kehendak Tuhan, adalah setiap luka yang telah ditimpakan pada Tuhan kita Yesus Kristus, luka dan cambukan yang mencabik Tubuh-Nya, yang membuat Dia menderita dan berdarah. Dan semua ini membawa lebih banyak kesedihan kepada ibu kita yang penuh kasih, yang mencintai kita masing-masing seperti dia mencintai Putranya.

Setiap kali Maria, ibu kita menampakkan diri kepada kita, dia memanggil anak-anaknya untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat. Dia menunjukkan kepada mereka kengerian neraka dan apa yang menanti mereka yang tidak setia kepada Tuhan. Itu karena kita masing-masing berharga baginya, karena dia adalah ibu kita, dan dia mencintai kita sama seperti dia mencintai dan dengan lembut merawat Putranya Yesus. Dia tidak ingin bahkan satu jiwa pun berakhir di kutukan neraka. 
 
Saudara dan saudari di dalam Kristus, saat kita merenungkan kesedihan besar Maria, ibu kita yang penuh kasih dan ibu Tuhan kita, yang telah menyaksikan betapa besar kasih Allah bagi kita, bahwa demi kita, Dia rela mati untuk kita, agar kita masing-masing memiliki kehidupan di dalam diri kita, oleh karena itu marilah kita semua meluangkan waktu untuk memikirkan apa yang telah kita lakukan dalam hidup kita selama ini, dan apa yang belum kita lakukan sesuai dengan jalan dan ajaran Tuhan.   
  
Mari kita mulai sekarang menyerahkan diri kita dengan sepenuh hati dan sepenuhnya kepada Tuhan, Allah kita, dan melalui bimbingan yang ditunjukkan kepada kita oleh ibu-Nya Maria, Bunda Dukacita kita, semoga kita semua dapat menemukan jalan kita menuju keselamatan dan hidup yang kekal. ditemukan di dalam Dia saja. Biarlah hati yang berduka dari ibu kita Maria yang penuh kasih mengingatkan kita akan perlunya kita menolak segala bentuk dosa, dan hidup dengan iman, semangat dan pengabdian mulai sekarang.
   
Antifon Komuni (Bdk. 1Ptr 4:13)

Bersukacitalah ketika kamu berbagi dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Rejoice when you share in the sufferings of Christ, that you may also rejoice exultantly when his glory is revealed.


Doa Malam


Tuhan Yesus, sukaduka dalam hidup yang kualami selama ini sejatinya tak sebanding dengan penderitaan-Mu maupun Bunda-Mu, Maria. Melalui pengalaman salib, semoga aku mampu bangkit untuk menjalani hidup ini dengan sukacita, dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.  Amin.
 
  
RENUNGAN PAGI