Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011

“Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa”



Saudari-saudaraku yang terkasih,

Rabu Abu menjadi pintu masuk bagi kita semua ke dalam masa Pra Paska, yang dalam tradisi Gereja dijadikan masa untuk “retret agung”. Disebut “retret agung” karena selama 40 hari kita diajak oleh Gereja untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra. Saya anjurkan seluruh umat Katolik sungguh menggunakan masa retret agung untuk keperluan tersebut, secara pribadi maupun bersama, agar iman berkembang semakin mendalam dan tangguh, dan dengan demikian menjadi orang Katolik sejati.

Selama masa Pra Paska 2011 kita diajak untuk merenung, berdoa, dan membicarakannya dalam pertemuan umat dengan tema “Inilah orang Katolik Sejati”. Di manakah terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik? Pada nama baptis Katolik yang dipasang melengkapi nama diri? Tentu tidak. Pada keterangan agama yang kita anut, yang tercantum pada KTP? Tidak juga. Pada cara seruan ketika kita berdoa? Pada kutipan Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, ‘Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 7: 21) Bukan pada cara seruan kita berdoa, tetapi pada rahmat yang memampukan kita melakukan kehendak Bapa di sorga terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik.

Dengan pernyataan tersebut, dapat kita mengerti pula bahwa ‘kekatolikan’ memuat pemahaman tentang iman yang terbuka, bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di sorga dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Katolik merupakan suatu nama yang memuat ajakan agar kita diperkenankan mengalami Allah yang sejati. Pada zaman kita ajakan tersebut menjadi sungguh berat karena kita hidup dalam berbagai arus yang berlawanan secara ekstrim. Ada arus tak peduli pada keberadaan Allah dan perannya bagi keselamatan manusia karena manusia merasa semakin mampu mengusahakan keselamatan sendiri. Ada juga arus fanatisme beragama yang dipeluk oleh orang-orang yang berseru “Tuhan, Tuhan”, namun perilakunya tidak sesuai dengan seruannya, karena merusak milik orang lain, dan bahkan membinasakan kehidupan manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam kehidupan beragama kerap kita jumpai praktek-praktek keagamaan yang tidak selaras dengan pengalaman akan Allah yang sejati, karena bukan Allah yang kita muliakan, melainkan kepentingan diri sendiri yang kita penuhi. Kita beranggapan bahwa pelaku utama keselamatan itu diri manusia, diriku, dan bukan Allah. Dalam seruan kepada Allah, kerap kita berpendapat yang harus terjadi adalah kehendakku, bukan kehendak Bapa yang di sorga. Ranah keagamaan telah kita jadikan tempat berjualan, dan bukan lagi menjadi tempat doa. Kita ciptakan ilah-ilah baru yang muncul dari kepentingan diri kita sendiri untuk memenuhi kepentingan diri kita sendiri pula.

Ketidakberesan dalam ranah keagamaan ini menjadi sumber aliran-aliran arus yang bermuara pada ruang publik yang tuna adab. Intoleransi yang akhir-akhir ini menjadi-jadi, kebohongan publik yang merambah ke setiap sudut ruang kehidupan masyarakat, korupsi, ketidakadilan, kekerasan yang merajalela, bahkan telah masuk dalam keluarga-keluarga kita adalah buah-buah dari hidup keagamaan yang tidak benar, karena yang kita sembah sebenarnya bukan Allah sejati, melainkan ilah-ilah ciptaan kita sendiri.

Permenungan kita mengenai “Inilah orang Katolik sejati” merupakan ajakan pertobatan, agar kita meninggalkan kegelapan untuk masuk dalam terang. Kita buka hati kita agar Roh Kudus, Roh Penasihat, menasihati kita agar menjadi trampil melaksanakan pembedaan roh-roh (Inggris: “discernment of spirits”, Latin “discretio spirituum”). Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.

Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita. Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita. Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem Gusti” dalam kehidupan kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Saya yakin, langkah-langkah itu dapat membantu kita menjadi bijaksana untuk mendirikan rumah di atas batu, sebagaimana dikatakan Tuhan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat. 7:24-25).

Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Jesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia, kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.

Allah yang telah memulai pekerjaan-pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).



Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, 25 Februari 2011


+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Mari Berbagi - Menuju Perwujudan Diri Sejati

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2011
KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011

"MARI BERBAGI - MENUJU PERWUJUDAN DIRI SEJATI"

Saudara-saudari Umat katolik Keuskupan Agung Jakarta yang terkasih,

1. Bersama-sama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu yang akan datang kita memasuki masa Prapaskah. Secara khusus, selama masa Prapaskah kita diajak untuk menyiapkan diri agar pada hari Paskah, kita dapat mengalami secara baru, rahmat keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah pada waktu kita dibaptis. Peziarahan rohani ini akan menjadi semakin bermakna kalau ditanda dengan doa yang tekun dan karya-karya kasih yang tulus. Dengan demikian kita; dapat memetik buah-buah penebusan yang menjadi nyata dalam hidup dari yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Dengan menerima hidup baru itu kita semakin mempunyai "pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalan Kristus Yesus" (Flp 2:5), semakin mencapai "kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Ef 4:13). Dengai demikian, Prapaskah adalah masa penuh rahmat ketika kita bersama-sama dengan seluruh Gereja, mengayunkan langkah-langkah kita semakin mantap dalam mengikuti Yesus Kristus. Untuk kepentingan ini, sudah disediakan sarana-sarana pembantu antara lain berupa buku yang berjudul "Retret Agung Umat - Mari Berbagi. Perjalanan Rohani Menanti Kebangkitan"

2.Masa Prapaskah tahun ini kita jalani ketika Gereja Katolik Indonesia mensyukuri Ulang Tahun ke-50 terbentuknya Hirarki, tepatnya pada tanggal 3 hari yang lalu. Limapuluh tahun yang lalu, Pimpinan Gereja Katolik mutuskan untuk mendirikan Hirarki Gereja Katolik Indonesia karena yakin Bahwa Gereja Katolik Indonesia memiliki kemampuan berkembang menjadi gereja yang dewasa, dengan berbagai kekayaan artinya. Salah satunya adalah kemampuan untuk berkembang menjadi Gereja yang merupakan bagian tak pisahkan dari masyarakat dan bangsa Indonesia dengan segala kegembiraan dan harapan serta keprihatinan dan kecemasannya. Sementara itu Keuskupan Agung Jakarta, keuskupan kita, sedang menegaskan kembali cita-cita yang dirumuskan dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta, yaitu untuk terus berusaha meneguhkan iman kepada Yesus Kristus, membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih. Sejalan dengan cita-cita , dan mempertimbangkan kenyataan hidup di negara kita pada umumnya dan wilayah Keuskupan Agung Jakarta pada khususnya, ditetapkanlah tema Aksi asa Pembangunan "Mari Berbagi". Yang menjadi pertanyaan sekaligus bahan renungan ialah, bagaimana gagasan-gagasan itu, dalam terang Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini, bisa menjadi bekal bagi kita untuk menjadikan masa Prapaskah ini penuh dengan berkat.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3.Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini dapat meneguhkan pokok-pokok perenungan kita itu. Pimpinan Gereja Katolik mendirikan Hirarki Gereja katolik di Indonesia karena yakin bahwa Gereja Indonesia mampu berkembang menjadi Gereja yang dewasa. Seperti apakah Gereja yang dewasa itu? Menurut kata-kata Injil hari ini, Gereja yang dewasa ialah Gereja yang mendengarkan perkataan Yesus dan melakukan-Nya. Dengan demikian Gereja meletakkan hidupnya pada dasar yang kokoh, seperti orang yang mendirikan rumah di atas tu. Pertanyaan berikutnya muncul : apakah artinya meletakkan hidup pada dasar yang kokoh itu? Jawabannya bermacam-macam. Salah satu jawabannya dapat kita ambil dari Kitab Ulangan yang tadi kita dengarkan : kemampuan untuk memilih berkat, bukan kutuk, kemampuan untuk memilih yang baik dan uar, bukan sekedar yang gampang dan enak. Dengan kata lain, Gereja yang dewasa adalah Gereja - artinya kita semua - yang rajin dan tekun mendengarkan Sabda (bukan sekedar mendengar) untuk mencari dan menemukan kehendak Allah di dalamnya. Dengan demikian hati dan budi kita dicerahkan. Sesudah hati dan budi kita dicerahkan, kita membuat ketetapan hati. Ketetapan hati kita bersama inilah yang dirumuskan dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta. Ketetapan hati kita adalah memilih berkat. Berkat itulah yang ingin kita wujudkan bersama dengan semboyan "Mari Berbagi" yang akan kita jalankan bersama khususnya selama masa Prapaskah ini.

4. Salah satu bahan pendukung untuk memperkaya masa Prapaskah ini adalah satu buku yang merupakan kumpulan tulisan yang diberi judul "Mari Berbagi - Menuju Perwujudkan Diri Sejati". Judul buku ini dan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya mengajak kita bertanya, seperti apakah jati diri kita sebagai murid- murid Yesus? Mengenai jati diri manusia, ada juga berbagai macam pendapat. Ada yang mengatakan "Saya berpikir maka saya ada". Bagi yang mengikuti aliran ini, jati diri manusia, hakekat kemanusiaan atau kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya berpikir. Ada pula yang mengatakan, "Saya membeli, maka saya ada" atau "Saya berkuasa, maka saya ada". Judul buku yang saya sebut di atas mengajak kita semua untuk menemukan jati diri atau kemuliaan kita sebagai murid-murid Kristus di tempat yang lain. Kita diajak untuk sampai kepada keyakinan "Saya bukanlah kekuasaan yang dapat saya peroleh, atau milik yang dapat saya kumpulkan. Saya adalah berkat yang dapat saya bagikan dalam belarasa".

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bahwa jati diri manusia dan kemuliaannya terletak dalam kerelaan untuk berbagi, terungkap dalam begitu banyak kisah-kisah kuno. Kisah-kisah seperti itu mengungkapkan kerinduan hati manusia yang terdalam. Salah satunya adalah kisah tentang seorang calon murid yang ingin berguru pada seorang guru bijaksana untuk menjadi manusia mulia. Untuk itu ia pergi kepada seorang guru yang dikenal amat bijaksana. Ia bertanya, "Guru, apa yang harus saya tempuh agar saya menjadi manusia mulia". Guru itu menjawab dengan membisikkan suatu mantra, sambil berpesan agar tidak memberitahukan mantra itu kepada siapa pun juga. Calon murid itu bertanya lagi kepada sang guru, "Apa yang akan terjadi kalau saya memberitahukan mantra ini kepada orang lain". Sang guru menjawab, "Orang yang mendengar mantra ini, hati dan budinya akan tercerahkan. Tetapi engkau sendiri akan diusir dari perguruan ini dan menderita". Sesudah mendengar jawaban sang guru, calon murid itu pergi ke tempat-tempat yang ramai dan memberitahukan mantra itu kepada semua orang yang ia jumpai. Benar, hati dan budi orang-orang yang mendengar mantra itu tercerahkan, wajah mereka menjadi bersinar memancarkan kebahagiaan. Murid- murid yang lain protes dan menuntut agar sang guru mengusir calon murid ini. Kepada mereka sang guru menjawab, "Dia tidak perlu lagi menjadi murid, dia sudah bisa menjadi guru". Pesan dongeng ini jelas : jalan menuju kesempurnaan dan kemuliaan sebagai manusia ialah berbagi kehidupan, kalau perlu dengan berani menanggung risiko. Kita mempunyai yang bukan dongeng, yaitu Yesus ristus yang telah membagikan hidup-Nya bagi damai sejahtera kita. Berarti, dalam diri Yesus-lah kerinduan hati kita yang terdalam terpenuhi. Membangun hidup sehati dan seperasaan dengan Yesus inilah yang kita pupuk secara khusus dalam masa Prapaskah dengan doa yang tekun dan karya-karya kasih.

Marilah kita bersama-sama memasuki masa Prapaskah ini dengan penuh pengharapan dan syukur. Marilah kita gunakan kesempatan pertemuan dan ihan-bahan yang sudah disediakan dengan sebaik-baiknya. Semoga masa :apaskah ini menjadi masa yang penuh rahmat bagi kita masing-masing, bagi keluarga dan komunitas kita. Tuhan memberkati.

Jakarta, 5-6 Maret 2011



+ Ignatius Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta





Surat Gembala Prapaska Kepausan 2011

"Kamu dikuburkan bersama Dia di dalam baptisan, di situ pula kamu dibangkitkan bersama Dia" (bdk Kol 2:12)

Saudara-saudari terkasih,

Masa Prapaskah, yang menuntun kita ke Perayaan Paskah, bagi Gereja senantiasa merupakan masa liturgis yang sangat berharga dan penting. Dalam rangka itu saya suka menyampaikan pesan khusus ini, agar masa prapaska itu dapat dihayati dengan layak dan sepantasnya. Sambil menantikan perjumpaannya yang definitif dengan Sang Mempelai dalam Paska Surgawi nanti, Gereja, sebagai komunitas yang rajin berdoa dan beramal, mengintensifkan perjalanan batin penyucian dirinya, agar supaya dapat menimba dengan lebih berlimpah dari Misteri Penebusan itu kehidupan baru di dalam Kristus Tuhannya (bdk Prefasi 1 Masa Prapaska).

•1. Hidup itulah yang sudah dicurahkan kepada kita pada saat kita dibaptis, ketika kita[i] "mengambil bagian di dalam wafat dan Kebangkitan Krisus". Di situlah dimulainya bagi kita "pengalaman yang menggembirakan dan mengasyikkan dari para murid" (Khotbah pada Hari Pesta Pembaptisan Tuhan, 10 Januari 2010). Dalam surat-suratnya, berulang-ulang St. Paulus menekankan persekutuan khusus dengan Sang Putera Allah yang menjadi buah dari Baptisan itu. Fakta, bahwa pada umumnya Baptisan diterima orang ketika masih bayi, dengan jelas menunjukkan bahwa hidup kekal itu adalah sungguh-sungguh anugerah dari Allah, dan bukan apa yang diperoleh orang karena usahanya sendiri. Kerahiman Allah, yang menghapus dosa-dosa dan, pada saat yang sama, membuat kita bisa mengalami juga di dalam hidup kita "perasan-perasaan Kristus" (Flp. 2:5), sungguh-sungguh dianugerahkan secara cuma-cuma kepada semua orang, baik pria maupun wanita.

Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Rasul St. Paulus mengungkapkan arti-makna perubahan mendasar yang terjadi dengan turut mengambil bagian di dalam wafat dan kebangkitan Kristus itu. Sambil menunjuk kepada tujuannya ia mengatakan, bahwa "yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati" (Flp. 3:10-11). Dengan demikian maka Baptisan bukanlah hanya sekedar upacara ritual yang sudah lampau, melainkan adalah perjumpaan dengan Kristus, yang membentuk seluruh keberadaan si terbaptis dengan pencurahan hidup ilahi serta dengan memanggilnya kepada pertobatan yang sejati. Diinisiasikan dan didukung dengan rakhmat. maka orang yang dibaptis mulai dimampukan untuk mencapai taraf kedewasaan Kristus.

Ada kaitan khusus yang menghubungkan baptisan dengan masa Prapaska, sebagai masa yang tepat untuk mengalami rakhmat yang menyelamatkan itu. Bapa-bapa Konsili Vatikan Kedua menghimbau para Gembala Umat Gereja untuk semakin memanfaatkan "unsur-unsur liturgi masa Prapaskah yang berkenaan dengan baptisan" (Sacrosanctum Concilium, Konstusi tentang Liturgi, no 109). Pada kenyataannya Gereja senantiasa mengaitkan Malam Paskah dengan upacara Baptisan, karena Sakramen ini mengungkapkan misteri agung manusia yang, setelah dibebaskan dari dosa, menjadi pengambil-bagian dalam kehidupan baru dari Kristus-Yang-Bangkit dan menerima Roh Allah yang sama yang telah membangkitkan Yesus dari alam maut (bdk. Rom. 8:11). Anugerah cuma-cuma ini haruslah senantiasa dikobarkan kembali di dalam diri kita masing-masing dan masa Prapaskah justru memberi kita jalan seperti yang ada pada masa katekumenat, yang bagi umat beriman dari Gereja Perdana dahulu, seperti juga halnya bagi para calon baptis jaman sekarang, adalah sekolah yang tak-tergantikan bagi iman dan kehidupan kristiani. Sungguh, mereka itu menghayati Baptisan mereka sebagai yang membentuk seluruh keberadaan mereka.

•2. Untuk dapat menempuh perjalanan kita menuju Paskah itu secara lebih serius dan mempersiapkan diri merayakan Kebangkitan Tuhan, „Ÿini adalah hari raya yang paling menggembirakan dan paling mulia dalam seluruh tahun liturgi,„Ÿ kiranya tidak ada jalan yang lebih tepat selain membiarkan diri kita dibimbing oleh Sabda Allah sendiri. Untuk itulah, Gereja, melalui bacaan-bacaan Injil pada hari Minggu sepanjang masa Prapaskah, menuntun kita untuk bisa sampai pada perjumpaan khusus yang mesra dengan Tuhan, dengan mengajak kita napak-tilas lagkah-langkah insiasi Kristiani kita: bagi para calon baptis, untuk mempersiapkan penerimaan sakramen kelahiran kembali itu; dan bagi yang sudah dibaptis, untuk memantapkan diri dalam langkah baru dan definitif yang telah diambil untuk menjadi pengikut Kristus dan semakin berserah diri kepada-Nya.

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah mengungkapkan keberadaan kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini. Kemenangan dari perjuangan melawan penggodaan yang menjadi titik awal perutusan Yesus, haruslah menjadi ajakan bagi kita untuk menyadari kerapuhan kita dalam menerima Rakhmat yang membebaskan kita dari dosa dan memberi pencurahan kekuatan baru di dalam Kristus, "jalan, kebenaran dan hidup" (bdk. Tatacara Inisiasi Kristiani bagi Orang Dewasa, no. 25). Hal itu harus menjadi peringatan yang keras bagi kita, bahwa iman kepercayaan Kristiani, sesuai dengan teladan dari dan dalam kesatuan dengan Kristus, mencakup juga perjuangan "melawan kuasa-kuasa kegelapan di dunia ini" (bdk. Ef. 6:12). Di sana si Setan, tanpa mengenal lelah senantiasa bekerja, juga sekarang ini, untuk menggoda siapa saja yang mau hidup dekat dengan Tuhan. Kristus yang akhirnya jaya terhadap godaan itu, membuka hati kita pada harapan baru dan membimbing kita juga untuk dapat mengalahkan bujukan-bujukan iblis itu.

Hari Minggu Kedua, dengan bacaan injil tentang Transfigurasi Tuhan, menampilkan di depan mata kita kemuliaan Kristus yang mengantisipasi kebangkitan-Nya dan mewartakan pengangkatan manusia kepada martabat Ilahi. Persekutuan umat kristiani menjadi sadar, bahwa Tuhan Yesuslah yang membawanya, sama seperti dahulu Petrus, Yakobus dan Yohanes, "naik ke atas gunung yang tinggi" (Mat. 17:5) untuk sekali lagi di dalam Kristus menerima sebagai putera dan puteri di dalam diri Sang Putra sendiri, anugerah rakhmat Allah ini: "Inilah Putra-Ku yang terkasih, yang berkenan pada-Ku. Dengarkanlah Dia" (Mat 17:5). Hal ini harus menjadi ajakan bagi kita untuk mengambil jarak dari hiruk-pikuk hidup kita sehari-hari, agar kita dapat menceburkan diri masuk ke dalam hadirat Allah. Ia berkehendak untuk menyampaikan kepada kita, setiap hari, Sabda-Nya yang menembus lubuk hati kita, sehingga kita bisa membedakan yang baik dan yang jahat (bdk. Ibr. 4:12), dan dengan demikian memperkuat kehendak kita untuk mengikuti Tuhan.

Hari Minggu Ketiga menampilkan bagi kita di dalam liturginya Yesus yang mengajukan permintaan kepada Wanita Samaria: "Berilah Aku minum" (Yoh, 4:7). Sabda Tuhan itu mengungkapkan bela-rasa Allah terhadap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan mampu membangkitkan di dalam hati kita kerinduan akan anugerah "mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh. 4:14). Inilah anugerah Roh Kudus yang akan mengubah orang-orang kristiani menjadi "penyembah-penyembah yang sejati", yang mampu berdoa kepada Bapa "dalam roh dan kebenaran" (Yoh. 4:23). Hanya air inilah yang mampu memadamkan kehausan kita akan kebaikan, kebenaran dan keindahan, Hanya air inilah, yang dianugerahkan Putra kepada kita, dapat menyirami gurun kersang jiwa kita "yang tidak akan bisa tenang sebelum menemukan Allah", sebagaimana kata-kata kesohor St Agustinus itu mengungkapkannya.

Hari Minggu Keempat, melalui kisah "orang yang buta sejak lahir" itu, menampilkan Kristus, Sang Cahaya Dunia. Injil hari ini mengkonfrontasikan masing-masing kita dengan pertanyaan ini: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" "Ya, Tuhan, aku percaya" (Yoh. 9:35,39) seru orang yang buta sejak lahir itu dengan sukacita, dan dengan demikian ia menyuarakannya juga bagi semua orang beriman. Mukjijat penyembuhan ini menjadi tanda, bahwa Kristus berkehendak memberi kita, bukan saja kemampuan untuk melihat, tetapi juga membuka kemampuan kita melihat secara batin, sehingga iman kepercayaan kita juga semakin diperdalam dan kita mampu mengenali-Nya sebagai satu-satunya Juru Selamat kita. Ia menerangi apa saja yang merupakan kegelapan di dalam hidup dan membimbing semua orang laki-laki dan perempuan untuk hidup sebagai "anak-anak terang"

Pada Hari Minggu Kelima., ketika diwartakan pembangkitan Lazarus, kita diperhadapkan kepada misteri terakhir dari keberadaan kita: "Akulah kebangkitan dan kehidupan ... Percayakan engkau akan hal itu?" (Yoh. 11:25-26). Bagi Komunitas Umat Beriman Kristiani inilah saatnya untuk dengan tulus-ikhlas, „Ÿbersama dengan Martha,„Ÿ menaruhkan segenap harapannya kepada Yesus dari Nazaret itu: "Ya, Tuhan, saya percaya, bahwa Engkaulah Kristus, Putra Allah, yang datang ke dalam dunia ini" (Yoh. 11:27). Persekutuan dengan Kristus di dalam hidup ini, mempersiapkan kita untuk dapat mengatasi batas-batas kematian, sehingga kita masuk ke dalam hidup abadi bersama dengan Dia. Iman kepercayaaan kepada kebangkitan orang mati dan harapan akan kehidupan kekal itu membuka mata kita kepada arti makna yang terdalam dari keberadaan kita: Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk kebangkitan dan kehidupan, dan kebenaran ini memberikan arti yang otentik dan pasti kepada sejarah manusia, kepada kehidupan pribadi dan social laki-laki dan perempuan, kepada budaya, politik dan ekonomi. Tanpa terang iman itu, segenap jagat-raya akan berakhir, tertutup dalam liang kubur dan tidak akan ada lagi masa depannya, tidak akan ada lagi harapannya.

Seluruh perjalanan sepanjang masa Prapaskah ini akan mendapatkan kepenuhannya di dalam Tri-Hari Suci Paskah, secara istimewa dalam Malam Kudus Tirakatan Paskah. Di sana, dengan memperbarui janji-janji baptis kita, kita menegaskan kembali pengakuan iman kepercyaan kita, bahwa Kristus adalah Tuhan hidup kita, bahwa ketika "dilahirkan kembali melalui air dan Roh Kudus" itu kita mendapat anugerah hidup dari Allah, dan kita mengakui sekali lagi kesediaan kita menanggapi karya Rakhmat itu untuk menjadi murid-murid-Nya.


•3. Dengan menenggelamkan diri ke dalam kematian dan kebangkitan Kristus melalui Sakramen Baptis, kita didorong setiap hari untuk membebaskan hati kita dari hal-hal material yang menjadi beban, dari keterikatan kita yang egoistis dengan "dunia" yang malah memiskinkan kita dan menghalangi kita untuk siap dan terbuka bagi Allah dan sesama kita. Di dalam Kristus Allah menyatakan diri-Nya bahwa Dia adalah Kasih (lih. 1Yoh. 4:7-10). Salib Kristus, yang adalah "Sabda Salib" itu sendiri, menyatakan kekuatan Allah yang menyelamatkan (lih. 1Kor 1:18), yang dianugerahkan untuk membangkitkan kembali manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan memberi mereka keselamatan: itulah pernyataan Kasih yang paling agung (bdk. Ensiklik Deus Caritas Est, no. 12). Dengan menjalankan tradisi berpuasa, bersedekah dan berdoa, yang merupakan ungkapan kesediaan kita untuk bertobat, masa Prapaskah mengajar kita bagaimana menghayati Kasih Kristus itu secara yang paling tuntas.

Berpuasa. Dengan pelbagai kemungkinan motivasi yang menjadi dasarnya, bagi orang kristiani berpuasa memiliki kepentingan religius yang sangat mendalam: dengan mengurangi apa yang kita sajikan di atas meja makan, kita belajar mengalahkan keserakahan dan memupuk hidup atas dasar anugerah dan cinta; dengan mengalami suatu bentuk berkekurangan, dan justru bukan yang berkelebihannya, kita belajar memalingkan diri dari ke-"aku"-an kita, untuk bisa menemukan seseorang yang lain yang dekat dengan kita, bahkan untuk bisa mengenal Allah melalui wajah begitu banyak saudara dan saudari kita. Bagi umat Kristiani, berpuasa, jauh dari pada menyusahkan, malah lebih dapat membuka diri kita terhadap Allah dan kebutuhan sesama, dan dengan demikian memungkinkan cinta kita kepada Allah menjadi cinta kepada sesama (bdk Mrk. 12:31).

Bersedekah. Dalam perjalanan hidup kita, seringkali kita diperhadapkan pada godaan untuk menimbun dan mencintai uang yang dapat merongrong kedaulatan Allah bagi dan dalam hidup kita. Nafsu serakah untuk memiliki ini bisa menyeret kita ke kekerasan, eksploitasi dan kematian. Untuk itulah, maka bersedekah oleh Gereja, terutama selama masa Prapaskah, dijadikan pengingat bagi kita, bahwa kita pun memiliki kemampuan untuk berbagi. Sebaliknya, pemujaan terhadap materi, bukan saja menjauhkan kita dari sesama, melainkan juga menelanjangi kita, membuat kita tidak berbahagia, menipu kita, mengelabui kita tanpa memenuhi apa yang dijanjikannya, justru karena Allah, sumber segala kehidupan, kita gantikan dengan materi. Tidak mungkin kita dapat memahami kebaikan Allah, apabila hati kita dipenuhi dengan egoisme dan kepentingan-kepentingan diri kita sendiri, sambil menipu diri kita sendiri bahwa masa depan kita terjamin. Kita selalu tergoda untuk berpikir seperti si orang kaya di dalam Injil: "Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya ...". Kita semua tahu betul apakah yang menjadi penilaian Tuhan: "Orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu ... " (Luk. 12:19-20). Bersedekah mengingatkan kita kepada kedaulatan Tuhan dan mengarahkan perhatian kita kepada sesama, sehingga kita dapat menemukan kembali betapa baiknya Bapa kita itu, dan dengan demikian kita akan memperoleh belas-kasih-Nya.

Berdoa. Selama masa Prapaskah ini Gereja menawarkan kepada kita Sabda Allah dengan sungguh-sungguh secara berlimpah-ruah. Dengan merenungkan dan membatinkan Sabda itu agar kita dapat menghayatinya setiap hari, kita diberi kesempatan mempelajari suatu bentuk doa yang sangat berharga dan tak-tergantikan, yakni dengan penuh perhatian mendengarkan Allah, yang senantiasa berbicara kepada hati, kita memberi makanan yang menghidupkan perjalanan keberimanan kita yang telah dimulai pada saat kita dibaptis. Berdoa juga mengajar kita untuk mendapatkan pemahaman baru tentang waktu: yakni, bahwa pada kenyataannya tanpa perspektif keabadian dan ke-transenden-an, waktu hanyalah akan menjadi pengantar langkah-langkah kita kepada suatu cakrawala yang tak bermasa depan. Sebaliknya, apabila kita berdoa, kita menemukan waktu bagi Allah, untuk memahami bahwa "sabda-Nya tidak akan binasa" (bdk. Mrk. 13:31), untuk bersama dengan Dia masuk ke dalam persekutuan mesra "yang tidak akan dirampas orang dari padamu" (Yoh 16:22), yang akan membukakan bagi kita pengharapan yang tak-akan mengecewakan, yakni kehidupan kekal.

Surat Gembala Prapaska 2011 Keuskupan Bogor

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011
KEUSKUPAN BOGOR

Saudara-saudari, Umat Keuskupan Bogor,
Salam dan berkat apostolik


kita akan memasuki masa Paskah yang diawali dengan masa puasa selama 40 hari atau yang dinamakan masa Prapaskah. Selama masa puasa itu kita diajak untuk lebih serius memperhatikan hidup rohani kita dengan merenungkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia menderita dan wafat karena dosa kita, dan Ia bangkit demi kebahagiaan kita.

Masa puasa 40 hari adalah kesempatan yang sangat baik dan saat penuh rahmat bagi kita semua. Kita diundang mengikuti perjalanan Tuhan Yesus dari Galilea menuju Yerusalem dan dalam iman menyaksikan drama kesengsaraan dan penyaliban-Nya, yang disusul dengan kebangkitan-Nya pada hari ketiga.

Gereja tak henti-hentinya mengajak seluruh umat beriman agar mereka sadar akan kejinya dosa dan akan perlunya pengampunan serta belas kasihan dari Allah. Oleh karena itulah masa puasa hendaknya menjadi kesempatan untuk bertobat dari dosa dan dari cara hidup yang tak berkenan pada Allah. Kita diajak membarui diri dan mengambil sikap beralih dari hidup lama ke hidup baru yang lebih berkenan pada Allah.

Masa tobat itu kita awali dengan penerimaan abu di kepala pada hari Rabu Abu. Penerimaan abu tersebut tak lain adalah ungkapan atau tanda lahiriah bahwa secara batin kita setuju dengan pertobatan dan siap membarui diri. Abu yang kita terima mengandung makna bahwa kita ini adalah manusia yang rapuh dan berdosa namun tetap disayangi oleh Allah. Belas kasihan Allah itu nampak dalam Putera-Nya Yesus yang rela menderita sengsara dan wafat di salib untuk menebus dosa kita dan membebaskan kita dari hukuman dan kematian kekal. Apa yang harus kita lakukan dalam rangka pembaharuan diri tersebut di atas?

Pertama , kita disadarkan kembali akan makna yang terkandung dalam pembaptisan. Gereja mempersiapkan pembaptisan bagi warga baru yang akan dibaptis pada malam Paskah dan mengajak umat agar mengingat kembali pembaptisan yang sudah mereka terima. Saat kita dibenamkan di dalam bejana permandian kita mati bersama Kristus dan keluar dari bejana kita bangkit bersama Dia. Sudah sepatutnyalah kita menyelaraskan hidup kita dengan hidup Kristus.

Kedua , masa puasa saat yang tepat untuk lebih serius menjadikan Allah arah hidup dan pusat berarti percaya, berharap, dan lebih bertaqwa kepadaNya. Dengan demikian, orang yang bertobat akan menjadi tanda berkat dan belas kasihan Allah. Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali ke pangkuan-Nya bila sudah pergi jauh, untuk berbalik dan berdamai dengan-Nya dan dengan sesama. Kita mengikuti contoh Yesus yang juga berpuasa selama 40 hari. Ia tidak makan, tidak minum, berdoa, mati raga, dan berpantang demi memenuhi kehendak Allah Bapa-Nya.

Ketiga , agar supaya masa ber-rahmat ini menghasilkan buah untuk kehidupan rohani, Ibu Gereja menawarkan kepada kita bermacam-macam cara seperti praksis taqwa kepada Allah dan mengungkapkan kesediaannya untuk melaksanakan kasih melalui doa, olah tapa, dan memberi derma.


Injil Matius memberikan kita ajakan supaya jangan melakukan kewajiban agama agar dilihat orang dan bila memberi sedekah, lakukanlah itu dengan sembunyi-sembunyi dan diam-diam agar tidak dipuji orang. Dan bila berpuasa jangan bermuka muram, berpura-pura seperti orang munafik (bdk. Mat 6:1-4).

Berdoa adalah saat bertemu dengan Kristus yang pasti membawa kegembiraan, memperkaya hidup rohani dan membuat kita menjadi lebih serupa dengan Kristus. Hal itu diperoleh melalui askese (tahan diri) dan olah tapa. Doa yang benar adalah bukan untuk memuaskan diri sendiri, bukan pula untuk merayu-rayu Tuhan agar permohonan dikabulkan, melainkan memberi waktu untuk menyadarkan diri kita sendiri akan karya keselamatan Allah yang harus terlaksana dalam diri kita masing-masing. Orang yang rajin berdoa dan berdoa secara benar adalah orang yang mengakui bahwa Tuhan adalah Tuhan hidupnya dan ia menjadikan Allah itu pusat dan sumber. Kristus menghendaki hati yang terarah pada Tuhan, membangun diri dari dalam dan dari hati nurani. “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu.” (bdk. Yl 2:13).

Mengekang dan mengendalikan diri dari hal yang kita sukai tetapi yang sebenarnya bertentangan dengan kehendak Allah dan kebutuhan jiwa kita sendiri. Maka puasa berarti berorientasi dan berbalik kepada Kristus dan bertemu denganNya secara pribadi. Kita harus sadar juga bahwa hidup di dunia ini bukanlah tujuan akhir peziarahan ini. Perlu kita sadari bahwa pada suatu saat kita harus mati dan harus menghadapi pengadilan Allah untuk menerima ganjaran atau hukuman setimpal dengan amal bakti kita. Suatu saat kita menghadapi hari Yahwe, hari yang mungkin mengenaskan bagi yang tak siap. Allah datang menyadarkan manusia yang gagal namun yang tetap Ia kasihani. Paskah mengajak kita : “bangunlah kamu yang tidur dan bangkitlah dari maut”, dan Kristus akan bercahaya atasmu.

Inilah saatnya pula kita diingatkan akan tugas panggilan penyelamatan manusia bersama Kristus. Tugas menyelamatkan manusia tak cukup dengan kata-kata indah tapi harus disertai dengan tindakan sosial yang nyata. Allah yang mengasihi harus nampak dalam tindakan kita melalui perbuatan kasih, melalui perhatian terhadap sesama yang berkekurangan seperti dengan sukarela memberi derma untuk meringankan beban sesama yang sedang menderita. Kita mencontohi kasih Kristus yang siap berkorban, berbagi dengan yang berkekurangan, yang menderita, yang menantikan uluran tangan dan penghiburan.Saudara-saudari seiman,
Melalui surat gembala ini saya ingin menyampaikan pula tiga hal yang patut menjadi perhatian kita, yaitu :
1. Tahun 2011 ini kita memperingati yubileum berdirinya hirarki, 50 tahun hirarki Gereja Indonesia, termasuk keuskupan kita. Kita patut berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan Gereja di Roma untuk membangun diri kita sendiri pada tanggal 11 Februari 1961. Kita patut bersyukur atas penyertaan Tuhan selama 50 tahun yang silam karena kita menyaksikan Gereja kita bertumbuh dan berkembang, namun kita pun juga mohon agar di hari-hari mendatang menjadi lebih baik.
2. Patut juga saya sampaikan hasil dan pesan SAGKI yang telah dikeluarkan melalui KWI antara lain kita diajak untuk giat mewartakan Kabar Sukacita dan menemukan cara-cara yang tepat melalui metode narasi, kisah dan tutur yang baik tentang Yesus kepada anak-anak dan umat kita. Kita diajak untuk menemukan wajah Yesus dalam tiga kenyataan hidup sehari-hari di bidang sosial budaya, sosial religius, dan sosial ekonomi.
Kita semua disadarkan tentang nilai-nilai budaya dan kearifan lokal serta diajak untuk menjunjung tinggi, memelihara, dan mengembangkannya untuk menghadapi budaya-budaya modern yang merusak kehidupan iman dan kehidupan lokal. Kasih persaudaraan, kebaikan dan kebenaran hendak kita bangun dalam keanekaragaman budaya kita.
Berdasarkan iman yang kita anuti, kita juga harus mampu menemukan nilai-nilai luhur dan injili yang terdapat dan dihayati oleh para penganut pelbagai agama. Kita diajak untuk hidup rukun dan berdamai dengan setiap orang. Gejala kemiskinan yang merebak, bencana-bencana alam yang kita hadapi telah pula menimpa banyak warga. Peristiwa-peristiwa itu harus mampu menggugah setiap pengikut Yesus agar menaruh kepedulian dan tidak menutup mata. Dalam masa Prapaskah ini kesampingkanlah teori-teori dan lakukanlah kegiatan nyata dalam menolong sesama yang susah dan sesama yang miskin. Melalui SAGKI 2010, semoga mata hati dan iman kita mampu melihat dalam diri orang miskin, menderita, dan putus asa sebagai “pewahyu” Wajah Yesus yang sedang menderita, yang berlumuran darah, yang menangis, yang tabah, haus dan lapar (bdk. Mat 25). Kita juga harus ikut berupaya untuk mengurangi kemiskinan dengan berbagai upaya pemberdayaan ekonomi serta melawan segala bentuk perampasan hak milik sesama dan korupsi yang sedang merajalela di negeri kita.
3. Seperti telah kami umumkan tahun yang lalu bahwa kita ingin memfokuskan perhatian pada tahun 2011 pada kaum muda kita sebagai Gereja masa depan. Kita diminta untuk lebih serius memperhatikan mereka dan memberikan pendampingan, agar mereka mampu menghadapi tantangan jaman ini dan beriman teguh pada Kristus yang telah dipilih.

Saudara-saudari yang terkasih,
Mengakhiri Surat Gembala ini saya ingin mengutip Nabi Yesaya : “Berpuasa yang Kukehendaki ialah agar engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya ..., supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya memberi dia pakaian!” (Yes 58:6-7).

Akhirnya, semoga Tuhan menyertai anda sekalian selama masa Retret Agung ini, dan Selamat Paskah.

Dikeluarkan di Bogor, 14 Februari 2011


Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM

Uskup Keuskupan Bogor

Rabu, 02 Maret 2011 Hari Biasa Pekan VIII

Rabu, 02 Maret 2011
Hari Biasa Pekan VIII

Tujuan kehidupan yang berkebajikan ialah menjadi serupa dengan Allah (St. Gregorius dari Nisa)

Antifon Pembuka

Semoga semua penghuni bumi mengakui, bahwa Engkaulah Tuhan, Allah yang kekal (Sir 36:17)

Doa Pagi

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, tambahkanlah semangatku untuk berani memberi kesaksian kepada sesama, bahwa Engkaulah Allah, melalui tingkah lakuku sepanjang hari ini. Amin.

Kemampuan Allah akan melampaui pemikiran manusia. Dalam doa ini terungkap keyakinan manusia yang mendalam bahwa Allah mampu mempersatukan umat beriman yang tercerai berai.

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh (36:1.4-5a.10-17)

"Penuhilah Sion dengan pujian karena perbuatan-Mu yang perkasa, dan penuhilah bait-Mu dengan kemuliaan-Mu."

Kasihanilah kami, ya Penguasa, Allah semesta alam, pandanglah kami dan curahkanlah kedahsyatan-Mu atas segala bangsa. Hendaklah Engkau membaharui tanda dan mengulang mukjizat, agar para bangsa mengakui, sebagaimana kami telah mengakui, bahwa tiada Allah kecuali Engkau, ya Tuhan. Sudilah mengumpulkan segala suku Yakub serta mengembalikan kepada mereka tanah pusakanya seperti sediakala. Kasihanilah umat yang disebut menurut nama-Mu, yaitu Israel, yang telah Kausamakan dengan anak sulung. Kasihanilah kota-Mu yang kudus, yaitu Yerusalem, kota tempat istirahat-Mu. Penuhilah Sion dengan pujian karena perbuatan-Mu yang perkasa, dan penuhilah bait-Mu dengan kemuliaan-Mu. Berikanlah kesaksian tentang makhluk-makhlukmu yang pada awal mula Kauciptakan, dan penuhilah segala nubuat yang telah dibawakan atas nama-Mu. Berikanlah ganjaran kepada mereka yang menantikan Dikau, dan buktikanlah kebenaran segala nabi-Mu. Ya Tuhan, dengarkanlah doa hamba-hamba-Mu ini sesuai dengan berkat Harun atas umat-Mu. Semoga semua penghuni bumi ini mengakui, bahwa Engkaulah Tuhan, Allah yang kekal.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tunjukkanlah kepada kami, ya Tuhan, cahaya belas kasih-Mu.
Ayat. (Mzm 79:8.9.11.13)
1. Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang! Kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemahlah kami.
2. Demi kemuliaan nama-Mu, tolonglah kami, ya Allah penyelamat! Lepaskanlah kami, dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!
3. Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran tangan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!
4. Maka kami, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian bagi-Mu turun temurun.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Putera Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.

Apa yang dipikirkan Allah berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh manusia. Misi Yesus akan diselesaikan dengan pelayanan, bukan dengan kekuasaan sebagaimana yang dipikirkan oleh Yakobus dan Yohanes. Keluhuran nama seorang murid Yesus, bukan dalam kekuasaan, melainkan dalam melayani.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (10:32-45)

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan."


Sekali peristiwa Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Yesus berjalan di depan. Para murid merasa cemas dan orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang pun merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya. Yesus berkata, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus. Mereka berkata, “Guru, kami harap Engkau mengabulkan suatu permohonan kami.” Jawab Yesus, “Apakah yang kalian ingin Kuperbuat bagimu?” Mereka menjawab, “Perkenankanlah kami ini duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Kalian tidak tahu apa yang kalian minta. Sanggupkah kalian meminum piala yang harus kuminum? Dan dibaptis dengan pembaptisan yang harus Kuterima?” Mereka menjawab, “Kami sanggup.” Yesus lalu berkata kepada mereka, “Memang, kalian akan meminum piala yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan atau kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya telah disediakan.” Mendengar itu, kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kalian tahu, bahwa orang-orang yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tetapi janganlah demikian di antara kalian! Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kaian, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kalian, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Sebab Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi orang banyak.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan

Ambisi untuk mendapatkan suatu jabatan publik bisa saja membuat seseorang menjadi buta. Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, meminta jabatan publik di tengah-tengah pemberitahuan Yesus tentang penderitaan yang akan ditanggung-Nya. Yesus menjelaskan bahwa jabatan publik itu bagaikan suatu piala penderitaan, karena hakikatnya adalah melayani, bukan sebaliknya. Itulah kata kunci aktivitas kristiani.

Doa Malam

Yesus, kerelaan-Mu untuk menjadi manusia dan memberikan nyawa sebagai tebusan bagi banyak orang, mendidik aku untuk rendah hati dan bersedia melayani daripada dilayani. Terimakasih ya Yesus. Amin.

RUAH