APP KAJ 2010: Sub Tema II: Pilihan Jalan Hidup (Mat 19: 16-26)

APP 2010:
Sub Tema II: Pilihan Jalan Hidup
(Mat 19: 16-26)

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (19:16-26)
Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus


Oleh: M. Muliady Wijaya -- Reginacaeli.org


Kehidupan beriman yang “ideal’ itu nampak pula dalam ungkapannya berikut ini. Ketika disuruh menuruti perintah Allah, orang muda itu mau tahu lebih lanjut: “Perintah mana?” Setelah diberi tahu soal sepuluh perintah Allah dan perintah utama kasih, ia pun menjawab: “Semua itu telah kuturuti, apa lagi yang kurang?” Ia tampak tidak puas dengan hanya ‘tidak melanggar’ larangan-larangan sepuluh perintah Allah itu ataupun sekedar menjalankan hukum utama untuk mengasihi. Ia terdorong ingin lebih, ingin berbuat sesuatu yang dinilainya paling berharga dan menjadi jaminan untuk hidup kekal. Luar biasa!

Tetapi, jawaban tak disangka-sangka tiba-tiba menghenyakkannya. Yesus berujar: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Kontan saja, kata-kata Yesus itu membuat orang muda itu pergi dengan sedih. Alasan yang disebut: sebab banyak hartanya!

Nah, lho! Apakah untuk memperoleh hidup kekal tidak boleh punya harta dan kekayaan? Lantas bagaimana dengan kita yang hidup saat ini, yang notabena begitu sulit untuk dapat bertahan hidup kalau tidak punya uang dan harta? Agaknya ucapan Yesus itu perlu kita simak dengan lebih jeli dan perlu pula ditempatkan pada konteks keadaan nyata pada saat itu.

Pandangan Yahudi tentang Kekayaan

Pandangan yang paling lazim di kalangan Yahudi (termasuk cukup banyak orang Kristen masa kini) ialah: kemakmuran ekonomis dan kesejahteraan dinilai sebagai anugerah Allah. Harta milik menjadi tanda orang tersebut diberkati Allah. Kemakmuran di dunia dinilai sebagai semacam pendahuluan ‘hidup’ dan ‘kebahagiaan kekal’. Maka, orang kaya adalah orang yang diberkati Allah, orang yang berkenan di hadapan Allah. Konsekuensi pandangan seperti ini adalah bahwa penderitaan (kemiskinan) dan sakit penyakit adalah karena “dosa”, “hukuman”, “tidak diberkati”.

Maka, kita perlu memahami kata-kata Yesus itu dalam latar belakang ini. Yang dikatakan Yesus kepada orang muda itu ada lima hal: pergi, jual segala milik, beri kepada orang miskin, datang ke mari, dan ikut Yesus. Bila kita telaah, inti permintaan Yesus untuk sempurna bukanlah “menjual harta milik dan bagi kepada orang miskin”. Sebab, Yesus tidak berhenti di situ! Kalau itu yang menjadi intinya berarti “datanglah kemari dan ikutlah Aku” tidak penting lagi. Dengan kata lain, jual harta dan bagi kepada orang miskin bukanlah syarat untuk sempurna. Syarat sempurnanya adalah datang ke Yesus dan ikut Dia. Hanya dengan mengikuti Yesus, taat pada kehendak Allah, hidup dengan Allah yang meraja, orang baru sempurna.

Nah, bagi orang muda itu, supaya betul-betul dapat ikut Yesus, dia terlebih dahulu harus “menjual hartanya dan membaginya kepada orang miskin”. Yesus tahu benar, pandangannya terhadap harta itu telah menghambat dia untuk ikut Yesus. Alhasil, orang muda itu pun pergi dengan sedih sebab banyak hartanya. Ini bukan pertama-tama karena ia tidak mau melepaskan hartanya, tetapi terutama karena sikap atau pandangannya terhadap harta (sebagaimana kebanyakan orang Yahudi lainnya) yang menganggap itu semua sebagai tanda bahwa ia diberkati. Menjual semua harta dan membagikannya kepada orang miskin sama saja dengan menolak atau membuang berkat Allah. Maka, perintah Yesus itu sangat mengecewakan orang kaya yang bersemangat itu. Guru ini ternyata bukan mengajarkan perbuatan yang baik; ajarannya bertentangan dengan pandangannya tentang kekayaan.

Pandangan para murid ternyata tak beda pula dengan pandangan orang kaya itu. Lihatlah, ketika Yesus kemudian berkata “…sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga… lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum…”, para murid gempar dan berujar: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselematkan?” Ucapan para murid itu mengungkapkan: jika orang kaya yang diberkati Allah saja sukar masuk Kerajaan Sorga, apalagi orang miskin yang tidak diberkati Allah.

Harta/Kekayaan adalah Netral


Jadi, yang membuat orang muda itu tak bisa ikut Yesus adalah pandangannya tentang harta kekayaan. Itulah penghambatnya untuk bisa berbagi kepada orang miskin. Maka Yesus minta ‘jual’ dulu harta yang dipandang seperti itu (baca: tinggalkan penilaian/pandangan itu!).

Hal ini penting, supaya jangan beranggapan kalau mau ikut Yesus harus jual harta dulu dan bagi kepada orang miskin. Selama tak menghambat, apalagi kalau malah sungguh mendukung, tak perlu jual harta itu!

Harta pada dirinya sendiri adalah baik-baik saja (netral). Sebagai perbandingan, misalnya, dapat didalami perumpamaan tentang talenta (Mat 25: 14-30). Dalam perumpamaan itu, hal Kerajaan Sorga sama seperti tuan yang mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya sesuai dengan jumlah masing-masing. Justru hamba-hamba yang mampu menghargai talenta yang diberikan dan menggandakannya dipuji oleh tuan sebagai orang yang setia dalam perkara kecil dan akan diberi tanggung jawab dalam perkara yang besar. Sebaliknya, hamba yang hanya mendapat satu talenta lalu menyimpan talenta itu karena menganggap tuannya kejam, dicela oleh tuannya sebagai jahat, malas, dan tidak berguna, yang kemudian talenta itu diambil kembali untuk diserahkan kepada orang lain yang dapat menghasilkan laba (buah-buah). Jadi, harta adalah netral. Yang penting adalah digunakan secara tepat untuk menghasilkan laba yang dapat dipersembahkan kepada Sang Penitip Harta.

Jelas sudah, silahkan kaya-raya! Tapi, ingatlah, jangan sampai harta atau kekayaan itu menjauhkan kita dari Tuhan; jangan sampai harta dan kekayaan itu membuat kita menjadi tinggi hati dan meremehkan orang lain; jangan sampai harta dan kekayaan itu memperbudak kita; jangan sampai gara-gara harta dan kekayaan itu kita melupakan hidup yang terarah pada hidup kekal. Bukankah kita akan kembali dengan telanjang; sedangkan harta dan keayaan cuma menjadi “embel-embel” yang hanya akan membedakan upacara kematian yang ujungnya sama: berhadapan muka dengan muka di takhta Allah? Dengan memiliki harta dan kekayaan kita mempunyai fungsi tertentu dalam rancangan keselamatan Allah. Kita dipanggil untuk menggunakan harta dan kekayaan itu untuk lebih lagi membangun Kerajaan Allah, menampilkan wajah Allah yang berbelas kasih kepada orang-orang yang kurang beruntung, yang setiap saat dihadirkan Allah di hadapan kita untuk menyempurnakan iman kita.

Maka, melalui harta dan keayaan yang kita miliki, marilah kita terus mencari cara supaya nama Allah semakin dipermuliakan. Melalui harta dan kekayaan, biarlah orang miskin, lemah, dan tak berdaya, merasakan uluran kasih Tuhan. Kita menjadi perpanjangan tangan Allah, kita menjadi saluran berkat dan kita menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih.

Kalau begitu halnya, maka janji Yesus ini akan menjadi milik Anda: “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan.”

APP KAJ 2010 Sub Tema I: Siapakah Sesamaku?

APP KAJ 2010
Sub Tema I: Siapakah Sesamaku?

(Luk 10: 25-37)

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas

25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" 30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" 37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.

Menjadi Sesama bagi yang Membutuhkan Pertolongan

Oleh: M. Muliady Wijaya
-- Paroki Regina Caeli www.reginacaeli.org


Lagi-lagi Yesus “bersilat lidah” dengan ahli Taurat. Ini pemandangan biasa memang. Maklum, bagi para ahli Taurat, Yesus adalah manusia berbahaya; ajaran-Nya dianggap tidak sejalan dengan Taurat. Ini tentu saja mengancam agama mereka, bahkan bisa mempersulit kedudukan mereka sebagai ahli-ahli Taurat. Sebaliknya, Yesus pun sering mencela mereka, karena pengetahuan mereka yang aduhai terhadap agama sering cuma melekat di ‘otak’, tak berbuah dalam perbuatan nyata.

Kali ini seorang ahli Taurat mencobai Yesus dengan melempar tanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal?” Alih-alih menjawab, Yesus malah balik bertanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Sudah barang tentu si ahli Taurat hafal luar kepala. Ia menyebut perintah utama kitab Taurat, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Lalu Yesus pun menanggapi: “Jawabmu itu benar, perbuatlah demikian dan engkau akan hidup.”

Satu – kosong!

Untuk membenarkan dirinya, Si ahli Taurat bertanya lagi: “Siapakah sesamaku?” Ia mau tahu jawaban Yesus, apakah cocok dengan pandangannya. Bagi para hali Taurat, sesama mereka adalah kaum sebangsa. Bangsa lain adalah orang-orang kafir yang tak pantas untuk ditemani. Bahkan orang-orang Israel yang berdosa, termasuk yang berpenyakit tertentu, bukanlah sesama mereka. Mereka enggan bergaul dengan orang-orang seperti itu.

Dan inilah tanggapan Yesus. Ia menceritakan kisah tentang seorang yang dirampok habis-habisan. Lalu, seorang Imam dan seorang Lewi lewat di situ. Melihat orang yang terkapar tak berdaya itu, mereka melewati dari seberang jalan. Maklum, sebagai petugas Bait Allah, mereka tak boleh bersentuhan dengan mayat. Mereka memilih menghindar ketimbang menjadi najis. Kemudian, lewatlah seorang Samaria. Meskipun orang-orang Yahudi tak mau bergaul dengan orang Samaria, kenyataannya orang ini berbelas kasih dan memberikan uluran tangan sampai tuntas.

Habis bercerita, Yesus berbalik bertanya kepada ahli Taurat itu: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu,adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Si ahli Taurat tak berkutik. Ia menjawab: “Orang yang melakukan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus: “Pergilah, dan perbuatlah demikian.”

Dua – kosong!


Menarik untuk dikaji. Ahli Taurat itu bertanya tentang siapa sesamaku, yaitu tentang obyek perbuatan kasih.Tetapi Yesus mengajarkan tentang subyek perbuatan kasih: siapa dari ketiga orang itu yang sudah menjadi sesama. Jadi, bagi Yesus, masalah yang utama bukanlah soal obyek (apa yang harus dilakukan dan untuk siapa), melainkan tindakan aktif subyek (siapkah saya melakukan tindakan kasih – menjadi sesama – untuk orang yang memerlukan pertolongan?).

Dengan cara menjawab seperti itu, Yesus mau mendobrak cara pandang ahli Taurat itu. Yesus mau si ahli Taurat siap menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan pertolongan; siapa pun dia. Tindakan kasih itu tidak hanya membatasi diri pada paham sempit tentang sesama, tapi kepada siapa saja – melewati batas-batas suku, agama, ras.

Itu artinya, sub tema pertama APP ini mau mengajak kita bukan saja sekedar paham tentang ajaran utama Kitab Suci – perintah kasih – tetapi benar-benar mewujudkannya dalam perbuatan nyata. Perbuatan kasih itu bukan soal perbuatan pada orang-orang tertentu yang ‘sekelompok’ dengan kita, tetapi – lebih dalam dari itu – kita harus siap menjadi sesama bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan, bahkan barangkali itu adalah musuh kita. Inilah KASIH bung!

Perbuatlah demikian!

Renungan: Iman Dalam Dunia Yang Berubah

Iman Dalam Dunia Yang Berubah


Written by Fr. Diakon Louis Antonny Wijaya, SCJ

Saudara-saudari yang terkasih, memperhatikan keadaan dunia sekarang, rasanya tidak berlebihan bila dikatakan, dunia sedang berubah. Cuaca, iklim, udara berubah begitu cepat. Gedung-gedung pun dengan begitu cepat mengubah lahan-lahan kosong. Bukan itu saja, manusia pun ternyata berubah dengan cepat. Dengan begitu cepat, teman bisa menjadi lawan, orangtua bisa menjadi ‘binatang’ bagi anak-anaknya, saudara bisa menjadi musuh, dll. Manusia yang sehat bisa dengan cepat menjadi sakit, bahkan manusia pun dengan cepat bisa menjadi mayat, pembunuhan.

Beriman dalam situasi dunia yang seperti itu memang tidak mudah. Saat dunia bergerak dengan cepat, saat kriteria moral menjadi sangat relatif, saat gaya hidup menjadi urusan pribadi, kita mesti taat pada iman, sesuatu yang tidak masuk dalam kamus dunia modern. Justru inilah tantangannya, apakah iman mesti berubah mengikuti dunia? Tidak!! Jauh sebelum dunia menjadi seperti sekarang, Yesus menunjukkan kepada murid-Nya tentang jadi diri-Nya yang sebenarnya. Ketiga murid itu, diharapkan menjadi saksi akan pengalaman iman yang dilihat. Harapannya, iman mereka menjadi teguh dan tidak goyang. Lewat transfigurasi di atas gunung, Yesus mau mempersiapkan iman para murid-Nya, sebab Ia akan pergi ke Yerusalem (arti: untuk mati). Tetapi apa yang terjadi? Petrus yang tadinya begitu bergembira, “betapa bahagianya kami di tempat ini”, berubah dengan menyangkal Yesus 3 kali. Yakobus, Yohanes, mengurung diri dalam rumah. Semua murid Yesus lari tunggang langgang. Yesus sendirian menjalani hukuman salib. Suatu ganjaran pahit bagi Guru yang begitu luar biasa, ditinggalkan murid-murid-Nya.

Apakah Yesus perlu disalibkan untuk ke-2 kalinya, agar kita mengetahui kualitas iman kita? Haruskah kita menyerah pada dunia yang semakin tidak menentu ini, atau kita tetap berpegang teguh pada iman kita? Sejatinya dalam hidup ini kita KRISTAL (Kristus Total), sebab hanya Dialah yang telah memberikan segalanya bagi kehidupan kita. Hanya Dialah, yang adalah Tuhan, mau dengan rela menderita sengsara dan mati layaknya seorang penjahat. Kalau Dia sudah begitu banyak memberikan kepada kita, apa balasan kita? Kiranya, Dia hanya meminta kita beriman kepada-Nya, itu sudah cukup.

Semoga di dalam Masa Prapaskah ini kita semakin menemukan kesejatian iman kita dan membawanya kepada umat se-lingkungan, paroki. Marilah kita belajar dari pengalaman ketiga murid dan mengembangkannya, sehingga kita berani mengakui iman kita akan Yesus Kristus di dalam segala situasi hidup, tidak hanya saat dalam keadaan senang saja. Sebab, bukankah segala perjuangan dan penderitaan kita di dunia ini belum sampai menumpahkan darah?

Selamat merenung, Tuhan memberkati.


Fr. Louis Antonny Wijaya, SCJ


Sumber: www.st-stefanus.or.id



Bagikan

Sabtu, 27 Februari 2010 Hari Biasa Pekan I Prapaskah


Sabtu, 27 Februari 2010
Hari Biasa Pekan I Prapaskah

"Haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya." (Mat 5:48)

Doa Renungan

Allah Bapa kami yang maha pengasih, kami Kauperkenankan menyapa Engkau bapa. Tiada orang dapat membanggakan diri terhadap-Mu dalam kesalehan dan jasa. Semuanya kami terima daripada-Mu, berkat kemurahan hati-Mu. Maka dengarkanah kami senantiasa, sebab kami hanya dapat bertahan, bila Kaubimbing dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Ulangan (26:16-19)

"Engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu."

16 Di padang gurun seberang Sungai Yordan Musa berbicara kepada bangsanya: "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. 17 Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. 18 Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, 19 dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah orang yang hidup menurut Taurat Tuhan.
Ayat. (Mzm 119:1-2.4-5.7-8)
1. Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.
2. Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Kiranya hidupku mantap untuk berpegang pada ketetapan-Mu.
3. Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu. Janganlah tinggalkan aku sama sekali.

Bait Pengantar Injil PS 966
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Sang Raja kemuliaan kekal
Ayat. Waktu ini adalah waktu perkenanan. Hari ini adalah hari penyelamatan.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:43-48)

"Haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya."

43 Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan

Dalam rapat evaluasi kinerja Dewan Pastoral Paroki, Romo Tandar yang baru setahun menjabat Pastor Paroki di sana, menerima banyak masukan dari para anggota Dewan. Sebagian besar menyatakan bahwa mereka kesulitan mengikuti gerak langkah pastoral yang dianggap melawan arus dari Romo Tandar ini. Misa Kudus harus tepat waktu. Kunjungan ke orang sakit harus dilakukan secara rutin. Administrasi kesekretariatan harus dikelola sesuai Pedoman Keuskupan. Manajemen keuangan harus dibuat rapi, transparan, dan accountabel. Bagi banyak tokoh umat setempat, Romo Tandar dicap perfeksionis.

Bekerja sesuai kaidah yang normal, bekerja mengikuti aturan yang berlaku, dan bekerja menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman masih sering dianggap aneh dalam lingkungan internal Gereja Katolik. Bahkan, orang-orang seperti Romo Tandar sering kali dibuat frustrasi dan mati kutu.

Hari ini kita diingatkan oleh Yesus sendiri agar menjadi sempurna, ”...sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya”.

Allah sumber kesempurnaan, bimbinglah aku untuk mencari dan menemukan jalan kesempurnaan yang sejati. Amin.


Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Ul 26:16-19; Mat 5:43-48)

• Musuh adalah apa saja atau siapa saja yang tidak saya senangi, yang mengganggu kita, yang tidak sesuai dengan selera pribadi kita, dan pada umumnya dengan mudah kita akan membencinya. Ajaran Yesus sebagaimana diwartakan hari ini memang berat dan mulia: "Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar". Ia sendiri telah menghayati yang Ia ajarkan, yaitu ketika tergantung di kayu salib Ia mendoakan mereka yang memusuhi atau mengejeknya. Sebagai orang yang percaya kepada-Nya kita dipanggil untuk menghayati sabdaNya serta meneladan cara bertindak-Nya, antara lain mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Marilah kita hadirkan atau kenangkan apa atau siapa saja yang menjadi musuh-musuh kita untuk kita kasihi atau mereka yang mempersulit hidup kita untuk kita doakan. Mungkin yang paling mudah adalah makanan atau minuman, maka marilah kita nikmati aneka makanan dan minuman yang sehat meskipun tidak enak/tidak nikmat di lidah. Enak dan tidak enak, nikmat dan tidak nikmat dalam hal makanan hitungannya kiranya tidak lebih dari satu menit dan hanya beberapa detik saja, yaitu di lidah. Kami berharap dalam hal makan dan minum kita tidak hanya mengikuti selera pribadi melainkan sesuai dengan aturan atau norma kesehatan. Jika dalam hal makan dan minum tidak ada masalah atau yang dimusuhi, hemat kami dengan mudah kita mengasihi musuh maupun mendoakan mereka yang telah menganiaya kita.

"Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkau pun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya" (Ul 26:16-17). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, dimana kita diingatkan dan diajak untuk `melakukan atau melaksanakan aneka macam ketetapan dan peraturan' yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Secara jujur kiranya banyak diantara kita harus mengakui bahwa kita memusuhi atau tidak suka terhadap beberapa ketetapan atau peraturan, entah itu di tempat kerja, masyarakat pada umumnya atau di jalanan. Yang mungkin paling sulit kiranya mengatur diri sendiri dalam rangka melakukan ketetapan atau peraturan. Jika kita tidak dapat mengatur diri sendiri, kamar kerja atau kamar tidur kita sendiri, almari pakaian kita sendiri, dst.. maka kita juga akan menemui kesulitan alias malas untuk melakukan aneka ketetaban dan peraturan, maka baiklah pertama-tama dan terutama marilah mengatur diri kita sendiri, mendisiplinkan diri kita dalam rangka mengusahakan hidup sehat, segar bugar. Serentak mengatur diri kita perhatikan juga aneka peraturan yang berlaku di tempat kerja atau tempat belajar kita masing-masing, dimana kita cukup memboroskan waktu dan tenaga kita. Sikapilah aneka peraturan dalam dan dengan kasih, karena peraturan dibuat dan diberlakukan atas dasar dan demi kasih, dijiwai oleh cintakasih dan agar mereka yang melakukan peraturan semakin terampil dalam mengasihi. Orang beriman sejati akhirnya berada `diatas peraturan', bukan berarti melanggar peraturan tetapi peraturan dihayati sebagai sarana atau wahana hidup baik, mulia dan bahagia, dimana orang tidak merasa berat melakukan peraturan tetapi melakukan peraturan dengan gairah dan gembira.

Jakarta, 26 Februari 2010

Ignatius Sumarya, SJ

Bagikan