Jumat, 27 Juni 2014 Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus

Jumat, 27 Juni 2014
Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus
        
Hati Allah berkobar-kobar dengan belas kasihan! Pada hari ini, Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus, Gereja menghadirkan ke hadapan kita misteri ini untuk kita renungkan: misteri hati seorang Allah yang merasakan belas kasihan dan yang mencurahkan segenap kasih-Nya ke atas umat manusia. Suatu kasih misterius, yang dalam ayat-ayat Perjanjian Baru disingkapkan kepada kita sebagai kasih Allah yang dahsyat dan tak terbatas bagi umat manusia. Allah tidak berkecil hati kendati kedurhakaan ataupun penolakan umat yang telah dipilih-Nya; melainkan, dengan belas kasihan yang tak terhingga Ia mengutus Putra Tunggal-Nya ke dalam dunia untuk membebankan ke atas Diri-Nya sendiri nasib dari kasih yang hancur, agar dengan menakluklan kuasa kejahatan dan maut, Ia dapat memulihkan kembali umat manusia yang diperbudak oleh dosa ke martabat mereka sebagai putra dan putri Allah. (Paus Benediktus XVI, Homili 2009)


Antifon Pembuka (Bdk. Mzm 33:11.19)
  
Rancangan Hati-Nya dari angkatan ke angkatan untuk melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
    
         
Pada Misa Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus ada Madah Kemuliaan (Gloria) dan Syahadat (Credo)    
      
Doa Pagi

Allah yang Mahakuasa, perkenankanlah kami untuk memuliakan Hati Putra-Mu, dan mengenang karya besar cinta kasih-Nya bagi kami. Jadikanlah kami layak untuk menimba anugerah yang mengalir secara berlimpah dari sumber ilahi itu. Dengan pengantaraan Kristus itu juga yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Ulangan (7:6-11)
     
"Kamulah yang dipilih dan dikasihi Tuhan!"
    
Sekali peristiwa, di padang gurun seberang Yordan, Musa berkata kepada umat Israel, “Kamulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; kamulah yang dipilih Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena jumlahmu lebih besar dari bangsa mana pun, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu, -sebab nyatanya kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa! -Tetapi karena Tuhan mengasihi kamu dan karena Ia memegang sumpah yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka Tuhan telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat, dan menebus kamu dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. Sebab itu haruslah kamu ketahui, bahwa Tuhan, Allahmu itu, adalah Allah yang setia. Ia memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan. Tetapi terhadap setiap orang yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang pada hari ini kusampaikan kepadamu untuk dilakukan.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan, do = d, 2/2, PS. No. 809
Ref. Berbelas kasihlah Tuhan dan adil, Allah kami adalah rahim.
Ayat. (Mzm 103:1-2.3-4.6-7.8.10;R:17)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya.
2. Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.
3. Tuhan menjalankan keadilan dan kasih bagi semua orang yang diperas. Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, dan memaklumkan perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.
4. Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.
 
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes (4:7-16)
        
"Allah mengasihi kamu."
      
Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai silih bagi dosa-dosa kita! Maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Tetapi jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. Beginilah kita ketahui bahwa kita berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita, yakni bahwa Ia telah mengaruniai kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Penyelamat dunia. Barangsiapa mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Bait Pengantar Injil, do = f, 2/2, PS. No. 951
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Mat 11:29ab, 2/4)
Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. 
  
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (11:25-30)
   
"Aku lemah lembut dan rendah hati."
    
Sekali peristiwa berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab misteri Kerajaan Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Semua telah diserahkan oleh Bapa kepada-Ku, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak, serta orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
     
Renungan

       
Ada seorang pematung terkenal. Suatu kali dia memahat sebuah patung “Yesus” berukuran besar. Dia ingin tahu apakah patung itu akan memancing reaksi yang benar dari orang-orang yang melihatnya. Dia membawa seorang anak kecil untuk memandang patung itu dan bertanya, “Menurut kamu, siapa Dia?” Anak itu menjawab, “Orang besar!” Si pematung pun menjadi sadar bahwa dia telah gagal. Kemudian dia mulai memahat dan memperbaiki patungnya lagi. Ketika dia sudah selesa, dia membawa anak itu kembali dan mengajukan pertanyaan yang sama kepadanya, “Menurut kamu, siapa Dia?” Anak itu tersenyum dan menjawab, “Itu adalah Yesus yang berkata, ‘Biarlah anak-anak datang kepada-Ku’.” Si pematung akhirnya mengetahui bahwa ia telah berhasil. Patung tersebut telah berhasil melewati ujian mata seorang anak.

Itulah anak-anak. Di mata seorang anak ada kejujuran. Seorang anak akan dengan jujur mengatakan bahwa sesuatu itu jelek atau baik. Jika Anda ingin melihat siapakah diri Anda sebenarnya, bertanyalah pada anak-anak. Maka, Anda akan memperoleh jawaban yang seringkali mengagetkan tapi sesuai dengan kenyataan. Pernah suatu kali ada seorang imam yang mencoba mendekati seorang anak. Tiba-tiba anak itu menangis. Rupanya dia takut pada brewok panjang dari romo tersebut. Ia katakan romo itu jelek, menakutkan dan mirip bajak laut. Betapa jujurnya anak-anak, meskipun, imam tersebut pasti bukan bajak laut.

Hari ini Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Bacaan hari ini mengngatkan kita akan pentingnya “Kemurnian Hati.” Sebagaimana anak-anak yang berhati bersih tanpa “kepalsuan”, Tuhan Yesus pun meminta hal yang sama kepada kita. Tuhan akan berkenan kepada hamba-Nya yang mau merendahkan diri layaknya anak-anak (Mat 11:27). Dalam diri anak-anak, Allah akan menyingkapkan “rahasia kebijaksanaan”. Dengan kata lain, Tuhan akan memberikan rahmat-Nya kepada orang yang rendah hati dan mau terbuka akan sabda-Nya.

Tuhan Yesus memberi contoh bagaimana memiliki hati yang terbuka pada kehendak Bapa. “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11:27). Betapa luar biasanya ketaatan Tuhan Yesus kepada Bapa-Nya.

Tuhan Yesus pun berjanji bahwa siapa saja yang mau datang kepada-Nya akan mendapatkan “kelegaan”. Janji ini diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan mau setia memikul “kuk” yang dipasang. Apa artinya ini? Artinya bahwa “rasa damai” itu akan diperoleh, jika seseorang mau dengan setia memikul beban hidupnya. Itulah ganjaan bag mereka yang setia. Yesus sendiri menunjukkan kesetiaan-Nya sampai rela wafat disalib. Hati-Nya yang suci memang tertusuk oleh pengkhianatan para murid dan penolakan bangsa Yahudi. Tapi, Dia tidak menyerah dan putus asa. Dia bangkit berdiri menempuh jalan sengsara-Nya hingga akhir. Ia kuat karena setia pada kehendak Bapa.

Kita pun akan mendapatkan kebahagiaan yang sama jika kita mau setia dalam iman. Tentu saja kita perlu memiliki hati yang menyerupai Yesus, “Hati yang Kudus.” (Alexander Teguh/RUAH)

Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga."

Kamis, 26 Juni 2014
Hari Biasa Pekan XII

2 Raj 24:8-17; Mzm 79:1-2.3-5.8.9; Mat 7:21-29

Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga."

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya. Demikianlah salah satu aklamasi sesudah Injil yang kita miliki. Untuk mengalami kebahagiaan sejati, tidak cukup bagi kita hanya menyerukan nama Tuhan dalam doa-doa kita. Menyerukan nama Tuhan dalam doa itu penting, tapi tidak cukup berhenti di situ. Juga tidak cukup hanya mendengarkan sabda Tuhan. Doa-doa yang kita daraskan dan sabda Tuhan yang kita dengarkan harus pula kita wujudkan dan kita laksanakan dalam tindakan nyata. Dengan demikian, iman kita tidak akan mudah goyah kendati diterpa banjir dan berbagai macam badai kehidupan. Demikian pula, kalau tiba saatnya rumah jasmani kita di dunia ini harus dibongkar dan dihancurkan untuk kembalu menjadi tanah, kita akan mendapatkan rumah abadi di surga dan mengalami kebahagiaan abadi.

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk menjadi pendengar dan pelaksana sabda-Mu yang baik. Amin. -agawpr-