Penyehatan Sikap Berliturgi Kita


“Sekarang ini kita mempergunakan teks liturgi dengan Bahasa Inggris berdasarkan terjemahan baru. Hal ini melambangkan banyak sekali hal. Kita sungguh-sungguh menyadari kebaruan arti dari kata-kata yang kita pergunakan. Kita harus benar-benar memusatkan perhatian pada kata-kata itu. Kita membutuhkan pendekatan baru yang segar berhadapan dengan kebiasaan-kebiasaan dan rasa familiar kita yang sudah lama sekali terbentuk”.

Kata-kata itu diucapkan oleh Mgr. Vincent Nichols, Uskup Agung Westminster, Inggris, pada Hari Perayaan Tahunan Bagi Para Imam di Keuskupan Agung itu, ketika bacaan harian menyajikan bacaan injil dari Yoh. 17:1-11.

“Perasaan kecewa” yang sama sepertinya ada juga pada kita di Indonesia ini, ketika, setelah sekian lama ahli-ahli liturgi dan ahli-ahli bahasa Indonesia, dengan rajin dan tekun mempelajari, mempertimbangkan dengan mendiskusikannya secara tulus dan tuntas, akhirnya menetapkan “Tata Perayaan Ekaristi Bahasa Indonesia”, Vatikan tetap ngotot tentang harus dipertahankannya rumusan “dan bersama rohmu” – “et cum spiritu tuo” sebagai persyaratan untuk mendapatkan recognitio. Sikap Vatikan yang sering kita nilai “kuno dan kolot”, dan memberi kesan bertentangan dengan prinsip aggiornamento serta pembaruan-pembaruan termasuk yang bersifat inkulturatif yang juga sangat dianjurkan oleh Konsili Vatikan II, dengan mudah menimbulkan sikap repulsif terhadap apa yang datang dari Vatikan.

Dalam homili yang diberinya judul “Kita Berbusana Misa untuk Meminimalkan Kecenderungan-kecenderungan Pribadi Kita”, Mgr Nichols di hadapan para imamnya mengakui: “Di antara kita, para imam, dengan sangat mudah Liturgi menjadi titik pertentangan. Padahal bukan begitulah yang seharusnya”. Lalu dikemukannya apa yang menjadi keyakinannya, yang diharapkannya akan menjadi keyakinan para imamna juga dalam menghayati liturgi, terutama Perayaan Ekaristi. Katanya:

“Yang menjadi keyakinan pertama saya adalah ini: Liturgi tidak pernah menjadi milik saya sendiri, atau menjadi buah hasil ciptaan saya sendiri. Liturgi adalah sesuatu yang dianugerahkan kepada kita oleh Bapa. Oleh karena itu, citarasa selera saya sendiri, kesukaan-kesukaan saya pribadi, kepribadian saya sendiri, pandangan-pandangan saya pribadi tentang Gereja, semuanya bersifat marginal, tidak banyak berarti dan kurang penting ketika saya sampai pada urusan mempersembahkan misa. Kita mengenakan busana misa justru untuk meminimalkan preferensi-preferensi pribadi kita, dan bukan untuk mengungkapkannya, apalagi untuk menekankannya. Liturgi bukan milik kita. Liturgi tidak pernah boleh dipergunakan sebagai suatu bentuk pengkapan diri sendiri. Di dalam keuskupan, ketika imam-imam suatu paroki berubah, seharusnya ada sesuatu yang dengan jelas tetap berlanjut tanpa berubah, yakni cara kurban misa dipersembahkan. Kurban Misa adalah tindakan Gereja. Inilah yang menjadi pokoknya, dan bukan yang menjadi pendapat saya. … Tugas saya hanyalah untuk tetap setia”.

Sikap repulsif tersebut, juga yang datang dari kalangan para imam, sering masih dipanas-panasi lagi dengan semangat spontanitas yang oleh sementara imam diyakini sebagai yang terbaik, karena dianggap otentik, apalagi yang ditopang dengan unsur-unsur inkulturatif, kreatif dan inovatif yang mengatasnamakan kemajuan. Mgr Nichols dalam homilinya bagi para imam di keuskupannya itu langsung menambahkan keyakinannya yang kedua, yakni, “bahwa Liturgi membentuk kita dan bukan kita membentuk Liturgi. Kata-kata Kurban Misa membentuk iman kepercayaan dan doa-doa kita. Kata-kata Liturgi jauh lebih baik daripada kreativitas kita yang spontan. … Ditahbiskan ke dalam pribadi Kristus sebagai Kepala, saya hanyalah sebuah instrumen, sebuah sarana kecil dalam misteri yang agung itu. Ini sangat penting. Kurban Misa yang saya rayakan setap pagi membentuk hati saya untuk seluruh hari yang akan datang. … Nanti, dalam semua peristiwa hari itu, dalam keputusan-keputusan yang saya ambil, dalam kata-kata yang saya ucapkan, harapan saya yang paling besar … adalah, bahwa Tuhan akan berkenan mempergunakan saya dan bahwa saya, secara pribadi, tidak menjadi penghalang bagi jalan-Nya. Kita semua adalah pelayan-pelayan Liturgi dengan mana Allah membuka bagi kita curahan hidup-Nya yang menyelamatkan”.

Karena itu, gagasan ketiga yang diharapkannya menjadi keyakinan para imamnya adalah ini: bahwa mereka harus senantiasa menjunjung tinggi kebenaran sentral ini: bahwa jantung liturgi adalah perjumpaan Umat Allah dengan Tuhannya. Segala sesuatu tentang Liturgi harus melayani maksud tujuan ini.

Secara logis Mgr. Nichols mengakhiri homilinya pada perayaan tahunan untuk imamat di Keuskupannya itu dengan mengatakan:

“Point keempat saya yang terakhir adalah ini: kapan saja Liturgi Gereja, yakni Perayaan Kurban Misa, sungguh-sungguh merasuk ke dalam hati dan jiwa kita, maka buah hasilnya adalah rasa keterutusan yang berkobar-kobar”.


Perjumpaan kita dengan Tuhan dan pengalaman akan kasih-Nya membuahkan kesiap-sediaan untuk menjawabnya, teristimewa dalam memberi perhatian kepada mereka yang paling miskin dan paling membutuhkan, sebab justru mereka inilah yang paling karib dengan Hati Sang Juruselamat itu. Di antara para imam dan umat hendaklah senantiasa ada pelayanan bagi Tuhan, pelayanan yang sederhana, tetapi penuh dengan sukacita.

Marilah, saudara-saudaraku terkasih, dengan senang hati kita terima segala upaya untuk mencari pembaruan di dalam perayaan-perayaan Misa kita, sambil senantiasa tetap berada di bawah bimbingan Gereja saja. Dan semoga iman kepercayaan kita dan doa-doa kita dari hari ke hari tetap dibimbing oleh apa yang dimintakan dari pihak kita. Amin.

Penulis adalah Romo Gerard Widyo-Soewondo, MSC, Kepala Departemen Dokumentasi dan Penerangan (Dokpen) KWI.

Sumber: Kolom Antar Komisi Majalah Liturgi Vol. 22, no. 4, Juli – Agustus 2011

 

Kamis, 27 Februari 2014 Hari Biasa Pekan VII

Kamis, 27 Februari 2014
Hari Biasa Pekan VII

“Penyesatan itu terutama bersifat buruk, kalau ia dilakukan oleh orang-orang terpandang dan kalau karena itu orang-orang lemah dibahayakan. Ini yang membuat Tuhan kita berseru: "Tetapi barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut" (Mat 18:6) Bdk. 1 Kor 8:10-13.. Penyesatan itu bobotnya sangat berat, kalau dilakukan oleh para pendidik dan para guru. Karena itu, Yesus mempersalahkan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi bahwa mereka adalah serigala berbulu domba Bdk. Mat 7:15..” (Katekismus Gereja Katolik, 2285)

Antifon Pembuka

Barangsiapa memberi kalian minum air secangkir, karena kalian adalah pengikut Kristus, ia takkan kehilangan ganjarannya.

Doa Pagi

Bapa yang Mahapengasih, di zaman konsumerisme dan hedonisme yang semakin merajalela ini, bantulah aku untuk keluar dari sikap egoisme. Dengan demikian aku mampu selalu bersyukur atas berkat dan rahmat-Mu, sehingga aku tidak mudah terlena akan sarana komunikasi yang kurang sehat dan mengakibatkan ketidakadilan bagi sesama. Amin.

Dengan sangat keras Yakobus menegur orang-orang kaya yang tamak. Mereka hidup berfoya-foya, sementara upah para pekerja mereka tahan. Mereka memperlakukan orang jujur dengan sangat buruk, tanpa bisa dilawan.

Bacaan dari Surat Rasul Yakobus (5:1-6)
   
Hai kalian orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kalian. Kekayaanmu sudah membusuk dan pakaianmu sudah dimakan ngengat. Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kalian, dan akan makan dagingmu seperti api. Kalian telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena kalian telah menahan upah para buruh, yang telah menuai hasil ladangmu. Dan keluhan mereka yang menyabit panenmu telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam. Kalian telah hidup dalam kemewahan dan berfoya-foya di bumi. Kalian telah memuaskan hati sama seperti pada hari pembantaian. Kalian telah menghukum, bahkan membunuh orang jujur, dan ia tidak dapat melawan kalian.
Demikianlah sabda Tuhan.
U Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, sebab merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Ayat. (Mzm 49:14-15ab,15cd-16,17-18,19-20)
1. Inilah jalan orang-orang yang mengandalkan dirinya sendiri, ajal orang-orang yang bangga akan perkataannya sendiri. Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati; gembalanya ialah maut;
2. Mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka. Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku.
3. Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah, sebab pada waktu mati semuanya itu tidak akan dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia.
4. Sekalipun pada masa hidupnya ia menganggap dirinya berbahagia, sekalipun orang menyanjungnya karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, yang tidak akan melihat terang untuk seterusnya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagai sabda Allah.

Aneka bentuk penyesatan selalu ada, baik dari luar atau dari diri kita sendiri. Cara mencegahnya adalah dengan memotong akarnya. Namun ada cara pencegahan yang lebih manusiawi, yakni dengan tak jemu-jemu berbuat baik (bdk. Ay. 50b), walau hanya sekadar memberi minum air secangkir.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (9:41-50)
       
Pada suatu hari berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, "Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya." "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. Karena setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
  
Renungan


Seorang murid Yesus harus menghindarkan diri dari kemungkinan memberi skandal kepada orang lain. Dengan cara itu, mereka meluputkan diri dari siksaan neraka yang disimbolkan dengan api dan ulat bangkai. Yesus lalu menunjukkan sikap yang harus dibangun, yaitu menjadi garam bagi sesama. Ia harus menjadi pembawa damai dalam hidup bersama.

Doa Malam

Bapa, terimalah persembahan hidupku. Semoga segala usaha dan karyaku hari ini, yakni untuk berdamai dengan diri sendiri maupun dengan sesama berkenan kepada-Mu. Bila ada kekurangan, sudilah Engkau mengampuniku. Engkaulah Allah yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.


RUAH